Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 34


__ADS_3

Sampai di rumah mbak Santi,wanita itu sudah menunggu kami di teras. Setelah turun dari sepeda motor,Alya langsung berlarian lalu memeluknya.


"Tante Santi,Alya kangen!" ucap gadis kecilku.


"Tante juga kangen banget sama Alya!" Sahut mbak Santi hangat.


Aku dan Andre hanya tersenyum melihat mereka. Mbak Santi lalu menoleh ke arahku dan Andre.


"Ayo masuk!" ajak mbak Santi.


"Saya langsung kerja saja,mbak. Titip anak-anak ya!" pamitku.


"Oh iya mas. Hati-hati dijalan. Tenang saja anak-anak aman kok di sini!" sahut mbak Santi.


"Ayah kerja dulu ya,kalian jangan nakal!" pesanku pada anak-anak."


"Iya,yah. Ayah hati-hati di jalan!" sahut Andre dan Alya.


Aku gegas menuju sepeda motorku lalu pergi ke minimarket.


Menjelang siang,tiba-tiba Andre menelponku.


"Ayah,tante Santi pingsan. " ucapnya ketakutan.


"Apa?" tanyaku kaget.


"Ayah cepat ke sini!" desaknya dengan suara bergetar.


"I-iya,nak. Kamu tenang dulu ya. Minta bantuan bibi! Ayah segera ke sana!"


Panggilan terputus. Aku lalu menemui karyawan gudang kalau aku ada perlu mendesak di luar. Gegas aku lajukan sepeda motorku menuju rumah mbak Santi.


Sampai di sana,terdengar isak tangis putriku. "Tante. . . !" serunya.


"Tante Santi sudah sadar belum,nak?" tanyaku pada Andre yang menyambut kedatanganku di depan pintu.


Aku masuk ke rumah mbak Santi. Wanita itu sudah sadar dari pingsannya tapi wajahnya terlihat sangat pucat. Dia sedang duduk di lantai karpet di depan tv dengan kepala bersandar di sofa.


Aku lalu mendekatinya, "Bagaimana,mbak?" tanyaku cemas. Ya,aku benar-benar cemas melihatnya.


"Ayah,kasihan tante. Tadi jatuh!" ucap Alya seraya mengusap pipinya yang basah.


"Iya,nak. Kamu tenang,ya!" sahutku seraya mengusap kepalanya. Aku lalu menoleh ke arah mbak Santi, "Kita ke rumah sakit,mbak?"


"Hhmm,dokternya libur kalau hari minggu,mas. Bisa tolong antarkan saya ke rumah dokternya saja?" pintanya dengan suara lemah.


Aku langsung menganggukkan kepala, "Ayo!" sahutku.


"Bi,tolong ambilkan kunci mobil di kamar,ya!" pintanya pada bibi yang gegas pergi ke kamar mbak Santi.


Setelah mendapatkan kunci mobil,gegas aku membuka pintu mobil. Tapi tiba-tiba Alya berteriak.


"Ayah,tante!"


Aku gegas kembali ke dalam rumah. Ternyata mbak Santi sudah duduk di lantai seraya memegangi kepalanya. Wajahnya makin pucat dan seperti sedang menahan sakit. Aku lalu menghampirinya.


"Mbak,aku gendong ya?" tanyaku seraya menatap lekat mata yang berkaca-kaca itu. Dia lalu mengangguk lemah.

__ADS_1


Aku lalu menggendongnya dan mendudukkannya di kursi belakang. Dia menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan.


"Terimakasih," ucapnya lirih.


"Semua akan baik-baik saja!" ucapku menenangkannya.


"Ayah,kita ikut!" pinta Alya yang di beri anggukan oleh kakaknya.


"Ayo,Alya di belakang ya! Temani tante!" sahutku.


Aku gegas melajukan mobil ke rumah dokter yang di maksud oleh mbak Santi. Dalam perjalanan,mbak Santi menelpon seseorang yang aku rasa itu adalah dokter pribadinya.


Sampai di rumah dokter,aku kembali menggendongnya tanpa bertanya lagi. Dia melingkarkan tangannya di leherku. Pandangan kami bertemu. Aku bisa merasakan debaran jantungnya berlomba dengan debaran jantungku.


Kami lalu di minta menunggu di luar setelah mbak Santi masuk ke rumah dokter.


"Ayah,tante kenapa?" tanya putriku. Gadis kecilku itu tampak begitu cemas.


"Mungkin sakitnya kambuh,nak! Tadi kalian ngapain saja sama tante? Tante nggak boleh capek!" jelasku pada Alya.


Kedua anakku saling pandang.


"Kami tadi main petak umpet,yah. Sama lari-larian juga!" jelas Alya penuh penyesalan.


"Hhmn,yasudah lain kali tante jangan di ajak capek ya. Takutnya kepalanya pusing!"


Kedua anakku kompak menganggukkan kepala, "iya,yah!"


Sepuluh menit kemudian,mbak Santi keluar dari rumah dokter.


Mbak Santi tersenyum, "Alhamdulillah,tante baik-baik saja kok! Alya nggak perlu cemas,ya!"


Aku melihat wajahnya masih pucat walau tidak sepucat tadi.


"Kita pulang,mbak?" tanyaku.


Dia mengangguk, "Iya,mas!"


Kami lalu kembali pulang ke rumah.


Sampai di rumahnya,kedua anakku langsung duduk di depan tv sementara aku dan mbak Santi duduk di ruang tamu.


"Mbak sebaiknya istirahat di kamar saja. Biar anak-anak saya bawa pulang!" ucapku.


Dia menggeleng lemah, "Anak-anak di sini saja,mas. Saya biar istirahat di ruang tengah sama mereka. Lihatlah mereka sepertinya mengantuk!" tolaknya halus.


"Tapi mbak butuh istirahat yang tenang. Takutnya anak-anak saya hanya mengganggu saja!"


"Mereka nggak mengganggu,mas! Saya senang ada mereka yang menemaniku."


"Tapi,mbak?"


"Mas,lihat Andre sudah tiduran di depan tv. Pasti dia ngantuk. Minggu lalu jam segini,kita tidur siang bareng di depan tv!" jelas mbak Santi.


Aku lalu menoleh ke arah sulungku,dia memang sedang tiduran di depan tv sedangkan Alya sedang mengotak atik remote tv.


"Mbak,maafkan anak-anak saya. Mereka nggak sopan di rumah mbak!" ucapku tidak enak hati.

__ADS_1


"Mas! Biarkan mereka. Saya yang mengajak mereka tiduran di depan tv. Saya ingin mereka nyaman di rumah saya!"


"Tapi,mbak?"


"Oh,iya sepertinya mas lupakan saja permintaan saya waktu itu," ucapnya lirih.


"Permintaan yang mana,mbak?" tanyaku bingung.


"Hhmm,saya sudah nggak ingin punya anak!" ucapnya pelan namun penuh penekanan. Dia lalu memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Ke-kenapa,mbak?" tanyaku kaget. Apa aku dan anak-anakku sudah membuatnya tidak merasa nyaman.


"Saya nggak ingin hanya menyusahkan mas saja!"


"Kenapa berpikir seperti itu? Apa saya dan anak-anak ada salah?" cecarku.


Dia menggelengkan kepalanya, "Ng-nggak,mas!"


"Lalu kenapa tiba-tiba bicara seperti itu?"


"Hhmm,saya. . ."


"Baiklah,nggak apa-apa,mbak! Lebih baik mbak urungkan niat mbak dari sekarang daripada nanti menyesal!" ucapku lirih. Entah kenapa aku jadi kecewa dengan ucapannya. Padahal putriku sudah sangat menyukainya. Apa dia takut kami akan menguasai hartanya? Astagfirullah,tidak pernah terlintas sedikitpun dalam pikiranku. Apakah ada ucapan anak-anakku yang menyakitinya?


"Mas,saya. . .?"


"Saya ajak anak-anak pulang saja,mbak!" Aku hendak berdiri menghampiri anak-anakku tapi tiba-tiba dia memegang tanganku.


"Maafkan saya,mas!"


Aku menoleh sambil tersenyum getir. Kamu yang memulai,kamu juga yang mengakhiri,mbak. Batinku.


"Dokter melarang saya untuk hamil! Karena itu akan membuat kondisi saya makin drop. Kasihan juga dengan janinnya nanti!" jelasnya.


Entahlah,aku merasa dia hanya mencari alasan saja. Kenapa dia tidak berpikir seperti itu dari awal? Kenapa dia harus mendekati aku dan anak-anakku?


Aku melepas tangannya dan hendak menghampiri anak-anakku. Aku tidak ingin anak-anakku makin dekat dengannya lalu setelah itu,dia menjauh.


"Saya-saya cinta kamu,mas!" ucapnya pelan namun penuh penekanan.


Hhhh,aku menarik nafasku berat, "Terimakasih!" sahutku. Kata-kata itu tidak ada artinya buatku. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa kecewaku. Apalagi ini menyangkut kedua anakku. Aku bisa merasakan kalau kedua anakku mulai menyayangi mbak Santi. Saat wanita itu pingsan,Andre dan Alya tampak begitu khawatir bahkan Alya sampai menangis. Tapi sekarang apa yang dia katakan?


"Mas?" tanyanya dengan raut wajah kecewa.


Hhh,aku benar-benar bingung dengan sikapnya. Harusnya aku yang kecewa tapi aku cukup sadar diri. Aku adalah pria yang tidak memiliki apa-apa selain cinta untuk kedua anakku.


.


.


.


.


.


09

__ADS_1


__ADS_2