
Pagi ini sebelum ke rumah mbak Santi,aku sempatkan mampir ke rumah sakit untuk menjenguk Davina. Alhamdulillah kondisi gadis kecil itu makin membaik. Setelah dari rumah sakit aku langsung menuju ke rumah mbak Santi. Ternyata dia sudah menunggu di depan teras rumahnya.
Mbak Santi mengajakku naik ke mobilnya tapi aku menolak karena aku dan mbak Santi yang pulangnya tidak berbarengan. Aku langsung diajak ke minimarketnya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.
Sepuluh menit kami sampai di minimarket yang menurutku cukup besar. Lebih besar daripada minimarket-minimarket yang sudah menjamur.
Aku lalu memarkirkan sepeda motorku di dekat mobil mbak Santi. Kita lalu masuk ke minimarket. Di sana karyawan sudah mulai bekerja dan sudah ada beberapa pembeli.
Aku diajak mbak Santi masuk ke gudang tempat menyimpan stok barang. Setelah itu aku diajak keruangannya,sebuah kantor kecil di sebelah gudang.
Disanalah mbak Santi menyimpan alat-alat yang tersambung ke CCTV. Aku lalu di tunjukkan bagaimana cara kerjanya karena aku belum pernah berpengalaman.
"Kita lihat CCTV yang kemarin ya,mas," ucapnya.
Kami lihat di layar monitor,tak ada kejadian yang mencurigakan kemarin.
"Alhamdulillah,semua berjalan lancar!" ucapnya.
Kami lalu keluar dari ruangannya. "Saya akan mengenalkan mas Anto pada karyawan disini. Mari mas ikut saya ke depan!" ajak mbak Santi.
Aku lalu mengikutinya dari belakang. Mbak Santi mengajakku kembali ke gudang,di mana ada dua orang karyawan di sana yang bertanggung jawab mengurus barang masuk dan keluar dan juga yang menata barang-barang di minimarket.
"Dani,Adi,kenalkan ini pak Anto. Pak Anto ini yang akan jadi pengawas kalian di sini!" jelas mbak Santi. Aku tersenyum lalu menyalami mereka satu persatu.
Setelah dari gudang mbak Santi mengajakku ke area minimarket. Mbak Santi mengenalkanku pada dua orang kasir di sana. Karyawan di sana ada delapan orang dengan pembagian dua sift.
"Maaf mbak,jadi pekerjaan saya hanya mengawasi saja atau yang lain juga? Maaf kalau hanya sekadar mengawasi rasanya nggak enak kalau saya nggak ikut kerja." tanyaku.
"Oh iya,mas. Mas bisa bantu mengecek stok barang di gudang dan minimarket. Barang apa saja yang habis. Saya juga melakukan itu jika nggak ada kesibukan!" jelasnya.
"Oh,iya mbak."
"Mari mas ikuti saja saya. Nanti mas yang akan menggantikan tugas saya."
Aku lalu mengikuti semua arahan dari mbak Santi. Menjelang siang,mbak Santi mengajakku makan siang di restoran dekat minimarket.
Saat menjelang sore,setelah selesai sholat Asar,mbak Santi mohon ijin pulang karena dia sudah merasa kelelahan.
Sepeninggal mbak Santi,aku duduk-duduk di kantor,sesekali masuk ke gudang dan area minimarket.
Menjelang pukul delapan malam,minimarket tutup,aku gegas pulang menjemput Andre dan Alya di rumah ibuku.
***
__ADS_1
Sudah lebih satu minggu Davina di rawat. Saat aku hendak menjenguknya,ternyata ibunya sedang mengemasi barang.
"Mbak Melly,kenapa sudah berkemas?" tanyaku heran.
Melly menoleh lalu tersenyum, "Mas? Hari ini Davina boleh pulang!" jawabnya dengan senyum semringah. Tak lama kemudian seorang wanita seusia ibuku datang mendekati kami.
"Mel,ini ya orang yang membantu kamu?" tanyanya seraya menatapku.
"Iya,bu!" jawab Melly.
Aku lalu tersenyum ke arah ibu seraya menganggukkan kepala.
Ibu itu lalu mengulurkan tangannya kepadaku, "Saya Sri,ibunya Melly!" ucapnya dengan tersenyum.
"Saya Anto,bu!" sahutku.
"Terima kasih ya berkat bantuan nak Anto,cucu saya bisa di obatin di Rumah Sakit ini!"
"Iya,bu. Sama-sama! Saya kebetulan saja bertemu sama adek Davina yang sedang menangis."
"Alhamdulillah cucu saya di pertemukan dengan orang baik seperti nak Anto dan Davina hari ini sudah boleh pulang," ucap bu Sri."
"Alhamdulillah,bu!" ucapku lalu menaruh bungkusan yang aku bawa ke meja.
"Maaf,saya tidak bisa lama-lama ya bu,mbak. Saya harus bekerja!" pamitku kemudian.
Aku lalu menyalami Melly dan ibunya lalu mengusap pucuk kepala Davina lembut setelah itu aku keluar dari ruang ranap Davina.
Aku lalu menemui suster untuk menanyakan berapa biaya pengobatan Davina. Dan totalnya hampir dua jutaan dan belum di bayar.
Aku lalu meminta waktu lima menit untuk mengambil uang ke mesin ATM yang ada di rumah sakit. Setelah mengambil uang secukupnya aku lalu kembali ke suster untuk melunasi tagihan rumah sakit Davina.
Setelah semua urusan beres,aku langsung pergi meninggalkan Rumah Sakit menuju minimarket mbak Santi. Aku sampai di sana pukul sembilan pagi. Pembeli sudah mulai berdatangan dan ternyata mbak Santi sudah ada di di kantornya.
"Assalamu'alaikum," ucapku.
"Wa'alaikumsalam!" sahut mbak Santi.
"Maaf,mbak saya kesiangan,tadi saya ke rumah sakit dulu," ucapku.
"Oh iya mas tidak apa-apa. Bagaimana keadaannya,apa sudah sehat?"
"Alhamdulillah hari ini sudah boleh pulang!"
__ADS_1
"Alhamdulillah ya mas. Aku ikut senang!" ucap mbak Santi.
Mbak Santi lalu mengajariku cara mengoperasikan komputer. Orang yang hanya tamatan SMP sepertiku memang tidak pernah menyentuh yang namanya komputer.
Saat aku hendak memegang mouse,tiba-tiba mbak Santi pun hendak memegang mouse hingga tanpa sengaja tanganku memegang tangannya.
"Hhmm,maaf mbak. Saya nggak sengaja!" ucapku tidak enak hati. Aku sedikit menjauh.
Aku lihat wajah mbak Santi memerah, "Ti-tidak apa-apa,mas!" ucapnya gugup.
Aku jadi bingung setelah itu.
"Hhmm,saya cek ke gudang dulu saja ya,mbak!" pamitku yang mulai merasa tidak nyaman karena mbak Santi terlihat makin salah tingkah.
"I-iya mas!" sahutnya.
Aku gegas keluar dari ruangan mbak Santi lalu pergi ke gudang. Aku masih sedikit bingung karena aku belum paham cara kerja di minimarket mbak Santi. Setelah mengecek daftar barang yang ada di gudang,aku lalu pergi ke area minimarket.
Saat aku baru saja melangkahkan kakiku,samar-samar aku mendengar ada yang sedang membicarakan aku,menyebut namaku dan mbak Santi. Tapi aku berpura-pura tidak mendengar.
Aku mengecek satu persatu barang yang ada di minimarket lalu mencatat barang apa saja yang perlu di tambah.
Satu jam aku keliling mengecek barang di minimarket,tiba-tiba mbak Santi menghampiriku untuk mengajakku makan siang.
Aku di pesankan menu yang mahal-mahal,aku tidak enak mau menolak. Tapi saat selesai makan,aku buru-buru ke kasir dan membayarkan tagihannya.
"Loh,kok sudah mas bayar?" tanya mbak Santi. Wajahnya terlihat seperti tidak suka.
"Nggak apa-apa,kok mbak. Sesekali saya yang bayar!" jelasku.
"Hhmm,terimakasih mas!" ucapnya seperti tidak enak hati. Beruntung aku masih ada uang di dompet.
Setelah selesai makan siang,kami lalu kembali ke minimarket..
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Maaf masih ada typo 😊🙏