
Alina berdiri di sebelah bundanya. Sesekali dia menoleh ke arah dapur. Mas Andre sama temannya tadi ngapain ya kok lama banget di sana. Apa mas Andre menghajarnya? Kok aku masih deg-degan sih. Batin Alina.
Para tamu satu persatu mulai meninggalkan rumah Alya. Kini hanya keluarga saja yang masih ada. Masih sibuk berfoto-foto bersama pengantin.
Tiba giliran Lisa ikut berfoto bersama pengantin. Lisa di temani hanya dengan Darren. Wanita itu terlihat kaku berada di tengah-tengah keluarga mantan suaminya. Ada mantan ibu mertuanya juga di sana. Tak ketinggalan Andre bersama Kanaya. Oma, tante dan juga papi Kevin yang ikut berfoto bersama pengantin.
Setelah semua selesai berfoto, keluarga Kevin berpamitan. Lisa dan Darren pun ikut pamit karena hari sudah menjelang maghrib.
"Selamat menempuh hidup baru, nak. Semoga selalu di berikan kebahagiaan keluarga kecil kamu," doa Lisa dengan tulus sembari memeluk erat putrinya. Lisa memandang putrinya dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
"Terimakasih, bu," sahut Alya.
Setelah itu, dia berpamitan dengan semua keluarga. Saat bertemu Andre, putranya itu tak lupa mengenalkan Kanaya sebagai istrinya.
"Istri kamu cantik. Semoga kalian selalu di berikan kebahagiaan, ya!" ucap Lisa.
"Terimakasih, bu," sahut Kanaya. Andre hanya mengangguk sembari tersenyum.
"Kakak pulang, Nis," pamit Darren.
Annisa mengangguk, "Hati-hati di jalan, kak," sahut Annisa.
"Terimakasih sudah datang, tante," ucap Annisa.
Lisa tersenyum, "Iya, tante juga terimakasih, sudah menyambut tante dengan baik," sahut Lisa sambil menyunggingkan senyum.
Annisa lalu kembali masuk ke rumah. Di dalam dia melihat masnya Andre tengah bercengkerama dengan temannya sesama dokter.
"Payah si Ferry nih," gerutu Wahyu.
"Nggak akan! Adikku masih kecil nggak akan aku kasih ke buaya-buaya seperti kalian!" ucap Andre sembari menepiskan tangan ke udara.
"Ferry memang buaya, Dre. Kalau aku sih dari dulu kalem," ucap Wahyu.
"Halah, kalem darimana?" sanggah Ferry.
"Sudah, yang pasti nggak akan satu pun diantara kalian!" tegas Andre.
"Ayolah, Dre. Kamu nggak bilang-bilang si Alya tahu-tahu sudah di ambil orang. Sekarang mumpung si kembar belum ada yang punya. Iya kan, Yu?"
"Iya, buat aku saja!" sahut Wahyu.
Andre menggelengkan kepalanya, "No!"
"Eh itu si kembar!" tunjuk Wahyu ke arah Annisa.
"Dia bukan yang tadi sepertinya. Yang tadi ada tahi lalat di dahinya," sahut Ferry.
"Dia sudah punya pacar!" jelas Andre.
"Apa?"
"Hah?
"Yang benar saja!" Wahyu tidak percaya.
"Hh, kalian nggak lihat tadi dia ngobrol sama anak laki-laki yang di samping ibuku?"
"Memangnya siapa anak itu?" tanya Wahyu penasaran.
"Jangan bilang itu pacarnya!" ucap Ferry.
"Aku mau lihat istriku dulu!" ucap Andre lantas berdiri.
"Yah, ngusir kita, dia!" ucap Wahyu.
Tiba-tiba Ferry mendekati Annisa.
"Adik kembar," sapanya.
Annisa menoleh dengan dahi berkerut.
"Nama kamu siapa?" tanya Ferry.
"Hhmm, Annisa, kak!" jawab Annisa.
"Saudara kembar kamu namanya siapa?"
"Alina,"
"Oohh, iya-iya," Ferry mengangguk-anggukkan kepalanya. "Terimakasih ya Annisa cantik," imbuhnya.
Annisa tersenyum lantas segera berlalu.
"Hey, siapa namanya tadi?" tanya Wahyu penasaran.
__ADS_1
"Annisa,"
"Kamu naksir sama dia?"
Ferri menggelengkan kepalanya, "Bukan. Mata mereka berbeda!"
"Berbeda bagaimana? Punya mata semua, kan?"
Ferri meninju lengan Wahyu, "Entah kenapa kamu bisa jadi dokter. Jangan bilang karena menyontek!" ejek Ferri.
"Sembarangan kamu!" ucap Wahyu kesal.
"Aku suka yang satunya. Sama yang tadi jantungku biasa saja."
"Memangnya kalau sama yang satunya jantungmu kenapa? Penyakit jantungmu kambuh?"
"Sembarangan! Aku nggak punya penyakit jantung, tahu!" Ferri melototi Wahyu.
"Hah, tahulah. Eh, tinggal kita berdua di sini. Pulang, yuk!" ajak Wahyu.
"Tunggu dulu!" tolak Ferry.
"Ada apa lagi?"
"Aku mau ketemu sama si Alina dulu!"
"Alina?"
"Iya, kembarannya yang tadi!"
"Hhmm, kamu itu. Males, aku mau pulang sekarang!"
"Tunggu sebentar kenapa, sih?"
"Nungguin kamu pacaran? Males!" jawab Wahyu ketus.
"Hiihh, siapa juga yang pacaran? Baru juga ketemu tadi!"
"Eh, memangnya tadi kenapa kamu sama si kembar?" tanya Wahyu penasaran.
"Ada deh. Nanti kamu iri!"
"Halah, selama janur kuning belum melambai, aku juga masih ada kesempatan. Ngapain mesti iri?"
"Loh, kalian belum pulang?" tanya Andre yang kembali menemui mereka.
"Lima menit lagi maghrib, loh!" jelas Andre.
"Yah, Dre. Kita maghrib di sini, ya?" pinta Wahyu memohon.
"Iya, Dre," sahut Ferri.
"Terserah, deh!" ucap Andre lantas kembali masuk ke dalam.
"Payah si Andre, nih!" ucap Wahyu kesal.
"Iya, tuh."
"Lebih baik kita pulang saja. Besok kita ke sini lagi!" ajak Wahyu.
"Besok ke sini lagi?" tanya Ferri bingung.
"Ayolah. Si kembar masih sekolah, masih banyak waktu!"
"Hhh, iya deh."
"Ayo!"
"Kita nggak pamit dulu?"
"Ayo deh,"
Mereka kembali masuk ke ruang keluarga. Bertepatan saat Alina hendak ke dapur melewati mereka.
"Alina," panggil Ferri.
Alina menoleh, "Kak?" wajah gadis itu seketika memerah.
"Jantungku loncat-loncat, nih," bisik Ferri di telinga Wahyu.
"Halah, kenapa nggak lepas saja?" sahut Wahyu asal.
"Dasar jahat!" ucap Ferri kesal lalu kembali menatap Alina dengan senyum termanisanya.
"Alina mau kemana?" tanya Ferri.
__ADS_1
"Hhmm, aku-aku mau ambil kue buat nenek," jawab Alina malu-malu.
"Hhmm, kakak minta maaf yang tadi, ya," ucap Ferri tulus.
"I-iya, kak," jawab Alina malu-malu.
"Kakak minta nomor handphonenya boleh?" tanya Ferri setengah berbisik.
"Hhmm?" Alina tampak ragu.
"Boleh, yah?" bujuk Ferri dengan wajah memohon.
"Hhmm, i-ya kak. Nomor handphoneku. . ."
"Terimakasih, cantik!" ucap Ferri membuat wajah gadis di hadapannya makin merah saja.
"Ayo pulang!" Wahyu menarik tangan Ferri dengan paksa.
"Alina, kakak pulang dulu, ya," pamit Ferri.
"Dadah Alina!" ucap Wahyu sembari tersenyum semanis mungkin.
Ferri menarik tangan Wahyu cepat.
Alina menggeleng-gelengkan kepalanya, "Ternyata teman mas Andre lucu-lucu, ya. Hihii," Alina geli sendiri.
Dia lanjut ke dapur untuk mengambil kue lalu pergi ke kamar neneknya.
"Bunda, ini kuenya," ucap Alina lalu mengulurkan piring berisi kue pada bundanya.
"Terimakasih, sayang," ucap Santi lalu menoleh ke arah ibu mertuanya, " Ibu makan kue saja, ya. Supaya perutnya tidak kosong," ucap Santi seraya menyuapi neneknya Alina kue.
"Aku pijat kepala nenek, ya?" tawar Alina.
Nenek pun mengangguk setuju.
Sementara Andre sedang melihat ke layar handphone bersama istrinya, "Jadi kamu mamu kita bulan madu ke mana, sayang? Kevin dan Alya besok lusa sudah berangkat ke Bali."
"Aku terserah mas saja," sahut Kanaya.
"Hhmm, lihat tempat ini juga bagus, ya?" ucap Andre menunjuk ke layar handphonenya.
"Iya, mas. Kelihatan sejuk ya di sana,"
"Iya, adem. Kita bakal betah berlama-lama di kamar," goda Andre kemudian mencuri cium pipi istrinya.
"Hhmm, kalau panas ya tinggal pakai AC kan, mas."
"Tapi beda, sayang!"
"Hhmm, jadi kita mau kemana, mas? Mas sudah bisa libur?"
"Mas mulai lusa ambil cuti,"
"Oh sudah bisa cuti ya, mas?"
"Alhamdulillah bisa,"
"Hhmm,"
"Supaya kamu bisa hamil lagi!"
"Aamiin. Aku ingin cepat punya anak, mas."
"Tapi kamu benaran sudah siap di umur kamu sekarang punya anak?"
"In Sya Allah aku siap, mas. Dari sejak memutuskan menikah ya aku sudah siap. Anak itu menjadi salah satu pengikat hubungan suami istri, kan!"
"Iya, sayang."
"Makanya aku sedih banget sewaktu aku. . ." Kanaya tidak melanjutkan ucapannya. Matanya sudah berkaca-kaca.
Andre hendak mencium bibir istrinya namun tiba-tiba terdengar suara azan maghrib.
"Hehee, nanti saja," ucap Andre dengan senyuk menggoda.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
20