
Karena hari sudah siang dan azan zuhur sudah berkumandang,aku lalu pergi ke masjid untuk menunaikan salat dzuhur. Setelah itu aku pergi membeli nasi bungkus untuk makan siang. Setelah merasa kenyang,aku kembali mencari pekerjaan sekaligus mencari orderan untuk di bengkel.
Tapi sampai selesai salat ashar,aku masih belum mendapatkan pekerjaan maupun orderan. Aku memutuskan untuk pulang ke kost. Sampai di kost,ternyata kedua anakku tidak ada mungkin masih di rumah neneknya.
Aku lalu pergi mandi setelah selesai mandi aku lalu menjemput kedua anakku. Pada malam harinya setelah selesai makan malam,,aku mencoba mengirim pesan kepada Santi. Santi dengan cepat membalas pesanku. Jika aku ingin mendapatkan pekerjaan,besok aku diminta datang lagi ke rumahnya.
Keesokan harinya setelah mengantar kedua anakku ke sekolah,aku kembali mengunjungi Davina. Aku terlebih dahulu membawa makanan untuk oleh-oleh. Sampai di rumah sakit,aku lalu masuk ke ruang ranap Davina.
Gadis kecil itu terlihat masih lemah walau tidak seperti kemarin waktu sebelum dirawat. Dia sedang disuapi oleh ibunya. Saat melihat kedatanganku,senyum terkembang di wajah Melly,ibunya Davina.
"Bagaimana keadaan Davina pagi ini,mbak?" tanyaku.
"Alhamdulillah,sekarang dia lebih baik daripada yang kemarin. Dia juga sudah mulai mau makan walaupun sedikit," jelas Melly.
"Alhamdulilah kalau begitu. Semoga adik Davina segera sembuh,ya!" ucapku yang di Aamiin in oleh Melly.
"Oh ya ini ada sedikit makanan," ucapku seraya menyodorkan bungkusan pada Melly.
Melly tersenyum," Terima kasih mas sudah merepotkan mas terus!" ucap Melly tidak enak hati.
"Tidak masalah,mbak!" ucapku.
Kami lalu ngobrol sejenak. Setelah itu,aku berpamitan pulang karena sudah pukul sepuluh.
Aku memutuskan untuk pergi ke rumah mbak Santi. Setelah menunggu beberapa saat di teras rumahnya,mbak Santi keluar. Wajahnya terlihat sudah sedikit lebih segar tidak pucat seperti kemarin.
"Selamat siang,mbak," ucapku.
"Selamat siang mas Anto." sahut Santi.
"Bagaimana kabarnya,mbak?"
"Alhamdulillah sudah mendingan,mas. Kalau Mas Anto masih membutuhkan pekerjaan,saya ada pekerjaan untuk mas Anto," ucap Santi.
"Kalau boleh tahu pekerjaan yang bagaimana ya,mbak?" tanyaku penasaran.
"Saya mempunyai sebuah minimarket kecil dekat sini. Saya membutuhkan tenaga pengawas yang bisa dipercaya. Saya pikir mas Anto cocok di posisi itu," jelas Santi.
"Saya ditugaskan sebagai pengawas toko mbak?" tanyaku tidak percaya.
"Iya,mas! Di toko saya sudah mulai sedikit curiga dengan salah satu karyawan saya tapi saya belum mempunyai bukti karena CCTV yang ada di sana pasti rusak setiap kali saya mengalami kehilangan beberapa barang," jelas Santi.
"Jadi menurut mbak ada karyawan yang tidak jujur, begitu?" tanyaku.
"Iya,mas. Apalagi sejak saya sering sakitan jadi saya jarang ngecek toko," jelas Santi lagi.
"Oh begitu. Kalau boleh tahu pekerjaannya dari jam berapa sampai jam berapa ya mbak?" tanyaku.
"Sebenarnya kalau untuk pengawas,saya membutuhkan selama toko dibuka,mas.Tapi terserah mas saja mau bekerja mulai dari jam berapa sampai jam berapa."
"Oh begitu ya,mbak. Tapi kalau saya harus kerja dari toko dibuka sampai toko ditutup itu mungkin tidak bisa karena saya mempunyai dua orang anak."
"Oh jadi mas Anto sudah mempunyai dua anak?" tanya Santi kaget.
__ADS_1
"Iya,mbak. Kalau saya sedang bekerja,mereka saya titipkan pada ibu saya."
"Loh kenapa tidak sama ibunya saja?"
"Saya dan istri sudah beberapa bulan bercerai."
"Oh maaf kalau begitu,mas."
"Tidak masalah,mbak!"
"Sebenarnya toko saya itu buka dari jam delapan sampai jam delapan malam,mas tapi itu terserah mas Anto saja jam kerjanya karena hanya mengawasi saja," jelas Santi.
"Baiklah kalau begitu saya akan pikir-pikir dulu,mbak!"
"Iya mas. Tapi saya sangat berharap mas Anto menerima pekerjaan ini karena saya sangat membutuhkan orang yang bisa dipercaya," ucap Santi penuh harap.
Aku berpikir sejenak. Aku rasanya berat kalau harus meninggalkan kedua anakku dari pagi sampai malam walaupun mereka ada nenek dan tantenya yang menemani. Aku takut kedua anakku yang sudah tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ibu harus merasakan pula kekurangan kasih sayang seorang ayah karena aku yang terlalu sibuk bekerja.
"Kalau masalah gaji,mas Anto maunya berapa?" tanya mbak Santi.
"Masalah gaji kalau saya terserah mbak Santi saja biasanya berapa. Hanya saja jujur kalau saya benar-benar tidak bisa meninggalkan kedua anak saya terlalu lama."
"Sebenarnya saya belum pernah mempekerjakan pengawas,mas. Karena selama ini toko saya baik-baik saja. Masalah di toko itu baru terjadi dua sampai tiga bulan ini," jelas Santi.
"Maaf apa mbak Santi tidak mempunyai keluarga atau saudara?" tanyaku.
"Saya sebenernya anak tunggal,mas, Kedua orang tua saya sudah meninggal karena kecelakaan beberapa tahun yang lalu," jawan Santi dengan wajah sedih.
"Oh maaf mbak jika pertanyaan saya membuat mbak jadi sedih," ucapku tak enak hati.
"Oh suami mbak sudah meninggal? Saya ikut berduka ya mbak," ucapku.
"Terima kasih,mas. Sejak itu itu saya mengurus toko sendirian walau ada pegawai tapi tetap saya yang harus turun tangan langsung. Saya merasa sangat kelelahan!" ucap Santi dengan wajah sedih.
"Baiklah mbak sepertinya saya akan menerima tawaran kerja dari mbak."
"Benarkan mas Anto?" tanya Santi dengan wajah penuh harap.
"In sya Allah,mbak. Besok pagi saya akan ke sini lagi," ucapku.
"Alhamdulillah. Terimakasih,mas. Besok pagi saya akan antar mas ke toko saya."
"Kalau begitu saya pulang dulu ya,mbak," pamitku.
"Iya mas hati-hati di jalan," ucap mbak Santi.
Aku lalu pergi meninggalkan rumah mbak Santi.
Pulang dari rumah mbak Santi,iseng-iseng aku mencari orderan di daerah sekitar rumah mbak Santi. Siapa tahu aku akan mendapatkan orderan yang lumayan untuk bengkel.
Setelah berputar-putar selama dua jam lebih,aku masih belum juga mendapatkan orderan. Akhirnya aku putuskan untuk istirahat di masjid karena sebentar lagi waktunya salat zuhur.
Setelah selesai salat dzuhur,aku putuskan untuk kembali ke kost. Karena jam baru menunjukkan pukul tiga siang,aku memutuskan untuk pergi ke rumah ibuku saja karena anak-anakku pasti masih ada di sana.
__ADS_1
Sampai di di rumah ibuku,semua heran melihatku yang cepat pulang.
"Kok ayah sudah pulang?" tanya Aliya heran.
"Ayah sudah tidak kerja lagi di toko,nak!" jawabku.
"Loh,kenapa yah?" "tanya Alya.
"Ayah memang sudah lama tidak kerja di sana nak. Tapi mulai besok ayah akan bekerja di minarket."
"Kamu dapat pekerjaan baru,nak?" tanya ibuku.
"Iya,bu. Aku bertemu dengan seseorang yang menawariku pekerjaan menjadi pengawas di tokonya," jawabku.
"Alhamdulillah!" ucap ibu.
"Tapi aku bekerja dari pagi sampai malam,bu. Apakah boleh anak-anak aku titip di sini sampai sampai aku menjemput mereka?" tanyaku.
"Iya tidak apa-apa. Yang penting kamu di jalan hati-hati kalau pulang malam!" pesan ibuku.
"Ya bu In sya Allah! Doakan saja anakmu ini!" ucapku lalu menoleh ke anak-anakku," Mulai besok ayah kerja dari pagi sampai malam. Kalian baik-baik di rumah nenek,ya!"
"Iya yah,tidak apa-apa," sahut Andre dan Alya berbarengan.
"Ayah pulang langsung jemput kalian."
"Ayah harus hati-hati di jalan. Kalau pulangnya malam."
"Memangnya kamu dapat pekerjaan di mana,To?" tanya ibuku.
"Aku dapat di daerah XX1,bu." jawab ku.
"XX1?" tanya ibu kaget.
"Iya,bu."
"Itu daerah jauh banget dari sini,nak!"
"Iya,bu. Tapi orang itu sangat membutuhkan pegawai baru dan aku pun menyanggupinya Bu. Lagipula, pulang malamnya terserah aku mau pulang jam berapa," jelasku.
"Hhmm,ya sudahl kalau memang itu yang terbaik. Yang penting kamu bisa jaga diri sendiri!"
"In sya Allah,bu," sahutku.
.
.
.
.
.
__ADS_1
14