
Darren dan temannya sudah masuk ke kelas.
"Hey, kok diem, sih? Pak Kevin itu siapanya kamu?"
"Hhmm, panjang ceritanya nanti nggak cukup waktu bahas siapa pak Kevin itu!" jelas Darren kesal.
"Hhmm, aku ada waktu kok buat dengerin."
"Tapi aku nggak ada waktu dan mulutku bisa capek jelasin sama kamu. Sudah, ah. Dosen sebentar lagi datang. Aku mau fokus kuliah!"
"Huhh," dia berlalu pergi dari hadapan Darren.
Jadi orang kok mau tau saja urusan orang lain. Nggak ada yang bisa aku percaya selain keluargaku sendiri walau belum lama aku bertemu mereka. Darren membatin.
Setelah semua mata kuliah Darren selesai, dia buru-buru ke ruangan Kevin. Karena ruangannya tertutup, Darren duduk menunggu di bangku yang ada di depan. Rasanya sungkan mengganggu kakak iparnya itu.
Darren membaca-baca lagi buku kuliahnya. Dia ingin menjadi mahasiswa yang berprestasi supaya masa depannya cerah dan juga supaya tidak mengecewakan keluarganya.
Tiba-tiba Ceklek. Pintu ruangan Kevin terbuka.
"Darren, kenapa kamu nggak masuk?" tanya Kevin yang berdiri di ambang pintu.
Darren menoleh, "Pak Kevin. Hhmm, aku masih ingin menikmati angin," jawab Darren bohong.
"Oh, ayo masuk!" ajak Kevin.
*
Beberapa bulan kemudian. Karena kehamilan Alya dan Kanaya hanya berbeda satu mingguan saja, maka mereka sepakat untuk mengadakan acara empat bulanan kehamilan mereka secara bersamaaan.
Darren pun sudah bisa kembali berjalan secara normal walaupun masih harus berjalan dengan perlahan. Darren dan mama papanya di undang ke acara Alya dan Kanaya.
Acara berlangsung dengan khitmad. Pasangan muda yang mengadakan acara tampak sangat berbahagia. Senyum tak lepas dari bibir mereka.
"Selamat ya, sayang. Semoga kandungannya selalu sehat, mamanya juga sehat," ucap Lisa sembari memeluk putrinya penuh kasih sayang.
"Terimakasih, bu," sahut Alya ramah dan hangat.
Orangtua Kanaya pun hadir. Maminya sangat bahagisa atas kehamilan putrinya. Baginya kebahagiaan putrinya adalah yang utama walau suaminya belum sepenuhnya menerima pernikahan putrinya. Tapi setidaknya sudah tidak pernah lagi mencampuri urusan rumah tangga putrinya itu.
"Sayang, sesekali menginaplah di rumah, ya. Mami kangen," ucap mami Kanaya.
Dada Kanaya terasa sesak. Dia ingin sekali menginap di rumah orangtuanya tapi mengingat apa yang sudah di lakukan papinya dulu membuat Kanaya takut. Dia tidak ingin mempertaruhkan rumah tangganya walau suaminya orang yang sabar. Tetap saja ketakutan itu ada.
"Hhmm, ma. Tapi papi. . . ?" Kanaya tidak melanjutkan lagi ucapannya.
"Hhmm, mama mengerti, nak. Mama akan bujuk papi kamu, ya."
Kanaya mengangguk, "Iya, mi. Maafin aku, ya. Aku juga kangen menginap di rumah mami."
"Iya, sayang."
__ADS_1
Tak mau berlama-lama di rumah besannya, papi Kanaya mengajak pulang istrinya buru-buru saat acara inti sudah selesai dan para tamu sedang menikmati hidangan.
Setelah semua tamu pulang, para wanita mengobrol di ruang makan. Alya dan Kanaya sesekali memasukkan potongan-potongan kue ke mulutnya. Lisa sudah tidak terlalu kaku ikut mengobrol bersama karena Santi terlihat ramah dan hangat saat berinteraksi dengannya. Sementara para gadis, Alinna dan Annisa sibuk membantu bibi.
Sedangkan para pria berkumpul di dekat kolam renang sembari mengobrol. David dan Kevin terlibat obrolan seru yang sesekali di timpali oleh Anto. Andre masih menemai rekan-rekan dokter yang sama-sama bekerja di rumah sakit yang sama dengannya. Darren hanya ikut menyimak saja.
"Kalian kapan, nih nyusul? Nanti keburu tua. Anak kalian masih bayi kalian sudah jompo!" gurau Andre sampai di tinju bahunya oleh Wahyu.
"Tenang saja nanti kalau aku nikah, kamu duluan yang aku undang!" sahut Ferri.
"Kalau aku nikah, kamu harus kasih aku kado yang mahal. Awas saja kalau nggak!" ucap Wahyu kesal.
"Hahaa, gampang itu!" sahut Andre.
"Awas ya kalau nggak!" ucap Wahyu.
"Kuenya, silahkan di cicipi," ucap Annisa yang datang dengan membawa piring berisi kue.
Wahyu menyikut lengan Ferri.
"Adek, sudah kelas berapa?" goda Wahyu.
"Hhmm, kelas dua belas, kak," sahut Annisa.
Dia pun berlalu ke arah ayahnya yang sedang mengobrol dengan Kevin, David dan ada juga Darren di sana. Mereka saling mencuri pandang.
"Sudah ada pacarnya, itu!" ucap Andre.
Ferri dan Wahyu membulatkan matanya, "Pacar?" tanya mereka hampir berbarengan.
"Itu pacarnya!" tunjuk Andre dengan dagunya ke arah Darren.
"Ah, yang bener?" tanya Wahyu tidak percaya.
Mereka pun makin kaget saat melihat Annisa dan Darren yang saling tersenyum malu-malu.
"Beneran mereka pacaran?"
"Bilangnya sih, nggak. Tapi mereka sama-sama suka."
"Ah, hanya cinta monyet!" celetuk Wahyu.
"Hhmm, tapi sepertinya mereka memang ada ikaran walau bukan pacaran!" ucap Ferri yang menatap ke arah Annisa dan Darren lekat-lekat.
Tak lama kemudian Alina datang membawakan minuman jus segar. Kemudian menyajikannya di depan mereka.
"Silahkan," ucap Alina dengan senyum ramah.
Setelah itu, Alina kembali masuk ke dalam.
"Kalau si Alina belum punya pacar kan, Dre?" tanya Ferri dengan pandangan tak lepas dari gadis itu.
__ADS_1
"Ooh, kalau dia nggak mau pacaran," jelas Andre.
Ferri tersenyum penuh arti.
"Jad Darren mau kerja lagi di minimarket?" tanya Anto.
Darren menoleh ke arah papanya, "Kalau papa ijinkan," jawabnya pelan.
"Pasti di ijinkan, kok. Iya kan, pak?" sahut Kevin lalu menatap ke arah David.
David tersenyum, "Terserah Darren saja," jawab David.
"Hhhmm, i-iya, pa," sahut Darren.
"Darren harus sabar. Annisa sudah kelas dua belas jadi hanya menunggu satu tahun lagi. Pak David bakal dapet menantu, nih," gurau Kevin lagi.
Wajah Darren seketika memerah. Dia menundukkan kepalanya.
"Kuliah dulu yang benar, baru nikah!" ucap David sembari melirik putranya yang masih menunduk.
"Nggak apa-apa kok, pak. Sekarang banyak mahasiswa yang menikah saat masih sekolah."
"Kasihan Annisanya. Dia juga pasti mau kuliah," sahut David.
Teman-teman Andre sudah hendak pulang.
"Ayolah, Dre. Aku ini calon adik ipar yang baik," ucap Wahyu.
"Baik darimana? Yang ada aku nih!" sahut Ferri tidak mau kalah.
"Ah kalian ini. Terserah adikku mau sama siapa. Masa jaman modern gini masih main jodoh-jodohan segala. Kasihanlah adikku!" ucap Andre.
"Ah iya, kamu benar, Dre. Nggak maulah aku menikahi perempuan karena dia di paksa," sahut Ferri.
"Oohh, okelah kalau begitu," Wahyu menimpali
"Lagipula kalau menikah hanya karena umur yang sudah tua, lebih baik jangan. Walau bagaimanapun menikah karena cinta itu jauh lebih baik. Andai pun belum ada cinta setidaknya menikahlah karena ibadah, karena Allah. Jadi kalian akan bisa menerima kekurangan masing-masing. Dan cinta itu akan hadir seiring berjalannya waktu. Itu menurutku."
"Jadi kamu menikahi Kanaya karena apa, Dre?"
"Ya karena cinta, donk. Cinta datang tanpa di duga. Tapi yang paling penting, dia juga mencintaiku. Dan memang sudah siap menjadi istriku. Aku juga merasa nyaman dengannya. Aku yakin dia bisa menjadi istri yang baik. Jadi aku menikah memang karena Cinta dan juga karena ibadah. Karena aku kan memang tidak mau pacaran.
Ferri dan Wahyu pun menganggukkan kepala, mendengar penjelasan Andre.
.
.
.
.
__ADS_1
.
20,3