Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 46


__ADS_3

Sampai di rumah,istriku langsung membawa belanjaannya ke dapur. Dia lalu mengupas beberapa buah lalu membawanya ke kamar. Sementara kedua anakku sudah ke kamar mereka dan aku lihat mereka melanjutkan tidurnya.


"Mas,ini buahnya!" ucapnya seraya duduk di sebelahku yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv.


Potongan buah segar dia letakkan di atas meja.


"Suapin donk,yank!" pintaku.


Dia lalu mengambil buah dengan sendok garpu lalu hendak menyuapiku.


Aku menggelengkan kepala, "Suapin langsung pakai tangan!" titahku.


"Hhmm," dia lalu mengambil langsung buah dengan tangannya lalu menyuapiku.


Aku lalu menggigit buahnya separuh dan separuhnya lagi aku sodorkan ke mulutnya. Dia tersenyum malu dan terlihat ragu namun aku terus mendekatkan wajah kami berdua. Akhirnya dia mau juga menggigit separuhnya.


Setelah yakin buahnya sudah dia gigit,aku lalu mengunyah buah yang ada di dalam mulutku itu perlahan. Setelah buah dalam mulutku sudah tertelan habis,dan buah di mulutnya pun habis,aku mendekatkan lagi wajah kami berdua.


Dia memejamkan matanya dan aku langsung menarik tengkuknya dan mulai menciumnya dengan lembut. Dia pun membalas ciumanku. Kami melakukan itu cukup lama hingga dia menjauhkan wajahnya karena kehabisan nafas.


"Hhhh. . ." istriku mulai mengambil nafas.


"Kapan kamu mau berobat keluar negeri,hmm?" tanyaku setelah melepaskannya.


Dia menggelengkan kepala setelah bisa mengatur nafasnya kembali, "Aku belum tahu,mas."


"Mumpung di sini belum ada calon adiknya Alya,sebaiknya kita berobat dulu keluar negeri!" ucapku seraya mengusap mesra perutnya yang rata. Perut wanita yang sama sekali belum pernah melahirkan.


"Hhmm,mas yakin mau punya anak lagi?"


Aku menganggukkan kepala, "Yakin!" tegasku lalu menarik pakaiannya ke atas dan melemparnya sembarangan.


Dia menatapku kaget, "Mas. . .?"


"Suasana pengantin baru,kan?" ucapku dengan mata menggoda.


Tanpa menunggu jawabannya,aku langsung menyentuhnya. Menyalurkan hasratku sebagai suami. Sebagai pria normal yang sudah lama tidak merasakan indahnya hubungan suami istri. Aku begitu menggebu-gebu. Ingin merasakan lagi indahnya malam pengantin tadi malam.


***


Kami baru saja selesai namun masih enggan untuk beranjak dari sofa. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar. Kami kaget lalu saling pandang.


"Mas?"


"Ayah!" terdengar seruan dari luar kamar. Suara putriku.


Santi langsung duduk dan mencari-cari pakaiannya yang tadi aku lempar entah kemana.


"Mas,pakaianku tadi mana?" tanyanya bingung sambil terus menoleh ke kiri dan kanan.


"Pakai yang baru saja!" titahku.


"Tapi,mas?"


"Sana,langsung ke kamar mandi saja nanti mas menyusul!" titahku lagi.


"A-aku ke kamar mandinya pakai apa,mas?" tanyanya masih dengan kebingungan dan wajah memerah.


"Langsung saja,nggak ada siapa-siapa juga!"


"Ta-tapi?"

__ADS_1


"Ayo sana,nanti mas nyusul!


"Hhhmm,mas iihh!" dengan wajah malu bercampur kesal,dia berlarian ke kamar mandi.


Aku benar-benar gemas melihatnya. Aku gegas memakai pakaianku dan hanya mengenakan celana pendek selutut seperti biasa saat aku di kost. Aku lalu membukakan pintu.


Ceklek.


"Alya? Kenapa,nak?"


"Ayah,kirain ayah sedang kerja. Bunda Santi mana?"


"Bunda? Bunda sedang mandi,nak. Kamu nggak tidur siang?"


"Hhmm, Aku tadi udah tidur siang yah tapi kebangun!" jawab Aliya.


"Mas Andre sudah bangun?"


Alya menggeleng, "Belum,yah!"


"Ya sudah kamu tidur lagi saja,ya!"


"Baik yah,tapi nanti sore kita jalan-jalan. Aku bosen di rumah."


"Iya sayang,nanti sore kita jalan-jalan. Tapi sekarang kamu tidur siang dulu ya,ayah juga mau tidur siang nih!" ucapku bohong.


"Ayah janji ya?"


"Iya sayang, ayah janji!"


"Ya sudah kalau gitu aku tidur siang lagi deh!" pamitnya kemudian segera berlalu dari hadapanku.


Aku lalu menutup pintu kamar dan gegas menyusul istriku di kamar mandi.


Ternyata istriku itu sedang berendam di bathup. Aku belum pernah merasakan mandi di bathup bersama istriku. Kenapa tidak sekarang saja,ya. pikirku. Aku gegas ikut masuk ke bathup.


"Mas!" teriak istriku kaget.


Aku hanya tersenyum menyeringai.


Maklum ini pertama kalinya bagiku mandi di bathup apalagi bersama istri. Jadi aku seperti anak kecil yang baru saja menemukan mainan baru. Selama satu jam kami di kamar mandi.


"Langsung sholat ashar,yank!" ajakku yang di berikan anggukan istriku.


Kami lalu sholat ashar berjamaah.


Setelah salat ashar,aku dan istriku lalu turun ke bawah setelah sebelumnya melihat kamar anak-anakku terlebih dahulu. Ternyata mereka masih tertidur. Aku dan istriku lalu bercengkerama di dekat kolam renang. Ingin rasanya aku renang berdua dengan istriku tapi kami baru saja selesai mandi,lain kali sajalah. Pikirku.


Mang Toto tiba-tiba memanggil, "Mas,ada mobil mau anterin kasur."


"Oh iya,mas. Kasurnya anak-anak sudah datang. Mas,ayo kita lihat!" ajak istriku.


Kami berdua gegas keluar. Ternyata benar,sebuah mobil dari toko furniture terparkir di depan pagar.


"Mang Toto lalu membukakan pintu pagar. Kami langsung meminta tolong untuk membawa langsung kasurnya ke kamar anak-anak.


Anak-anak terbangun karenanya. Aku lalu menyuruh mereka untuk segera mandi lalu sholat ashar.


"Ayah,kita jadi kan jalan-jalan?" tanya putriku setelah dia selesai sholat.


"Kalian mau jalan kemana?" tanyaku.

__ADS_1


"Terserah ayah sama bunda saja!" jawabnya.


"Ya sudah kalau gitu. Terserah ayah,ya!" sahutku.


Aku lalu mengemudikan mobil ke taman kota.


Sampai di sana,aku mencari tempat yang strategis untuk parkir sekaligus yang ada bangku untuk kami duduk. Setelah dapat,aku lalu memarkirkan mobil. Kami lalu duduk di bangku yang ada di pinggir jalan.


"Anak-anak mau jajan,nggak?" tanya istriku.


"Mau,bunda!" jawab Alya.


"Yuk sama bunda kita cari jajanan. Mas Andre mau ikut?"


Andre menggelengkan kepalanya, "Aku tunggu di sini saja,bun!"


"Cari jajannya jangan jauh-jauh,ya. Apa mas saja yang cari,kalian tunggu di sini?" tanyaku.


"Tapi aku mau pilih sendiri,yah!" tolak Alya.


Entah mengapa aku merasa khawatir kalau mereka yang mencari jajanan. Tapi putriku memaksa.


"Hhmm,ya sudah tapi jangan jauh-jauh dari sini dan jangan lama-lama,ya!" tegasku seraya menatap lekat-lekat istriku.


"Iya,mas. Kita nggak lama,kok!" sahutnya.


"Ya sudah,kalian hati-hati!"


Mereka lalu pergi mencari jajanan sementara aku dan Andre menunggu. Setengah jam berlalu tapi istri dan anakku belum juga kembali membuat aku cemas. Aku takut istriku tiba-tiba pingsan di jalan.


"Mas,bunda dan adik kamu lama banget!" ucapku pada putraku.


Dia yang sedang asik main handphone menoleh, "Iya,yah. Apa aku telpon bunda,ya?"


"Hhmm,biar ayah saja yang telpon!" sahutku.


Aku lalu mencoba menghubungi nomor kontrak istriku tapi sudah beberapa kali panggilan tidak juga ada jawaban. Jantungku mulai berdebar.


"Bundamu nggak jawab telpon dari ayah!" ucapku cemas.


"Kita cari saja,yah?"


"Mau cari kemana? Taman ini luas,nak!" jawabku seraya menoleh ke kiri kanan mungkin istri dan anakku terlihat namun bayangan mereka pun tidak ada.


"Apa kita pisah saja cari mereka?" usul Andre.


"Jangan,nak. Kamu juga belum paham daerah sini nanti kamu tersesat."


"Lalu bagaimana,yah?"


"Ya sudah kita cari saja! Kamu sambil telpon bunda,ya!" ucapku lalu berjalan sambil menggandeng tangan putraku supaya kami tidak terpisah.


.


.


.


.


.

__ADS_1


23


__ADS_2