
Kami lalu bersiap untuk ke rumah ibu. Istriku membawa mobil sendiri bersama anak-anakku sementara aku bersama ibu dan adikku membawa mobil yang aku sewa kemarin.
Aku mengembalikan terlebih dahulu mobil sewaan setelah itu baru melanjutkan perjalanan ke rumah ibu. Satu jam kemudian kami baru sampai.
Ternyata di depan pintu pagar sudah ada Lisa menunggu. Kenapa wanita itu selalu datang disaat yang tidak tepat? Seperti dia sudah tahu saja kalau kami akan datang. Aku harus bisa menjaga perasaan istriku.
"Alya!" seru Lisa memanggil putriku.
Alya turun lalu mendekati ibunya. Aku sengaja turun dari mobil sambil menggandeng tangan istriku biar Lisa tau kalau Santi adalah istriku dan supaya istriku pun tahu kalau aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Lisa. Aku sengaja memamerkan kemesraan kami.
Kami langsung masuk ke rumah ibu dan duduk di ruang tamu. Aminah segera ke dapur dan tak lama keluar dengan membawa minuman untuk kami.
"Ibu tinggal dulu ya," pamit ibu.
Sekarang tinggal aku dan istriku saja yang ada di ruang tamu sementara Andre masuk kamar ibu.
"Mas. . . " panggil istriku.
Aku lalu menoleh ke arahnya, "Kenapa?" tanyaku.
"Mas bilang mau ambil sisa barang di kost? Mas kost di sebelah mana?" tanya istriku.
"Kita ambil sekarang saja, ya?" tanyaku.
"Iya,mas. Kita ambil sekarang saja!" sahutnya.
"Ya sudah mas panggil Andre dulu!" jawab ku.
Aku lalu pergi ke kosan bersama Andre dan istriku sementara Alya masih diajak ngobrol sama ibunya. Saat kami melewatinya,aku lihat Lisa menatapku dengan sorot mata tajam. Seakan ada kebencian di sana. Aku berusaha tidak mempedulikannya dengan terus menggandeng istriku lalu membukakan pintu mobil untuknya.
Kami lalu sampai di kostan. Ada kasur dan lemari kecil serta alat dapur. Ķami lalu membawanya pulang ke rumah Ibu,mungkin di rumah Ibu barang-barangku masih bisa berguna.
Satu jam kemudian kami sudah selesai mengangkut semua barang-barang kami yang ada di kost ke rumah ibu. Aku lihat Lisa sudah tidak ada lagi mungkin dia sudah pulang.
"Ayah,aku boleh nggak sesekali menginap di rumah ibu?" tanya putriku tiba-tiba saat kami baru saja sampai.
"Adek mau menginap di rumah ibu? Ngapain?" tanya Andre tak suka.
"Ibu kangen sama aku,mas. Ibu juga kangen sama mas Andre!" jelas Alya.
"Kok kangennya baru sekarang? Dulu-dulu kemana? Mas nggak kangen sama ibu!" jawab Andri ketus.
"Mas Andre nggak boleh ngomong seperti itu ya,nak!" ucapku.
Kedua anakku saling menatap sinis satu sama lain.
Setelah memilih barang yang hendak di bawa ke rumah istriku dan menaruhnya ke mobil,kami segera pamitan pada ibu.
__ADS_1
"Mas,aku ingin beli buah dulu!" ucap istriku saat kami sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
"Iya,sayang!" sahutku lalu menggenggam jemarinya.
Setelah sampai di toko khusus buah yang istriku maksud,aku langsung memarkirkan mobil dan kami segera masuk ke dalam toko.
"Ayah,aku boleh ambil buah?" tanya putriku.
"Tentu saja,nak! Ambil buah apa saja yang Alya mau,ya! Ayah ada uang nih di dompet!" sahutku.
Kedua anakku dari kecil memang sudah aku tanamkan sikap anti mengemis,meminta sesuatu pada orang lain. Dan mereka hanya boleh meminta apapun hanya padaku.
Istriku lalu menoleh ke arahku, "Aku mau borong buah,ya mas!"
"Iya,sayang! Kalau cuma buah,dompet mas masih sanggup!" gurauku. Dia pun tertawa.
Setelah membeli beberapa macam buah,aku lalu membayarnya di kasir sedangkan istriku keluar lebih dahulu bersama putriku.
Setelah membayar di kasir,aku keluar bersama Andre. Ternyata istri dan putriku sedang membeli kue yang di jual di etalase yang ada di teras toko buah.
"Sudah,mas?" tanyanya.
"Sudah. Yuk kita pulang!" ajakku.
"Mas,kita jadi kan beli tempat tidur yang ukuran single untuk Alya dan Andre?" tanya istriku.
"Oh iya,mas lupa. Belinya dimana?"
"Iya,terserah istriku saja!" sahutku.
Kami lalu menuju toko yang istriku maksud. Tokonya cukup besar dengan berbagai macam merek tempat tidur yang terkenal dan tentunya dengan harga yang mahal.
Aku sampai bingung memilih yang mana untuk kedua anakku.
"Andre sama Alya mau yang mana,nak?" tanyaku pada mereka berdua.
Mereka saling pandang dan terlihat bingung saat melihat harga yang tertera.
Aku lalu mencari merek yang lain mungkin ada yang lebih murah tapi sama saja,bedanya sangat tipis padahal tempat tidur untuk singel tapi harganya masih mahal.
"Andre dan Alya mau yang mana?" tanya istriku yang melihat kedua anakku masih saja belum memilih.
"Hhhmm,bunda. Kita cari di toko lain saja,ya?" sahut Andre.
"Loh kenapa? Nggak ada yang kamu suka? Apa mau yang ada gambarnya? Banyak kok tempat tidur anak yang ada gambarnya. Macam-macam dan lucu. Gambar hello kitty juga ada buat Alya!" jelasnya
"Sayang,harganya terlalu mahal. Kita cari di tempat lain saja,ya!" sahutku lalu mengajak kedua anakku keluar dari toko.
__ADS_1
Bukan aku tidak mau membelikan tempat tidur yang mahal untuk kedua anakku tapi satu tempat tidur saja harganya bisa sampai dua bulan gajiku di toko sebelum menikah. Dan uang simpananku sekarang sudah menipis karena sudah di pakai untuk biaya nikah karena walaupun pernikahan kami sederhana,aku tetap tidak mengijinkan istriku yang keluar biaya. Itu semua menjadi tanggunganku.
Santi menarik tanganku, "Mas,biar aku yang bayar,ya!" ucapnya.
Aku menggelengkan kepala, "Kita cari di tempat lain saja!" tegasku.
Wajah istriku langsung berubah.
"Aku hanya ingin membelikan sebagai hadiah untuk mereka,mas. Sebagai ucapan terimakasih karena sudah menerimaku sebagai ibu mereka. Apa salah jika seorang ibu membelikan sesuatu untuk anaknya. Itu kalau mas menganggap aku ini sebagai ibu mereka walau bukan aku yang melahirkan!" jelas istriku lalu berjalan mendahului kami. Terlihat gurat kecewa di matanya.
Kedua anakku saling memandang.
Kami gegas menyusul istriku. Aku lalu menarik tangannya.
"Maafin,mas. Mas hanya nggak enak kalau kamu yang bayarin . ."
"Nggak enak sama istri sendiri?"
Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Bingung harus menjelaskan bagaimana.
"Ya sudah pulang saja!" ucapnya dengan wajah di tekuk dan hendak berlalu tapi dengan cepat aku tarik tangannya lagi.
"Iya,kamu yang bayarin! Yuk!" ajakku.
Dia lalu menoleh, "Yakin?"
Aku mengangguk seraya tersenyum, "Maafin sikap mas,ya!" pintaku memohon. Masalah seperti ini saja sudah menbuat dia sedih. Aku tidak ingin menyakiti hatinya.
"Ya sudah,ayo!" sahutnya.
Kami lalu memilih tempat tidur seperti yang di pilihkan istriku. Dia sangat mengerti selera anak-anak. Kedua anakku sangat menyukai pilihan ibu sambung mereka itu.
Setelah selesai bertransaksi,kami pun melanjutkan pulang ke rumah istriku. Iya,rumah istriku. Aku tidak ingin mengaku-ngaku kalau itu juga rumah kami.
"Mas,hari ini nggak usah ke minimarket,ya!" pinta istriku saat kami sedang di perjalanan pulang.
"Kenapa memangnya?"
"Kan masih suasana pengantin baru!" ucapnya malu-malu.
"Hhmm,tapi nanti mas di rumah ngapain kalau masih suasana pengantin baru?" aku memberi pertanyaan memancing.
"Hhmm,mas mau ngapain?"
"Ya pengantin baru maunya ngapain,hmm?" ucapku seraya mengedipkan sebelah mataku.
"Hhmm,mas. Kan ada anak-anak," sahutnya malu-malu.
__ADS_1
"Anak-anak tidur. Tuh lihat saja!" ucapku sambil menoleh ke kursi belakang.
Dia ikut menoleh lalu tersenyum malu.