Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 216


__ADS_3

Baru saja Darren keluar dari minimarket, ada yang memanggilnya.


"Darren."


Darren menoleh, "Ya, pak?" sahut Darren. Ternyata yang memanggilnya pak Rudi.


"Pulang naik apa?"


"Naik angkot, pak."


"Ayo saya antar kamu," tawar pak Rudi.


"Wah, aku ngerepotin pak Rudi saja, nih," ucap Darren.


"Tak apalah. Ayo!" Rudi sudah siap di atas motornya menunggu Darren ikut naik. "Hey, ayo!" titah Rudi.


"Ehmm, i-iya, pak. Nanti pak Rudi nganter aku kejauhan. Rumah kita kan berlawanan arah, pak," ucap Darren tidak enak hati.


"Yang penting masih dalam satu kota, kan. Apa rumahmu di kota lain?" sahut Rudi.


Darren senyum-senyum saja. Motor pun melaju dengan kecepatan sedang.


"Rumah kamu daerah mana?" tanya Rudi sembari mengemudikan sepeda motornya.


"Di daerah selatan, pak. Daerah perkampungan," jawab Darren.


"Ooh, ok.," sahut Rudi.


Tak lama kemudian, mereka sampai di depan gang yang menuju rumah Darren


"Terimakasih pak," ucap Darren setelah sampai di rumah.


"Iya, sama-sama. Saya pulang dulu."


"Hati-hati di jalan, pak," ucap Darren sembari melambaikan tangannya.


Darren lalu membalik badannya. Ternyata mamanya sudah berdiri di depan pintu.


"Kamu naik ojek?" tanya mamanya.


"Bukan, ma. Itu tadi pak Rudi," jawab Darren.


"Pak Rudi, siapa?"


"Pak Rudi itu bekerja di minimarket juga, ma. Orangnya baik," ucap Darren lantas menuju ke belakang di ikuti oleh mamanya.


"Oh, gitu. Iya baik, makanya mau antar kamu pulang."


"Iya, ma. Oh iya, pak Rudi itu sedang mencari mantan suami istrinya. Karena putri sambungnya mau menikah, tapi sampai sekarang belum ketemu juga. Kasihan putrinya tadi datang ke minimarket dengan wajah sedih," jelas Darren.


"Oh ya. Siapa nama mantan suaminya itu?"


"Nah, mantan suaminya itu namanya 'David', ma. Sama seperti nama papa, ya."


Deg. David. Jantung Lisa tiba-tiba berdebar-debar. "Nama istrinya siapa, nak? Atau nama putrinya?" tanya Lisa penasaran.


"Siapa, ya. Kalau nama anaknya aku lupa tanya, ma. Kalau nama istrinya, dulu pak Rudi pernah bilang tapi aku lupa."


"Besok, coba kamu tanyakan!"


Dahi Darren berkerut, "Memangnya kenapa, ma?"


"Bukan apa-apa, kamu tanyakan saja."


"Tapi aku sekarang di tempatkan di kasir di lantai dua, ma. Nggak sama pak Rudi lagi di gudang," jelas Darren.


"Loh, kenapa di pindah?"


"Kata pak Anto supaya aku nggak perlu lagi angkat barang-barang berat."

__ADS_1


"Hhmm, pas lagi istirahat saja kamu coba tanyakan, nak,"


"Hhmm, apa mantan istri papa punya seorang putri?" tanya Darren mulai curiga.


"Apa yang kalian obrolin? Kenapa menyebut papa, Darren?" tanya David yang tiba-tiba berdiri di belakang mamanya.


Mereka berdua sontak menoleh, "Papa?"


"Mas?"


"Darren? Siapa yang kalian bicarakan?"


"I-itu, mas. Tadi ada karyawan minimarket yang antar Darren pulang. Hhmm, dia sedang mencari mantan suami istrinya dan namanya sama seperti nama mas David," jelas Lisa.


Dahi David berkerut, "Siapa namanya?"


"Hmm, nama karyawan minimarket itu pak Rudi, pa."


"Siapa nama istrinya dan kenapa mencari mantan suami istrinya?"


"Hhmm, aku lupa tanya nama mereka, pa. Mereka mencari karena putri sambungnya itu mau menikah. Putrinya ingin papanya yang menikahkan," jelas Darren.


Deg. David terdiam. Lisa dan Darren hanya saling pandang.


"Hhmm, aku mau mandi dulu," ucap Darren memecah keheningan sesaat itu.


David segera berlalu dari sana. Lisa buru-buru memberikan air panas untuk putranya mandi yang sudah dia siapkan sebelumnya. Setelah itu dia menyusul suaminya ke dalam.


David terlihat tidur sembari melamun dengan berbantalkan tangannya.


"Mas," sapa Lisa lalu duduk di sebelah suaminya.


"Aku akan mencari putriku. Mungkin dia sedang membutuhkan aku walau hanya untuk menikahkannya," ucap David lirih.


"Iya, mas. Aku boleh ikut? Aku ingin minta maaf sama mbak Melly," sahut Lisa.


David menoleh ke arah Lisa.


***


Keesokan harinya, David dan Lisa sudah bersiap untuk pergi mencari mantan istri dan putri kandung David.


"Mas, apa kita nggak ke minimarket saja? Kita tanya siapa istri dari teman Darren yang mengantarnya pulang semalam," ucap Lisa.


David menganggukkan kepalanya, "Ya sudah, kita ke sana."


"Tapi sepertinya dia sift dua bareng sama Darren, mas. Apa sore saja kita ke sana? Sekarang mungkin dia belum datang," usul Lisa.


"Oh, yasudah. Kita kesana malam saja sekaligus menjemput Darren," ucap David.


"Baiklah, mas," sahut Lisa.


Selepas sholat Isya, Lisa dan David segera ke minimarket dengan menumpang angkot. Sampai di sana, Lisa mencari putranya terlebih dahulu. Mereka pun langsung ke lantai atas di mana putra mereka menjadi kasir di sana.


"Darren," panggil Lisa.


Darren menoleh, "Mama?"


"Mama dan papa mau ketemu sama pak Rudi itu, nak. Apa bisa?" tanya Lisa.


"Hhmm, tapi masih ada yang beli, ma. Aku jaga sendirian di sini," sahut Darren.


"Nggak ada teman lain?"


"Kalau malam, karyawan memang tidak sebanyak pagi, ma. Dan semuanya laki-laki," jelas Darren.


"Baiklah, setengah jam lagi minimarket tutup, kan. Mama dan papa tunggu tutup saja."


"Baiklah, ma, pa," sahut Darren. Darren pun kembali bekerja.

__ADS_1


Setelah minimarket tutup, Darren gegas menemui Rudi.


"Pak Rudi," panggil Darren.


"Ya, mau bareng saya lagi pulangnya?" tanya Rudi ramah.


"Hhmm, ada yang mau bicara sama pak Rudi," jelas Darren.


Rudi mengernyitkan dahinya, "Bicara sama saya? Siapa?"


"Hhmm, mama sama papaku, pak."


Mata Rudi membulat, "Apa?" tanya Rudi kaget.


"Iya, pak. Orangtua aku sudah menunggu di depan."


"Hhmm, ada apa, ya? Ya sudah, ayolah!" ucap Rudi.


Mereka lalu menumui David dan Lisa yang sudah menunggu dari tadi.


"Ma, pa," panggil Darren.


Lisa dan David menoleh.


"Pak Rudi, kenalin ini mama sama papa aku," ucap Darren lalu menoleh ke arah orangtuanya, "Ma, pa, ini pak Rudi," ucap Darren lagi.


Merekapun saling berkenalan.


"Ada perlu apa, ya?" tanya Rudi yang masih belum paham maksud orangtua Darren.


"Begini, pak. Darren bilang kalau pak Rudi sedang mencari mantan suami dari istri bapak. Namanya David. Benar, pak?" tanya David.


Dahi Rudi berkerut, "Iya, benar, pak."


"Kebetulan nama saya juga David dan saya dulu pernah menikah lalu bercerai."


Mata Rudi membulat, "Nama bapak 'David'?"


David menganggukkan kepalanya, "Nama istri bapak siapa, ya?"


"Hhmm, nama istri saya 'Melly."


"Melly?" seru David dan Lisa hampir berbarengan.


"Nama putrinya siapa, pak?"


"Nama putrinya?"


"Nama putri sambung saya itu Davina."


"Davina?" Lagi-lagi David dan Lisa terkejut.


"I-iya, namanya Davina dan satu bulan lagi dia akan menikah."


David mengusap wajahnya kasar. Kenapa kebetulan yang sangat pas. Sedangkan Lisa memegangi dadanya yang terasa sesak. Ada penyesalan mendalam di hatinya.


"Boleh kita bertemu anak dan istri pak Rudi?" tanya David.


"Oohh, iya boleh," jawab Rudi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


10


__ADS_2