Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 30


__ADS_3

Alhamdulillah,dua minggu bekerja di minimarket mbak Santi,aku mulai bisa mengoperasikan komputer karena walau hanya lulusan SMP,tapi aku dulu selalu dapat ranking jadi aku bisa dengan mudah memahami apa yang aku pelajari.


Mbak Santi juga orang yang cerdas,di lihat dari cara dia mengajariku bagaimana mengoperasikan komputer. Aku benar-benar kagum padanya.


Tapi sikapnya mulai aneh padaku. Dia sering bersikap malu-malu jika tidak sengaja mata kami bertemu. Aku pun menjadi tidak nyaman dan membuatku sedikit menjaga jarak dengannya.


Hari ini barang baru masuk ke gudang. Karena ada satu karyawan yang tidak masuk di karenakan sedang sakit,jadi aku dan mbak Santi ikut turun tangan membantu di gudang. Mungkin karena kelelahan tiba-tiba dia pingsan di depanku.


Aku buru buru membopongnya dan membawanya ke kantor dan membaringkannya di atas sofa. Aku lalu mengoles hidungnya dengan minyak kayu putih. Beberapa saat kemudian dia mulai tersadar. Netranya menatap sekeliling ruangan dengan tangan memegangi kepalanya.


"Mas? Kenapa saya sudah ada di sini?" tanya mbak Santi lemah.


"Maaf,saya yang membawa mbak ke sini karena tadi mbak tiba-tiba pingsan!" jelasku.


"Saya pingsan?" tanya mbak Santi lirih. Wajahnya terlihat sangat pucat.


"Iya,mbak tadi pingsan saat di gudang," jawabku.


Hhhh,dia terdengar merintih. "Bisa tolong antarkan saya ke rumah sakit,mas?" tanyanya lagi.


"Bisa kok,mbak! Rumah sakir mana? tanyaku.


"Nanti saya tunjukan! Sekarang kita jalan dulu!" jawabnya.


Aku lalu mengantarkannya pergi ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit dia memintaku mengambilkan kursi roda karena sepertinya dia tidak sanggup untuk berjalan sendiri dan aku juga tidak enak kalau harus membopongnya.


Dia lalu menghubungi dokter pribadinya. Tak lama kemudian untuk pribadinya datang dan ia masuk ke ruang praktek dokter itu. Aku diminta menunggu di depan ruangan.


Sepuluh menit kemudian mbak Santi keluar dengan wajah sedih dan masih terlihat pucat. Aku ingin bertanya tapi tidak enak,aku tidak ingin terlalu masuk ke dalam kehidupan pribadi mbak Santi.


Saat kami sedang di dalam mobil tiba-tiba dia menoleh ke arahku. Pandangan mata kami bertemu.


"Mas. . . " ucapnya lirih.


"Iya mbak," sahutku.


"Apa saya bisa minta tolong?" tanyanya.


"Minta tolong apa ya,mbak?" tanyaku.


"Penyakit saya bertambah parah. Saya ingin sekali mempunyai keturunan,mas!" ucap mbak Santi lirih.


Aku hanya diam. Aku belum mengerti arah pembicaraannya. "Kalau boleh tahu mbak sakit apa?" tanyaku.

__ADS_1


"Saya memiliki penyakit kanker otak. Tadi dokter bilang sudah stadium tiga!" jelasnya dengan raut wajah putus asa. Aku lihat pandangan matanya kosong.


"Apa mbak tidak mencoba berobat ke luar negeri?" tanyaku.


"Dulu sering sewaktu masih ada suami saya. Tapi sejak suami saya meninggal,saya sudah tidak semangat lagi berobat ke luar negeri!" jawabnya.


Rasanya aku bisa merasakan apa yang dirasakan oleh mbak Santi. Hidup sebatang kara bahkan keturunan pun tidak ada.


"Jadi maksudnya mbak Santi ingin menikah lagi supaya bisa memiliki keturunan?" tanyaku hati-hati.


Dia mengangguk pelan lalu menoleh ke arah jendela tidak mau menatap ke arahku, "Iya!"


"Kalau mbak sudah punya calonnya kenapa tidak memberitahunya? Siapa tahu dia bisa membantu atau mengajak mbak menikah dan mbak bisa segera hamil."


Dia lalu menggeleng lemah," Saya tidak mempunyai calon!" jawabnya.


Aku bingung harus mengatakan apa. Tiba-tiba dia mengusap wajahnya,sepertinya dia menangis. Dia Lalu menoleh lagi ke arahku.


"Apakah mas mau jadi ayah dari anakku?" tanyanya dengan suara bergetar seraya memegang tanganku.


Mataku membulat sempurna. Aku sangat shock mendengar ucapannya apalagi dia sampai memegang tanganku. Aku sampai tidak bisa berkata-kata.


Mungkin karena melihat aku yang diam saja,wajahnya jadi sedikit memerah yang sebelumnya pucat. Tiba-tiba dia melepaskan tangannya lalu kembali menoleh kearah jendela.


Apakah dia malu atau karena melihatku yang diam saja jadi dia merasa kalau aku telah menolaknya? Sungguh aku bingung,aku tidak tahu harus menjawab apa.


"Maaf,mbak. Apa mbak nggak salah bicara? Mbak tahu sendiri saya orangnya seperti apa. Seorang pria miskin yang tidak mempunyai apa-apa! Saya juga hanya lulusan SMP dan juga saya sudah memiliki dua orang anak," jelasku.


"Saya-saya sudah tau,mas! Karena saya tahu mas orangnya baik makanya saya memilih mas! Saya yakin mas pasti akan menyayangi anak mas dari saya walaupun mas tidak mencintai saya!" ucapnya terbata-bata masih tetap menatap ke arah jendela.


"Hhhmm,mbak. Bagaimana kalau kita pikirkan dulu ini baik-baik supaya nggak ada penyesalan di kemudian hari!"


"Saya sudah memikirkannya,mas!" ucapnya pelan namun dengan penekanan.


Hhh,aku menghela nafas perlahan, "Istri saya meninggalkan saya karena menyesal sudah menikah dengan saya! Saya takut mbak nanti juga akan menyesal!" tegasku.


Dia lalu menoleh ke arahku, "Menyesal karena apa? Pasti ada sebabnya?"


"Karena saya pria yang nggak memiliki apa-apa!"


"Apa mas pikir saya mempermasalahkan itu? Di saat seperti ini,itu semua nggak ada artinya buat saya! Semua itu nggak ada gunanya!" mbak Santi terus meyakinkanku.


"Hhmm,beri saya waktu untuk berpikir,mbak! Saya mempunyai dua orang anak. Saya ingin bertanya dulu pada kedua anak saya,apa mereka setuju. Semua keputusannya ada di tangan kedua anak saya!" tegasku.

__ADS_1


"Baiklah,saya mengerti. Saya akan tunggu jawaban mas!" ucapnya lalu bersandar seraya memejamkan matanya. Aku bisa melihat gurat kesedihan dan lelah di wajahnya. Dia sebenarnya cukup manis walau tanpa make up tebal di wajahnya tidak seperti Lisa yang terbiasa dengan make up. Ahh,kenapa aku jadi ingat wanita pengkhianat itu! Aku mengusap kasar wajahku.


"Kita pulang sekarang,mbak?" tanyaku kemudian.


Dia lalu mengangguk lemah.


Aku lalu melajukan mobilku ke arah rumah mbak Santi. Sampai di rumahnya aku lalu memarkirkan mobil di halaman. Kami berdua lalu turun.


"Mbak,aku langsung kembali ke minimarket,ya!" pamitku.


"Iya mas,terima kasih! Kalau mas mau bawa mobil saya,bawa saja!" ucap mbak Santi.


"Tidak perlu,mbak. Saya kan bawa sepeda motor ke minimarket. Dan juga bagaimana besok mbak mau ke minimarket kalau mobil saya bawa."


"Mas bawa saja. Mas bisa jemput saya besok pagi sebelum ke minimarket. Sepeda motor mas tinggal saja di minimarket," ucapnya.


"Tapi,mbak. Saya kalau pulang membawa mobil mbak,nanti apa kata tetangga? Saya tidak ingin menjadi omongan orang,mbak," jawabku.


"Oh begitu ya,mas. Baiklah kalau begitu. Mas mau kembali ke minimarket naik apa?" tanya mbak Santi.


"Saya pesan kendaraan online saja,mbak!" jawabku.


"Oh iya ya. Apa mas enggak mempunyai handphone sendiri selain yang dipakai anak-anak biar saya mudah menghubungi mas?"


"Iya rencananya besok saya baru akan membeli handphone,mbak!"


"Oh begitu. Baiklah,mas hati-hati di jalan,ya. Saya masuk dulu!" pamit mbak Santi lalu segera masuk ke dalam rumahnya.


Setelah dia masuk,aku lalu meminta bantuan pak satpam untuk memesankan ojek online untukku.


Tak lama kemudian ojek online datang. Aku segera kembali ke minimarket.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


12


__ADS_2