Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 179


__ADS_3

Darren sudah mengambil ijasahnya. Dia tersenyum-senyum sendiri sembari melangkah ke kelas Annisa.


Dia mengintip ke dalam kelas, kebetulan anak-anak kelas sepuluh dan sebelas sedang ujian kenaikan kelas dan saat ini sedang istirahat.


"Ah, ternyata si kembar sedang di kantin," gumam Darren.


Darren pun melangkahkan kakinya ke kantin. Dan benar saja, dari pintu menuju kantin, terlihat si kembar yang sedang makan.


Kangen banget sama dia. Dia kangen nggak ya sama aku. Batin Darren. Darren melangkah dengan pelan mendekati meja Annisa.


"Hai, Nis."


Annisa menoleh, "Kak Darren. . .?" Annisa terpaku menatap ke arahnya. Ada binar rindu di mata bening gadis itu. Gadis yang beberapa hari ini sangat dia rindukan.


Darren lantas ikut duduk di dekat gadis itu.


"Kak Darren sudah terima ijasah?" tanya Alina.


Darren mengangguk sembari tersenyum.


"Mau kuliah di mana, kak?" tanya Annisa.


Wajah Darren berubah. Ingin kuliah, tapi dia tidak mempunyai biaya.


"Hhmm, kakak belum tahu," jawabnya lirih.


"Bukannya pendaftaran kuliah sudah di buka ya, kak? Nanti telat, loh!" ucap Alina.


"Hhmm, iya."


"Oh iya kak Darren nggak kerja di minimarket lagi, ya? Kenapa, kak?" tanya Annisa heran.


"Hhmm, nanti saja kakak kerjanya."


"Loh, kenapa? Aku bilangin sama ayah, ya?"


"Eh, jangan! Hhmm, nanti saja."


Hhh, Annisa mengamati wajah Darren yang seperti menyembunyikan sesuatu.


Tak lama kemudian, Darren pamit pulang karena Annisa masih ada ujian satu lagi.


***


Darren sampai di rumahnya. Baru saja dia melepas sepatu, papanya datang.


"Bagaimana nilai kamu?"


"Ini. . ." sahut Darren lantas mengulurkan map yang berisi ijasahnya ke atas meja.


David membuka lalu mengambil isi dalam map kemudian membacanya, "Hhmm, lumayan," ucapnya lantas mengembalikan map ke atas meja kemudian berlalu dari hadapan Darren. Menaiki sepeda motor tua yang entah punya siapa.


"Hhh, mau papa aku dapet nilai berapa? Masih beruntung aku dapat ranking sepuluh besar di kelas. Itu aku sudah berusaha semaksimal aku bisa di banding nilaiku sebelumnya. Itu semua karena Annisa. Aku nggak mau malu kalau sampai dia tahu nilaiku jelek," gumam Darren.


Darren mengambil mapnya lagi lalu masuk ke kamar. Mengganti pakaiannya lantas berbaring di tempat tidur.


"Sekarang aku mau ngapain, ya? Ngelamar di bengkel lagi? Ah, aku nggak mau sampai Ryan melihatku di sana. Itu kan bengkel langganannya. Bisa-bisa aku di kerjain lagi sama anak itu dan teman-temannya. Hidup jadi nggak tenang. Tapi aku harus kerja di mana? Di minimarket keluarga Annisa nggak mungkin. Aahhh, pusiingg!" teriaknya.

__ADS_1


"Darren? Ada apa? Kapan kamu pulang?" tanya Lisa yang sudah berdiri di depan pintu kamar Darren.


"Baru saja, ma."


"Kenapa kamu teriak-teriak? Kalau papa kamu denger, bisa ngomel dia!"


"Hhh, papa baru saja pergi. Tadi ketemu aku di depan."


"Hhmm, ijasah kamu sudah dapat?"


"Iya, ma, aku sudah dapat ijasah."


"Alhamdulillah. Bagaimana nilainya?"


Darren mengulurkan map ke tangan mamanya. Lisa lalu membuka map, mengambil isinya kemudian membacanya.


"Alhamdulillah, nilai kamu bagus, nak."


"Lumayan, kata papa,"


"Hhmm, nggak usah di dengerin omongan papa kamu. Setelah ini kamu mau bagaimana?"


"Jadi pengangguran, ma."


Mata Lisa membulat, "Darren?"


"Aku ingin kuliah, aku ingin kerja tapi gimana, ma?" ucap Darren sedih.


Hh, Lisa menarik nafasnya berat, "Maafin mama. Mama nggak ada uang untuk kuliah kamu, nak."


"Aku hanya minta ijin untuk kerja, ma. Di minimarketnya, hmm. . . Pasti mama nggak setuju."


"Papa nggak akan tahu selama kita bisa jaga rahasia, ma. Aku juga kerjanya di gudang, hanya sesekali ke area minimarketnya itupun aku pakai topi kalau perlu aku pake masker juga."


"Kalau papa tanya kamu kerja di mana, kita hrus jawab apa? Kamu juga pulangnya kan malam."


"Bilang saja aku kerja jaga toko di pasar, ma. Aku akan ambil sift pagi jadi pukul dua siang aku sudah pulang. Dan aku bisa kuliah sorenya, ma. Aku mau kuliah, ma!" jelas Darren dengan wajah memohon.


"Gimana kalau kamu kerja di toko saja, nak?"


"Mama. Berapa sih gaji kerja jaga toko di pasar? Sedangkan di minimarket pak Anto paling kecil gajinya dua juta untuk karyawan baru. Di sana rata-rata gajinya dua juta lima ratus. Bahkan ada yang tiga jutaan, ma. Aku bisa buat kuliah dan juga bantu-bantu mama. Toko lain mana ada gaji segitu."


Lisa terlihat bingung. Sebenarnya aku juga malu seandaikan Darren ikut bekerja sama mas Anto tapi demi kebahagiaan Darren, aku akan menekan rasa maluku. Tapi yang jadi masalah adalah papanya Darren pasti marah besar kalau tahu anaknya bekerja di minimarket mas Anto. Lisa bermonolog.


"Mama pikir-pikir dulu ya, nak. Coba kamu daftar kuliah dahulu dengan uang yang ada, cukup apa nggak."


"Hhhmm, iya ma," sahut Darren pasrah.


Lisa lalu meninggalkan Darren di kamarnya.


Lisa keluar rumah, duduk di teras. Pikirannya menerawang ke masa lalu.


***


Malam hari, setelah selesai makan malam, Darren langsung ke kamarnya. Sedangkan David duduk di ruang tamu merangkap ruang keluarga sembari menonton tv.


Lisa datang dengan membawa segelas kopi untuk suaminya.

__ADS_1


"Mas, ini aku bawain kopi," ucap Lisa lalu menaruhnya di atas meja di samping suaminya duduk.


"Hhmmm," sahut David.


"Mas, Darren kan sudah selesai sekolahnya. Daripada dia nganggur di rumah, suruh saja dia kerja."


"Ya kerja sana. Nggak ada lagi uang jajan!" sahut David ketus.


"Jadi mas ijinkan Darren kerja?" tanya Lisa.


"Ya kerja saja toh dia sudah lulus sekolah. Masa mau jadi pengangguran?" ucap David.


Hhmm, mas juga banyak nganggurnya, kok. Batin Lisa.


"Kerja di mana saja terserah Darren ya, mas?"


"Terserah, asal jangan membuat ulah dan aku nggak mau mengurusi anak itu kalau ada apa-apa. Sudah selesai sekolah sudah bertanggung jawab atas diri sendiri!"


Lisa tersenyum, hatinya merasa lega.


"Baik, mas. Aku akan nasihatin Darren supaya kerja yang bener. Dia juga mau kuliah dengan uang hasil kerjanya, pa."


"Terserah!" ucap David lalu meminum kopi yang di bawakan istrinya tadi.


"Mas, aku pijitin kakinya, ya?" ucap Lisa.


"Hhmm,"


"Jadi mas nggak akan marah-marah lagi kan kalau Darren pulangnya malam kan dia mau kerja sambil kuliah.


"Hhmm,"


Dari dalam kamarnya, Darren tersenyum-senyum sendiri.


"Yes! Yes!" ucapnya sembari melompat-lompat.


Darren lalu membuka lemari pakaiannya, mencari beberapa pakaian terbaiknya untuk di setrika. Dia juga menyiapkan berkas-berkas untuk pendaftaran kuliah.


"Hhh, semoga masih sempat mendaftar," gumamnya.


Setelah semua berkas siap, Darren mulai menyetrika supaya besok pagi dia tidak lagi kerepotan. "Bismillah. . ." gumamnya.


.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo. Selamat membaca. Semoga suka 😊🙏


.


.

__ADS_1


.


16


__ADS_2