
Annisa dan Alina sedang menunggu ayahnya datang menjemput. Annisa sengaja mengajak Alina duduk di taman yang bisa melihat langsung ke parkiran sekaligus gerbang sekolah.
Annisa kerap kali mengalihkan pandangannya ke arah parkiran supaya bisa melihat Darren. Sepeda milik kakak tingkatnya itu masih terparkir di sana, artinya dia belum pulang. Annisa jadi tidak sabar.
Kak Darren kemana, ya. Kok belum muncul juga. Hari ini juga tidak terlihat tapi sepedanya ada. Batin Annisa gelisah. Dia takut saat ayahnya datang menjemput, Darren belum terlihat juga. Entah dia ingin sekali melihat kakak tingkatnya itu walaupun hanya dari jarak jauh.
Ternyata keinginan Annisa terkabul. Darren terlihat sedang berjalan ke arah sepedanya seorang diri. Dia gegas menaiki sepedanya kemudian mengayuh sepedanya keluar gerbang sekolah. Dia sempat menoleh sesaat ke arah Annisa yang sedang memperhatikannya. Annisa mencoba tersenyum tapi Darren hanya menatapnya dingin lalu segera melanjutkan mengayuh sepedanya.
"Lihat siapa sih, Nis?" tanya Alina.
"Hhmm, nggak lihat siapa-siapa, kok!" jawab Annisa gugup.
Tak lama kemudian mobil ayahnya tiba. Annjsa dan Alina berlarian keluar gerbang sekolah menuju mobil ayahnya yang sudah terparkir tidak jauh dari sana. Mereka membuka pintu mobil belakang dan ternyata di kursi depan sudah ada bunda mereka.
"Bunda juga jemput kita?" tanya Alina kaget.
"Iya, sayang. Hari ini bunda mau ajak kalian ke butik. Kita akan pilih pakaian untuk dipakai di acaranya mas Andre nanti!" jelas bunda mereka.
"Wah nanti kita pilih yang samaan ya, bun? tanya Alina.
"Tentu saja sayangnya. Kita cari pakaian yang kembaran sama nenek dan kak Alya juga," jawab bundanya.
"Asik. . .!" seru Alina dan Annisa.
"Kita akan cari sesuatu juga buat calon istri mas Andre. Untuk seserahan."
"Oohh, iya bun. Kita akan bantu pilihkan, ya?"
"Iya, sayang!"
"Tapi sebelum itu kita cari makan siang dulu, ya. Kalian pasti lapar!" ucap ayahnya yang sedang fokus menyetir.
Annisa terus saja menoleh ke arah jendela. Lagi-lagi dia melihat Darren tapi kali ini dia melihat Darren sedang berada di sebuah bengkel kecil. Kakak tingkatnya itu sudah tidak lagi memakai seragam sekolah tapi Annisa masih bisa mengenalinya.
Jadi kak Darren kerja di bengkel. Batin Anisa sambil terus memandang ke arah Darren sampai tidak terlihat lagi.
"Kamu kenapa sih Nis melamun, ya? tanya Alina.
"Enggak kok, aku hanya sedikit ngantuk!" jawab Annisa bohong.
Beberapa menit kemudian mobil berhenti di sebuah restoran kecil. Mereka lalu turun dan masuk ke restoran itu.
"Kalian mau makan apa?" tanya bundanya.
"Aku apa saja deh, bun!" jawab Annisa.
"Kalau aku mau pilih sendiri, bun!" jawab Alina seraya membaca buku menu.
Setelah memesan makanan, mereka menunggu beberapa menit. Tak lama kemudian pesanan mereka datang. Mereka lalu mulai menyantap makan siang mereka. Annisa makan sambil melamun hingga makanannya masih banyak tersisa sementara yang lain sudah menghabiskan makan siangnya.
"Kamu nggak suka ya, nak?" tanya bundanya heran melihat putrinya makan seperti tidak berselera.
Anisa lantas menoleh kearah bundanya, "Suka kok, bun!" jawabnya.
"Kalau suka kenapa makannya tidak bersemangat gitu?"
"Hhmm,"
"Ayo cepat dihabiskan, nak. Kita mau segera cari pakaian. Nanti keburu sore!" titah ayahnya.
"Iya, yah!"
"Setelah mengantar kalian mencari pakaian, ayah mau kembali lagi ke minimarket."
__ADS_1
Anisa segera menghabiskan makanannya walau dipaksakan.
Setelah selesai makan siang, mereka pergi ke butik langganan bundanya dulu.
"Ayo nak, kalian pilih mana yang bagus buat kita pakai nanti!" ucap bundanya.
"Iya, bunda. Beres!" sahut Alina.
Selama satu jam lebih mereka memilih pakaian mana yang mereka sukai. Akhirnya mereka dapat pakaian yang di mau dan pastinya tersedia untuk di pakai lima orang. Pakaian yang terlihat sederhana namun tetap terlihat elegan karena harganya pun tidaklah murah.
"Kita ke butik yang lain lagi, yuk!" ajak bundanya.
"Kan sudah dapet, yank?" tanya Anto heran.
"Kan acaranya dua kali, mas. Akad nikah sama resepsinya juga!" jelas bundanya.
"Oh iya," sahut Anto.
"Ya sudah ayo kita cari lagi. Cari pakaian juga untuk Andre nanti."
"Buat ayah juga dong!" sahut alina.
"Iya buat ayah juga."
Mereka lalu mulai mencari pakaian dengan motif dan model lainnya. Setelah memakan waktu satu jam lebih akhirnya mereka menemukan pakaian yang bagus. Karena di butik itu juga tersedia pakaian pria, mereka pun memilih pakaian untuk Andre dan Anto juga.
"Yang ini cocok deh buat ayah sama mas Andre!" ucap Alina.
"Hhmm, ayah coba dulu di kamar pas. Ukuran ayah sama mas Andre kan sama," ucap bundanya.
"Oh iya. Ayah coba dulu, ya!" sahut ayahnya yang langsung mencoba pakaiannya di kamar pas.
"Bunda, gamis ini cocok nggak buat kak Kanaya? Bagus, ya?" tanya Alina sembari menyodorkan gamis berwarna kuning muda ke bundanya.
"Iya, bun!" jawab Alina.
Alina pun masuk ke kamar pas. Tak lama kemudian dia keluar dengan memakai pakaian yang tadi dia ambil.
"Bunda, lihat!" serunya sambil berlenggak-lenggok.
"Wah, cantik!"
"Aku kan memang cantik, bun. Hehee!"
"Huuhh, sok cantik!" ejek Annisa.
"Hhmm, kalau aku jelek, kamu juga jelek. Lah, wajah kita mirip banget! Weeekk!" sahut Alina sambil menjulurkan lidahnya.
Annisa memajukan bibirnya.
"Ya sudah kita ambil itu buat calon mas Andre!" titah bundanya.
Anto pun menghampiri mereka, "Ini pakaiannya!" ucapnya sembari menyodorkan pakaian yang tadi dia coba ke istrinya.
"Pas nggak, mas? Coba tadi aku lihat dulu."
"Pas kok, yank."
"Cari yang lain juga, mas. Kan acaranya dua macam."
"Hhhmm, iya deh."
"Yang samaan saja warnanya dengan pakaian kita, mas.Tadi kita pilih yang warna cream sama biru muda."
__ADS_1
"Iya, sayang!"
Setelah puas memilih pakaian, mereka lantas pulang.
"Yang mau di bawa ke rumah calon Andre apa saja, yank?" tanya Anto saat mereka sudah di mobil.
"Oh iya, mas. Aku baru beli pakaian saja tadi."
"Ya sudah mumpung kita di luar, kita cari saja sekarang."
"Iya, mas.
Hari menjelang sore, sudah hampir pukul empat. Mereka sudah selesai membeli semua pernak pernik untuk seserahan.
"Memang harus seperti ini ya, bun?" tanya Alina.
"Iya, biasanya begitu. Tapi ada juga yang tidak."
Alina manggut-manggut.
Annisa yang sedang asik dengan gawainya tiba-tiba memanggil ayahnya yang sedang fokus menyetir.
"Ayah!" panggil Annisa.
"Hhmm, kenapa?"
"Kak Alya mau pulang. Kita jemput saja daripada dia nunggu taxi, kan?"
"Oh, kak Alya sudah mau pulang?"
"Iya, yah!"
"Jemput saja, mas."
"Iya."
Perjalanan ke kampus Alya hanya memakan waktu tidak sampai setengah jam saja. Saat mereka hampir sampai, dari jauh sudah terlihat Alya yang sedang berdiri di depan gerbang kampus. Di sampingnya ada sebuah mobil mewah. Alya kaget saat mobil keluarganya tiba-tiba berhenti di depannya.
"Ayah?" gumamnya.
"Ayah kamu?"
"Hhmm, maaf aku pulang sama ayahku!" pamitnya buru-buru.
"Kak Alya!" panggil Annisa dari dalam mobil.
.
.
.
.
.
Maaf jika masih banyak typo bertebaran. Terimakasih sudah membaca😊🙏
.
.
.
__ADS_1
09