Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 152


__ADS_3

Andre sampai di rumahnya sebelum maghrib.


Tok tok tok


Ceklek.


"Den Andre."


"Assalammu'alaikum, bi."


"Wa'alaikumsalam, den."


Andre masuk ke dalam rumah. Istri dan adik-adiknya sedang bercanda di ruang keluarga sembari menonton acara televisi.


"Mas Andre," sapa Alina.


"Bunda mana, dek?"


"Bunda di kamar nenek, mas!"


"Kenapa nenek?"


"Kepalanya pusing lagi!" jelas Alina.


Andre mendekat ke arah istrinya, "Kamu baik-baik saja, kan?" tanyanya sembari mengusap lembut pucuk kepalanya.


Kanaya tersenyum, "Iya, mas!"


"Mas mau lihat nenek dulu, ya!" ucap Andre seraya mencium pucuk kepala istrinya.


Andre kemudian berjalan menuju kamar neneknya.


Tok tok tok


"Assalammu'alaikum,"


Ceklek


"Wa'alaikumsalam. Dre, kamu sudah pulang!"


"Iya, bun. Nenek sakit apa?"


"Kepalanya pusing. Mungkin darah tingginya kambuh."


"Biar aku cek tekanan darahnya ya, bun!" ucap Andre.


"Iya, kamu cek saja."


Andre kemudian mulai mengukur tekanan darah neneknya.


"Hhmm, tekanan darah nenek lumayan tinggi. 150/100.


"Tinggi juga, ya!"


"Iya, bun. Harus lebih pantang lagi makannya!"


"Iya."


"Nek, nenek istirahat saja di kamar, ya! Semoga lekas sembuh!" ucap Andre lalu mencium dahi neneknya sebelum keluar dari kamar.


***


Waktunya makan malam. Kanaya pun dengan penuh perhatian melayani suaminya di meja makan.


"Kak Kanaya makan yang banyak biar bisa cepat kasih kita keponakan. Iya kan mas Andre!" goda Alina membuat istrinya Andre itu tersenyum malu.


"Nanti kamu yang jadi baby sitter anak mas, ya!"


"Hahh? Masa aku? Annisa saja, mas!" tolak Alina.


"Iiihh, kamu yang minta ponakan, kok!"


"Hhh, ya nggak apa-apa!"


Setelah makan malam bersama, seperti biasa keluarga berkumpul di ruang keluarga. Si kembar sedang mengerjakan tugas sekolahnya bersama.


"Nis, kakak tingkat kamu hari ini nggak datang ke minimarket. Kenapa, ya?" tanya Anto pada putrinya.


"Kak Darren nggak ke minimarket, yah?" tanya Annisa kaget.


"Iya, sampai ayah pulang tadi dia nggak ada. Ayah tanya sama pak Rudi, memang Darren nggak datang padahal pekerjaan sedang banyak."


Dahi Annisa berkerut, "Aku di sekolah juga nggak lihat kak Darren, yah. Apa dia nggak masuk sekolah juga, ya?" wajah Annisa terlihat cemas.


"Hhmm, kenapa, ya? Anak itu kerjanya bagus walau baru beberapa hari."


"Apa kak Darren sakit, ya?" Annisa terlihat sedih.

__ADS_1


"Cieee, yang pacarnya nggak datang. Khawatir banget!" celetuk Alina.


"Iihh, Alin mulai, deh. Huuhh!"


"Dek Anis sudah punya pacar?" tanya Andre kaget.


"Nggak, mas. Jangan percaya sama Alina. Doyan gosip!"


"Weee!!" Alina menjulurkan lidahnya.


"Semoga saja Darren nggak kenapa-kenapa!" ucap Anto.


"Oh iya, mas mau cerita, nih. Tadi pagi ada pasien yang terjatuh di dekat rel kereta api. Orang-orang bilang kalau dia nyaris tertabrak kereta."


"Ya Allah kasihan banget. Laki-laki apa perempuan, mas?" tanya Alya.


"Laki-laki. Masih muda. Mungkin masih usia sekolah tapi sayangnya sampai mas pulang, dia belum sadar juga."


"Nyaris tertabrak, ada luka-luka nggak, mas?"


"Ada luka-luka kecil di kepala, kaki dan tangannya. Anehnya dia demam tinggi, wajahnya pucat! Karena belum tahu siapa keluarganya jadi mas yang bertanggung jawab. Kasihan kalau di biarkan saja!"


"Iya, dia harus segera di tangani, kan!" ucap Anto.


"Iya, yah. Makanya aku nggak tega kalau nggak ada yang urus administrasinya."


"Ciri-cirinya gimana, mas?"


"Kulitnya kuning, tinggi hampir sama seperti mas, cakep juga sih. Kelihatan kalau dia masih muda banget."


"Memang di daerah mana kejadiannya, mas?" tanya Alina.


"Teman mas bilang sih di daerah Pahlawan."


Dahi Anto berkerut, "Daerah pahlawan? Kok ayah merasa ada kenalan yang tinggal di daerah situ. Siapa, ya?"


"Siapa, yah?"


"Sepertinya salah satu karyawan minimarket, deh!"


"Kalau ayah penasaran, ayah besok ikut aku saja ke rumah sakit lihat dia. Semoga saja orang tuanya di temukan."


"Aamiin."


"Bukan kak Darren, kan? Kok aku jadi kepikiran kak Darren, ya!" ucap Annisa khawatir.


"Uuhh, dasar!"


"Aku doain, loh. Kak Darren baik-baik saja!" ucap Alina.


"Mungkin besok ayah ke rumah sakit!" ucap Anto.


"Aku ikut ya, yah!" pinta Annisa dengan wajah memohon.


"Diihh! Yang khawatir banget sama pacarnya!"


"Alin!"


"Hahahaa, tidur ahh!" ucap Alina buru-buru pergi ke kamarnya setelah menyempatkan mencium bundanya terlebih dahulu."


"Dasar Alina nyebelin!" Annisa bersungut.


Sepanjang malam Annisa memikirkan tentang Darren. Dia sulit untuk tertidur. Semoga kak Darren besok sekolah.


***


Keesokan harinya, Anto benar-benar ke rumah sakit.


"Ayah ke rumah sakitnya kapan?" tanya Annisa.


"Ayah belum tahu, nak. Mungkin tunggu pekerjaan di minimarket selesai!"


"Tunggu kita pulang sekolah saja ya, yah!" pinta Annisa penuh harap.


"Iihh, nggak mau ah ke rumah sakit!" tolak Alina.


"Alin iihh!"


"Sudah jangan bertengkar. Semoga saja bukan si Darren!"


"Hhmm, kamu lihat saja di kelasnya nanti, ada apa nggak pacar kamu itu!"


"Iiihh, paan sih!"


"Di bilangin juga!"


Tak terasa mobil sudah sampai di depan gerbang sekolah. Setelah mencium punggung tangan ayahnya, si kembar buru-buru masuk ke halaman sekolah.

__ADS_1


Annisa mencuri-curi pandang ke arah kelas Darren. Tapi yang di cari belum juga terlihat. Biasanya kalau Annisa lewat depan kelas kakak tingkatnya itu pasti dia terlihat sedang duduk manis bersama teman-temannya.


Kak Darren kemana, ya? Apa dia ada di dalam kelasnya, kok nggak kelihatan. Batin Annisa.


Saat istirahat di kantin pun, Darren masih tidak terlihat. Menambah rasa khawatir Annisa.


"Kak Darren nggak ada," gumam Alina.


Annisa menoleh.


"Yuk, Lin. Kita balik ke kelas!" ajak Annisa.


"Loh, nggak di habiskan ini?"


"Nggak selera makan!"


"Habisin dulu, donk!"


Annisa menggelengkan kepalanya, "Nggak, Lin!"


"Hhh, yasudah deh. Mau aku temani main ke kelasnya kak Darren?"


"Haahh? Kamu serius?" tanya Annisa.


Alina mengangguk, "Demi kembaranku yang sedang bersedih ini!" ucapnya dengan memasang wajah sedih.


"Kamu ledekin aku terus. Males, ahh!"


"Maaf-maaf. Jadi nggak aku temani?"


"Tapi apa nggak malu, Lin?"


"Ya kita lewat saja jangan terang-terangan tanyain kak Darrennya. Ya malu, lah!"


"Hhhmm,"


"Ayo donk jangan sedih gitu!"


"Perasaan aku tuh dari kemarin nggak enak. Biasanya tiap hari lihat kak Darren tapi kemarin nggak lihat."


"Nis, kamu sejak kapan sih suka sama kak Darren?"


"Paan sih, Lin! Aku cuma khawatir saja. Masa nggak boleh?"


"Sudah deh, sama aku masih rahasiaan segala. Khawatir kamu tuh sudah berlebihan! Memangnya sama teman lain kamu juga sekhawatir ini? Nggak, kan?"


"Hhmm."


"Kalau kamu nggak suka sama kak Darren ya sudah aku saja yang suka!"


"Lin!"


"Hahahaa, becanda, sayangku! Salahnya ngga mau ngaku!"


"Hmm, aku-aku nggak tahu sejak kapan, Lin!"


"Ya sudah. Ayo kita lewat kelasnya kak Darren!"


"Tapi aku takut ketemu kak Ryan!"


"Kenapa kamu takut sama kak Ryan? Kan harusnya aku yang takut."


"Entahlah, Lin!"


.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo.Terimakasih sudah membaca 😊🙏


.


.


.


.


.


13

__ADS_1


__ADS_2