Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 120


__ADS_3

Alina dan Annisa


Dua gadis kembar itu sedang makan baso di kantin.


"Hayy Alin, Anis, "sapa seorang teman mereka.


Alina dan Annisa melirik sekilas lalu melanjutkan makanya.


"Aku duduk di sini, ya!"


"Hhmm," sahut Annisa.


"Eh, kalian jadi kan ikut study tour?"


Alina dan Annisa saling pandang, "In Sya Allah, deh!" sahut Alina.


"Kalau aku pasti ikut. Aku sudah di kasih uang dua juta sama mamiku!" ucapnya sombong.


"Bukannya lima ratus ribu, ya?" tanya Annisa heran.


"Iya, tapi mamiku kasih aku dua juta!"


"Hhhmm. . ." Sudah biasa sombong. Batin Annisa.


Selesai dari kantin, mereka langsung kembali ke kelas. Saat di jalan, mereka tidak sengaja berpapasan dengan Ryan.


"Lin, jangan noleh ke kiri. Ada kak Ryan," bisik Annisa di telinga kembarannya.


"Aku kok deg-degan setiap lihat kak Ryan ya, Nis,"


"Hah, katanya kalau kita deg-degan ketemu seseorang, itu tandanya kita suka sama orang itu loh, Lin!"


Mata Alina membulat, "Masa, sih?!"


Annisa mengangguk. Mereka lalu duduk di bangku masing-masing setelah sampai di kelasnya.


Alina buru-buru menggelengkan kepalanya, "Nggak-nggak, itu nggak bener!"


"Hhuum, nanti kita tanya mas Andre, ya!"


"Mas Andre? Jangan-jangan! Nanti mas Andre marah."


"Huhh, memangnya kapan mas Andre marah sama kita, hmm?"


"Anis, tapi ini beda. Mas Andre memang nggak pernah marah sama kita tapi kalau kita salah pasti dia nasehatin kita panjang lebar ngelebihin panjangnya rel kereta! Aahh, aku nggak mau nanti dia jadi over sama kita berdua!"


"Eehh, iya ya. Bisa-bisa kita nggak boleh ikut study tour lagi."


"Makanya apa-apa tuh di pikir dulu, Annisa!"


"Kamu sih pake suka sama kak Ryan yang model begitu!" dengus Annisa.


"Eehh, bisa jadi karena aku takut sama dia bukan suka! Kamu tuh!" Alina meninju bahu Annisa.


"Sakit, Alin!"


"Sssttt, bu Ama datang, tuh!"


Mereka pun diam dan kembali fokus belajar.


***


Annisa dan Alina sedang memeriksa isi koper masing-masing. Mereka hari ini jadi berangkat study tour ke kota pelajar.


"Ingat pesan ayah semalam, kan?" tanya bundanya.


"Ingat kok, bunda. Di mana Alina di situ ada Annisa!"


"Anak pinter! Selalu hati-hati setiap kali akan melakukan sesuatu. Handphone selalu aktip!" bundanya kembali mengingatkan.


"Ok bundaku sayang! Kita akan selalu inget kok semua pesan ayah dan bunda!"


"Anak-anak sudah siap?" ayah memanggil dari arah luar.


"Tuh, ayah sudah nungguin! Hati-hati ya, nak!" ucap bundanya seraya mencium putri kembarnya bergantian.


Satu jam perjalanan, mereka sampai di sekolah. Mereka langsung menuju taman sekolah di mana semua siswa dan siswi yang ikut study tour berkumpul. Tidak banyak anak-anak yang ikut study tour. Mereka berangkat sabtu pagi dan minggu sore sudah kembali lagi ke sekolah.


Bus yang membawa siswa dan siswi yang mengikuti study tour sudah meninggalkan sekolah. Semua orang tampak bergembira pun si kembar.

__ADS_1


"Baterai handphone harus di hemat supaya nggak kehabisan nanti," ucap Annisa.


"Aku juga bawa powerbank, kok. Tenang saja!" sahut Alina.


"Aku juga, donk. Semua sudah full dari semalam. Nanti kalau mau foto-foto pakai handphone kamu saja, ya!" ucap Annisa.


"Iihh, gantian! Sama baterai saja pelit!" sungut Alina.


"Heheee!" sahut Annisa.


"Huhh, aku ngantuk nih!"


"Masih pagi, Alin!"


"Iya, semalam aku susah tidur. Nggak tahu kepikiran study tour ini. Tiba-tiba merasa nggak enak gitu."


"Hhhmm, perasaan kamu saja itu. Karena ini pertama kali kita jauh dari ayah sama bunda mungkin!"


"Iya juga. Dah ah, aku mau tidur dulu. Nanti banguni, ya!"


"Beres!"


Beberapa jam kemudian, karena hari sudah siang, bus pun berhenti di sebuah rumah makan. Semua siswa dan siswi di ajak makan siang dan sekaligus sholat bagi yang muslim.


Setelah selesai, bus kembali melaju ke kota tujuan.


Beberapa jam kemudian, bus yang mereka tumpangi sampai di kota tujuan. Bus membawa mereka ke sebuah universitas ternama di kota itu.


"Alin, ayo bangun. Kita sudah sampai, nih!" titah Annisa seraya mengguncang tubuh kembarannya yang sedang terlelap.


"Hhmm, kok cepet, ya?"


"Bagus cepet, donk. Aku nggak sabar pingin cepat sampai! Ayo, turun!" ajaknya.


Mereka lalu turun dari bus mengikuti teman yang lain.


"Wah, universitasnya besar, ya!"


"Nanti aku mau kuliah di sini saja!"


"Kira-kira mama ijinin nggak ya kuliah di sini?"


"Eh, Nis. Kak Ryan ikut juga, ya? Kirain hanya kelas sebelas saja yang study tour."


"Kelas sepuluh juga ada yang ikut, kok!


"Hhmm, aku takut, Nis!"


"Takut apaan?"


"Kak Ryan!"


"Takut jatuh cinta?"


"Paan sih, Nis!" dengus Alina kesal.


"Hehee, canda. Sayangkuuhh!"


"Huuhh!" Alina menyebik.


"Ayo, ah! Ngambeknya di rumah saja!" Annisa menarik tangan kembarannya agar tidak tertinggal yang lain.


Mereka mengunjungi semua fakultas yang ada di universitas itu. Setelah itu, bus membawa mereka ke sebuah penginapan sederhana untuk beristirahat karena hari sudah sore.


"Anak-anak, kita akan menginap di sini malam ini. Satu kamar bisa di isi dua sampai tiga orang ya, terserah kalian mau satu kamar dengan siapa!" jelas guru pembimbing.


"Satu kamar sama pacar boleh nggak, pak?" tanya satu orang siswa yang akhirnya di soraki teman-temannya.


"Huuu!" riuh suara semua siswa dan siswi.


"Boleh saja tapi setelah itu kalian di hukum, di paksa nikah dan di keluarkan dari sekolah!" sahut sang guru.


"Huuu!"


"Hahahahaa!"


"Rasain!"


Alina dan Annisa hanya menggeleng saja.

__ADS_1


"Ayo, anak-anak, silahkan kalian istirahat di kamar masing-masing. Nanti pukul tujuh, kalian kumpul lagi di sini, kita makan malam. Jangan macam-macam, ya!" pesan sang guru.


"Siap, pak!" sahut anak-anak.


Mereka lalu di berikan kunci kamar tiap dua orang anak. Ada yang tiga orang.


"Kita berdua saja, ya!" ucap Alina yang di berikan anggukan oleh kembarannya.


Mereka lalu menuju kamar masing-masing.


"Alina, Annisa, aku-aku boleh nggak sekamar sama kalian? Aku nggak kebagian kamar" ucap seorang gadis sembari menunduk sedih.


Dia adalah teman sekelas Alina dan Annisa yang bernama Ana. Ana seorang siswi pemalu yang jarang bergaul tapi dia cukup pintar.


Alina dan Annisa saling pandang.


"Hhmm, baiklah. Kamu boleh kok gabung kita. Iya kan, Alin?" Annisa menoleh ke arah kembarannya.


Alina mengangguk setuju, "Ayo!" ajaknya sembari menggandeng tangan Ana.


"Terimakasih, Alina, Annisa. Kalian memang baik!" ucapnya haru.


"Sama-sama!"


Mereka lalu masuk ke kamar.


"Wah, kamarnya besar dan bagus banget!" seru Ana lalu duduk di sisi tempat tidur.


Alina dan Annisa hanya tersenyum melihat tingkah temannya itu.


Mereka lalu bergantian mandi. Pukul tujuh, mereka bertiga turun ke bawah. Sudah banyak teman-temannya yang berkumpul.


"Ayo, kita makan malam dulu!" ajak gurunya.


Mereka lalu antri mengambil makanan yang sudah terhidang di atas meja.


Setelah selesai makan, mereka hendak kembali lagi ke kamar mereka masing-masing.


Saat baru saja membuka pintu kamar, tiba-tiba Ana berteriak.


"Aakkhh! Handphoneku!"


"Kenapa handphone kamu, An?" tanya Alina.


"Ketinggalan waktu makan tadi!" jelasnya dengan wajah sedih.


"Kok bisa ketinggalan? Ya sudah kamu ambil ke sana sekarang. Semoga masih ada dan nggak ada yang ambil!" ucap Annisa.


"Hhmm, mau nggak temani aku?" tanyanya dengan wajah penuh harap.


"Ok deh, aku apa kamu yang temani Ana, Lin?" tanya Annisa.


"Biar aku saja yang temani Ana. Kamu tunggu di kamar saja!" jawab Alina.


"Ok. Hati-hati ya kalian! Kalau perlu tanya sama pelayannya!"


"Ok, sip!" sahut Alina.


Annisa memperhatikan kembarannya sampai tak terlihat lagi. Annisa pun membalik badannya hendak masuk ke kamar mereka.Tapi baru saja


Annisa membalik badannya tiba-tiba ada yang membekap mulutnya lalu dia pun pingsan di depan pintu.


.


.


.


.


.


.


.


.


18

__ADS_1


__ADS_2