Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 206


__ADS_3

Setelah suster selesai dengan tugasnya, Lisa mengajak Annisa untuk mendekat lalu mempersilahkan Annisa untuk duduk di bangku kecil yang ada di sebelah ranjang Darren.


"Tante tinggal dulu,ya," pamit Lisa sengaja supaya Annisa tidak malu mengutarakan perasaannya pada putranya. Semoga akan ada keajaiban putranya sadar saat berdekatan dengan gadis yang dia suka.


Annisa menganggukkan kepalanya. Setelah Lisa pergi dan menutup tirai, tangis Annisa pecah. Dia sembunyikan wajahnya di atas kasur sembari memegang erat tangan Darren, supaya tangisnya dapat sedikit teredam. Hatinya begitu hancur melihat orang yang beberapa hari ini menghilang dari kabar ternyata tengah terbaring lemah.


Setelah beberapa menit menumpahkan kesedihannya hingga sprey putih itu basah oleh air matanya, Annisa mendongak menatap Darren yang masih enggan membuka matanya. Dia lalu mengusap airmatanya dengan punggung tangannya.


"Kakak, kenapa bisa sampai begini, kaki? Siapa yang sudah jahatin kakak?" suara Annisa terdengar bergetar.


Annisa mengusap wajah pucat dan dingin itu. Bola matanya terlihat bergerak beberapa detik tapi masih enggan untuk membuka mata.


"Kak Darren, bangun yuk! Sudah berapa hari pesanku nggak kakak balas. Kakak tega!" Annisa menyeka lagi air matanya.


"Kak, aku kangen!"


Saat Lisa sudah berada di luar ruangan, dia mengedarkan matanya mencari suami dan mantan suaminya.


"Loh, kemana mereka?" jantung Lisa berdebar-debar.


Belasan tahun hidup dengan suaminya membuat Lisa hapal betul watak suaminya itu. Begitupun dengan mantan suaminya walau tidak selama saat bersama suaminya, dia pun sudah paham watak mantan suaminya.


Jika ada perubahan tentu Lisa belum mengenalinya. Pun dengan suaminya tadi yang tiba-tiba bersikap hangat bahkan tak malu untuk meminta maaf duluan walau kenyataannya memang dia yang bersalah tapi tetap saja saat ini dia belum sepenuhnya percaya.


Lisa lalu bertanya pada salah satu keluarga pasien di sana yang beberapa hari ini bernasib sama dengannya, anaknya sedang berjuang di dalam ruang ICU.


"Maaf, pak. Apa bapak lihat suami saya dan laki-laki yang baru datang tadi kemana?" tanya Lisa.


"Oh, suami ibu tadi saya dengar di ajak ke kantin sama temannya," jawab si bapak.


Dahi Lisa berkerut, "Ke kantin. Ah mungkin kah mereka ingin bicara sambil makan-makan? Atau justru mereka anak berdebat di luar rumah sakit?" gumam Lisa. Dia terlihat cemas.


Lisa menoleh ke arah pintu ruang ICU. Ah Annisa pasti betah berlama-lama di dekat Darren. Sepertinya gadis itu juga sangat menyayangi Darren. Aku tinggal sebentar tak apalah. Batin Lisa. Dia hendak menyusul suaminya. Jika suami dan mantan suaminya sudah berdamai, pasti mereka akan baik-baik saja.


Lisa pun pergi ke kantin. Kantin terletak di lantai bawah dekat parkiran motor. Saat datang pertama kali, Lisa sudah tahu.


Sampai di kantin yang ramai pembeli dan penjual, Lisa berjalan pelan sembari menajamkan penglihatan dan pendengarannya. Dan di sudut kantin, dengan jelas matanya melihat pemandangan yang membuat matanya berkaca-kaca, hatinya menghangat. Sang suami dan sang mantan suami sedang tertawa terbahak-bahak entah apa yang sedang mereka bicarakan tapi terserah, itu tidaklah penting. Yang terpenting dua orang itu sudah saling memaafkan.

__ADS_1


Lisa memutuskan untuk pergi dari sana. Lebih baik kembali ke ruang ICU, semoga ada kabar baik. Hhh bagaimana jadinya jika Darren dan Annisa menikah. Kenapa anak dua itu bisa-bisanya saling menyukai. Lisa tersenyum sendiri membayangkannya.


Lisa duduk di kursi yang ada di depan ruang ICU sembari menoleh sesekali berharap suster mamanggilnya untuk memberikan kabar baik tentang putra tercinta.


Semoga setelah ini Darren akan menemukan kebahagiaannya. Rasanya sulit mengingat kapan putranya itu terlihat bahagia tanpa beban. Anak yang malang.


Satu jam berlalu, Lisa mulai mengantuk lantas tertidur.


Tak lama kemudian David dan Anto sudah kembali dari kantin. Mereka saling pandang saat melihat Lisa tidur di bangku panjang dengan berbantalkan lengan.


Mereka memilih duduk sedikit lebih jauh takut mengganggu Lisa yang sedang lelap tidur.


"Putriku masih di dalam sepertinya," ucap Anto sembari sesekali menoleh ke arah pintu ruang ICU.


"Kalau pak Anto mau kembali ke minimarket nggak apa-apa. Putrinya biar di sini saja, toh ada kakaknya yang bekerja di sini, kan," ucap David.


"Iya, tapi aku harus bilang dulu supaya dia nggak nyariin."


"Oh iya pak Anto boleh kok masuk kalau mau bicara sama putrinya sekaligus pak Anto kalau ingin melihat putra saya," usul David.


"Oh iya, pak David benar. Kalau begitu saya masuk dulu ya, pak," sahut Anto.


Anto pun melangkah masuk ke ruang ICU.


David menarik nafas panjang, "Alhamdulillah dia mau berbesar hati memaafkanku. Ini semua demi putraku. Selama ini aku tidak pernah membuat putraku itu senang. Mungkin ini sudah waktunya. Dan lagi si Anto itu dan juga putranya mau membantu biaya Darren. Laki-laki baik seperti itu bisa di tinggalkan oleh Lisa. Ah, sudahlah. Semoga masa lalu buruk itu terkubur dalam.


Di dalam ruang ICU, Annisa masih terus menangis dan berusaha membuat Darren sadar. Tapi usahanya masih belum membuahkan hasil.


"Kak, kalau kakak nggak mau bangun, lalu aku bagaimana? Kakak nggak kasihan sama aku?" Annisa masih tergugu.


"Aku sayang sama kakak. Sayang banget, kak! Kakak bangun, ya."


Tiba-tiba ada yang merangkul Annisa dari belakang.


"A-ayah?" Annisa buru-buru menghapus air matanya. Wajahnya memerah menahan malu. Ayah denger nggak ya, yang aku bilang tadi.


"Kalau kak Darren nggak mau bangun, Annisa cari yang lain saja. Biar ayah jodohin sama orang lain!" gurau Anto dengan wajah serius.

__ADS_1


"Ayah?" Annisa protes.


"Iya, masa putri ayah di suruh nungguin orang tidur? Ayah nggak mau donk putri ayah yang cantik ini jadi perawan tua."


"Ayah, iiihh!" Annisa makin ngambek.


"Pulang, yuk."


"Ayah, aku masih mau di sini," tolak Annisa dengan wajah cemberut.


"Kak Darren saja nggak mau ngobrol sama kamu, kan? Dia enak-enakan tidur. Putri ayah di biarin sendirian sambil nangis. Tuh lihat wajah kamu. Cantiknya nanti hilang, loh!"


"Ayah. . ."


"Pulang, yuk. Kak Darren kan ada orangtuanya. Kamu besok lusa sudah mulai sekolah, loh. Apa nggak mau beli pakaian baru, tas dan sepatu baru? Alina saja mau beli kan sama bunda."


Mendengar semua ucapan ayahnya justru membuat Annisa makin menangis. Air matanya terus saja mengalir hingga pakaiannya pun ikut basah karena dia mengusap wajahnya dengan pakaian yang dia kenakan.


"Ayah, aku nggak butuh itu semua. Aku-aku mau kak Darren bangun!" ucap Annisa masih tergugu.


Anto menarik nafasnya berat. Kondisi Darren memang terlihat parah walau Andre bilang organ vitalnya sudah normal.


"Sayang, kita pulang saja dulu. Kan nggak mungkin kamu nungguin di sini terus, nak!" Anto coba membujuk lagi putrinya.


Hhh, begini kalau kecil-kecil sudah merasakan cinta. Sulit untuk berpikir jernih. Harus selalu di awasin. Anto membatin sembari menggelengkan kepalanya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


13


__ADS_2