
Aku gegas turun dari mobil dan mendekati kerumunan orang-orang itu. Ternyata ada yang baru saja kecelakaan. Dua sepeda motor saling bertabrakan dengan kecepatan kencang. Aku masih belum mengetahui siapa korban kecelakaan itu.
"Loh,ini ada yang masih anak-anak!" teriak beberapa orang.
Deg. Jantungku seakan mau berhenti berdetak. Anak-anak. Semoga bukan putriku. Tiba-tiba samar-samar aku mendengar rintihan dari seorang laki-laki. Aku seperti mengenali suara itu. Gegas aku mendekatinya.
Lututku langsung lemas. David. Aku termangu beberapa detik melihat suami Lisa itu sedang merintih seraya memegangi kakinya yang berlumuran darah.
Saat aku mulai bisa menguasai pikiran, aku ingat putriku.
"Alya, Alya!" teriakku seraya menerobos kerumunan orang-orang. Sepertinya ada empat korban karena kerumunan orang-orang ada empat tempat. Aku gegas menghampiri orang-orang yang tadi meneriakkan ada anak-anak.
"Hey !" seseorang protes karena aku memaksa melewatinya.
"Awas! Awas!" teriak dua orang polisi yang baru saja sampai di lokasi.
Saat aku sudah sampai di tengah-tengah kerumunan, netraku menangkap sosok yang sangat aku rindukan dari kemarin.
"Alya!" teriakku histeris. Aku mendekati tubuh itu lalu memeluknya. Tak ku pedulikan lagi protes orang-orang.
"Hey, mas! Apa-apaan, main peluk saja!"
Air mataku mengalir deras, "Aaagghh!" teriakku sambil terus memeluknya.
"Mas, anak itu harus segera di bawa ke rumah sakit!" titah seorang polisi seraya memeriksa kondisi putriku.
Sementara korban yang lain satu-persatu mulai di bawa ke mobil.
"Dia-dia putriku!" jelasku dengan suara bergetar saat ada orang yang ingin membawanya.
"Ayo, mas! Dia harus segera di bawa ke rumah sakit!"
Aku lalu menggendong tubuh putriku yang sudah berlumuran darah. Matanya terpejam. Aku ingin membawanya ke mobil istriku tapi polisi mengarahkanku ke mobil ambulans yang baru saja tiba.
Gegas aku naik ke mobil sambil menggendong putriku lalu membaringkannya di atas brangkar. Mobilpun melaju dengan kecepatan tinggi seiring putriku di pasang selang infus dan selang oksigen.
Aku sudah tidak bisa berpikir jernih lagi dan tahu-tahu mobil ambulans sudah tiba di rumah sakit.
Putriku segera di bawa ke ruang IGD dan tak lama kemudian seorang suster keluar.
"Apa ada keluarga dari korban kecelakaan yang masih anak-anak yang tadi baru saja masuk?" tanyanya.
Aku langsung berdiri, "Saya ayahnya, sus!" jawabku.
"Oh, bapak. Begini, pak. Pasien harus segera di lakukan tindakan operasi. Bapak silahkan urus administrasinya, ya!" jelas suster.
Aku kaget, "A-apa, sus? Operasi? Bagaimana kondisi putri saya sebenarnya?" tanyaku cemas.
"Kondisi putri bapak tidak baik dan saat ini masih di tangani oleh dokter dan butuh segera tindakan operasi, pak. Jadi tolong bapak segera urus administrasinya."
__ADS_1
Rasanya makin lemas persendianku. Aku melangkah dengan berat menuju bagian administrasi. Saat aku sedang mengisi formulir, tiba-tiba istriku datang.
"Mas!" panggilnya.
Aku refleks menoleh ke sumber suara, "Sayang?" Ya Allah kenapa aku sampai lupa pada istriku. Aku mengusap kasar wajahku dan langsung menghampirinya, memeluknya seraya mengucapkan maaf berkali-kali.
"Tolong maafin mas, yank!" bisikku lembut.
Dia melepaskan pelukanku lalu mengangguk, "Bagaimana Alya, mas?" tanyanya dengan wajah sedih. Aku lihat ada sisa air mata di pipinya.
"Dokter akan mengoperasi Alya, yank," jawabku lirih.
"Ya Allah!" dia menutupi wajahnya dengan tangan.
"Hhmm, mas bisa minta tolong?" tanyaku ragu. Aku membutuhkan uang untuk biaya operasi Alya dan harus di bayarkan uang mukanya sekarang. Aku benar-benar tidak punya simpanan uang selain yang ada di dompetku.
"Minta tolong apa, mas?" tanyanya.
"Hhmm, maaf ya. Mas butuh uang buat operasi Alya dan harus di bayarkan uang mukanya sekarang. Mas boleh pinjam?" tanyaku pelan. Aku sungguh malu sekali mengatakannya.
Matanya membulat, "Ya Allah mas? Kenapa mas bicara seperti itu? Aku ini bukan istri mas, apa? Kenapa harus pinjam? Dan Alya itu anakku, mas!" jawabnya kesal. Wajahnya terlihat kecewa.
"Hhmm, maaf yank. Mas bukan bermaksud seperti itu. Sungguh!" ucapku tidak enak hati.
Matanya berkaca-kaca, "Jadi selama ini mas nggak pernah mengganggap kalau aku ini juga ibunya Alya," ucapnya dengan suara bergetar.
"Bukan begitu, yank! Maafkan ucapan mas tadi!" pintaku dengan wajah memohon.
Kami langsung menoleh ke arah suster lalu saling pandang.
"I-iya, sus!" sahutku lalu kembali menoleh ke arah istriku.
Istriku lantas membuka dompetnya lalu mengambil kartu ATM dan memberikan padaku, "Pinnya tanggal lahirku kalau mas ingat!" ucapnya datar. Sepertinya dia masih kecewa karena ucapanku tadi.
"Yank, tolong maafin mas!" pintaku lagi.
"Aku tinggal dulu mau jemput Andre!" pamitnya.
Ya Allah, aku sampai melupakan putraku dan tadi juga sudah melupakan istriku. Pikiranku benar-benar kacau.
"Kamu nggak apa-apa bawa mobil, yank?" tanyaku.
"Aku naik taxi!" jawabnya lalu segera meninggalkan aku yang masih menatapnya dengan rasa bersalah.
Aku gegas mencari mesin ATM, mengambil uang untuk uang muka operasi Alya. Setelah urusan administrasi selesai, Alya langsung di pindahkan ke ruang OK. Aku mengikuti dan menunggu di ruang tunggu.
Satu jam lebih istri dan anakku datang. Andre berlarian menghampiriku lalu memelukku.
"Ayah, adek Alya kenapa?" tanyanya cemas.
__ADS_1
"Do'akan adek Alya, ya. Semoga bisa melewati ini semua dan kembali sehat," jawabku penuh harap.
Istriku lalu duduk di sampingku. Wanita sempurna yang telah Allah kirimkan untukku itu hanya diam saja tanpa mau menoleh ke arahku.
"Do'akan putri kita ya, yank," ucapku seraya menggenggam tangannya.
Dia menoleh lalu menganggukkan kepalanya.
Kami lalu diam, sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
Aku lihat jam di tanganku sudah menunjukkan pukul satu siang. Tapi operasi Alya belum juga selesai.
"Yank, kamu sama Andre mau makan apa, mas belikan?" tanyaku.
"Aku belum lapar, mas. Tunggu Alya selesai operasi saja!" tolaknya.
"Yank, dia pasti laper!" ucapku seraya mengusap perutnya.
Istriku menoleh, "Hhmm, aku belum ingin makan, mas."
Aku menatap wajah lelahnya, "Mas nggak mau kamu sakit."
Dia menarik nafas pelan, "Ya sudah, aku cari makan," ucapnya kemudian.
Aku tersenyum, "Pergi sama Andre, ya. Mas mau jaga di sini!"
Istriku hanya mengangguk. Aku lalu menoleh ke arah putraku.
"Mas Andre pergi cari makan sama bunda, ya. Cari yang dekat sini saja. Jagain bunda buat ayah!"
"Tapi ayah nggak makan?"
"Ayah nanti saja makan. Mau tungguin adek Alya dulu," sahutku.
"Iya deh. Kita pergi dulu, yah. Kalau adek Alya sudah selesai operasi, kabari kita ya."
"Iya, nak. Sana cari makan sama bunda sekarang!" titahku.
Istri dan anakku lalu pergi mencari makan. Aku tidak ingin mereka jadi sakit. Sementara aku makin gelisah menunggu kabar putriku. Semoga operasi putriku berhasil.
.
.
.
.
.
__ADS_1
20