Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 116


__ADS_3

Andre


Di sebuah rumah sakit swasta. Ruang IGD dari pagi tidak pernah sepi. Seharian sibuk dengan banyaknya pasien membuat Andre sampai lupa waktu untuk makan siang. Jam sudah menunjukkan pukul 2 menjelang sore, perutnya sudah mulai terasa lapar.


"Dokter Andre sudah makan siang belum?" tanya Siska. Suster yang bekerja di rumah sakit yang sama dengan Andre.


Andre menoleh," Saya belum makan," jawabnya singkat.


"Kalau begitu, mau saya belikan makanan, dok? Sekaligus saya juga mau beli," tawar Siska.


"Terimakasih tapi nanti saja saya beli sendiri," tolak Andre halus. Dia masih dengan kesibukannya sendiri.


Sejak Andre mulai bekerja di Rumah Sakit itu, suster Siska mulai intens mendekatinya. Tapi Andre tetap bersikap biasa bahkan terkesan dingin. Walau sudah berusia 24 tahun tapi Andre sama sekali belum pernah mengenal yang namanya pacaran. Dia fokus sekolah dan sekolah.


Dia ingin membanggakan ayah dan bundanya. Jika suatu saat dia bisa bertemu lagi dengan ibunya, dia ingin ibunya tahu jika dia bisa menjadi seseorang yang berguna yang bisa dibanggakan keluarga.


Dia hanya ingin menikah jika dia merasa sudah matang dan mapan. Ayahnya sering menasehatinya untuk tidak buru-buru menikah seperti ayahnya dulu. Pendidikan adalah nomor satu. Ayahnya tidak ingin putranya mengalami hal yang sama dengannya hanya karena masalah ekonomi. Tanpa ayahnya sadari ada luka lama yang kembali terbuka. Sakit dan menusuk dadanya setiap kali ayahnya berkata seperti itu.


Tapi dia tetap bersyukur setelah rasa sakit yang dulu ayahnya rasakan, ayahnya sudah menemukan kebahagiaannya sendiri. Bahagia dengan pernikahan keduanya begitupun dia dan adiknya Alya. Mereka sekarang sudah sangat bahagia. Masa lalu hanyalah pelajaran agar bisa jadi lebih baik ke depan.


Saat pasien mulai sepi, Andre meminta izin pada Wahyu, salah satu rekannya untuk mencari makan.


"Loh, jadi kamu belum makan siang, Ndre?" tanya Wahyu.


"Iya," jawab Andre.


"Kasihan kamu. Sudah cari makan sana. Kita sudah makan dari tadi!" ucap Wahyu.


"Kalian memang nggak setia kawan!" ucap Andre pura-pura kesal seraya meninju bahu sahabatnya itu. Wahyu hanya tertawa.


Andre lalu membuka pakaian kerjanya, menyimpannya di atas meja lalu pergi keluar rumah sakit untuk mencari restoran terdekat. Dia memang tidak pernah mau memakai pakaian kerja saat sedang di luar pekerjaan.


Setelah menemukan restoran yang dia mau, Andre langsung memesan makanan. Sembari menunggu, tanpa sengaja dia mendengar percakapan sepasang muda-mudi yang sepertinya sedang bertengkar.


"Jadi kamu mau batalin pernikahan kita, mas? tanya sama wanita.


"Aku minta maaf, Nay. Rani hamil dan aku harus bertanggung jawab atas kehamilannya!" ucap sang pria.


"Kamu keterlaluan, mas!" ucap sang wanita disela isak tangis yang mulai terdengar.


"Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu."


"Tapi kamu sudah menyakitiku, mas! Bagaimana dengan rencana pernikahan kita? Undangan sebagian sudah di sebar. Keluargaku pasti sangat malu!" ucap sang wanita dengan emosi memukul bahu sang pria.


"Sekali lagi aku minta maaf!"


Pria itu lantas berdiri dan berlalu meninggalkan wanita itu yang masih tergugu. Tak lama kemudian pesanan Andre datang.


Andre menyantap makanannya dengan cepat karena memang dia sudah merasa sangat lapar.


Tiba-tiba dia mendengar teriakan seorang ibu-ibu di meja wanita muda tadi. "Hey, mbak. Apa yang kamu lakukan?" tanya ibu itu sembari berteriak.


Wanita muda itu terbatuk-batuk, sembari memegangi lehernya.


"Ada apa ini?" tanya pelayan.


"Mbak ini menenggak setengah botol pil!" jelas si ibu panik.


Aku yang mendengar langsung berdiri lantas mendekati wanita itu.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Andre.


"Bu-bukan urusanmu!" jawab wanita itu terbata-bata karena wanita itu mulai terlihat kesakitan.


Tiba-tiba dari mulutnya mulai keluar sedikit busa.


"Cepat bantu dia!" titah si ibu yang makin panik.


Aku lalu mengambil beberapa lembar uang di dompet lantas menaruhnya di atas mejaku. Beberapa pelayan sudah mulai mendekat ingin memberikan pertolongan kepada wanita itu. Wanita itu hampir pingsan.


"Ayo bawa dia ke rumah sakit!" teriak orang-orang.

__ADS_1


Dengan di bantu satu orang pelayan, aku membawa wanita itu ke rumah sakit.


"Kita bawa ke rumah sakit Sahabat. Saya bekerja di sana!" ucap Andre.


"Oh mas kerja di Rumah Sakit sahabat?" tanya pelayan restoran.


"Iya!" sahut Andre.


Sampai di Rumah Sakit, Andre lalu membawa wanita yang sudah tak sadarkan diri itu ke IGD.


"Siapa yang kamu bawa itu, Dre?" tanya Wahyu penasaran.


"Wanita ini, dia baru saja meminum setengah botol pil!" jelas Andre yang membuat Wahyu melongo. Beberapa suster dan dokter yang ada di IGD segera memberikan pertolongan pada wanita itu.


"Kenal di mana kamu sama wanita itu?" tanya Wahyu saat mereka sudah berhasil menolong wanita itu. Hanya tinggal menunggu wanita itu sadar.


"Tadi di restoran saat aku makan siang!" jawab Andre.


"Hhh, dapat dari mana wanita itu obat tidur dosis tinggi sebanyak itu, ya?" tanya Wahyu setengah bergumam.


Andre mengedikkan bahunya.


"Hhh, untung saja wanita ini cepat kamu bawa ke sini jadi masih bisa di tolong. Sepertinya wanita ini orang kaya, Dre. Lihat penampilannya."


Hhh, Andre lagi-lagi mengedikkan bahunya lantas berdiri hendak meninggalkan sahabatnya yang masih sibuk bertanya.


"Hey, mau kemana kamu? Pasien kamu nih!" Wahyu hendak mencegah Andre dengan menarik tangannya.


"Lihat, pakaianku kotor kena muntahan wanita itu!" jawab Andre kesal lantas berlalu meninggalkan Wahyu yang tersenyum mengejek ke arahnya.


"Kasihan banget kamu, Dre!"


Beberapa saat kemudian wanita itu sadar dan seorang suster mendekatinya untuk bertanya-tanya.


Sore hari setelah jam kerja Andre habis, dia lantas menemui wanita itu yang masih beristirahat di ruang IGD.


"Hey, sudah sadar kamu!" tanya Andre seraya berdiri di samping wanita itu.


"Iya," jawab Andre pelan.


"Jadi kamu dokter?" tanyanya lagi yang di berikan anggukan oleh Andre.


"Kenapa kamu nolong aku? Biarkan saja aku mati!" ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.


"Kalau mau bundir jangan di tempat umum! Di dalam kamar kamu, kunci rapat pintunya. Di jamin nggak akan ada yang nolong kamu!" tegas Andre.


"Kamu?" wanita itu terlihat kesal.


"Coba saja!" ucap Andre.


"Dasar orang aneh!"


"Kamu sudah boleh pulang! Jangan lupa ke administrasi dulu. Rumah Sakit ini nggak gratis!" tegas Andre lantas berbalik hendak meninggalkan wanita itu yang masih menatap kesal padanya.


"Aku nggak mau bayar! Siapa yang suruh bawa aku ke rumah sakit? Justru kamu harus tanggung jawab!"


Andre menghentikan langkahnya lantas menoleh seraya mengernyitkan dahinya, "Tanggung jawab?"


"Iya! Kamu harus tanggung jawab karena sudah menggagalkan rencanaku!"


"Hhh, kan tadi sudah saya bilang. Kalau mau melakukan itu di kamar kamu saja. Kalau di tempat umum sama saja bohong. Kamu nggak benar-benar ingin melakukannya, kan? Cuma bikin repot orang saja!"


"Kamu! Ada ya orang seperti kamu!" ucapnya emosi.


"Sssttr! Jangan teriak-teriak, di sini banyak pasien!" ucap Andre lantas buru-buru meninggalkan wanita muda itu yang masih menggerutu.


"Kenapa ada orang menyebalkan seperti dia, sih?" gerutunya.


Sementara Andre sudah berkumpul bersama teman-teman seprofesinya.


"Bagaimana pasien kamu?" tanya Wahyu.

__ADS_1


"Sudah aku suruh pulang!"


"Pulang sendiri? Tega kamu! Dia masih lemah, loh!"


Dahi Andre berkerut, "Lantas? Aku harus antar dia?"


Wahyu mengangguk, "Iya, sekaligus kamu juga mau pulang, kan?"


Andre menggelengkan kepalanya, "Aku mau langsung ke kampus!" tolaknya.


"Sekaligus kenalan. Cantik loh, dia. Tadi suster bilang namanya Kanaya."


"Kamu saja yang ajak dia kenalan!"


"Hhh, kamu itu. Sampai kapan mau jadi jomblo,heh? Keburu Alya yang menikah duluan!"


"Nggak masalah!"


"Kamu masih suka sama perempuan, kan?" goda Wahyu.


"Gila, kamu!" ucap Andre seraya menoyor kepala Wahyu.


"Hahahaa, makanya buktikan!"


Andre hanya menggelengkan kepala lantas berlalu dari hadapan Wahyu, "Aku pulang!" pamitnya kemudian.


Saat Andre hendak naik ke mobilnya, tiba-tiba dia melihat wanita muda yang bernama Kanaya itu berjalan dengan tertatih. Sepertinya kondisinya masih lemah. Dia berjalan sembari memegangi kepala dan perutnya.


"Ka-kamu?" tanyanya kaget saat melihatku.


"Andre!" tiba-tiba Wahyu datang bersama Feri.


Andre menoleh ke arah mereka.


"Kamu antar saja dia pulang. Kasihan, dia masih lemah!" titah Feri.


"Kenapa harus aku?" protes Andre.


"Kamu kan bawa mobil, lah kita cuma sepeda motor."


"Ayo mbak, silahkan naik!" Wahyu tiba-tiba membukakan pintu mobil untuk wanita itu.


"Hey, apa-apaan? Aku mau ke kampus!" protes Andre lagi.


"Ayolah, Dre. Menolong jangan setengah-setengah!" ucap Wahyu sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Huuhh. Dasar kalian. Awas, ya!" ancam Andre lalu gegas naik ke mobilnya.


Di liriknya wanita itu yang sedang bersandar di sisi jendela. Dia memang masih sedikit pucat.


.


.


.


.


.


.


Maaf jika masih ada typo.Terimkasih sudah membaca. 😊🙏


.


.


.


16

__ADS_1


__ADS_2