Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 205


__ADS_3

Sudah dua hari Kanaya di rawat, kondisinya sudah mulai membaik. Waktunya pulang ke rumah. Ada Santi yang membantunya membereskan barang-barang yang hendak di bawa pulang. Santi datang bersama Anto yang hendak ke minimarket. Sedangkan Andre sedang keluar melihat kondisi Darren yang belum juga sadar.


Andre memeriksa organ vital Darren. Sebenarnya semua sudah mulai stabil hanya kakinya saja yang memang membutuhkan waktu untuk penyembuhannya.


"Seharusnya pasien sudah sadar, karena organ vitalnya juga sudah stabil. Tapi kita tunggu saja dan jangan lupa untuk terus berdoa," ucap Andre pada Lisa dan juga David yang masih diam membisu, duduk di bangku di ruang tunggu.


"Iya, dokter di dalam sudah mengatakannya. Tapi kenapa Darren tak juga mau bangun," ucap Lisa sedih. Matanya terlihat sembab mungkin terlalu sering menangis.


"Sabar. Mungkin dia butuh waktu. Oh iya, saya permisi dulu. Istri saya pagi ini sudah boleh pulang," pamit Andre.


"Alhamdulillah istri kamu sudah sehat. Terimakasih, nak," ucap Lisa.


"Nak? Kenapa kamu memanggilnya 'nak'?" tanya David dengan tatapan menyelidik.


Mata Lisa membulat, "Hhmm. . ."


"Maaf, pak. Saya anaknya bu Lisa walau kita sudah berpisah," jelas Andre ketus.


"Anak?" mata David membulat. Dia lalu menatap ke arah Lisa yang mulai cemas.


"Saya permisi," pamit Andre tanpa mempedulikan David.


Andre lalu kembali ke kamar ranap istrinya.


"Dre. Kita sudah siap. Yuk pulang kita pulang sekarang saja!" ajak Santi.


"Iya, mas. Aku bosan di sini," keluh Kanaya.


"Ya sudah kita pulang sekarang."


Andre membawa barang-barang mereka lalu menuju parkiran.


"Bagaimana keadaan temannya Annisa, Dre?" tanya Santi.


"Darren. Dia masih belum sadar, bun," jawab Andre.


"Ya Allah, sudah berapa hari masih belum juga sadar," ucap Kanaya.


"Iya, padahal organ vitalnya sudah normal semua. Dokter jaga di ruang ICU juga heran."


"Annisa nggak ya, bun?" tanya Kanaya.


"Iya, ayah kamu bilang nanti saja kasih tahu Annisa karena orangtuanya Darren selalu di sana. Ayah kamu nggak mau ada ribut-ribut di rumah sakit kalau sampai Annisa menjenguk Darren."


"Iya, bun. Aku juga berpikir seperti itu. Tapi aku takat nanti Annisa ngambek kalau nggak di kasih tahu."


"Hhh, bunda juga bingung."


"Ya sudahlah nanti kita diskusikan lagi sama ayah."


***


Andre kembali ke rumah sakit setelah mengantar istri dan bundanya pulang ke rumah karena masa cutinya sudah habis.


Saat sedang menolong pasien, rekannya Ferri memanggil.


"Ibumu ada di luar. Beliau ingin bertemu kamu, Dre," jelas Ferri.

__ADS_1


"Ada apa?"


Ferri mengedikkan bahunya.


"Aku belum selesai," ucap Andre.


Hampir setengah jam, akhirnya Andre selesai membantu pasien. Andre keluar ternyata ibunya masih menunggu di depan IGD.


"Hhm, ada yang bisa saya bantu, bu?" tanya Andre datar.


Lisa yang sedang menunduk seketika mendongakkan kepalanya, "Dre, tolong Darren sekali lagi. Ibu mohon," pinta Lisa dengan wajah sedih.


"Bu, kalau soal biaya In Sya Allah aku akan bantu lagi."


"Bukan itu, Dre. Darren belum juga sadar dari komanya. Apa bisa ibu minta tolong sama adik kamu yang bernama Annisa. Ibu tahu kalau Darren menyukai adikmu itu. Mungkin kehadiran adikmu bisa membuat Darren segera sadar." jelas Lisa.


Andre menarik nafas panjang, "Sebenarnya kita juga ingin memberitahukan tentang keadaan Darren pada Annisa tapi kita tidak ingin terjadi keributan di rumah sakit jika suami ibu tidak menyukai kehadiran ayah maupun Annisa," jelas Andre.


"Nggak, Dre. Ibu sudah bilang sama papanya Darren, dia setuju. Ibu minta tolong banget bawa adik kamu ke sini ya, nak!" Lisa menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


"Ibu yakin?" tanya Andre.


Lisa mengangguk, "Ibu yakin, nak!"


"Hh, baiklah. Saya akan bilang sama ayah," ucap Darren.


"Terimakasih, nak," ucap Lisa dengan wajah penuh harap.


Dia pun kembali lagi ke ruang ICU.


Andre langsung menelepon ayahnya.


***


"Ke rumah sakit? Kan mbak Kanaya sudah pulang, yah," tanya Annisa bingung.


"Ada lagi seseorang yang sedang sakit. Ayo ikut ayah!" ajak Anto.


"Ada seseorang yang sakit? Siapa, yah? Kenapa hanya Annisa yang di ajak?" tanya Alina heran.


"Ayah, seseorang yang sakit itu bukan kak Darren, kan? Sudah dua hari pesanku nggak di balas!" tanya Annisa khawatir.


"Kamu ikut saja, ayo!" ajak Anto lalu menoleh ke arah istrinya, "Sayang, mas antar Annisa dulu, ya," pamit Anto pada istrinya.


"Iya, mas. Semoga semua akan baik-baik saja," ucap Santi yang di berikan anggukan oleh Anto.


Anto lalu melajukan mobilnya ke arah rumah sakit.


"Ayah bikin penasaran saja, deh. Siapa sih, yah?" tanya Annisa dengan wajah sedih. Sepertinya dia sudah merasakan namun tetap mencoba untuk menyangkal.


"Kamu lihat saja nanti," sahut ayahnya.


Kenapa jantungku tiba-tiba berdebar-debar, ya. Siapa, sih. Batin Annisa.


Sampai di rumah sakit, Annisa seperti tidak sabar menunggu ayahnya yang sedang memarkirkan mobilnya.


"Ayo!" ajak Anto seraya menggandeng tangan putrinya.

__ADS_1


Saat tiba di depan ruang ICU, tampak Lisa dan juga David sedang duduk di kursi panjang yang ada di depan ruang ICU.


"I-itu, kan. Itu ayahnya kak Darren," gumam Annisa sembari menggelengkan kepalanya. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Permisi," ucap Anto pelan.


Lisa dan David mendongak. Saat mengetahui siapa yang datang, Lisa dan David langsung berdiri.


"Mas Anto," ucap Lisa lirih.


Tiba-tiba David berjalan mendekati mereka. Annisa beringsut ke belakang ayahnya.


"Maafkan kesalahan saya," ucap David pelan dengan mata berkaca-kaca.


Lisa dan Annisa yang melihat menjadi kaget pun Anto. David mengulurkan tangannya, dengan sedikit ragu Anto menyambut uluran tangan David.


"Hhmm, sama-sama," sahut Anto dengan senyum tulus.


"Aku juga minta maaf, mas," ucap Lisa.


"Iya, sama-sama," sahut Anto lagi.


Annisa yang kurang paham dengan masa lalu orangtuanya hanya bisa menatap mereka satu persatu dengan heran.


"Hhmm, Annisa, ya?" tanya Lisa.


Annisa yang berdiri di samping ayahnya langsung mengangguk, "Iya, tante," sahut Annisa lirih.


"Apa boleh aku ajak Annisa masuk?" tanya Lisa.


"Iya, boleh," jawab Anto dan David hampir bersamaan.


Mereka semua menahan senyum.


"Ayo, ikut tante!" ajak Lisa lantas menggandeng tangan Annisa.


"Terimakasih," ucap David.


Anto mengangguk lantas tersenyum.


Di dalam ruang ICU. Setelah Lisa dan Annisa memakai pakaian khusus yang sudah di sediakan di sana, mereka lalu masuk ke kamar Darren. Kamar yang hanya di pisahkan memakai tirai dengan kamar di sebelahnya.


Saat Lisa membuka tirai, ternyata Darren sedang di berikan asupan makanan melalui selang sonde oleh suster.


"Kak Darren," gumam Annisa dan tanpa terasa air matanya luruh juga. Tubuhnya seketika menjadi lemas.


Seseorang yang beberapa bulan ini mengisi hari-harinya, mengisi hatinya yang belum pernah terisi sebelumnya dan seseorang yang mampu membuat debaran jantungnya menjadi aneh kini tergolek lemah dengan banyak alat bantu yang menempel di tubuhnya. Belum lagi monitor yang mengeluarkan suara yang membuat Annisa merinding.


.


.


.


.


.

__ADS_1


9


__ADS_2