Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 91


__ADS_3

Hari minggu siang istriku ingin mengundang mbak Melly dan putrinya Davina untuk makan siang di rumah. Alya sangat senang sekali akan bertemu dengan putrinya mbak Melly karena mereka memang sudah lama sekali tidak bertemu.


Aku dan istriku menjemputnya langsung ke rumah karena kebetulan mbak Melly mengambil libur di hari minggu. Sampai di rumah putriku sedang menunggu di teras. Davina yang baru bisa berjalan, dengan tergopoh menghampiri Alya.


"Adek Davina!" panggil putriku.


Karena putrinya mbak Melly belum lancar berbicara, dia hanya tersenyum sambil bersorak-sorak.


"Ayo masuk, yuk!" ajak istriku seraya merangkul mbak Melly untuk masuk ke rumah.


Makan siang sudah terhidang di atas meja. Mbak Melly terlihat sedikit malu-malu. Ibuku lalu meminta dia untuk duduk di sebelahnya. Ibu dengan ramah dan hangat ikut mengajak mbak Melly mengobrol sedikit.


"Ayo, mbak dimakan. Anggap saja rumah sendiri!" ajak istriku.


"Iya. Ayo dimakan. Davina juga makan yang banyak, ya!" ucap ibuku seraya mengambilkan nasi dan lauk ke piring gadis kecil itu.


Kami lalu makan bersama. Davina terlihat sangat ceria meski belum bisa mengutarakan keinginannya. Aku tidak tahu berapa sebenarnya umur putri mbak Melly itu.


Selesai makan istriku mengajak mbak Melly dan putrinya main di dekat kolam renang.


"Davina mau belajar renang?" tanya istriku.


Gadis kecil itu hanya menunjuk-nunjuk saja kearah kolam renang. Sepertinya dia ingin sekali berenang tapi tidak ada yang bisa mengajarinya. Aku tidak mungkin mengajarinya sedangkan Andre nggak akan bisa mengajari anak sekecil Davina.


Aku lalu hendak berpamitan pada mereka untuk kembali lagi ke minimarket.


"Mas mau ke minimarket dulu, ya!" ucapku pada istriku.


"Kenapa buru-buru, mas?" tanya istriku.


"Nggak apa-apa, yank. Sekarang kan minggu, minimarket pasti ramai."


"Sesekali mas libur saja. Kan hari ini tukang bangunan juga libur. Mas juga sudah lama nggak libur, kan?"


"Ya sudah, nanti saja mas ke minimarketnya!" ucapku.


"Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan ke mall? Sudah lama kita nggak main ke mall kan, mas?" pinta istriku.


"Alya juga mau ke mall, yah!" Alya ikut menimpali.


"Tuh, mas. Alya juga mau ke mall. Kasihan, sejak dia kecelakaan nggak pernah lagi diajak keluar."


"Hhmm, ya sudah kalau gitu!" ucapku akhirnya. Kalau anak dan istri sudah meminta, susah untuk tidak menuruti keinginan mereka.


Kami memutuskan untuk jalan-jalan ke mall yang terdekat saja. Kedua anakku terlihat sangat bahagia terutama Alya yang tidak pernah lagi pergi keluar selain ke sekolah.


Sampai di parkiran Mall, aku lalu menggendong Alya dan memindahkannya ke kursi roda. Aku mendorong kursi roda putriku masuk ke mall sedangkan istriku berjalan berdampingan dengan mbak Melly. Wajah Davina terlihat sangat ceria. Gadis kecil itu selalu menyunggingkan senyum di wajah manisnya.


"Davina mau beli apa sayang?" tanya istriku.


Davina hanya menunjuk-nunjuk saja ke segala arah. Sepertinya dia terlalu gembira hingga tidak mempedulikan pertanyaan istriku.


Istriku lalu mengajak kami mampir ke sebuah butik khusus pakaian wanita. Dia lalu memilihkan beberapa pakaian untuk mbak Melly dan juga ibuku. Awalnya mbak Melly menolak tapi karena istriku memaksa akhirnya Mbak Melly mau menerima.


Setelah keluar dari butik pakaian dewasa, istriku mengajak kami masuk ke toko pakaian khusus anak-anak.


Istriku pun membelikan pakaian untuk Davina dan juga untuk Alya. Putriku yang sudah mengerti pakaian kesukaannya sendiri lebih memilih sendiri pakaiannya sementara istriku memilihkan pakaian untuk Davina karena Mbak Melly tidak mau memilih sendiri.


"Sayang, ini cocok banget nih buat Davina," ucap istriku dengan senyum sumringah lalu mencocokkan pakaian itu di tubuh Davina.

__ADS_1


Setelah membeli beberapa setel pakaian untuk Davina dan Alya, kami lalu keluar dari butik itu.


"Mas sama Andre beli juga, ya. Kita cari di sana saja!" ucap istriku seraya menunjuk sebuah toko pakaian pria.


Kebetulan ukuran pakaian putraku Andre tersedia di butik itu juga. Aku dan putraku akhirnya juga membeli pakaian.


Aku dan Andre hanya membeli dua potong pakaian saja.


Andre lantas meminta untuk main ke arena bermain anak-anak.


"Yah, main game, boleh?" tanya putraku seraya menoleh ke arahku.


Kami lalu mampir ke arena games anak-anak. Selama hampir satu jam, aku menemani anak-anakku bermain. Sedangkan istriku, mbak Melly dan juga ibuku duduk-duduk saja di tempat duduk yang tersedia di sana.


"Sudah, yah. Kita pulang, yuk!" ajak putriku yang mulai terlihat bosan.


"Ya sudah, sana ajak mas Andre pulang!" titahku.


"Mas Andre, pulang yuk!" ajak Alya seraya menarik-narik tangan kakaknya yang masih memegang mainan.


Andre menoleh lalu menganggukkan kepalanya, "Iya-iya!" sahutnya.


Setelah dari arena bermain anak, istriku mengajak kami mampir ke restoran. Kebetulan hari sudah sore seperti biasa Istriku itu pasti merasakan lapar.


Kami lalu memesan makanan. Kami memesan makanan yang sama. Setelah menunggu beberapa saat pesanan kami pun datang.


"Ayo Davina, di habiskan, ya! Davina suka, kan?" tanya istriku seraya mengusap lembut kepalanya.


Gadis kecil itu hanya mengangguk sambil tersenyum.


Kelihatannya istriku sangat menyukai Davina. Gadis kecil itu memang sangat menyenangkan dan mudah akrab dengan orang yang baru dia kenal.


Setelah selesai makan, kami berjalan-jalan sebentar di area Mall. Istriku lalu membelikan Davina dan Alya sebuah boneka yang cukup besar. Tentu saja putrinya mbak Melly itu senang bukan main. Dia memeluk bonekanya dengan sangat erat seperti takut akan diambil orang.


Kami pulang sekaligus mengantar mbak Melly dan putrinya sampai di rumah karena memang hari sudah sore. Aku membantu mbak Melly menurunkan barang belanjaan yang ternyata cukup banyak dibelikan oleh istriku.


"Terima kasih banyak mbak Santi, pak Anto. Saya sudah di ajak jalan-jalan dan juga di belanjain banyak banget!" ucap Mbak Melly.


"Sama-sama mbak, semoga suka, ya!" sahut istriku hangat.


Setelah mbak Melly dan Davina masuk ke dalam rumah, aku segera melajukan mobil ke arah rumah.


"Jadi mbak Melly itu benar-benar mantan istri dari suami Lisa sekarang?" tanya ibuku seakan tak percaya.


"Iya, bu!" jawabku.


Ibuku tampak menarik nafasnya berat. "Kasihan sekali mereka. Semoga saja mereka kuat dan sabar!" ucap ibuku sedih lalu menoleh ke arahku dan juga istriku.


Sampai di rumah aku segera naik ke atas ke kamarku setelah membawa Alya ke kamar bawah. Aku memutuskan untuk tidak ke minimarket dulu hari ini. Aku merasa sangat lelah sekali. Sudah lama aku tidak libur dan istirahat di rumah.


Aku lalu mendekati istriku, "Yank, mandi yuk!" ajakku seraya menatap mesra istriku itu.


Dia menatapku dengan tatapan aneh.


"Kenapa, yank?" tanyaku.


"Nggak papa kok, mas!" jawabnya.


"Sudah lama banget nih kita nggak mandi berdua, kan?" rayuku seraya memeluknya.

__ADS_1


Istriku mengangguk sambil tersenyum malu. Aku langsung menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi. Istriku lalu menyiapkan air dan sabun di dalam bathup.


Setelah semua siap, kami lalu sama-sama masuk ke dalam bathup. Kegiatan yang sangat aku sukai sejak menikah dengannya. Memang sudah lama sekali rasanya kami tidak mandi bersama sampai aku lupa kapan terakhir kali.


Setengah jam kami mandi bersama. Setelah itu aku menggendongnya lalu membawanya ke kamar. Di dalam kamar aku lalu meminta hakku karena tiba-tiba hasratku muncul. Akhir-akhir ini aku hanya menginginkannya saat malam hari saja. Karena sudah lama memang aku terlalu disibukkan dengan urusan minimarket dan juga urusan persidangan.


"Mas kangen, yank!" ucapku selalu seperti itu setiap kali memintanya.


Istriku hanya mengangguk saja. Kami pun melakukannya. Sepertinya istriku itu kelelahan sampai dia tidak bersemangat tapi tetap berusaha mengimbangiku. Itu yang membuatku makin mencintainya. Walaupun dia sedang tidak menginginkannya ataupun sedang merasa lelah tapi dia akan tetap berusaha untuk menyenangkanku.


Setelah selesai menyalurkan hasratku, aku lalu memeluk dan mencium dahinya penuh kasih sayang.


"Terima kasih ya, sayang!" ucapku mesra seraya menciumi setiap inci wajahnya yang masih berkeringat.


Istriku lalu mengangguk seraya tersenyum dan mengusap wajahku lembut. Tatapan matanya begitu lembut dan penuh cinta. Walau kami sudah sering melakukannya, tapi perasaanku dan juga hasratku tidak pernah berubah ataupun menurun.


"Maaf ya, mas. Aku nggak seperti wanita muda. Tenagaku nggak bisa seperti mereka," ucapnya lirih.


"Siapa bilang, yank? Kamu tetap hebat, kok!" sahutku sambil menggodanya.


Dia tersenyum malu, "Masa, mas?"


"Iya, sayang!"


"Tapi tadi lebih banyak mas yang. . ."


"Sssttt, kamu tetap seperti dulu sayang! Walau sedikit berbeda mungkin karena kamu sedang hamil. Mas juga nggak mau membuat kamu kelelahan jadi biar mas saja yang bekerja. Bekerja di tempat tidur lebih membuat mas bersemangat di banding bekerja di minimarket!" godaku dengan mengedipkan sebelah mata.


"Iihh, mas ini!" ucapnya malu. "Tapi memang semenjak hamil, aku makin cepat lelah, mas. Naik tangga saja seperti sedang lari berkilo-kilo meter."


"Iya, memang begitu, yank! Apalagi kamu sedang mengandung anak kembar. Jangan sering-sering naik turun tangga, ya. Istirahat saja di kamar bawah."


"Hhmm, iya mas. Aku kadang tiduran di sofa depan tv sama anak-anak dan juga ibu."


"Iya, yank. Ke atas kalau mau tidur malam saja. Tunggu ada mas!"


"Hhmm, iya mas!"


Aku kembali memeluknya mesra. Semoga hubungan kami akan selalu seperti ini selamanya.


.


.


.


.


.


.


Maaf jika ada typo. Terimakasih sudah membaca karya saya. 😊🙏


.


.


.

__ADS_1


.


21


__ADS_2