
Pov Anto
Aku melajukan mobil ke arah rumah. Sejak memiliki bayi, istriku sudah tidak mau lagi ikut ke minimarket. Dia tak bisa jauh terlalu lama dari putri kembar kami.
"Mbak Melly cantik banget tadi ya, mas."
"Hhmm," sahutku.
"Semoga Rudi bisa jadi suami yang baik buat mbak Melly."
"Aamiin!" sahutku.
Sepulang dari acara pernikahan mbak Melly, aku langsung mengantarkan istri dan anakku pulang ke rumah. Sedangkan aku pergi ke minimarket.
Karena Rudi dan mbak Melly aku liburkan selama tiga hari jadi aku yang mengambil alih pekerjaan Rudi sementara mbak Melly di gantikan sementara oleh kasir di lantai bawah.
***
Satu bulan berlalu. Anak-anak sudah mulai liburan sekolah. Istriku ingin mengajak kami berlibur ke luar kota. Tentu saja anak-anak sangat antusias. Selama ini mereka tidak pernah aku ajak ke luar kota.
"Bali, yah! Aku mau ke bali!" seru putriku.
"Tapi mas ingin ke jakarta, yah!" putraku mempunyai keinginan sendiri.
"Jadi kita mau kemana nanti bunda bisa pusing karena kalian berdua?"
Karena kedua anakku sama-sama mendapatkan peringkat ketiga di kelasnya masing-masing jadi tidak ada yang berhak menentukan di mana akan berlibur.
Jika aku sebagai ayahnya berpihak ke salah satu saja, itu sama halnya aku tidak bersikap adil. Aku pun jadi bingung.
"Ya sudah, kita lempar koin saja gimana? Siapa yang menang, dia yang boleh menentukan di mana kita akan berlibur!" usulku akhirnya. Aku sudah pusing membahasnya hampir setiap hari.
"Setuju!" teriak mereka berdua.
"Aku gambar angka!" ucap Andre.
"Aku gambar rumah!" sahut Alya.
Aku lalu melempar koin tersebut. Dan. . .
"Stop! Kita lihat sama-sama. Jangan di ambil dulu!" teriakku karena kedua anakku sudah bersiap mengambil koin yang baru saja jatuh ke lantai.
Kami bertiga mendekat dan. . .
"Angka!" seru Andre kegirangan sambil melompat-lompat.
"Mas Andre! Jangan lompat-lompat!" teriak neneknya.
Hhh, hari ini semua orang jadi hobi berteriak.
"Yah. . ." Putriku memasang wajah kecewanya tapi dia tidak protes.
Akhirnya, kami akan berlibur ke Jakarta.
__ADS_1
Malamnya, istriku sudah meminta tolong kenalannya untuk memesankan tiket untuk kami sekeluarga. Semua akan ikut ke jakarta kecuali Tono, suami dari adikku.
Menjelang sore, dengan menumpang pesawat terbang, kami pun terbang ke jakarta dengan Alina di gendong bundanya sedangkan Annisa di gendong sama tantenya.
Andre, Alya dan keponakanku Lani begitu antusias. Tidak terlihat rasa cemas di wajah mereka saat pertama kali menaiki pesawat.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, pesawat yang kami tumpangi pun tiba di bandara.
Kami langsung menuju ke hotel yang sudah kami pesan satu hari sebelumnya. Kami memesan dua kamar hotel saja.
"Ayo anak-anak mandi dulu, ya. Malam ini kita istirahat dulu di hotel!" titahku pada anak-anak.
Malamnya kami turun ke restoran untuk makan malam. Sebenarnya asik juga jalan-jalan di ibukota malam hari tapi kasihan si kembar. Udara malam tidak baik untuk mereka.
Pagi-pagi sekali anak-anak sudah bangun dan sudah siap untuk pergi jalan-jalan.
"Kita mau kemana dulu hari ini, yank?" tanyaku.
"Kita ke Ancol saja dulu hari ini, ya," sahut istriku.
Dengan menyewa mobil hotel sekaligus sopir yang bertindak sebagai guide, kami berangkat ke Ancol. Tujuan pagi ini adalah pantainya.
"Kita kemana dulu, pak?" tanya Andi, sopir sekaligus guide hotel.
"Kita ke pantai saja dulu, pak," sahutku.
Tak sampai satu jam, kami sudah sampai di pantai Ancol.
"Ayo anak-anak!" ajakku.
Pantainya yang sejuk apalagi saat ini masih pagi. Anak-anak mulai mengambil foto. Aku bertugas sebagai fotografer dadakan terkadang aku meminta bantuan pak Andi untuk mengambil foto kami sekeluarga.
Anak-anak begitu riangnya bermain air. Aku tetap mengawasi mereka dari jarak dekat. Sedangkan ibu-ibu duduk di tikar yang tidak jauh dari pantai.
Setelah cuaca mulai terik, kami meninggalkan pantai.
"Ayah, aku lapar," keluh Alya seraya memegangi perutnya padahal saat ini baru saja pukul sepuluh.
"Iya, nak! sahutku.
Aku lalu menoleh ke arah pak Andi, "Pak, kita cari restoran atau kafe dekat sini, ya!" pintaku.
"Baik, pak!" sahut pak Andi.
Setelah lima menit, kami sampai di sebuah kafe. Kami pun langsung memesan makanan. Selama hampir satu jam kami makan di kafe, kamipun melanjutkan ke tempat hiburan yang lain.
"Wah, ini ya namanya Dufan itu!" seru putriku dengan tatapan kagum.
Pak Andi lalu mengajak kami mengelilingi Dufan. Anak-anak sangat antusias. Dari satu tempat ke tempat yang lain kami kunjungi hingga tak terasa hari sudah siang.
"Kita cari masjid saja dulu!" ajakku.
Kami lalu pergi ke masjid untuk sholat zuhur. Setelah itu, kami lanjut keliling Dufan.
__ADS_1
Menjelang sore, kami putuskan untuk pulang ke hotel.
"Kita makan malam di hotel saja, ya mas!" ucap istriku.
"Iya, yank!" sahutku.
Besoknya pagi-pagi sekali kami pergi ke kebun binatang Ragunan. Kembali pak Andi yang jadi sopir sekaligus guide kami. Si kembar tertawa-tawa saat melihat bermacam binatang yang ada di sana. Mereka memang terlihat lucu walau tak sedikit yang terlihat seram sampai keponakanku menangis ketakutan.
Kami seharian jalan-jalan. Selain mengunjungi kebun binatang Ragunan, kami juga menyempatkan main ke TMII. Semua tampak bergembira. Terkadang aku bergantian menggendong si kembar supaya istri dan adikku tidak kelelahan.
Hari ini kami pulang malam. Karena kami ingin membeli oleh-oleh dan juga makan malam di luar.
"Mau beli oleh-oleh apa?" tanyaku pada istriku.
"Aku juga bingung, mas. Lihat saja nanti ada apa saja di toko yang menjual aneka ragam oleh-oleh khas jakarta!" sahutnya.
Setelah membeli banyak oleh-oleh dan juga makan malam di sebuah restoran yang cukup mahal, kami langsung kembali ke hotel.
Tak butuh waktu lama, kami langsung terlelap dalam tidur karena kelelahan.
Keesokan harinya kami pulang kembali ke kota kami. Karena aku tidak bisa terlalu lama meninggalkan minimarket. Jadi liburan kami tidak bisa berlama-lama. Tapi setidaknya semua keluarga merasa gembira dan mewujudkan keinginan anak-anakku untuk liburan ke luar kota.
***
Kemajuan minimarket cukup pesat. Bahkan aku bisa menabung banyak setiap bulannya. Dan istriku memaksaku untuk mengelola keuangan karena dia tidak mau pusing dan juga sudah sangat percaya padaku sebagai suaminya. Akhirnya aku mau mengelola keuangan minimarket tapi tetap dalam pengawasan istriku. Tetap dia selalu aku ajak musyawarah jika akan mengambil keputusan.
Hari terus berganti. Kebahagiaan selalu menyertai kehidupan rumah tangga aku dan Santi. Mbak Melly pun sudah tidak lagi bekerja di minimarket sejak beberapa hari yang lalu karena dia sedang hamil muda dan Rudi, suaminya tidak mengijinkan lagi wanita itu untuk bekerja. Alhamdulillah, mbak Melly pun sekarang sudah bahagia dengan kehidupan barunya.
***
Hari ini hari kelahiran si kembar. Tanpa terasa, Alina dan Annisa sudah berusia satu tahun. Kami mengadakan syukuran sederhana di rumah hanya dengan mengundang anak dari panti asuhan saja.
Dengan di doakan oleh mereka, anak-anak dari panti asuhan, semoga si kembar selalu di berikan kesehatan dan kebahagiaan. Begitu juga kehidupan kami sekeluarga.
Tak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan keluarga. Saling berbagi dengan sesama pun merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Kehidupanku dan anak-anak yang kini berubah. Memang benar, dunia itu berputar. Entah kapan kita akan ada di bawah dan kapan kita akan ada di atas. Yang terpenting harus sabar dan ikhlas dalam menjalaninya.
.
.
.
.
.
Nantikan bab selanjutnya. Tentang anak-anak yang tumbuh dewasa. Dan bagaimana akhirnya hubungan lama yang pernah terpecah. Semoga suka. Terimakasih 😊🙏
.
.
.
__ADS_1
14