Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 171


__ADS_3

Waktunya beristirahat, Darren menemui Anto di kantornya.


Tok tok.


"Assalamu'alaikum," ucap Darren.


"Wa'alaikumsalam," sahut Anto dari dalam.


Darren lalu membuka pintu.


"Darren? Silahkan masuk!" titah Anto.


Daren lalu masuk.


"Duduklah!"


Darren pun duduk di kursi yang ada di hadapan Anto.


"Ada perlu apa?" tanya Anto.


Darren diam sesaat, bingung harus memulai obrolan dari mana.


"Darren?" panggil Anto.


"Hhmm, begini, pak. Sebentar lagi aku kan ujian akhir kelulusan. Jadi, aku ingin istirahat dulu bekerja di minimarket tapi kalau nanti sekolahku sudah selesai, apa aku masih boleh bekerja lagi di sini ya, pak?" tanya Darren.


"Oh, kamu tidak lama lagi mulai ujian, ya?" tanya Anto.


"Iya, pak!" sahut Darren.


"Baiklah kalau begitu. Kamu boleh istirahat sampai sekolah kamu selesai. Nanti sebelum pulang kamu temui saya, ya!


"Baiklah, pak. Terima kasih atas pengertiannya. Saya permisi dulu!" pamit Darren dengan sopan.


"Iya. Tolong pintunya di tutup lagi, ya!" titah Anto.


"Baik, pak. Assalamu'alaikum," ucap Darren.


"Wa'alaikumsalam," sahut Anto.


Darren pun kembali ke gudang.


"Dari mana kamu Darren? Bukannya sekarang jam istirahat kamu?" tanya Rudi.


"Aku dari kantornya pak Anto, pak," sahut Darren.


"Oohh. Nih, makan kamu!" ucap Rudi seraya mengulurkan nasi bungkus ke tangan Darren.


"Aku di kasih makan terus ya, pak?" tanya Darren heran. Sejak dia kembali bekerja setelah sakit, dia selalu mendapatkan jatah makan.


"Alhamdulillah, memang sudah satu minggu ini pak Anto memberikan jatah makan satu kali untuk semua karyawan. Pak Anto takut ada yang nggak makan. Tapi tenang saja, gaji kita nggak di potong! Uang makan tetap di kasih tiap bulannya."


"Alhamdulillah ya, pak!" sahut Darren senang.


Enak donk kerja di sini, gajian utuh. Hh, gara-gara papa nih. Aku takut ketahuan. Batin Darren.


Malam hari sebelum pukul tujuh, Darren menemui Anto lagi di kantornya.


"Jadi ini gaji aku ya, pak?" tanya Darren kaget.


"Iya. Kamu bilang mau istirahat dulu, kan?"


Darren mengangguk, "Iya, pak. Tapi aku. . ."


"Tapi apa?"


"Hhmm, nanti masih boleh kan kerja lagi di sini, pak?" tanya Darren ragu.


Anto tersenyum, "Tentu saja boleh!"

__ADS_1


Darren berdiri dan langsung menyalami Anto, "Terimakasih, pak. Pak Anto sudah baik sama aku!" ucap Darren dengan mata berkaca-kaca.


"Sama-sama. Kamu belajar yang benar, ya. Uangnya di simpan. Jangan bilang karyawan lain, ya!" pesan Anto.


"Iya, pak."


"Ya sudah pulanglah sekarang. Sudah malam. Hati-hati!"


"Iya, pak. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih banyak!"


Darren kemudian keluar dari ruangan Anto. Dia membuka loker dan mengambil tas sekolahnya.


"Loh, kamu sudah mau pulang?" tanya Rudi.


"Iya, pak. Aku resign."


"Apa, resign?" tanya Rudi kaget.


"Iya, pak. Sementara saja, kok. Aku. . . hmm."


"Kenapa?"


Jangan sampai karyawan lain tahu kalau aku masih sekolah. Batin Darren.


"Aku istirahat dulu kerjanya. Karena aku ada urusan!" jawab Darren bohong.


"Oh begitu!"


"Iya, pak. Aku pulang dulu, pak. Terimakasih sudah baik sama aku!" ucap Darren lantas menyalami Rudi.


"Iya, sama-sama. Hati-hati di jalan!"


"Iya, pak."


Darren buru-buru pulang ke rumah mumpung belum terlalu malam.


Sampai di depan gang rumahnya, kembali dia bertemu dengan gadis yang sering mengancamnya.


"Kok sudah pulang jam segini?" tanya Rika.


"Bukan urusan kamu. Oh iya, ini aku kembalikan handphone kamu. Aku nggak butuh!" ucap Darren ketus sembari mengulurkan handphone yang pernah di kasih ke Darren waktu di minimarket.


"Sombong kamu, Darren! Aku akan bilang sama papa kamu kalau kamu kerja di minimarket. Aku tahu kalau papa kamu itu ngelarang kamu kerja, kan. Aku nggak main-main!" ancamnya.


"Bilang saja, aku nggak takut. Aku sudah nggak kerja lagi, kok!" sahut Darren dengan senyum kemenangan.


"Apa? Ah, kamu bohong!"


"Terserah kamu mau percaya apa nggak. Datangi saja itu minimarket dari pagi sampai pagi lagi kalau kamu nggak percaya! Sudah ah, aku mau pulang. Jadi anak gadis itu jangan di biasakan keluyuran malam-malam!" ucap Darren sinis lantas gegas berlalu dari hadapan gadis itu.


"Darren! Awas kamu!" teriak Rika yang hanya di senyumin saja oleh Darren.


Kamu nggak tahu ya kalau aku sudah ngadu sama papa kamu. Batin Rika dengan senyum menyeringai ke arah Darren.


Ahh, kamu itu bukan tipe aku. Aku suka cewek yang manis dan lembut tapi nggak murahan. Bukan yang galak dan kasar seperti kamu. Kamu juga licik dan murahan. Dan aku sudah ketemu cewek tipe aku banget. Batin Darren.


Dengan langkah pasti, Darren menuntun sepedanya menuju rumah. Dia sudah tidak takut lagi seandainya papanya bertanya macam-macam karena dia memang sudah tidak bekerja lagi.


"Darren! Pulang malam lagi?" tanya papanya, membuat nyali Darren mengkerut.


"Hhmm, papa. . ."


"Kamu membangkang, ya! Kamu kerja, kan?" tanya David dengan sebelah tangannya mencengkeram lengan Darren.


Darren ketakutan, dia meringis menahan sakit di lengannya, "Ng-nggak, pa. Aku nggak kerja!" jawab Darren terbata-bata.


"Kamu pikir papa bisa kamu bodohi!"


"Mas, ada apa ini? Kenapa Darren? Lepasin, mas!" ucap Lisa kaget.

__ADS_1


"Kamu ajarin anak ini membangkang dan membohongi aku, kan!" David menatap istri dan anaknya dengan tatapan nyalang.


"Apa maksud kamu, mas?"


"Pa, aku beneran sudah nggak kerja lagi! Sumpah, pa!"


"Berani kamu bersumpah palsu, ya!"


"Sungguh, pa!"


Darren merogoh saku celananya.


"I-ini uang gajiku terakhir, pa. Aku sudah berhenti kerja atas perintah papa semalam. Aku mana berani membantah papa!" ucap Darren dengan tangan bergetar menunjukkan amplop yang tadi di kasih oleh Anto.


David mulai merenggangkan cengkraman tangannya. Menatap mata putranya dan amplop yang ada di tangan putranya bergantian.


"Tuh, mas. Darren sudah nggak kerja lagi, kan. Itu sudah di kasih gaji terakhirnya!" jelas Lisa.


David kemudian membuka amplop itu lalu menghitung uangnya.


"Tiga juta? Kerja di mana kamu?" tanya David kembali curiga.


Mata Darren pun membulat demi melihat jumlah uang yang ada di dalam amplop. Dia pikir hanya akan menerima dua juta saja.


"A-aku nggak tahu, pa. Temanku bilang gajinya dua juta saja. Hmm, mungkin itu bonus karena aku berhenti kerja!" jawab Darren terbata-bata.


"Hhh, awas ya kalau kamu ketahuan bohong! Mulai besok, siang hari kamu sudah harus ada di rumah dan jangan kemana-mana lagi!"


"Siang? Aku pulang pukul satu, pa. Dan hampir satu jam perjalanan karena naik sepedanya pelan-pelan."


"Mulai besok kamu naik angkot. Kan sudah punya uang! Jangan banyak alasan kamu!"


"Hmm, i-iya pa."


"Sana masuk, mandi! Apa mau papa mandikan, heh?"


"Jangan!" teriak Lisa dan Darren hampir berbarengan.


"Biar Darren mandi sendiri, mas!" ucap Lisa lembut.


"Mandi!" titah David.


"I-iya, pa."


Lisa buru-buru ke dapur sedangkan Darren ke kamarnya. Tak lama kemudian Darren keluar dengan membawa handuk.


"Awas kalau nggak mandi. Jangan jorok!" ucap David dengan nada tinggi.


"Iya, pa."


Saat Darren ke kamar mandi, ada mamanya di sana.


"Mandilah. Sudah mama tambahin air panas supaya airnya nggak dingin!" bisik mamanya.


Darren tersenyum.


"Seperti anak orang kaya saja mandi air hangat!" teriak David dari ruang tamu. Membuat istri dan anaknya kaget.


.


.


.


.


.


16

__ADS_1


__ADS_2