
Andre terbangun saat jam sudah menunjukkan pukul lima pagi. Karena malam panjangnya bersama Kanaya, dia sampai tidak mendengar lagi suara azan subuh. Mungkin pukul dua dini hari mereka baru bisa tertidur. Dia gegas membangunkan istrinya untuk mandi dan sholat subuh.
Setelah selesai sarapan, Andre dan Kanaya sudah bersiap hendak pergi ke rumah sakit.
"Loh, mas mau kemana?" tanya Alina penasaran.
"Mas mau ajak mbak Kanaya ke Rumah Sakit sebentar."
"Memangnya mbak Kanaya kenapa,mas? Sakit?" tanya Alina lagi.
"Nggak apa-apa, hanya kontrol kesehatan saja. Mbak Kanaya sedikit kurang sehat."
"Oh, begitu. Semoga nggak kenapa-kenapa ya,"
"Hhmm. Mas berangkat dulu ya," pamit Andre.
Andre lalu melajukan mobilnya ke rumah sakit. Karena hari ini hari pernikahan Alya jadi Andre ijin untuk tidak masuk kerja.
"Ke dokter mana kita mas?" tanya Kanaya.
"Bagaimana kalau kita ke dokter kandungan dulu saja?" Andre balik bertanya.
"Kalau aku terserah mas saja."
Tak lama setelah Andre pergi, Darren datang. Karena kemarin sore dia tidak bisa keluar rumah karena ada papanya.
"Kak Darren?" sapa Anisa saat mereka sudah ada di teras.
"Maaf baru bisa kesini. Kemarin sore kakak nggak bisa ke sini," ucap Daren.
"Oh ya, kak. Nggak apa-apa, kok. Kakak sudah sarapan belum?"
"Kakak sudah sarapan sebelum ke sini," jawab Darren.
"Oh iya. Kakak tunggu sebentar ya, pakaiannya aku ambilkan dulu," ucap Annisa lantas masuk ke dalam rumah.
Tak lama kemudian, Annisa keluar dengan membawa paper bag.
"Ini pakaian seragam untuk ibunya kakak. Buat kita pakai saat acara nikahan mbak Alya," jelas Annisa.
"Terimakasih, Nis. Ibuku di kasih seragam juga."
"Iya, kan ibunya kak Darren juga ibunya kak Alya," jelas Annisa.
"Untung saja bukan ibumu juga," gumam Darren hampir tidak terdengar oleh Annisa.
"Hhmm, kak Darren ngomong apaan."
"Hehehe, ya kali kakak suka sama adik kandung sendiri. Apa kata dunia," ucap Darren sembari menatap Annisa lekat-lekat.
"Iiihh," Annisa tersenyum malu. Jantungnya berdegup kencang mendengar ucapan Darren.
"Nanti acaranya sehabis ashar, kan?" tanya Darren.
Annisa mengangguk," Hhmm. Iya, kak."
"Kakak pulang dulu, ya. Supaya nanti sore bisa kesini. Kalau pergi-pergi terus, nggak enak."
"Hhmm, iya, kak."
"Yang lain mana, kakak mau pamit."
"Semua orang sedang sibuk. Kak Alya sedang di kamarnya sama Alina."
"Oh, ya sudah. Tolong pamitkan, ya. Terimakasih pakaian seragamnya."
"Iya, kak."
__ADS_1
Darren lalu pulang dengan mengendarai angkot yang tidak jauh dari rumah Annisa.
***
Setelah selesai sholat ashar, semua keluarga sudah bersiap-siap di ruang tamu tempat di adakannya acara akad nikah Alya dan Kevin.
Alya belum selesai di rias di kamarnya. Hampir semua tamu undangan sudah datang karena memang hanya mengundang sedikit saja tamu undangan.
Lisa dan Darren dari siang sudah datang. Walau menahan malu saat bertatapan dengan Anto, tapi Lisa berusaha menyembunyikan perasaannya itu demi putrinya.
Ternyata rumah mas Anto semewah ini. Mungkin memang mas Anto tidak ada rezekinya saat menikah denganku. Hhh, tapi setidaknya kedua anakku ikut merasakan kemewahan. Batin Lisa.
Tante dan oma Kevin datang di temani asisten rumah tangganya. Papi Kevin pun ternyata datang tapi sendirian sedangkan abangnya Kevin tidak datang. Mereka sudah duduk manis.
Kevin, Anto dan pak penghulu sudah siap. Anto dan Kevin saling berjabat tangan. Lalu. . .
"Saya terima nikah dan kawinnya Alya Fadillah binti Anto Nugraha dengan mas kawin tersebut tunai!" ucap Kevin hanya dengan satu tarikan nafas saja.
"Bagaimana saksi, sah?" tanya pak penghulu.
"Sah!" sahut semua orang.
"Alhamdulillah. . ."
Alya lalu berjalan ke arah Kevin di bantu oleh ibunya. Jantungnya berdebar-debar saat matanya dan Kevin beradu pandang. Dia lalu duduk di sebelah Kevin dengan kepala tertunduk. Tak lupa dia mencium punggung tangan laki-laki yang beberapa detik yang lalu baru saja sah menjadi suaminya. Kevin lalu mencium dahi Alya lembut kemudian menatap mesra istrinya itu. Wajah Alya memerah.
Setelah itu mereka menandatangani buku nikah.
Setelah acara inti selesai, semua tamu undangan di persilahkan untuk menikmati hidangan.
"Kenapa Alya nggak mau pesta ya, mas?" tanya Kanaya.
"Dia hanya ingin menikah sederhana saja, sayang," sahut Andre.
"Hhmm, kalau pernikahanku semua yang atur mami sama papi,"
"Iya, nggak apa-apa, kok," ucap Kevin seraya mengusap lembut kepala istinya.
"Iya. Kamu pun tak kalah cantik, sayang!"
Kanaya tersenyum.
Selama tamu undangan sedang menikmati hidangan, kedua pengantin berfoto-foto.
Darren tidak jauh-jauh dari mamanya karena Lisa merasa tidak enak di sana jadi tidak mau di tinggal padahal Darren bolak balik melirik ke arah Annisa yang juga sering melirik ke arahnya.
Sedangkan Alina sibuk mengabadikan momen penting mbaknya di kamera kesayangannya.
"Wah, bagus-bagus ini," gumamnya sembari terus mengambil foto.
Tiba-tiba Alina merasa haus. Dia lalu pergi ke dapur untuk mengambil minum. Saat dia berbalik ternyata ada seseorang berjalan ke arahnya hingga tubuh mereka berdua bertabrakan, oleng dan jatuh bersama dengan posisi Alina berada di bawah. Mereka saling pandang. Jantung dan nafas keduanya saling berpacu. Mereka seperti terpaku di tempatnya.
"Eehh, apa-apaan!" teriak seseorang lantas menarik paksa laki-laki itu.
"Hhmm, mas," gumam Alina lantas berusaha bangkit dengan susah payah karena badannya sedikit sakit.
"Kamu?" tangan Andre sudah terangkat.
"Hhmm, Dre. A-aku bisa jelasin!"
"Jelasin apa? Kamu bisa-bisanya. . ."
"Mas Andre. Mas kenal dia?" tanya Alina bingung sambil memegangi punggungnya yang sakit. Gadis itu kini duduk di kursi meja makan.
"Dre. . ." laki-laki itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dia adikku, Fer!" ucap Andre dengan emosi tertahan. Dia tidak ingin membuat keributan di acara penting adiknya.
__ADS_1
"Sumpah, aku nggak sengaja, Dre. Sungguh!"
Andre melepaskan cengkraman tangannya lalu menoleh ke arah adiknya.
"Kamu di apain sama dia, dek?" tanya Kevin dengan pandangan menyelidik.
"Hhmm, mas. Tadi aku nggak sengaja nabrak dia," jelas Alya.
Dahi Andre berkerut, "Dia apa kamu yang nabrak?"
"Dre, tadi aku hendak meminjam kameranya tapi dia membalik badannya tiba-tiba jadi aku nggak sempat menghindar. Jadilah kita. . ."
"Hhmm, tapi kenapa kamu nggak langsung bangun, heh? Sengaja ambil kesempatan?"
Ferry menarik nafas panjang, lalu menggaruk-garuk kepalanya.
"Kenapa diam?"
"Dre, aku-aku kaget, Dre."
"Kaget kok lama! Kalau aku nggak dekati kalian bagaimana?"
Ferry tersenyum, "Maaf, Dre!"
"Hahh, kamu itu!" Andre mengusap kasar wajahnya.
"Sungguh, Dre. Entah tadi aku, . ." Ferry menatap ke arah Alina yang sedang mencuri pandang ke arahnya. Alina buru-buru menundukkan kepalanya.
"Alin, sana dekati bunda!" titah Andre.
Alina pun menurut. Dia berlalu dari sana meninggalkan dua orang laki-laki dewasa yang sepertinya belum selesai dengan urusannya.
"Fer,"
"Dre, aku benar-benar minta maaf. Yah gimana, aku belum pernah jatuh seperti itu dengan seorang gadis. Aku benar-benar kaget dan. . ."
"Dan?"
Ferri menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.
"Dan, yah. Aku terpesona menatap matanya. Ok. Huhhh!" Ferry mengusap wajahnya.
Mata Andre menyipit, "Hhmm, kamu nggak menyentuhnya, kan?"
Ferry menatap Andre, "Ya kamu tadi lihat kan. Kami-kami berpelukan ya jelas aku menyentuhnya, Dre! Tapi kan nggak sengaja, Dre!"
"Hhmm," Nafas Andre memburu.
"Tadi aku memegangi kepala belakangnya makanya kami bisa jatuh seperti itu. Kamu bisa bayangin kalau kepala adikmu menyentuh langsung ke lantai tanpa ada tangan aku yang menyanggahnya."
"Haah, alasan saja kamu!"
"Lalu aku harus bagaimana? Kamu mau aku bagaimana?"
Andre mengibaskan tangannya ke udara Lamtas berlalu dari sana.
Ferri menggaruk kepalanya, "Hh, ada-ada saja. Semoga Andre nggak lama marahnya. Hhmm, ternyata dia cantik juga. Bola matanya sangat indah di lihat dari dekat." gumam Ferry senyum-senyum sendiri.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
13