Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 122


__ADS_3

Para guru dan samua siswa dan siswi sedang berkumpul di parkiran hotel di mana bus mereka terparkir.


"Semalam salah satu siswi di sekolah kita hampir saja di culik. Sebenarnya sudah di culik tapi di bebaskan kembali. Entah apa tujuan orang itu. Tapi kita tetap harus bersyukur karena teman kalian baik-baik saja. Maka dari itu, kita harus lebih waspada. Jangan ada yang berjalan sendirian. Minta satu teman kalian untuk menemani. Ok anak-anak?" jelas pak Didit selaku guru pembimbing di sekolah Alina dan Annisa.


"Baik, pak!" sahut anak-anak yang sebagian lagi kasak kusuk.


Alina dan Annisa hanya diam saling berpegangan tangan. Annisa lalu mengedarkan pandangannya ke teman-temannya. Tiba-tiba netranya menangkap seseorang yang dari semalam mengganggu pikirannya.


Saat Annisa sedang menatap intens ke arah orang itu, tiba-tiba orang itu juga menoleh ke arahnya.


"Kakak," gumam Annisa.


"Apa, Nis?" tanya Alina yang mendengar sedikit gumaman kembarannya.


"A-apa? Hhmm, nggak apa-apa, kok!" jawab Annisa gugup.


"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Alina khawatir.


"Aku nggak apa-apa kok, sayang!"


"Hhmm!"


Annisa lalu merangkul kembarannya, "Aku ngantuk!"


"Masih pagi."


"Semalam susah tidur. Menjelang subuh baru bisa tidur."


"Kepikiran yang semalam?"


"Hhmm," kepikiran kakak yang bersamaku semalam. Batin Annisa.


"Sudah, jangan takut lagi, ya. Kita akan sama-sama terus!"


"Hhmm, hari ini kita di ajak kemana, ya?"


"Museum, satu universitas lagi sama pantai."


"Wah, pantai."


"Asik, ya!?"


Annisa mengangguk sambil sesekali melirik ke arah seseorang yang semalam bersamanya. Setiap pandangan mereka bertemu, ada desir aneh yang Annisa rasakan. Dadanya bergemuruh, membuatnya gelisah.


"Sekarang kita akan berangkat lagi. Ingat-ingat ada tidak barang kalian yang tertinggal di kamar hotel, karena kita tidak akan kembali lagi ke sini. Setelah kita selesai mengunjungi tempat-tempat yang ada di daftar, kita akan langsung pulang!" jelas pak Didit lagi.


"Kalau mau ke toilet dulu, silahkan!" imbuhnya.


"Yuk, Nis. Ke toilet dulu, yuk!" ajak Alina.


"Hhhmm, kamu saja deh. Aku antar!" sahut Annisa.


Mereka lalu pergi ke toilet. Annisa menunggu di depan pintu. Pikirannya menerawang. Kenapa sampai ada orang yang ingin mempermalukannya. Sampai-sampai harus membayar orang untuk melakukannya. Dan kakak itu, yang akhirnya menolak perintah untuknya terpaksa harus membayar uang sebesar satu juta. Hhmm, kasihan juga kakak itu. Siapa namanya? Dia di kelas mana? Batin Annisa.


Tiba-tiba Annisa mendengar suara yang dia kenal.


"Hey, apa-apaan, sih?" gerutu orang itu entah kenapa.


Annisa lalu menoleh ke sumber suara. "Kakak," gumamnya.


Gegas Annisa berlari mendekat.


"Kakak?" panggilnya.


"Kamu?" tanyanya kaget.


"Kakak, hmm. . . "


"Hati-hati, ya!" ucapnya sembari mengacak-acak rambut Annisa lantas segera berlalu dari sana.


"Hhmm, tunggu, kak! Nama kakak siapa?" kejar Annisa.

__ADS_1


"Someone!" sahutnya sambil lalu.


"Someone?" gumam Annisa.


"Nis!" tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya.


"Lin. .."


"Kamu kenapa?"


"Hhmm, nggak apa-apa. Sudah?"


"Huumm, yuk!"


Mereka lalu kembali ke parkiran. Banyak siswa siswi yang sudah naik ke dalam bus saat mereka datang. Annisa kembali melihat kakak tingkatnya yang mengaku bernama 'someone'.


Mereka lalu naik ke bus. Bus melaju dengan kecepatan sedang menuju kota.


"Nis?"


"Hmm, kenapa?"


"Apa nanti kita cerita sama ayah bunda tentang kejadian yang kamu alami semalam?"


"Hhh, aku nggak tahu, Lin. Aku takut nanti kalau ayah bunda tahu, apalagi kalau sampai mas Andre tahu, bisa-bisa kita nggak boleh kemana-mana. Kamu tahu sendiri kan gimana mereka sama kita."


"Hhhmm, tapi kalau kita nggak kasih tahu salah juga, Nis."


"Iya, makanya aku bingung."


"Hhmm, nanti kita cari waktu yang pas buat cerita."


Mereka kembali diam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Sampai bus tiba di pantai.


Anak-anak turun dengan suka cita. Pantai, semua suka pantai. Mereka ada yang bermain pasir, berfoto ria, atau sekedar jalan-jalan saja menyusuri pantai.


Menjelang siang, mereka kembali naik ke dalam bus. Bus akan membawa mereka ke museum.


"Humm, luas banget museumnya, ya."


"Iya."


Setelah satu jam, mereka kembali naik ke mobil untuk mengunjungi universitas yang lain. Setelah semua universitas yang hendak di kunjungi sudah mereka datangi semua.


Kini waktunya mereka makan siang. Saat makan siang, Annisa sesekali mencuri pandang ke arah seseorang yang membuat dia penasaran. Hingga pandangan mereka bertemu, Annisa langsung menunduk malu.


"Ke toilet, yuk!" ajak Alina.


"Ayo!"


Mereka berdua lalu pergi ke toilet yang ada di rumah makan. Saat bergantian menunggu, lagi-lagi Annisa melihatnya. Gegas Annisa mendekat.


"Kak. . ."


"Hhmm, ada apa?"


"Nama kakak siapa?"


"Hmm, itu nggak penting."


"Tapi, kak?"


"Kamu mau bantu kakak, nggak?"


"Bantu apa, kak?"


"Tolong lupain, ya!"


"Hmm, maksud kakak?" Annisa terlihat sedih.


"Tolong lupain kejadian semalam!"

__ADS_1


"Aku-aku hanya ingin tahu. . ."


"Lebih baik nggak usah tahu daripada nanti membuat pusing!"


"Tapi siapa yang berniat jahat sama aku, kak?"


Bukannya menjawab pertanyaan Annisa, dia malah membalik badan hendak meninggalkan Annisa yang masih penasaran.


"Kak!" Annisa gegas menarik tangannya.


"Waah, Darren! Pacaran, ya?" celetuk siswa yang kebetulan melewati mereka.


"Darren. Jadi nama kakak Darren, ya?"


"Tolong lupakan kejadian semalam."


"Ng-nggak mungkin, kak. Aku selalu kepikiran. Kenapa aku hendak di permalukan? Kakak pasti tahu jawabannya, kan?"


"Maaf, aku nggak tahu. Aku hanya di suruh saja."


"Hhmm, baiklah kalau kakak tetap nggak mau kasih tahu aku. Aku nggak bisa maksa. Terimakasih sudah berbaik hati menyelamatkanku hingga aku. . . "


"Aku hanya tidak ingin terkena masalah. Bukan karena kamu. . ." potongnya.


Gadis remaja itu terlihat sedih, "Maaf," ucapnya lalu menundukkan kepala.


"Jaga diri baik-baik!"


Setelah berkata seperti itu, Darren berlalu dari hadapan Annisa.


"Anis, kamu kenapa?" tanya Alina yang baru saja keluar dari toilet.


"Aku nggak apa-apa, kok. Yuk!"


Mereka kembali ke mobil yang akan membawa mereka ke pusat oleh-oleh.


Sampai di swalayan yang menyediakan oleh-oleh baik makanan maupun souvenir, semua anak turun dari mobil.


Alina dengan semangat memilih apa saja yang akan di bawa pulang sebagai oleh-oleh. Sedangkan Annisa hanya menemani saja. Dia seperti tidak bersemangat.


Setelah semua selesai membeli oleh-oleh, mereka kembali lagi naik bus yang akan membawa mereka pulang.


Mungkin karena kelelahan, semuanya tertidur hingga bus yang membawa mereka kembali tiba di sekolah.


"Hhh, akhirnya sampai lagi ke sekolah!" ucap Alina.


Setelah itu mereka duduk di taman yang ada di depan gerbang sekolah sambil menunggu jemputan.


"Capek, ngantuk, pingin mandi!" ucap Alina.


Annisa yang sejak kejadian malam itu menjadi pendiam dan lebih banyak melamun saja. Kenapa ada yang hendak mempermalukanku? Apa aku ada musuh? Siapa? Apa aku ada salah sama seseorang? Berbagai pertanyaan terus mengganggu pikirannya.


.


.


.


.


.


.


Maaf jika masih ada typo 😊🙏


.


.


00

__ADS_1


__ADS_2