Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 172


__ADS_3

Andre baru saja sampai di rumah sakit. Tiba-tiba handphonenya berdering. Istriku.


"Assalammu'alaikum.Sayang. . ."


"Wa'alaikumsalam. Mas. ."


"Kenapa suara kamu lemes gitu?"


"Perutku tiba-tiba mual banget, kepalaku pusing!"


"Mual? Obatnya sudah kamu minum?"


"Sudah, mas. Masih mual."


"Hhmm, matikan dulu teleponnya, ya. Mas mau telepon bunda. Mungkin bunda tahu makanan atau minuman yang bisa mengurangi mualnya."


"Iya, mas."


Andre lalu mematikan sambungan telepon dari istrinya. Kemudian dia menelpon bundanya.


"Assalammu'alaikum, bunda."


"Wa'alaikumsalam. Dre, ada apa?"


"Kanaya perutnya mual, bun."


"Apa? Baiklah, mama akan ke kamarnya sekarang."


"Terimakasin, bunda."


"Iya, nak."


Andre mematikan teleponnya. Kemudian masuk ke ruang IGD.


Di rumahnya, Santi pergi ke kamar putranya.


Tok tok tok.


"Kanaya. . ." panggilnya.


Ceklek.


"Bunda. . ." sahut Kanaya lirih.


"Kamu pucat, nak!" ucap Santi khawatir sembari menyentuh wajah menantunya itu.


"Pusing, bun. Mual juga!" keluh Kanaya.


"Ayo ikut bunda!" ajak Santi.


Kanaya menurut saja saat mertuanya itu mengajak ke dapur.


"Bunda bikinkan air jahe, ya. Kamu duduk saja di sini!"


"Hhmm, maaf bunda. Aku merepotkan saja!" ucap Kanaya pelan.


Santi menyunggingkan senyum, "Kamu itu sedang mengandung cucu bunda. Tentu saja bunda nggak merasa di repotkan! Bunda sudah siap-siap kalau suatu saat kamu merasakan mual-mual!"


Kanaya mengangguk, "Terimakasih, bun!"


Beberapa menit kemudian, Santi meletakkan segelas minuman jahe panas ke atas meja di hadapan Kanaya.


"Masih panas, tunggu sebentar!"


"Iya, bun."


"Sejak kapan mualnya? Tadi pagi saat sarapan belum mual, kan?"


Kanaya menggelengkan kepalanya, "Belum, bun."


Setelah menunggu beberapa saat, Kanaya meminum minuman jahe yang di bikin oleh mertuanya itu.


"Bagaimana rasanya?" tanya Santi.


"Ehhmm. Enak banget, bun. Aku belum pernah minum minuman seperti ini. Anget di mulut dan juga perut!"


"Alhamdulillah kalau kamu suka."


"Suka banget, bun."


"Kalau kamu suka, bunda akan stok bahannya kalau sewaktu-waktu kamu mau lagi!"


"Terimakasih, bun!" sahut Kanaya.


"Kita duduk di dekat kolam saja, yuk. Sekaligus kamu berjemur. Baik buat kesehatan!" ajak Santi.


"Iya, bun!"


Mereka lalu pergi duduk-duduk di dekat kolam renang yang ada samping kamar Andre. Mereka bersenda gurau layaknya ibu dan anak. Terilhat dekat seperti tanpa sekat.


"Jadi dulu itu kamu suka ngerjain kakak kamu, Nay?" Santi menggelengkan kepalanya.


"Iya, bun. Kak Kala itu sayang banget kan sama aku, jadi aku suka pura-pura sedih supaya dia mau menuruti kemauanku."


"Hhmm, kamu itu mirip sekali sama si kembar. Andre juga terlalu memanjakan mereka sampai kadang mengorbankan waktu dan uang jajannya sendiri buat adik-adiknya."

__ADS_1


"Mas Andre dari dulu sifatnya memang penyayang ya, bun?"


"Sangat! Dia sering mengalah demi adik-adiknya. Kadang bunda nggak tega sama dia kalau melihat adik-adiknya yang terlalu manja dan semaunya. Apa saja akan dia lakukan demi adik-adiknya!"


"Punya kalak laki-laki itu menyenangkan ya, bun!"


"Iya. Bunda bisa lihat itu dari diri Andre. Bunda pikir, pasti akan sangat beruntung, wanita yang nanti akan jadi istrinya."


"Aku wanita beruntung itu, bun!" ucap Kanaya dengan senyum mengembang.


"Iya. Kamu juga gadis yang baik!"


"Tapi aku manja banget sama mas Andre."


"Nggak apa-apa. Andre sudah terbiasa memanjakan adik-adiknya. Lagipula seorang istri pada siapa bisa bermanja kalau bukan sama suaminya? Masa masih manja sama orangtuanya terus."


Kanaya tersenyum, "Iya, bun."


Menjelang siang saat matahari sinarnya mulai menyengat, mereka masuk ke kamar masing-masing dengan Kanaya menyimpan minuman jahenya ke dalam kamarnya.


Beruntungnya punya ibu mertua yang baik dan perhatian. Walau hanya ibu sambung, tapi kasih sayangnya tak kalah daripada ibu kandung. Memang semua itu tergantung pribadi masing-masing bukan berdasarkan status bagaimana kita harus mengambil sikap.


Kanaya lantas memeriksa handphonenya, mungkin ada panggilan atau pesan dari suaminya. Dan ternyata benar. Kanaya menyunggingkan senyum lalu mulai melakukan panggilan video.


"Assalammu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam, mas!"


"Sayang, bagaimana keadaan kamu? Masih mual?"


"Alhamdulillah sudah berkurang mualnya. Maaf mas, tadi aku sedang ngobrol sama bunda di dekat kolam renang."


"Alhamdulillah, iya. Nggak apa-apa, sayang. Nanti mas pulang, makan siang di rumah."


"Beneran, mas?"


"Tentu saja. Supaya kamu berselera makan kalau ada mas!"


Kanaya tersenyum, "Hhmm, pingin makan di suapin sama mas!"


"Iya, nanti mas suapin!"


Hooaamm. . . Tiba-tiba Kanaya menguap.


"Kamu ngantuk, hmm?"


"Sedikit, mas."


"Sebentar lagi mas pulang. Mas matiin dulu teleponnya, ya."


"Mas juga sayang kamu!"


Andre menyimpan lagi handphonenya.


"Wah, mesranya! Jadi iri aku!" celetuk Wahyu.


"Makanya nikah, biar nggak iri terus!"


"Cariinlah aku istri, Dre!"


"Lah, nggak bisa cari sendiri, kamu?"


"Hehee,"


"Sudah, kerja-kerja!"


"Pasien yang antri sudah habis!"


"Semoga orang-orang yang sakit dapat berkurang setiap harinya. Semua orang selalu di berikan kesehatan!"


"Aamiin. Tapi kalau semua orang sehat, kita jadi pegangguran, Dre."


"Hehee. Semua orang sudah mendapatkan takaran rezeki masing-masing!"


"Ya, Andre benar."


"Ah, aku mau pulang sekarang saja."


"Loh, kok pulang Dre?"


"Istirahat makan siangnya di rumah saja. Makan lebih berselera sambil memandang wajah istri tercinta."


"Aahh, payah kamu, Dre!"


"Hahaa, makanya buruan nikah."


"Huuhh, dasar!"


Andre lantas menyimpan alat medis dan pakaian kerjanya. Mencuci tangan hingga bersih kemudian berpamitan pada rekan kerjanya.


Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tak sabar rasanya ingin sampai ke rumah. Ada rasa khawatir juga dengan kesehatan sang istri. Ingin menjadi suami dan calon ayah yang siaga.


Sampai di rumah, Andre memarkirkan mobilnya di dekat teras rumah. Setelah memberikan salam yang di sambut oleh asisten rumah tangga mereka, Andre gegas masuk ke kamarnya.


"Dre. . ." sapa bundanya saat melewati ruang keluarga.

__ADS_1


"Bun, Kanaya mana?"


"Ada di kamarnya. Makan siang di rumah, nak?"


"Iya, bun."


"Ya sudah, bunda siapkan sekarang. Adik-adik kamu juga sebentar lagi pulang. Kamu ajak istri kamu juga!"


"Iya, bun."


Ceklek. Perlahan Andre membuka pintu. Sang istri tengah berbaring membelakanginya. Dia lalu duduk di sisi tempat tidur di samping istrinya.


"Hhmm, beneran tidur," gumam Andre.


Andre lalu mengusap lembut pucuk kepala istrinya penuh kasih sayang. Tiba-tiba Kanaya menggeliat lantas membalikkan badannya.


"Mas?" tanyanya kaget.


Andre tersenyum, "Ngantuk banget, ya?"


"Hhmm, abis teleponan sama mas, aku malah ketiduran."


"Masih mual, hmm?" tanya Andre seraya mengusap perut istrinya yang masih rata.


"Sekarang sudah nggak, mas. Tadi mual banget. Seperti sedang naik bis yang tanpa AC, bau bensin, bau rokok. Iihhh, nggak enak banget!"


Andre tergelak, "Memangnya pernah naik bis seperti itu, hmm?"


Kanaya tersenyum malu lalu menggelengkan kepalanya.


"Kok bisa menyamakan mual hamil sama naik bis itu?"


"Humm, dulu pernah di ajak kak Kalla istirahat di pom bensin sambil nunggu papi yang antri, terus ada bis itu lewat di depan aku. Langsung muntah-muntah aku."


"Hhmm, begitu."


"Iihh, nggak enak banget, mas!" dahi Kanaya berkerut.


"Hhmm, ya sudah jangan bayangin yang nggak enak, bayangin saja yang enak-enak, ya!" goda Andre dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Iiihh," Kanaya tersenyum malu dengan wajah merona.


"Kenapa, iihh? Bayangin makan yang enak-enak. Bunda sekarang pasti sedang masak yang enak, nih. Makan, yuk. Mas sudah laper!"


"Hhmm, aku takut mual."


"Jangan bayangin yang nggak enak!"


"Hhmm,"


"Ayo!" Andre berdiri lalu mengulurkan kedua tangannya membantu istrinya berdiri.


Kanaya menerima uluran tangan suaminya, lalu mereka berdiri berhadapan tanpa jarak dengan mata saling menatap dengan mesra.


"Mas sayang kamu!"


"Aku juga sayang mas!"


Andre mencium bibir istrinya sekilas. Kanaya tersenyum malu dengan jantung yang mulai berdegup kencang.


Andre kemudian memeluk istrinya. Mengusap lembut punggung dan rambutnya. Beberapa saat kemudian dia merenggangkan pelukannya. Menatap manik mata istrinya yang terlihat mendamba lalu mulai mencium lagi bibir ranum itu beberapa saat. Tiba-tiba.


Tok tok tok.


"Makan siang sudah siap, mas!" teriakan dari luar kamarnya.


Mereka sama-sama menoleh.


"Alina. . ." gumam Andre.


Kanaya tersenyum.


Andre kembali menatap istrinya, mengusap lembut bibir itu yang sedikit basah.


"Makan, yuk!"


Kanaya mengangguk.


"Nanti malam sambung lagi!" bisik Andre tepat di telinga Kanaya membuat istrinya itu merinding.


"Hhmm. . ."


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


06


__ADS_2