
Aku sampai ke minimarket menjelang siang. Saat aku hendak masuk ke gudang, aku melihat mbak Melly sedang sibuk memindahkan barang-barang. Aku tak melihat putrinya, apa tidak dia ajak.
"Assalammu'alaikum," ucapku seraya mengetuk pintu yang memang terbuka.
Wanita itu menoleh, "Pak?" tanyanya kaget.
"Apa semua lancar, mbak?" tanyaku ramah.
"Alhamdulillah semua lancar, pak!" sahutnya dengan kepala menunduk.
"Alhamdulillah. Davina mana? Nggak di ajak?"
"Oh, Davina. Dia sama neneknya, pak. Sekarang mulai saya biasakan di tinggal dan Alhamdulillag rewelnya hanya sebentar saja, kata ibu saya!" jelasnya.
"Alhamdulillah kalau begitu."
"Iya, pak. Mbak Santi mana, pak?"
"Istri saya nggak ikut."
"Oh, mbak Santi nggak ikut. Hhmm, saya dengar putri bapak Alya kecelakaan ya, pak?"
"Hhmm, iya. Hari ini dia baru saja pulang ke rumah."
"Alhamdulillah sudah sehat ya,pak?"
"Alhamdulillah, tapi kakinya yang patah masih dalam tahap penyembuhan.
"Ya Allah, kasihan banget sampai kakinya patah. Kok bisa kecelakaan motor ya, pak? Padahal kan di antar jemput naik mobil?" tanya mbak Melly heran.
Aku lebih baik merahasiakan tentang kejadian sebenarnya. Ya, lebih baik mbak Melly tidak tahu jika suaminya yang menjadi sebab kecelakaan putriku.
"Ya sudah kalau gitu saya tinggal dulu, mbak. Saya tidak bisa lama-lama karena putri saya tidak bisa saya tinggal lama. Mbak semangat kerjanya, ya!" pamitku.
"Iya, pak. Titip salam buat mbak Santi, Alya dan juga Andre," ucap mbak Melly.
"In Sya Allah, akan saya sampaikan."
Aku pun berlalu dari hadapan mbak Melly. Gegas aku berjalan menuju kantor. Aku duduk di depan laptop lalu menyalakan benda itu. Memeriksa pemasukan selama beberapa hari ini karena belum sempat aku kerjakan.
Aku bertekad untuk makin memajukan minimarket istriku. Hanya dengan cara itu aku bisa merasa menjadi suami yang berguna.
Setelah selesai dengan pekerjaanku, aku lalu pulang setelah menitipkan minimarket pada karyawan kepercayaan istriku. Aku pun berpamitan pada mbak Melly. Wanita itu sudah makin mengerti dengan pekerjaannya. Semoga dia kelak bisa menemukan kebahagiaannya sendiri. Apapun yang terjadi dalam hidup tetap harus di syukuri dan selalu ikhlas dalam menjalaninya supaya kita tidak memiliki penyakit hati.
***
Aku baru saja merebahkan diri di atas tempat tidur empuk setelah menemani putriku makan bubur kesukaannya yang di masak oleh ibuku. Tiba-tiba handphonenku berdering. Telephon minimarket.
__ADS_1
"Hallo. . " sapaku.
"Siapa?"
"Lisa?"
Aku yang sedang berbaring langsung bangkit berdiri.
"Saya ke sana!"
Aku matikan sambungan telephone. Gegas aku keluar dari kamar lalu turun ke bawah. Di ruang keluarga, semua keluargaku sedang berkumpul sambil bercengkrama. Aku lantas mendekati mereka.
"Ayah ke minimarket sebentar ya, nak!" pamitku pada putriku.
"Loh, kan ayah baru saja pulang dari sana?" tanyanya heran.
"Ada hal penting, tadi karyawan minimarket telpon ayah. Sebentar saja, kok!" jelasku.
"Hh, iya deh jangan lama-lama ya, yah!" pintanya.
"Iya sayang! Bunda antar ayah ke depan dulu!" ucapku lalu menoleh ke arah istriku.
Aku lalu keluar di ikuti oleh istriku.
"Ada apa, mas?" tanya istriku penasaran.
"Untuk apa dia maksa ketemu mas? Tadi dia juga maksa ingin bertemu mas saat mas antar Andre ke sekolah."
"Saat mas baru sampai di rumah sakit tadi dia juga menemui mas di pintu masuk rumah sakit. Mungkin dia sengaja menunggu mas di sana."
"Hhmm, sekarang untuk apa lagi dia ingin menemui mas di minimarket?"
"Pasti masalah suaminya. Dia bilang suaminya akan di tahan polisi dan meminta mas membantunya. Dan dia menyalahkan mas yang jadi penyebabnya."
"Apa, mas? Jadi si David akan di penjara maksud mas?"
"Kemungkinan. Karena yang dia lakukan termasuk tindakan penculikan!"
"Hhmm, jadi mas sekarang mas mau membantu supaya suaminya nggak di penjara?"
"Bagaimana caranya? Dengan kesaksian palsu? Nggak lah, mas akan jawab apa adanya jika polisi bertanya. Polisi sewaktu-waktu juga akan menanyai Alya dan Alya nggak mungkin berbohong. Mas juga nggak mungkin suruh putri kita berbohong!"
"Iya, mas. Tapi buat apa mas sekarang menemui dia?" tanya istriku dengan wajah tidak suka.
"Dia nggak mau pergi sebelum ketemu sama mas. Banyak pembeli yang kembali pergi gara-gara wanita itu bikin keributan, yank. Mas nggak lama kok, ya. Kamu masuk lagi sana!"
Dia menarik nafas berat. Sepertinya tidak ingin aku menemui mantan istriku itu tapi mau bagaimana lagi, daripada Lisa terus-terusan berulah di minimarket.
__ADS_1
"Ya sudah mas hati-hati di jalan."
"Iya sayang! Mas pergi dulu!" pamitku.
Aku mengendarai mobil dengan sedikit tergesa supaya cepat sampai. Dan ternyata dari kejauhan aku bisa melihat Lisa masih berdiri di teras minimarket.
Aku parkirkan mobil tidak jauh dari dia berdiri. Dia refleks menoleh ke arahku saat aku turun dari mobil. Tatapannya begitu sinis. Aku berjalan ke arah pintu gudang supaya tidak terlalu mencolok di lihat orang. Dia langsung mengikutiku.
"Ada apa?" tanyaku langsung.
"Aku minta mas bilang ke polisi kalau suami aku bukan mau menculik Alya. Karena aku ini ibunya Alya dan mas David itu suamiku jadi nggak mungkin kami menculik Alya!" pintanya tapi dengan memaksa dan marah-marah.
"Jadi saya di suruh bohong, begitu?"
"Si-siapa yang suruh bohong? Kan memang Ayla itu putriku. Mas lupa, hah?"
"Kamu memang ibunya Alya tapi David bukan siapa-siapanya Alya. Dan kamu juga jangan lupa, Alya di bawa paksa sama suami kamu hingga dia teriak-teriak sepanjang jalan! Polisi pun sudah melihat rekaman CCTV di sepanjang jalan yang di lalui mereka."
"Hhmm, ya bilang saja karena Alya yang nakal!" ucapnya sinis.
"Alya yang nakal? Lebih baik kamu pergi, Lisa! Jangan berharap apapun dariku. Aku tidak peduli apa yang akan suami kamu hadapi nanti! Alya jauh lebih berharga di banding suami kamu itu!"
"Kamu dendam sama mas David, mas? Gara-gara aku tinggalin kamu demi mas David, hahh?"
Aku tertawa, "Saya bersyukur! Sangat bersyukur di tinggalin kamu! Sekarang saya mendapatkan istri terbaik. Yang menerima saya apa adanya. Anak-anak juga mendapatkan ibu sambung yang sangat menyayangi mereka. Saya dan anak-anak saya sekarang bahagia! Sangat bahagia!"
Wajah Lisa langsung memerah menahan marah.
"Aku nggak akan biarkan kalian hidup tenang! Sampai kapanpun. Lihat saja!" ancamnya seraya menunjuk wajahku.
"Tolong jangan mendatangi minimarket ini lagi. Jangan mempermalukan diri sendiri! Jagalah harga diri kamu!"
Dia mengangkat tangannya hendak memukul wajahku tapi aku dengan cepat bergerak mundur.
"Aku akan balas kamu! Tunggu saja!" teriaknya lalu segera angkat kaki dari hadapanku.
Aku benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran wanita itu. Tapi sudahlah, aku akan lebih waspada lagi mulai saat ini.
.
.
.
.
.
__ADS_1
06