Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 113


__ADS_3

Pov Lisa


Sejak mas David bebas dari penjara, dia kesulitan mencari pekerjaan. Dia makan tidur saja di rumah orangtuanya. Tidak mau aku ajak tinggal bersamaku di kost-kostan.


"Mas, Darren sakit. Dia butuh kamu, mas!" sekali lagi aku datang menemuinya.


Entah sudah untuk yang ke berapa kali aku memohon padanya tapi dia tidak pernah menggubris. Kali ini aku datang di saat putraku sedang sakit. Aku hanya mampu membelikannya obat turun panas di apotek saja tanpa mampu membawa putraku itu ke dokter. Berharap mas David akan tersentuh hatinya.


"Kamu nggak malu punya suami mantan penghuni hotel prodeo, hah?" tanyanya ketus.


Memang tetangga kiri kanan sering bergosip tentang mas David dan ayahnya. Tapi itu dulu, bertahun lalu saat mereka baru saja keluar dari penjara. Tapi seiring waktu berjalan, orang-orang mulai melupakan hal itu. Tapi mas David tidak pernah mau tahu.


"Aku nggak malu, mas. Justru di kost nggak ada yang tahu tentang mas yang pernah di penjara. Mas tidak perlu malu di sana!" bujukku lagi.


"Iya, tapi tetap saja aku sudah nggak bisa melamar kerja enak lagi sekarang!"


Hhh, sekarang alasan nggak cari kerja karena pernah di penjara. Dulu alasan nggak cari kerja karena memang sulit cari kerja yang maunya langsung enak. Hh, dasar mas David. Masih beruntung aku tetap di beri kewarasan dulu tidak sampai tergoda mencari pekerjaan yang tidak halal. Godaan uang yang berlimpah di saat aku sangat kekurangan uang.


Ya, walau bagaimanapun, aku tidak akan pernah mau melakukan pekerjaan seperti itu. Aku rela menjadi tukang cuci pintu ke pintu, kerja di laundry, bahkan jadi asisten rumah tangga demi sesuap nasi halal untuk putraku.


"Kerja apa saja, mas. Aku nggak masalah walau bayarannya kecil. Aku juga kerja."


"Hhh, sombong kamu. Baru kerja jadi asisten rumah tangga saja!" ejeknya yang sekali lagi membuat nyeri di dadaku.


Aku hanya bisa menunduk sambil memandang wajah putraku yang sedikit layu karena sudah beberapa hari demam dan juga batuk.


"Mau sampai kapan mas seperti ini? Lihatlah putra kita, semakin hari wajahnya semakin mirip saja denganmu, mas. Dia sangat merindukanmu!" tiba-tiba Daren menangis kencang. Aku sudah berusaha menenangkannya tapi dia tidak mau diam juga. Karena terlalu lama menangis, batuknya kambuh lagi. Wajahnya makin terlihat pucat.


"Mas, lihatlah putra kita ini, wajahnya semakin pucat!" ucapku cemas sambil terus menimang-nimangnya.


Aku sangat ketakutan. Daren terus saja menangis sambil terbatuk-batuk. Akhirnya mas David beranjak dari duduknya lalu meraih Darren dalam gendonganku. Lalu mas David masuk ke dalam rumahnya sambil menggendong Darren. Tak lama kemudian dia keluar lagi.


"Kita bawa Darren ke dokter!" ajaknya kemudian membuat aku terharu mendengar ucapannya. Rasanya aku tidak percaya.


"Ayo, kok malah diam!" ajaknya lagi tapi dengan wajah kesal.


"I-iya, mas. Mas David lalu menyerahkan Darren untuk aku gendong kemudian dia naik ke atas motor.


Mas David memerintahkan aku untuk ikut naik. Setelah aku naik, mas David melajukan sepeda motornya entah kemana, aku hanya menurut saja.


Tak lama kemudian motor berhenti di sebuah klinik kecil. Aku turun dari motor.

__ADS_1


"Ayo!" ajak mas David sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam klinik.


"Sus, tolong anak saya sakit!" pinta mas David pada suster yang berjaga.


Wajah mas David terlihat cemas. Antara bahagia dan terharu aku melihatnya. Semoga dia mau kembali bersama kami.


Suster lalu memeriksa putraku, "Kita tunggu dokter dulu ya pak, bu. Dokter masih memeriksa pasien!" ucap suster.


"Baik, sus!" jawabku lalu kembali menggendong Darren.


***


Sejak kejadian itu, mas David akhirnya mau tinggal bersama aku dan putraku. Betapa bahagianya aku. Ya, walaupun mas David belum bisa mencari pekerjaan, tapi setidaknya aku tidak terlalu kesepian, hidup hanya berdua saja dengan Darren.


"Aku ke rumah bu Nini dulu, ya mas," pamitku.


"Pulang jam berapa?" tanyanya datar.


"Sama seperti kemarin, mas. Jam sepuluh," jawabku.


Aku mencuci pakaian dan beres-beres di rumah bu Nini. Kalau sore biasanya aku akan menyetrika. Lumayan gajiku delapan ratus ribu rupiah sebulan dari bu Nini. Belum lagi dari mengambil setrikaan. Walaupun total semuanya tidak akan mampu membuatku hidup enak setidaknya aku dan putraku bisa memiliki tempat untuk berteduh dan bisa makan setiap harinya.


Tahun berlalu. Daren sudah mulai sekolah. Sejak dia tau putranya sering di ejek karena sepatu dan tas sekolahnya jelek, sejak itu mas David berubah. Dia mulai mau menerima tawaran kerja dari tetangga. Walaupun hanya sebagai tukang bangunan.


Lama-lama kami bisa membeli sepeda motor second. Lumayan dengan sepeda motor itu mas David bisa sakaligus ngojek. Tapi kalau ada yang mengajaknya kerja bangunan, dia akan libur ngojek karena hasil dari ngojek tidaklah menentu.


"Hari ini mas mau aku masakin apa? Kemarin aku dapat bonus dari bu Dewi."


"Terserah kamu mau masak apa," jawabnya datar seraya membetulkan topinya.


"Aku masakin ayam goreng, ya?"


Dia melirikku sekilas, "Hh, jangan boros!" tegasnya.


"Nggak apa-apa kok, mas. Kan sesekali juga. Kasihan Darren sudah lama nggak makan ayam goreng."


"Hhh, terserah kamu saja. Aku kerja dulu!" pamitmya.


"Hati-hati di jalan, mas!" seruku.


***

__ADS_1


Saat Darren baru saja memasuki bangku sekolah menengah atas, ayah mertuaku meninggal. Dan karena mas David hanya berdua saja dengan adiknya yang juga sudah menikah, maka rumah warisan orangtuanya akhirnya di jual karena baik mas David maupun adiknya sama-sama sudah tidak ingin lagi tinggal di rumah itu.


Dengan hasil menjual rumah, kami membeli tanah kecil yang tak jauh dari sana. Dengan modal uang warisan dan sedikit keahlian mas David saat menjadi tukang bangunan, kami pun bisa membangun rumah sendiri dengan di bantu satu orang temannya saja. Jadi kami tidak perlu keluar uang banyak untuk membayar tukang bangunan.


Rumah kecil dengan dua kamar yang hanya cukup untuk menaruh kasur dan lemari saja akhirnya jadi hanya dalam waktu satu bulan saja. Rumah yang sangat-sangat sederhana itu lumayan untuk kami berlindung dari panas dan hujan dan kami juga bisa berhemat tanpa harus mengeluarkan lagi uang untuk membayar kost.


"Ma, aku mau study tour. Teman sekelasku semua ikut, ma. Aku juga, ya?" rengek Darren saat aku baru saja pulang setelah menyetrika di dua rumah sekaligus.


"Berapa bayarnya?"


"Hanya lima ratus ribu kok, ma!"


"Lima ratus ribu kamu bilang hanya? Kamu pikir cari uang lima ratus ribu itu gampang?" omel mas David yang baru saja pulang.


Darren hanya menunduk saja. Dia memang takut pada papanya. Jika dia tidak mau menurut, maka mas David mengancam akan meninggalkan kami dan itu benar-benar ancaman yang berhasil membuat putraku itu diam tidak berani membantah.


Terkadang aku kasihan padanya tapi mau bagaimana lagi, ekonomi kami masih pas-pasan tapi di bandingkan saat Darren kecil dulu, saat ini aku sudah bisa sedikit bernafas.


Kalau sedang melamun, terkadang aku ingat dengan mantan suamiku dulu. Mas Anto. Laki-laki itu sekarang sudah hidup enak. Ahh, penyesalan memang selalu di belakang. Biarlah, asal kedua anakku yang bersamanya juga bisa hidup enak. Aku sudah lelah selalu mempunyai perasaan iri terhadapnya. Aku ingin berubah jadi lebih baik. Semoga saja dengan menjadi orang baik, kehidupanku juga semakin baik. Ammiin


.


.


.


.


.


.


Maaf masih ada typo. Terimakasih sudah membaca 😚🙏


.


.


.


11

__ADS_1


__ADS_2