
Andre
Andre baru saja menyimpan kembali alat-alat medis ke atas meja. Dia juga membuka pakaian kerjanya.
"Makan siang di mana, Dre?" tanya Feri.
"Di depan seperti biasa," jawab Andre.
Andre bukannya pergi mencari makan siang tapi justru melangkahkan kakinya ke ruang ranap.
Tok tok. Dia mengetuk pintu yang tertutup rapat.
Ceklek. Pintu pun terbuka. Muncul seorang ibu paruh baya yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Siapa, ya?" tanya ibu itu.
"Saya Andre, mau menjenguk pasien Kanaya," jawab Andre seraya tersenyum.
"Oh silahkan masuk!" ajak ibu itu.
"Terimakasih, bu." sahut Andre lantas masuk mengukuti ibu itu.
"Kanaya, sedang di kamar mandi!" ucapnya.
Ternyata di dalam juga ada seorang laki-laki paruh baya dan seorang laki-laki yang sebaya dengannya.
"Kamu siapa?" tanya laki-laki paruh baya itu.
"Saya Andre, pak!" jawab Andre.
"Teman putri saya?"
Andre tersenyum seraya mengangguk.
"Apa tujuan kamu berteman dengan putri saya?" tanyanya dingin dengan sorot mata menatap menyelidik ke arah Andre dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Saya. . .?"
"Saya punya penawaran buat kamu. Apa kamu mau?"
"Hhmm, maksud bapak?"
"Menikah satu hari dengan putri saya setelah itu kamu ceraikan dia. Tentu saja saya akan memberikan imbalan buat kamu. Saya tahu orang seperti kamu pasti kesulitan dalam hal finansial, bukan? Kamu mau berapa, sebutkan saja?" ucapnya angkuh.
Andre tersentak mendengar ucapan laki-laki itu. Tapi dia cepat menguasai diri. Dia sudah terbiasa bertemu dengan seseorang yang suka merendahkan orang lain.
Tok tok.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
Si ibu lantas membukakan pintu. Ternyata suster yang datang.
"Silahkan masuk, sus!" ajak si ibu.
"Terimakasih, bu. Ini saya bawakan vitaminnya untuk di rumah!"
"Terimakasih, sus!"
"Loh, dokter Andre di sini?" tanya suster Siska.
Andre hanya tersenyum saja.
"Hhhmm, kalau begitu saya permisi dulu," pamit suster Siska lantas segera keluar.
__ADS_1
"Dokter Andre!" panggil seseorang yang ternyata Kanaya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Jadi kamu dokter?" tanya laki-laki angkuh tadi.
"Iya, pak!" jawab Andre seraya mengangguk.
"Dokter, kenapa baru datang?" tanya Kanaya sedikit manja.
"Apa kabar mbak Kanaya? Semoga sudah baikan. Saya ke sini hanya memenuhi janji saya untuk menjenguk mbak," ucap Andre santun dengan senyum ramah.
"Oh, nak Andre dokter di sini?" tanya si ibu seraya tersenyum. "Saya maminya Naya dan yang itu papinya Naya," imbuhnya.
"Alhamdulillah, bu." sahut Andre.
"Dokter Andre, silahkan duduk!" ajak si ibu.
"Terimakasih. Saya hanya menjenguk sebentar saja. Alhamdulillah mbak Kanayanya sudah makin baik. Jadi saya permisi dulu!" ucap Andre.
"Tapi, dok? Aku masih belum pulih!" protes Kanaya.
"Mbak Kanaya bisa istirahat di rumah. Maaf, saya mau mencari makan siang dulu nanti keburu jam istirahat saya habis. Saya harus gantian sama dokter yang lain juga," jelas Andre masih dengan senyum ramah. Baru saja Andre membalik badannya tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Tunggu, dokter!" panggil papinya Kanaya.
"Iya, pak?"
"Bisa saya bicara sebentar?"
"Baiklah, pak. Tapi waktu saya tidak banyak karena saya harus kembali bekerja!"
"Iya, baiklah! Saya hanya ingin minta maaf atas ucapan saya tadi. Saya tidak bermaksud menghina dokter. Saya benar-benar tidak tahu apa yang saya ucapkan karena saya sedang pusing memikirkan putri saya."
"Iya, pak. Tidak apa-apa, saya mengerti!" sahut Andre masih dengan ramah dan sopan.
"Saya hanya menjalankan kewajiban saya saja, pak."
"Dokter Andre, anda di sini rupanya!" ucap seorang suster.
"Iya, sus. Ada apa?" tanya Andre.
"Dokter Andre di panggil sama dokter Feri. Ada pasien gawat di IGD!" jelasnya.
"Oh, iya. Saya segera ke sana!" sahut Andre lalu menoleh ke arah papinya Kanaya, "Maaf pak, saya permisi dulu!" pamit Andre.
"Oh iya dokter!"
Andre gegas pergi ke IGD. Sampai di IGD, Andre langsung membantu dokter Feri dan seorang suster dalam menangani pasien. Setelah bahu membahu akhirnya mereka dapat menolong pasien itu.
"Alhamdulillah, masa kritisnya sudah lewat. Semoga pasien cepat sadar!" ucap Andre seraya menghela nafas panjang.
"Dokter makan siang di mana?"
"Makan siang? Belum sempat, nih!"
"Loh, kenapa belum sempat? Bukannya tadi?"
"Iya, tadi rencana mengunjungi pasien sebentar tapi malah jadi lama. Nanti sajalah."
"Apa mau saya belikan, dokter?" tawar suster Siska.
"Terimakasih, sus. Tapi nanti saja," tolak Andre halus tapi tak urung menbuat suster Siska merasa kecewa. Sudah beberapa kali dia ingin membelikan Andre makan siang tapi selalu di tolak.
***
__ADS_1
Besoknya saat Andre baru saja selesai makan siang, dia berjalan santai ke IGD. Baru saja dia hendak masuk tiba-tiba ada yang memanggilnya.
"Dokter Andre!"
Andre langsung menoleh. Terrnyata yang memanggilnya adalah seorang wanita yang Andre kira adalah asisten rumah tangga Kanaya. Pasien wanita yang pernah dia tolong beberapa hari lalu.
"Bu? Manggil saya?" tanya Andre.
"Dokter, bisa minta waktunya sebentar?" tanyanya.
"Oh, iya. Saya masih ada waktu sepuluh menit lagi. Ada yang bisa saya bantu?"
Beliau lantas duduk di kursi panjang yang ada di ruang IGD. Andre pun ikut duduk di dekatnya.
"Non Kanaya. Dia hari ini akan berangkat keluar negeri. Karena orangtuanya malu kalau pernikahannya batal jadi memaksa non Kanaya untuk menikah dengan orang lain. Non Kanaya menitipkan surat ini untuk dokter!" jelasnya seraya menyodorkan surat ke tangan Andre.
Andre menerima surat itu dengan perasaan bingung dan juga kaget.
"Saya permisi dulu, dok!" pamitnya lantas segera berlalu dari hadapan Andre.
Jadi hari Kanaya ke luar negeri.
Andra menyimpan surat itu lalu kembali bekerja.
Sore hari saatnya Andre ke kampus pulang dari rumah sakit. Di perjalanan dia baru teringat akan surat yang Kanaya berikan padanya.
"Aku baca sekarang saja sambil jalan," gumam Andre.
Andre merogoh saku celananya lalu membuka surat itu.
*
Teruntuk: dokter Andre
Aku hanya ingin mengucapkan terimakasih pada dokter karena sudah menolongku saat itu. Kalau tidak ada dokter, entahlah bagaimana jadinya aku. Aku baru sadar kini kalau apa yang aku lakukan saat itu adalah hal terbodoh.
Walau ada sedikit kecewa dalam hatiku karena dokter yang tidak mau membantuku tapi aku tidak bisa memaksakan kehendakku. Kita memang tidak boleh mempermainkan pernikahan.
Tapi karena tidak ingin malu, papi ingin acara pernikahanku tetap terjadi hingga beliau memaksaku menikah dengan pilihannya untuk sementara saja.
Tapi aku sudah tidak ingin lagi. Mungkin menikah sudah tidak lagi masuk dalam daftar inginku.
Aku pergi, dok. Aku tidak akan ganggu dokter lagi. Semoga dokter menemukan kebahagiaan. Aamiin.
Kanaya
*
Kanaya benar-benar pergi. Hhh, maafkan aku.
Andre melipat lagi surat itu lalu menyimpannya di mobil. Dia kembali teringat awal pertemuannya dengan Kanaya. Tiba-tiba ada perasaan ingin bertemu.
.
.
.
.
.
23
__ADS_1