
Anto baru saja sampai di sekolah si kembar. Dia baru saja memarkirkan mobilnya tak jauh gerbang sekolah. Dari jauh terlihat kedua putrinya berlarian ke arahnya.
"Ayah!" seru Alina.
"Bagaimana sekolah kalian, nak?"
"Annisa sedih, yah!" sahut Alina. Gadis itu senang menggoda saudaranya.
"Sedih kenapa?" tanya Anto heran.
"Pacarnya nggak sekolah!"
"Iiihh, mulai lagi!" Annisa bersungut.
"Darren nggak sekolah?"
"Jadi ayah setuju Annisa sama kak Darren?" tanya Alina antusias.
"Ayah sudah ke rumah sakit, yah?" tanya Annisa mengalihkan obrolan ayah dan saudaranya.
"Sudah!" sahut ayahnya.
"Lalu, siapa orang yang di maksud oleh mas Andre semalam, yah?" tanya Alina penasaran.
"Kalian lihat sendiri, ya. Kita ke rumah sakit sekarang!" jawab Anto.
"Jadi orang itu beneran kak Darren ya, yah?" tanya Annisa kaget.
"Kalian lihat sendiri, deh!"
"Ayah bikin penasaran saja!" ucap Annisa lirih.
Mereka lalu diam sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tak terasa mobil sudah memasuk halamaan rumah sakit. Annisa buru-buru turun dari mobil di ikuti Alina.
"Nis, tunggu! Kamu kan nggak tahu kak Darren di rawat di ruang mana!"
Annisa menghentikan langkah kakinya. Tak lama kemudian ayahnya muncul.
"Ayah, dimana ruangannya?" tanya Alina.
"Ayo ikut ayah!" ajak Anto.
Mereka berjalan beriringan menuju kamar ranap Darren.
Tok tok tok. Anto mengetjk dan.memh
"Assalammualaikum, " ucap Anto
"Wa'alaikumsalam," sahut dari dalam.
"Kak Darren!" seru Annisa yang langsung berhamburan ke arah Darren.
"Annisa?" ucap Alina lee.
"Apa yang terjadi pada kakak?" tanya Annisa khawatir.
"Aku. . ."
FLASBACK
.
Pov Darren
.
Pulang dari minimarket, papa marah-marah. Dia menyeretku ke kamar mandi lalu mengguyurku dengan air dingin hingga membuatku menggigil.
Papa seharusnya tidak melupakan kalau aku tidak bisa kedinginan apalagi sampai mandi malam-malam. Tapi nyatanya dia lupa. Apa dia tidak sayang lagi denganku.
Setelah memaksaku mandi, papa kembali menyeretku masuk ke kamar, papa memguncinya dari luar. Papa bahkan tidak mempedulikan mama yang menangis.
"Ma. . ." aku terus memanggil-mamggil mama, minta di peluk seperti biasa saat aku kedinginan tapi percuma, papa sudah tak peduli, tak mau membukakan pintu untukku.
__ADS_1
Aku baru bisa tertidur menjelang dini hari. Aku demam. Aku dapat merasakan suhu tubuhku yang panas tinggi.
Menjelang pagi saat aku terbangun setelah tidur dua jam, pintu kamarku terbuka. Aku reflek membuka mataku. Silau sekali.
"Ayo bangun. Mandi!" titah papa yang langsung menyeretku ke kamar mandi.
"Mas, jangan kasar!" ucap mama memohon tapi apa peduli papa.
Setelah memaksaku mandi, aku pun di paksa memakai seragam sekolah. Tapi saat mama tahu kalau tubuhku panas, dia melepaskan pakaian sekolahku lalu menggantinya dengan pakaian lengan panjang.
"Kamu demam, nak!" ucap mama lirih sembari memelukku.
Aku sayang mama. Mama adalah malaikatku.
"Mas, Darren panas banget. Lihatlah dia sangat pucat!" ucap mama dengan suara bergetar menahan tangis.
Karena papa yang tak mempedulikan ucapan mama, akhirnya mama nekat membawaku ke puskesmas. Ternyata papa mengikuti kami dari belakang. Entah saat melihat wajah papa, timbul rasa benci dalam hatiku. Aku ingin bebas dari laki-laki itu.
Saat mama dan papa bertengkar di tengah jalan, aku berlari. Mama yang menyadari aku yang sudah tidak ada di dekat mereka, mulai panik. Aku bersembunyi. Mereka lalu mencari-cariku.
Setelah mama dan papa tidak terlihat lagi, aku keluar dari persembunyianku. Aku berjalan terus tanpa arah.
Tiba-tiba aku mendengar suara kereta, rupanya aku ada di dekat rel kereta api namun aku masih saja terus melangkah. Saat suara kereta api makin terdengar jelas, kepalaku tiba-tiba pusing. Aku makin tidak tahan. Aku pun sulit untuk menggerakkan tubuhku padahal satu kakiku sudah berada tak jauh dari rel.
Tiba-tiba pandanganku kabur seiring dengan kereta lewat. Aku terhempas. Aku pasrah dan akhirnya jatuh. Setelah itu aku nggak ingat apa-apa lagi.
FLASBACK.OFF
"Aku cari-cari kakak di sekolah nggak ada!" ucap Annisa dengan suara bergetar. Gadis itu sepertinya ingin menangis.
"Kamu cari aku di sekolah?" tanya Darren.
Annisa menganggukkan kepalanya.
"Kakak laper? Mau makan apa?" tawar Annisa.
"Kakak tadi sudah makan makanan dari rumah sakit."
"Hhmm, sekarang bagaimana kondisi kakak? Masih pusing? Demam?"
Annisa tersenyum malu.
"Eheemm!"
Annisa dan Darren reflek menoleh.
"Aku sama ayah tunggu di luar. Ingat jangan macam-macam, ya! Jangan lama-lama juga lepas kangennya, sebentar lagi kita mau pulang!" ucap Alina.
Alina dan ayahnya lalu keluar dari ruang ranap Darren.
"Ayah, itu mas Andre, kan?" tanya Alina sembari menunjuk ke arah kakaknya yang sedang ngobrol bersama rekannya.
Alina dan ayahnya lalu menghampiri Andre.
"Mas Andre!" sapa Alina.
"Hei, dek!" sahut Andre.
"Siapa, Dre?" tanya Wahyu
"Oh kenalin ini adikku dan ini ayahku!" ucap Andre lalu mengenalkan Alina dan ayahnya pada rekannya, Wahyu.
"Wahyu!"
"Alina!"
"Ayahnya dokter Andre!"
Teman mas Andre cakep juga. Batin Alina.
Mereka pun ikut mengobrol.
Tak lama kemudian, Annisa muncul. "Oohh, ngobrol di sini ya. Aku cariin kemana-mana."
"Sudah lepas kangennya?" tanya Alina.
__ADS_1
"Iiihhh siapa yang lepas kangen!" Annisa bersungut.
"Pulang yuk pa, laper!" ajak Alina.
"Laper, ya? Makan di kantin saja, mau kakak temani?" tawar Wahyu.
Alina menggeleng cepat. Dia terlihat malu-malu.
"Ya sudah kita pulang sekarang, yuk! Nanti bunda nungguin!" ajak Anto.
"Mas Andre, kita pulang dulu, ya!" pamit mereka.
"Iya. Hati-hati di jalan, yah!" ucap Andre.
"Dadaah, mas Andre!"
"Mereka mirip banget, ya!" ucap Wahyu.
"Namanya anak kembar ya mirip, lah!" ucap Andre.
"Hehehee, gimana kalau mereka nikah, ya? Bakal ketuker nggak?"
"Nggak bakal lah. Kita saja bisa ngebedain mereka, kok!"
"Hhmm, gitu ya?"
Setelah adik dan ayahnya pulang, Andre berniat ke ruang ranap Darren.
"Aku mau lihat si Darren dulu. Kamu mau ikut nggak?"
"Boleh deh!" sahut Andre.
Sampai di ruangan Darren, anak itu seperti sedang melamun.
"Kenapa kamu nggak mau hubungi keluarga kamu?"
"A-aku. . ." Darren menunduk saja.
"Bukan saya mendoakan yang jelek, tapi mereka berhak tahu. Kalau ada keluarga kan enak, kamu nggak kesepian seperti ini!"
"I-iya, dok." sahut Darren.
"Kamu sudah baikan, kan?"
Darren mengangguk.
"Bagaimana? Apa ada nomor kontak yang bisa di hubungi?" tanya Andre.
Dengan berat hati, Darren lalu memberikan nomor kontak mamanya.
"Saya hubungi mereka, ya!" ucap Andre.
"I-iya, dok!" sahut Darren lirih.
Wajahnya terlihat takut dan cemas.
Andre lalu menghubungi nomor kontak yang di berikan oleh Darren. Setelah beberapa panggilan masih juga belum ada yang menjawab.
.
.
.
.
Maaf masih banyak typo. 😊🙏
.
.
.
.
__ADS_1
23