
Darren sudah di pindahkan di ruang ranap biasa. Sudah dari kemarin dia tidak bertemu Annisa. Annisa kenapa nggak pernah datang lagi, ya. Apa nggak boleh sama ayahnya. Darren membatin. Darren lalu menyalakan tv. Ada lagu dari sebuah grup band favorite.
...***...
...Kau begitu sempurna....
...Di mataku kau begitu indah....
...Kau membuat diriku akan selalu memujamu....
...Di setiap langkahku,...
...Ku kan selalu memikirkan dirimu....
...Tak bisa kubayangkan hidup ku tanpa cintamu...
...Janganlah kau tinggalkan diriku...
...Takkan mampu menghadapi semua...
...Hanya bersamamu ku akan bisa...
.... . . ....
...***...
"Ah, lagu itu cocok aku persembakan untuk Annisa," gumam Darren sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Nis, kakak kangen banget,"
Tiba-tiba mamanya masuk membawakan makanan untuknya.
"Sayang, ayo mama suapin," ucap Lisa.
"Mama, aku sudah besar masa masih di suapin," tolak Darren halus.
"Oh iya, mama lupa kalau kamu sudah besar."
Darren memutar bola matanya. Dan akhirnya mau juga menerima suapan dari mamanya.
"Ma, kapan kita pulang?"
"Mama belum tahu. Kamu sabar saja."
"Ma, satu minggu lagi aku kuliah. Bagaimana, ma?"
"Hhhmm, mama juga nggak tahu, nak. Bagaimana kalau kamu kuliah pakai kursi roda saja?"
"Apa, ma? Apa boleh?"
"Mama juga nggak tahu, nak. Coba kamu tanyakan sama teman kamu yang sama-sama kuliah di sana?"
"Aku nggak punya teman, ma. Oh iya, aku tanya kak Kevin saja, lah. Dia kan dosen di sana."
"Nah, kamu tanyakan saja sama dia."
"Kak Alya dulu juga kuliah di sana,"
"Oh, ya?"
"Iya, ma. Aku sewaktu mau mendaftar, nggak sengaja ketemu kak Alya dan saat itu aku belum tahu kalau kak Alya itu kakak aku."
"Hhmm, yang kamu membantunya saat hendak di jahatin orang?"
"Iya, ma."
"Ayo makan lagi. Makan yang banyak supaya luka-luka kamu lekas sembuh. Ini ikan gabus, baik untuk pasien yang habis operasi."
"Ma,"
"Hhmm?"
"Annisa."
"Kenapa Annisa?"
"Apa ayahnya sudah nggak ngebolehin lagi dia ketemu sama aku ya gara-gara itu?"
__ADS_1
"Mama nggak tahu, nak?"
"Hhmm, kalau di suruh tanggung jawab, aku mau kok ma!"
"Uhukk, uhhukkk!"
"Mama kenapa?" tanya Darren kaget.
"Kesedak sepatu!"
"Mama, iihh. Aku serius tanya!" ucap Darren kesal.
"Ya sudah tahu mama batuk!"
"Karena omongan aku tadi?"
"Memangnya Annisa sudah kamu apain kok kamu mau tanggung jawab segala?"
"Hhmm, ya itu, ma," Darren menundukkan kepalanya dengan wajah malu.
"Itu, apa?" tanya Lisa dengan nada tinggi.
"Mama, iihh. Pelan-pelan kenapa ngomongnya. Aku kan masih bisa denger."
"Kamu aneh. Itu apa maksud kamu?"
"Mama, jangan marah-marah, donk."
"Kamu ngeselin!"
"Hhh, sekarang papa sudah nggak suka marah-marah lagi sama aku eh gantian mama yang suka marah-marahin aku."
"Salah kamu di tanyain bener-bener kok jawabnya gitu?"
"Hhmm, ya itu ma. Aku-aku sudah cium bibirnya," jawab Darren pelan seperti sedang berbisik. Wajahnya memerah menahan malu.
"Berani juga kamu. Tapi beneran kan nggak lebih dari itu?" tanya Lisa dengan tatapan menyelidik.
"Hhmm, i-itu. Aku-aku sebelum cium, aku peluk dulu."
Lisa menarik nafasnya berat.
Darren menggeleng cepat, "Ng-nggak kok ma. Kan waktu itu Annisa mau bantu aku, jadi posisi kita deket banget. Ya peluk pas itu saja."
"Lalu setelah itu?"
"Hhmm, a-aku cium."
"Hhmm, dan ketahuan!" Lisa tersenyum mengejek.
"Iiihh, mama!" sahut Darren kesal.
"Mama mau cuci tempat makannya dulu," ucap Lisa lantas menuju kamar mand.
"Annisa kemana, sih? Mana handphone aku rusak lagi."
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Mama, itu ada yang ketuk pintu," teriak Darren.
Lisa keluar dari kamar mandi lalu berjalan menuju pintu.
"Semoga saja itu Annisa yang datang," gumam Darren penuh harap.
"Oh pak dosen, silahkan masuk. Ada Alya juga," ucap Lisa ramah dan tanpa Alya duga, ibunya itu memeluknya dengan erat.
Alya tergagap tapi kemudian membalas pelukan ibunya itu.
"Kita mau jenguk Darren, bu," ucap Alya.
"Ayo, beruntungnya Darren memiliki saudara yang baik-baik," ucap Lisa. Alya hanya tersenyum tipis.
"Ini, bu. Ada sedikit makanan untuk Darren. Untuk ibu juga," ucap Alya sembari menyimpannya barang bawaannya di atas nakas.
"Terimakasih ya, nak," ucap Lisa.
"Sama-sama, bu."
__ADS_1
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Kevin ramah dan hangat pada Darren.
"Alhamdulillah sudah mulai baikan, kak."
"Syukurlah kalau gitu," sahut Kevin.
"Tapi aku nggak bisa kerja lagi, kak."
"Oh, nggak apa-apa. Saya sudah memberitakan pada orang kantor tentang kondisi kamu."
"Terimakasih, kak. Oh iya, aku satu minggu lagi akan mulai kuliah. Apa kuliahku bisa gagal kalau nggak datang di hari pertama, kak?"
"Masalah kuliah, biar urusan kakak. Kamu pikirkan saja kesehatan kamu."
"Wah, nak Kevin ini baik banget," puji Lisa.
"Sudah sewajarnya sama saudara saling membantu, bu," sahut Kevin.
Lisa tersenyum.
Kevin lalu mengajak Darren mengobrol sedangkan Alya di ajak ngobrol oleh ibunya.
Tak lama kemudian ada yang datang. Ternyata dua orang polisi. Mereka menanyakan tentang kejadian yang menimpa Darren. Karena Darren sudah sadar jadi mereka hendak menanyai Darren.
"Saya tidak lihat, pak. Tahu-tahu tertabrak dan tubuhku terlempar," jelas Darren.
"Kita sudah menanyai saksi di tempat kejadian saat itu tapi karena di sana sepi jadi hanya ada dua orang saksi saja itupun sama seperti korban yang tidak memperhatikan."
"Jadi belum di ketahui siapa orang yang melakukan tabrak lari, pak?" tanya Kevin.
"Sementara ini belum. Tapi apa saudara Darren punya musuh?"
Deg. Jantung Darren berdetak kencang. Musuh. Entah siapa saja musuhku. Batin Darren.
"Hhmm, saya nggak tahu, pak. Tapi sewaktu sekolah memang ada teman-teman yang nggak suka sama saya. Tapi kami sudah lama tidak bertemu sejak lulus," jelas Darren sedih.
"Ok. Sebelum kejadian bagaimana? Apa kamu ada ribut sama seseorang?"
Darren menatap semua orang satu persatu, "Hhmm, sebelumnya, saat itu di bassman. Saya hendak pulang kerja, tiba-tiba ada seorang gadis yang memaksa pulang bareng saya. Saya sudah tolak tapi dia maksa. Tidak lama setelah itu ada seorang laki-laki datang marah-marah. Di pikir saya mengganggu gadis itu yang dia bilang adalah calon istrinya. Dia menghajarku saat itu, beruntung ada karyawan lain yang ada di sana dan menolongku. Aku akhirnya bisa pulang," jelas Darren.
"Kamu kerja di mana?" tanya polisi.
"Saya tahu, pak. Itu perusahaan masih saudara saya," jelas Kevin. Kevin lalu menoleh ke arah Darren. "Kamu tahu siapa yang memukuli kamu?" tanya Kevin dengan sorot mata marah.
"Hhmm, nggak kenal, kak. Itu hari pertamaku kerja."
"Saudara bisa bantu kita ke lokasi?" tanya polisi pada Kevin.
"Tentu saja, pak. Di bassman itu juga ada CCTV. Kita bisa cek saja ke sana."
"Baiklah. Bagaimana kalau sekarang saja. Makin cepat makin baik."
"Baiklah kalau begitu, pak," sahut Kevin.
Kevin menoleh ke arah istrinya, "Kamu mau ikut mas atau menunggu di sini?"
Alya terlihat bingung.
"Alya pulang bareng aku saja," ucap Andre yang tiba-tiba ada di sana.
"Dre, kamu nggak kerja?"
"Aku sebentar lagi pulang," jawab Andre.
"Ya sudah kalau begitu. Alya pulang sama kamu saja."
Kevin lalu mengikuti polisi yang sudah lebih duku keluar dari ruang ranap Darren.
.
.
.
.
.
__ADS_1
14