
"Ok, Dre. Aku setuju sama pendapat kamu," ucap Ferri.
"Hhmm, sip."
"Kita pulang dulu, deh. Sekali lagi, selamat ya atas kehamilan istri kamu. Semoga sehat sampai lahiran."
"Ok, terimakasih sudah mau datang."
Andre mengantar kedua rekannya sampai ke depan pintu.
Setelah itu, Andre kembali masuk ke dalam rumah. Ayahnya masih asik mengobrol dengan suami ibunya. Andre menarik nafasnya panjang. Dia lalu ikut bergabung bersama mereka.
Menjelang maghrib, Lisa mengajak anak dan suaminya pulang.
"Terimakasih, mbak. Sudah datang ke acaranya anak-anak," ucap Santi sembari memeluk hangat mantan istri suaminya.
"Sama-sama, mbak," sahut Lisa yang membalas pelukan Santi.
"Darren, ayo pulang!" ajak Lisa saat melihat putranya yang terus pandang-pandangan dengan Annisa dari jarak jauh.
"I-iya, ma," sahut Darren tergagap.
"Kamu itu!" ucap mamanya kesal.
"Darren sudah nggak sabar jadi menantu di rumah ini, bu!" celetuk Kevin.
Wajah Annisa dan Darren pun jadi bersemu merah.
"Kuliah saja dulu yang bener,"
"Iya, kecil-kecil mau jadi pengantin!" sahut David.
Semua orang pun tertawa. Wajah Darren terlihat kesal.
Mereka lalu pulang di antar oleh Andre.
***
Darren pulang dari kampus langsung ke minimarket. Dia sudah bisa kembali bekerja.
"Darren? Apa kabar kamu? Kenapa baru kerja sekarang?" tanya Rudi.
"Iya, pak. Aku habis kecelakaan, dan kakiku patah. Beberapa bulan aku jalan dengan bantuan tongkat. Alhamdulillah sekarang sudah bisa jalan lagi," jelas Darren.
"Oalah, kasihan banget kamu, Darren," sahut Rudi.
"Hehee, tapi ada hikmahnya loh, pak," ucap Darren dengan wajah berseri-seri.
"Loh, apa hikmahnya? Dapet kenalan cewek?"
"Ahh, bukan. Aku sudah punya, kok!" jawab Darren bangga.
"Wah, sudah punya pacar, kamu?"
"Pacar sih, bukan. Tapi kami saling suka, sih. Masalahnya kita memang di larang pacaran makanya kita tetap berteman saja."
"Wah, bagus itu. Ngapain pacar-pacaran segala. Nanti bisa terjerumus ke hal yang tidak baik kalau kamu tidak bisa menjaga diri dan juga pacar kamu."
"Iya, pak. Makanya aku fokus kuliah dan kerja sekarang supaya tidak malu kalau nanti mau lamar dia."
"Memangnya dia belum mau kamu lamar sekarang?"
"Dia masih sekolah, pak. Hahaa," Darren tergelak.
__ADS_1
"Walah, ya masih lama di lamarnya kalau gitu."
"Satu tahun lagi dia lulus sekolah. Tapi mungkin dia mau kuliah juga," Darren menarik nafas panjang.
"Sabarlah. Kalau jodoh nggak akan kemana. Asalkan kalian saling setia. Toh kamu juga masih kuliah, toh!"
"Iya, pak. In Sya Allah aku akan setia. Aku sayang banget sama dia!" ucap Darren serius.
"Wah, siapa gadis beruntung itu?"
"Ah, dia bukanlah gadis yang beruntung. Aku bukanlah siapa-siapa. Kalau dia mendapatkan laki-laki lain mungkin dia bisa di sebut gadis yang beruntung."
"Ah, kamu jangan merendah begitu. Nasib orang siapa yang tahu. Bisa jadi beberapa tahun lagi kamu akan jadi bos. Kan rezeki itu rahasia Allah. Tidak ada yang tidak mungkin!"
"Aamiin."
"Sudah, sekarang semangat supaya bisa cepat meminang gadis pujaan kamu itu. Eh, siapa namanya kalau saya boleh tahu?"
"Namanya Annisa, pak," jawab Darren malu-malu.
"Darren. Ikut saya sebentar!" titah Anto yang tiba-tiba berdiri di depan pintu.
Wajah Darren seketika memerah. Dia buru-buru mengikuti langkah kaki Anto masuk ke ruangannya.
"Silahkan duduk!" titah Anto sembari menunjuk kursi yang ada di depannya.
Darren pun duduk. Jantungnya deg-degan.
"Jadi kamu mau mulai kerja hari ini, ya?"
"Hhmm, i-iya, pak," sahut Darren.
"Kebetulan beberapa hari yang lalu ada kasir kita yang baru saja mengundurkan diri, tapi di lantai atas. Sekarang yang jaga kasirnya si Reza, kamu bisa menggantikannya. Apa kamu mau di lantai atas?"
"Iya, supaya kamu tidak perlu mondar-mandir membawa barang kalau di gudang."
Darren berpikir sejenak. Apa yang pak Anto bilang ada benernya juga. Toh kakinya belum bisa selincah dulu berjalan.
"Baiklah, pak. Aku menurut saja," sahut Darren.
"Ya sudah, kamu langsung saja ke atas. Saya sudah bilang sama Reza kalau dia akan kembali ke gudang di gantikan sama kamu. Dan kamu bisa minta ajarin dia terlebih dahulu."
"Baiklah, pak. Aku permisi dulu," pamit Darren. Huhh, kirain di panggil karena pak Anto dengar aku membicarakan tentang Annisa. Ternyata di suruh jadi kasir. Tak apalah. Darren membatin. Dia segera kembali ke gudang untuk bicara dengan Rudi jika dia di tempatkan di kasir atas oleh Anto bukan di gudang seperti biasanya.
Saat Darren hendak mencari Rudi, ternyata laki-laki itu tidak ada di gudang. Darren lantas mencarinya di luar. Ternyata di luar, Darren melihat Rudi sedang bicara dengan seorang wanita muda. Mereka telihat akrab. Siapa wanita muda itu, ya? Apa istrinya pak Rudi? Tapi muda banget, mungkin dia sedikit lebih tua dariku. Batin Darren.
Tak lama kemudian wanita muda itu pergi dengan wajah sedih. Rudi kembali masuk ke gudang.
"Kenapa, pak?" tanya Darren.
"Itu, anak sambung saya mau menikah tapi belum ketemu sama ayah kandungnya," jelas Rudi.
"Oh, wanita muda tadi anak sambung pak Rudi," sahut Darren.
"Memangnya kamu pikir siapa?
Darren menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hehee, ibunya tidak tahu di mana ayahnya tinggal?"
Rudi menggelengkan kepalanya, "Kita sudah ke rumah kakeknya tapi rumah mereka sudah di jual dan tidak tahu pindah kemana."
"Hhmm, kasihan ya dia."
__ADS_1
"Itulah makanya dia pusing. Dia ingin sekali bertemu dengan ayahnya. Dan ingin ayahnya yang jadi wali nikah dia. Saya kadang ikut mencari tapi masih belum ketemu."
"Siapa nama ayahnya, pak?" tanya Darren penasaran.
"Namanya David."
"David?" tanya Darren kaget.
"Nama lengkapnya, pak?"
"Wah, saya tidak ingat. David siapa, ya?"
"Dia sudah lama berpisah dengan ayahnya?"
"Sudah lama banget sejak dia masih kecil. Dia juga tidak ingat wajah ayahnya."
"Istri pak Rudi tidak punya fotonya?"
Rudi menggelengkan kepalanya, "Sejak saya nikahi, ibunya sudah membuang semua foto-foto masa lalunya. Dia tidak ingin mengingat mantan suaminya itu. Padahal saya sudah bilang, suatu saat, foto itu pasti berguna. Tapi dia tetap membuangnya."
"Mungkin dia sudah sangat kecewa dengan mantan suaminya itu."
"Iya. Dia di selingkuhi dan di sia-siakan. Bahkan putri mereka satu-satunya pun di sia-siakan demi wanita selingkuhannya itu. Untung ketemu sama pak Anto jadi bisa bekerja di sini."
"Dan akhirnya berkenalan sama pak Rudi."
"Pinter!"
"Hehee. Jadi jodohnya pak Rudi."
"Hahaa. Sayang banget wanita sebaik itu di sia-siakan. Saya beruntung menikahinya!"
"Hhmm, sekarang anak pak Rudi berapa?"
"Anak kandung saya dua di tambah anak sambung saya jadi tiga. Tapi saya tidak pernah membeda-bedakan mereka. Saya menyayangi ibunya dan juga anaknya."
"Dia juga beruntung menikah dengan pak Rudi."
"Entahlah dia beruntung apa tidak karena saya hanya bisa memberikan cinta dan tanggungjawab saja. Sedangkan ekonomi, saya hanya bisa memberikan sesuai dengan kemampuan saya. Beruntungnya setiap tahun, karyawan di sini gajinya naik. Dan setelah saya bandingkan di minimarket lain, gaji karyawan di sini lebih tinggi. Makanya kalau yang sudah kerja di sini nggak mau keluar kecuali ada alasan mendesak. Seperti istri saya. Saya minta dia berhenti kerja sejak dia hamil," jelas Rudi panjang lebar.
"Menurut aku, istri pak Rudi itu beruntung, loh. Kalau soal ekonomi, asalkan bisa berhemat dan tidak bergaya, pasti cukup kok. Dalam keluarga itu yang terpenting adalah kasih sayang, saling pengertian dan tanggung jawab."
"Kamu bisa saja, Darren. Ya sudah, kamu buruan nikah sana!"
"Ah, saat ini aku belum bisa mengemban tanggungjawab, pak. Dia terbiasa hidup berkecukupan, aku takut nggak bisa membahagiakannya. Jadi sekarang aku mau fokus kuliah dan kerja di sini dulu."
"Siplah. Masih muda juga."
"Iya, pak. Oh iya, aku ke sini mau kasih tahu pak Rudi kalau aku di pindahkan jadi kasir di lantai atas. Jadi si Reza balik lagi ke gudang."
"Oh begitu. Ya sudah kamu ke lantai atas sana."
"Aku permisi dulu, pak," pamit Darren yang langsung pergi ke lantai atas.
.
.
.
.
10
__ADS_1