
Setelah mengantar kedua anakku ke sekolah,aku lalu pergi ke bank. Setelah mengantri tidak terlalu lama karena hari masih pagi,aku lalu pergi mencari orderan bengkel. Baru beberapa ratus meter aku melajukan sepeda motorku,dari jauh aku melihat seorang wanita yang sangat aku kenal sedang menenangkan anaknya yang sedang menangis di pinggir jalan.
Aku lalu menghampiri mereka, "Mbak? Anaknya kenapa?" tanyaku.
Melly menolah, "Dia sakit. Badannya panas sekali!" jawabnya dengan wajah cemas.
"Di bawa ke dokter atau Rumah Sakit saja,mbak!" saranku.
"I-iya. Ini mau saya bawa ke Rumah Sakit," sahutnya.
"Rumah Sakit lumayan jauh dari sini,mbak. Ayo saya antar!" tawarku.
Melly menggelengkan kepalanya, "Terimakasih. Saya bisa sendiri!" tolaknya.
"Mbak,kasihan anak mbak. Ayo saya antar!" aku sedikit memaksa. Aku jadi ingat kedua anakku. Setiap mereka sakit,aku ikut merasakan sakit.
Anaknya terus saja menangis hingga Melly terlihat kewalahan untuk menenangkannya.
Aku kembali memaksanya untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit.
"Ayo mbak saya antar. Apa mbak tidak kasihan sama anak mbak?"
Akhirnya dengan berat hati Melly menerima tawaranku.
"Baiklah," ucapnya lirih.
Melly naik ke boncenganku. Aku melajukan sepeda motorku perlahan sambil mencari rumah sakit terdekat yang aku tahu di daerah sini. Lima belas menit kemudian kami memasuki sebuah rumah sakit kecil.
Aku memarkirkan sepeda motorku lalu mengantarkan Melly dan bayinya ke IGD. Karena masih pagi,Melly lalu diarahkan ke poli spesialis anak.
Aku lalu membantu mendaftarkan anak Melly karena anaknya yang terus saja menangis. Setelah mendaftarkan anaknya atas nama Davina Maharani,kami lalu menunggu di ruang tunggu.
Anaknya masih saja terus menangis. Aku coba menyentuh dahinya ternyata demamnya cukup tinggi. Setengah jam kemudian nama Davina Maharani dipanggil oleh suster. Melly lalu masuk ke ruang periksa sementara aku masih menunggu di ruang tunggu.
Lima menit kemudian Melly keluar. Dia tampak kebingungan. Aku lalu mendekatinya.
"Ada apa?" tanyaku.
"Saya disuruh memeriksakan darahnya ke Lab," jawab Melly terbata-bata seperti sedang menahan tangisnya.
"Ya sudah ayo saya temani ke Lab," tawarku.
__ADS_1
Melly seperti ragu-ragu, "Saya-saya mau pulang saja!" jawabnya.
Aku mengernyitkan dahiku, "Kenapa pulang? bukankah dokter menyuruh anak mbak dibawa ke Lap?" tanyaku heran.
Melly masih terlihat bingung melihat anaknya yang terus saja menangis. Aku menjadi tidak sabaran.
"Mbak bagaimana sih sebagai ibu bukannya cepet urus anaknya? Kenapa hanya diam saja? Ayo kita segera bawa dia ke Lab!"
Melly masih dengan sikap diamnya. Melihat Melly yang masih saja diam membuat aku jadi tidak sabaran dan kesal. Akhirnya aku tarik tangannya dengan paksa menuju ke Lab yang tidak jauh dari sana.
Beruntung hari itu masih pagi jadi antrian di Lab masih lumayan sepi,hanya ada tiga orang saja. Aku lalu mendaftarkan Davina disana. Hanya lima menit menunggu,nama Davina kemudian dipanggil oleh suster. Ternyata mengambil darah di Lab harus membayar uang sebesar dua puluh ribu rupiah.
Melihat Melly yang bingung akhirnya tanpa menunggu lagi aku membuka dompetku dan menyerahkan uang dua puluh ribu rupiah kepada suster. Davina lalu di bawa masuk ke ruang Lab untuk di ambil darahnya.
Setelah itu kami menunggu selama setengah jam. Tak lama kemudian hasil Lab anaknya Melly keluar. Kami lalu membawa hasil Lab ke dokter spesialis anak yang tadi.
Setelah menunggu selama setengah jam nama Davina kembali dipanggil. Setelah Melly masuk,tak lama kemudian seorang suster keluar meminta aku ikut masuk ke ruang periksa.
"Maaf,bapak suaminya Ibu Melly? Bapak disuruh dokter masuk!" ucap suster yang membuat mataku membulatkan.
Tapi karena ini adalah emergency mau tidak mau aku akhirnya masuk ke ruang periksa. Aku menatap ke arah Melly namun wanita itu hanya menatapku sekilas lalu menundukkan kepalanya. Aku tidak tahu apakah Melly yang mengatakan pada dokter kalau aku ini adalah suaminya. Aku lalu di minta duduk di sebelah Melly.
Aku kaget. Ternyata anaknya Melly menderita demam berdarah dan harus dirawat. Aku menoleh ke arah Melly yang masih dengan sikap diamnya.
Aku menarik nafasku berat, "Lakukan saja yang terbaik menurut dokter!" ucapku.
"Baiklah,saya akan memberikan surat untuk di bawa ke bagian pendaftaran rawat inap ya,pak," ucap dokter lagi.
Kami lalu di antar oleh suster ke bagian pendaftaran rawat inap kemudian kami disuruh memilih kamar.
"Apakah ayahnya tahu kalau Davina sakit?" tanya ku pada Melly.
Wanita itu menunduk. Aku jadi bingung, "Anak saya tidak jadi saja di rawat."
Aku kaget, "Apa,tidak jadi di rawat? Apa maksudnya?" tanyaku dengan nada sedikit tinggi.
"Anak saya tidak jadi di rawat inap. Saya akan merawatnya sendiri di rumah," jelas Melly yang membuat aku semakin kaget.
"Apa? Bukankah dokter menyarankan anak mbak harus dirawat inap?"
"I-Iya tapi. . . " dia seperti ragu-ragu.
__ADS_1
"Kalau mbak mau menghubungi suami mbak silahkan saya tunggu di sini. Ayahnya harus tahu kalau Davina harus di rawat!"
Melly kembali menundukkan kepalanya, "Hhm,ti-tidak perlu!" sahutnya.
"Ayahnya harus tahu,mbak!" ucapku pelan namun dengan penekanan.
"Kami-kami sudah bercerai dua bulan yang lalu," jelas Melly.
Deg. Aku kaget, "Kenapa kalian bercerai? Apa karena Lisa?" tanyaku menahan emosi.
"Saya,saya mau pulang saja!" tegasnya dan segera berlalu dari hadapanku.
Aku lalu menyusulnya, "Davina harus di rawat!" ucapku dengan nada tinggi.
"Saya. . ."
Aku sungguh-sungguh tidak habis pikir. Bagaimana mungkin seorang ibu membiarkan saja anaknya sakit padahal dokter sudah menyuruh untuk rawat inap. Apa dia tidak mempunyai biaya. Pikirku.
"Saya yang akan bayar semua tagihan rumah sakit! Mbak jangan khawatir!" ucapku kemudian.
"Tidak-tidak perlu! Saya tidak ingin merepotkan. Saya tidak ingin hutang budi!" ucapnya dengan suara bergetar. Tak lama kemudian ada bulir bening mengalir di sudut matanya.
Hah kenapa perasaanku jadi seperti ini. Kenapa jantungku berdebar saat melihat wanita di hadapanku ini menangis. Aahh,mungkin karena aku hanya merasa kasihan saja. Batinku.
"Mbak,Davina harus di rawat inap! Mbak tidak ingin kan terjadi apa-apa dengan anak mbak? Mbak tidak ingin anak mbak sembuh?" tanyaku bertubi-tubi.
Tanpa menunggu jawaban dari Melly,aku lalu segera mendatangi suster dan mengatakan kalau Davina akan dirawat. Suster lalu menunjukkan kamar berdasarkan kelasnya. Akhirnya mau tidak mau Melly akhirnya memilih ruang ranap kelas tiga karena yang kelas tiga yang cukup murah dan terjangkau.
Setelah mengurus pendaftaran,akhirnya Davina di antarkan suster ke ruang ranap. Aku ikut mengantar sampai di depan pintu saja. Ada dua orang pasien anak di dalam.
.
.
.
.
.
13
__ADS_1