
Anto masih gelisah. Dia menajamkan pendengarannya berharap mendengar suara tangisan bayi dari ruang bersalin.
Jarum jam sudah menunjukkan angka tiga yang artinya tak lama lagi akan memasuki waktu subuh. Anto masih tetap terjaga. Begitupun Santi, dia masih setia menemani putri sambungnya itu dalam melewati masa-masa kontraksi yang belum tahu kapan putrinya itu akan melahirkan.
Berkali-kali dokter memeriksa namun bukaannya belum juga bertambah. Dia sungguh tidak tega melihat putrinya itu menahan rasa sakit yang terlalu lama.
"Kalau mau melahirkan, tidak usah menunggu suami kamu, nak. Biarkan si kecil lahir walau tanpa kehadiran ayahnya," ucap Santi.
Alya sering mengatakan ingin melahirkan dengan di temani suaminya. Tapi keadaan tidak seperti yang di harapkan. Saat suaminya sedang tidak ada, bayinya sudah mulai menyakitinya.
Alya hanya bisa menangis sembari menahan rasa sakit.
"Cucu oma, lahirlah ya, nak. Kasihan mama kamu sudah dari tadi kesakitan," bisik Santi di perut Alya.
"Mama mohon lahirlah, nak.Tidak usah menunggu papa kamu," sahut Alya.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Semua orang menoleh termasuk Alya. Seorang suster lalu membukakan pintu.
"Sus, saya suami dari pasien Alya," ucap orang yang di depan pintu.
"Mas," panggil Alya dengan suara lirih.
"Oh, silahkan masuk!" titah suster.
Kevin lalu masuk dan langsung memeluk istri tercintanya. Santi pun berinisiatif keluar dari ruang bersalin.
"Mas," ucap Alya dengan suara manja.
"Maafin mas, sayang. Mas tidak tahu kalau kamu mau melahirkan hari ini. Rencana mas nanti siang pulangnya."
"Hhmm, sakit banget, mas."
"Iya, sayang," Kevin menciumi setiap inci wajah istrinya penuh kasih sayang dengan tangan menggenggam erat tangan istrinya.
Santi keluar lalu menutup pintu. Di lihatnya suaminya duduk dengan menutupi wajah dengan kedua tangannya.
"Mas," ucap Santi sembari menyentuh bahu suaminya lembut.
Anto mendongak, "Yank, bagaimana Alya?"
"Kevin baru saja masuk, mas. Semoga cucu kita segera lahir," jawab Santi.
"Aamiin. Mas sangat kesal sama Kevin. Kenapa susah sekali di hubungi. Alya sampai menahan sakit selama itu karena nungguin dia," ucap Anto kesal.
"Sabar, mas. Doakan semua lancar," ucap Santi sembari mengusap-usap bahu suaminya lembut untuk menenangkannya.
Anto lalu bersandar di sandaran kursi sedangkan Santi bersandar di bahunya. Wajah mereka terlihat lelah dan mengantuk.
Tiba-tiba Anto dan Santi di kagetkan dengan suara tangisan bayi.
"Mas? Alya."
Anto mengulas senyum, "Alhamdulillah," ucap Anto sembari mengusap wajahnya perlahan dengan kedua tangannya.
"Alhamdulillah, laki-laki apa perempuan cucu kita ya mas?"
__ADS_1
"Mas juga penasaran."
"Sudah adzan subuh, mas."
"Kita ke masjid dulu, yank," ajak Anto.
"Iya, mas."
Dengan bergandengan tangan, mereka pergi ke masjid yang ada di lingkungan rumah sakit.
Saat Anto sedang duduk di bangku panjang yang ada di depan masjid, menunggu istrinya yang masih belum selesai sholat tiba-tiba ada seorang wanita duduk di dekatnya.
"Mas sendiran saja," sapa wanita itu dengan pandangan ke arah Anto.
"Oh, saya sedang menunggu istri saya," jawab Anto.
Raut wajah wanita itu langsung berubah, "Oh," jawabnya.
Tak lama kemudian Santi datang dan langsung menggandeng lengan suaminya.
"Ibu kok genit-genit sama mas ini," ucap wanita itu tidak suka sembari menepiskan kasar tangan Santi dari lengan Anto.
Mata Santi membulat sempurna, "Loh, apa-apaan, mbak!" ucap Santi emosi lalu menatap ke arah wanita kesal.
Ada beberapa pasang mata yang menatap ke arah mereka.
"Maaf, mbak. Wanita cantik ini adalah istri saya!" ucap Anto tegas lantas merangkul bahu istrinya mesra.
Wajah wanita itu langsung pias belum lagi ada yang berucap, "Huuuuu," ke arahnya dengan tatapan mengejek.
Wanita itu langsung ambil langkah seribu.
"Mas baru ketemu tadi, yank. Mas tidak tau," jawab Anto tegas.
Wajah Santi masih terlihat marah. Apalagi saat ingat wanita tadi menyebutnya 'ibu' sedangkan memanggil suaminya dengan sebutan 'mas'. Dia merasa sudah tua sekali.
"Sayang, kamu tidak percaya sama mas, ya?" tanya Anto lembut.
Santi masih diam. Dia percaya pada suaminya itu tapi kalau suaminya di goda terus oleh wanita muda, apa suaminya itu akan mampu untuk terus setia. Santi sungguh cemas dan pusing memikirkannya.
Anto kembali merangkul bahu istrinya, "Kalau kamu tidak percaya sama mas, itu sangat menyakitkan, yank!"
Santi menarik nafasnya dalam-dalam, "Maafkan aku, mas. Aku. . . ."
"Percayalah. Tidak ada lagi yang mas cari di dunia ini. Semua sudah mas miliki. Istri cantik yang setia, menerima semua kekurangan mas. Anak-anak yang manis dan penurut. Bahkan cucu pun sudah mas miliki. Harta? Mas tidak kekurangan walau pun itu milik istri. Jadi apalagi?"
"Kenapa mas masih saja berpikir itu adalah hartaku sendiri? Kalau bukan mas yang menjalankan dan bekerja keras dalam memajukannya mungkin sekarang tidak akan sebesar ini. Aku nggak suka sama pemikiran kamu, mas!" ucap Santi kesal.
"Baiklah, sayang. Maafkan mas. Jadi kita harus saling percaya, ya. Kamu tetaplah nomor satu di hati mas. Kamu dan anak-anak adalah orang penting dalam hidup mas!"
"Aku juga minta maaf, mas," ucap Santi menyesal.
"Ayo kita lihat anak dan cucu kita!" ajak Anto.
Mereka kembali ke ruang bersalin.
__ADS_1
Ternyata Kevin sedang menunggu di depan ruang bersalin.
"Kenapa kamu di luar? Apa yang terjadi?" tanya Anto bingung.
"Alya sedang di jahit kata susternya, yah. Bayi kami sedang di bersihkan," jelas Kevin.
"Hhmm, mereka baik-baik saja, kan?"
"Alhamdulillah, mereka baik, yah."
"Cucu bunda laki-laki apa perempuan?" tanya Santi.
"Laki-laki, bun."
"Alhamdulillah, cucu kita sepasang ya, mas," ucap Santi dengan senyum semringah.
"Alhamdulillah," sahut Anto.
Tak berselang lama, seorang suster keluar memanggil Kevin.
"Suami dari ibu Alya?" panggil suster.
Semua orang menoleh, "Saya, sus," sahut Kevin.
"Silahkan masuk, pak. Bu Alyanya di tungguin!" titah suster.
"Bayinya masih di dalam ya, sus?" tanya Santi.
"Bayinya ada di kamar bayi, pak. Nanti setelah ibunya di pindahkan ke kamar ranap, baru bayinya di pindahkan ke kamar ranap juga," jelas suster.
"Baiklah kalau begitu, sus."
Di dalam ruang bersalin. Alya masih terbaring lemah. Kevin duduk di sampingnya.
"Sayang, lain kali kamu melahirkan caecar saja ya," ucap Kevin seraya mengusap lembut pucuk kepala istrinya.
"Hhmm, satu saja, mas," tolak Alya.
Dahi Kevin berkerut, "Maksud kamu?"
"Kita punya anak satu saja," jelas Alya.
Kevin menarik nafas panjang, "Sayang, mas benar-benar minta maaf. Mas kan tidak tahu kalau dia mau lahir lebih awal."
"Bukan masalah itu. Aku hanya ingin punya anak satu saja, mas. Normal ataupun caecar tetap akan merasakan sakit. Bekas operasi itu juga pasti sakit!"
"Hhmm." Masa punya anak hanya satu. Yang benar saja. Aku ingin punya banyak. Ah bagaimanapun caranya aku ingin Alya melahirkan banyak anak untukku. Batin Kevin dengan senyum menyeringai.
.
.
.
.
__ADS_1
.
04