Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 37


__ADS_3

Pulang dari Mall,aku langsung mengantar keluargaku pulang ke rumah. Karena sudah sore,mbak Santi ingin langsung pulang ke rumahnya kerena dia juga sudah merasa lelah.


Sepanjang perjalanan pulang,dia masih saja asik dengan lamunannya dan kami tidak akan bicara satu sama lain kalau bukan aku yang memulai obrolan. Tidak seperti saat hendak pergi ke rumahku tadi siang,dia begitu ceria dan bersemangat.


Hingga kami tiba di rumahnya pun dia masih saja diam membisu.


"Mbak?" sapaku.


Dia menoleh sekilas, "Iya,mas?"


"Capek banget,ya? Atau kepalanya pusing? tanyaku yang di jawab gelengan kepala tanpa menoleh ke arahku.


"Kalau diam terus lebih baik saya langsung pulang saja!"


"Mau pulang?" dia kaget.


"Hhh,dari tadi mbak banyak diam. Apa keluargaku ada salah atau salah bicara?" tanyaku masih penasaran.


"Nggak ada kok,mas. Aku nggak papa kok!" jawab mbak Santi.


"Bener nggak ada apa-apa?" tanyaku lagi.


"Iya,mas."


"Jadi mbak maumya kapan kita menikah?"


"Mas enggak terpaksa kan menikah dengan saya?"


"Kenapa mbak berpikir seperti itu?" aku balik bertanya.


"Nggak papa kok,mas. Saya hanya ingin memastikan saja."


"Apa sekarang mbak ragu setelah bertemu dengan keluarga saya?"


"Eng-enggak,kok!"


"Lalu kenapa? Mbak jujur saja sebelum kita terlanjur menikah. Saya nggak ingin mengalami kegagalan untuk kedua kali hanya karena penyesalan mbak yang datang terlambat!" tegasku.


Dia diam,seperti sedang berpikir.


"Hmm,mas. Mas yakin nggak akan kembali lagi sama mantan istri mas?" tanyanya dengan masih melihat ke arah jendela.


"Apa,mbak? Kenapa mbak bertanya seperti itu? Aku dan dia benar-benar sudah bercerai beberapa bulan yang lalu. Dan aku nggak akan memaafkan yang namanya pengkhianatan,mbak!" tegasku.


Dia diam,mungkin sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Hhmm,maafkan saya,mas! Saya nggak bermaksud. . . "


"Dia sudah jadi masa lalu saya! Rasa itu hilang begitu saja sejak saya melihat sendiri pengkhianatannya! Saya bahkan sudah nggak berpikir akan menikah lagi sampai saya bertemu dengan mbak!"


"Hmm,iya mas! Maafkan saya. Saya nggak bermaksud menyinggung perasaan mas!"


Aku hanya tersenyum tipis.


"Jadi mbak masih ingin lanjut apa nggak? Sebelum semua terlanjur."


"Kalau mas?"


Hhh,aku menghela nafas pelan, "Yang ragu kan mbak bukan saya! Saya sudah menjelaskan semua tentang saya dan keluarga saya!"


"Hhmm,saya. Saya masih mau lanjut," ucapnya pelan dengan wajah menunduk


"Yakin ya,mbak? Karena jika kita sudah menikah,saya nggak akan mau bercerai kecuali mbak mengkhianati saya!"


Dia menoleh lalu menganggukkan kepala.


"Jadi mbak maunya kita menikah kapan?" tanyaku lagi.

__ADS_1


"Saya terserah mas saja."


"Hhmm,baiklah kalau terserah saya. Satu tahun lagi,ya!" gurauku.


"A-apa?" tanyanya kaget. Wajahnya terlihat kecewa.


Aku mengulum senyum, "Kenapa? Terlalu cepat,hhmm?"


"Terserah!" jawabnya ketus.


"Ketus banget jawabnya? Jadi satu tahun lagi,ya!"


"Iya,satu tahun lagi tunggu saya sudah nggak ada di dunia!" sahutnya dengan suara bergetar.


Aku tersenyum sambil meliriknya, "Akhir bulan ini,hmm?"


Dia langsung menoleh, "Beneran,mas?"


Aku tersenyum lalu menganggukan kepala, "Apa mbak mau?"


Dia lalu mengangguk. Wajahnya yang tadi sedih langsung berbinar.


"Sudah mau maghrib nih!" ucapku.


"Mas makan malam di sini,ya?" pintanya.


"Memangnya masak apa kok minta saya makan di sini?"


"Hhmm,mas maunya makan sama apa?"


"Apa saja asal kamu yang masak!" jawabku sambil menatapnya lekat-lekat.


Wajahnya langsung memerah. Ini pertama kalinya aku memanggilnya 'kamu'.


"Hhmm,baiklah mas. Saya masak dulu,ya! Mas mau tunggu di mana?"


"A-apa?" mbak Santi kaget.


"Kenapa? Nggak boleh,ya?"


"Bo-boleh kok,mas!" jawabnya sambil tersenyum malu.


Aku lalu mengikutinya ke dapur. Aku duduk di meja makan yang menghadap langsung ke arah dapur.


Mbak Santy mulai menyiapkan bahan masakan. Sesekali dia melirik ke arahku lalu tersipu malu saat terpergok olehku.


Aku lalu mendengar suara azan di masjid.


"Sebentar lagi waktunya shalat maghrib. Saya mau ke masjid dulu,ya!" pamit ku.


"Oh iya,mas," sahutnya.


Aku lalu pergi ke masjid yang tidak jauh dari rumah mbak Santi. Pulang dari masjid aku menunggu di teras karena kata bibi,mbak Santi sedang ada di kamarnya. Setelah menunggu 5 menit mbak Santi keluar. Dia sudah mengganti pakaiannya.


"Mas? Sudah lama datang?" tanyanya.


"Belum lama,kok!" jawabku.


"Makan malamnya sudah siap,mas. Makan sekarang saja,yuk!" ajaknya.


Aku lalu mengikutinya masuk rumah. Makanan sudah tersaji di meja makan. Mbak Santi lalu mengambilkanku nasi beserta lauk dan sayurnya.


"Silahkan makan,mas. Semoga suka."


Aku tersenyum, "Saya pasti suka,kok!"


Kami lalu sibuk dengan piring dan sendok kami masing-masing. Setelah selesai makan dan membereskan meja makan,mbak Santi mengajakku duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Boleh saya bertanya?" tanyaku saat kami sudah duduk di ruang tamu.


"Boleh kok,mas. Mau tanya apa?"


"Kalau boleh tahu usia kamu sekarang berapa?"


Dia diam sesaat seperti sedang berpikir.


"Saya-saya sudah tua,mas," jawabnya lirih.


"Sudah tua,lima puluh tahun,ya?"tanyaku.


"Apa saya terlihat seperti berusia lima puluh tahun,mas?" tanyanya kaget.


Aku tersenyum, "Kamu tadi bilangnya sudah tua,kan. Jadi saya pikir sudah tua itu usia lima puluh tahun dong!" jawabku.


Dia lalu tersenyum, "Usia saya tiga puluh empat tahun,mas!" jawabnya.


Aku menganggukkan kepala.


"Kalau mas berapa? Pasti mas masih muda kan?" tanyanya.


"Tiga puluh empat tahun belum tua,kok. Dan juga kamu nggak terlihat seusia itu. Kamu terlihat lebih muda."


"Hhmm,masa mas? Saya malah terlihat lebih tua."


"Bener,kok!"


"Kalau mas usianya berapa?" tanya mbak Santi.


"Usia saya 30 tahun,mbak!" jawabku.


Dia hanya menatapku sekilas, "Apa mas tidak malu mempunyai istri yang lebih tua?" tanyanya.


"Memangnya apa yang membuat malu?" aku balik bertanya.


"Ya mungkin saja."


Aku menggelengkan kepala, "Itu nggak jadi masalah. Oh ya nanti kamu ingin acara pernikahan kita seperti apa?"


"Saya mau yang sederhana saja,mas. Akad nikah saja sudah cukup kok," jawabnya.


"Oh,iya. Nanti saya akan mengundang tetangga dekat rumah ibu sama teman dekat saya. Nggak apa-apa,kan?


"Iya,mas. Nggak apa-apa,kok. Saya juga hanya undang tetangga kiri kanan sama karyawan minimarket saja."


"Baiklah saya akan segera mengurus persyaratannya."


"Iya,mas."


"Kalau begitu saya pulang dulu ya. Ini sudah malam,besok saya kesini lagi!" pamitku lalu bangkit dari duduk.


"Iya,mas hati-hati di jalan,ya. Terima kasih untuk hari ini!" ucapnya.


"Saya yang harusnya berterima kasih. Kamu sudah membawa keluarga saya jalan-jalan hari ini.


Dia lalu tersenyum, "Saya senang kok,mas. Sudah lama saya nggak jalan-jalan." sahutnya lalu kami pun keluar dari rumah. Setelah berpamitan,aku lalu segera meninggalkan rumah mbak Santi. Semoga pernikahanku kali ini nggak akan mengalami kegagalan lagi. . .


.


.


.


.


.

__ADS_1


10


__ADS_2