Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 95


__ADS_3

Setelah meninggalkan nomor kontak handphoneku pada suster yang ada di ruang ICU dan ruang NICU, aku lalu pergi mengantarkan ibu dan kedua anakku pulang ke rumah.


"Ayah, besok pulang sekolah kita boleh kan ke rumah sakit lagi menjenguk bunda dan adik kembar?" tanya putriku.


"Iya, sayang!"


"Kamu jangan lupa istirahat nanti ya, nak. Jangan begadang. Ingat untuk menjaga kesehatan kamu juga!" pesan ibu.


Aku mengangguk, "Iya, bu."


Sampai di rumah, aku pergi ke lantai atas menuju kamarku. Aku mandi sebentar lantas sholat maghrib kebetulan sudah waktunya. Aku juga mengambil surat data diri keluargaku, mungkin di perlukan nanti di rumah sakit. Berharap istriku segera sadar.


Aku langsung kembali lagi ke rumah sakit.


Saat sedang fokus menyetir, tiba-tiba handphoneku berdering. Telepon minimarket.


"Assalammu'alaikum!"


"Apa?"


"Hhh, maafkan saya. In Sya Allah besok saya akan bayar gaji kalian. Saat ini saya sedang ada masalah."


"Oh bukan! Bukan masalah uang. Bu Santi hari ini tiba-tiba sakit dan sekarang sedang di rawat di rumah sakit. Jadi saya sibuk mengurus istri saya sekarang. Tolong beritahu yang lain untuk bersabar. Saya pasti akan membayar gaji kalian!"


"Terimakasih. Tolong bilang pak satpam untuk menutup minimarket dengan benar, ya!"


Aku memutuskan panggilan telepon dan kembali fokus menyetir. Aahh, ternyata semua karyawan menanyakan gaji mereka yang memang seharusnya hari ini aku bayarkan.


Sampai di rumah sakit, terlebih dahulu aku pergi ke ruang NICU. Aku ingin melihat kedua putriku. Aku hanya melihat dari luar melalui kaca jendela saja. Mereka masih seperti tadi, sedang tertidur.


Setelah puas melihat bayi kembarku, aku pergi ke ruang ICU di mana bundanya anak-anak sedang di rawat. Istriku itu pun keadaannya masih seperti tadi.


Aku duduk di sebelahnya sambil memegang tangannya erat. Wajah itu sudah tidak sepucat tadi, apa mungkin karena sudah di transfusi darah? Entahlah, semoga saja ada kemajuan. Istriku? Mungkinkah kamu bisa merasakan kehadiranku.


Setelah puas menunggui istriku, aku keluar. Aku duduk di ruang tunggu yang ada di depan ruanh ICU. Ada beberapa orang yang sepertinya bernasib sama denganku.


Kami akhirnya terlibat obrolan hanya untuk membuang kejenuhan. Untuk menghibur diri sendiri jika kita tidak sendiri dalam mengalami musibah ini.


***


Keesokan harinya, setelah mengunjungi istri dan bayi kembarku, aku pulang ke rumah untuk mengantar kedua anakku ke sekolah.


"Kamu sarapan saja dulu, nak!" titah ibu.


Aku menggeleng lemah, "Nanti saja, bu. Aku belum lapar!" jawabku.


Aku pergi mengantarkan kedua anakku ke sekolah. Ibu sudah tidak pernah lagi menunggui Alya di sekolahnya jadi beliau akan ikut denganku ke rumah sakit.

__ADS_1


"Ayah, pulang sekolah aku mau ke rumah sakit juga, ya!" ucap putriku.


"Hhh, iya nak!" sahutku.


Setelah mengantar kedua anakku, aku mengantar ibu terlebih dahulu ke rumah sakit.


"Ibu, aku tinggal di rumah sakit sendirian nggak apa-apa, ya? Aku mau ke minimarket dulu ada urusan!" ucapku pada ibu saat sudah sampai di parkiran rumah sakit.


"Kenapa pagi-pagi sekali, nak?"


"Iya, bu. Pagi ini aku mau memberikan gaji karyawan dulu sebelum mereka bekerja. Kemarin karyawan nelpon menanyakan gaji mereka."


"Hhh, ya sudah ibu duluan, ya!" pamit ibu lalu turun dari mobil.


Aku kembali melajukan mobil. Kali ini menuju minimarket. Minimarket masih sepi, belum ada karyawan yang datang. Hanya ada saru orang satpam yang berjaga di pos. Sepertinya beliau sedang tidur. Aku lalu membuka pintu dengan kunci yang aku pegang sendiri.


Aku masuk ke kantorku lalu membuka brankas. Aku keluarkan amplop berisi uang gaji karyawan yang kemarin sudah aku siapkan.


Satu persatu karyawan datang. Aku langsung meminta mereka untuk ke kantorku.


"Ini gaji kamu bulan ini! Semoga betah bekerja di sini, ya! Terimakasih." ucapku seraya menyerahkan satu amplop pada satu karyawan.


Giliran mbak Melly yang masuk ke ruanganku.


"Ini gaji mbak Melly bulan ini. Semoga betah bekerja di sini, ya! Terimakasih" ucapku.


"Hhmm, maaf pak. Saya dengar mbak Santi masuk rumah sakit. Sakit apa ya, pak?" tanya mbak Melly.


Dia terlihat kaget, "Hhmm, maaf bukannya kandungan mbak Santi baru berusia tujuh bulan?" tanyanya heran.


"Bayinya lahir prematur, mbak."


Dia terlihat makin kaget.


"Tapi mbak Santi dan bayinya baik-baik saja kan, pak?"


"Mohon doanya untuk istri dan anak saya ya, mbak."


"Iya, pak. semoga istri dan bayi baik-baik saja dan segera bisa pulang dari rumah sakit!" ucap mbak Melly.


Mbak Melly segera keluar dari ruangan ku. Setelah semua karyawan sift satu mendapatkan gaji mereka. Aku lalu keluar dari kantor. Aku mau mengontrol sebentar minimarket dari lantai atas sampai lantai bawah.


Setelah selesai mengontrol sebentar minimarket, aku lalu kembali lagi ke rumah sakit. Aku akan datang ke minimarket lagi saat sift dua saja untuk memberikan gaji karyawan.


Sampai di Rumah Sakit, gegas aku menuju ruang NICU. Ternyata ibu baru saja keluar keluar dari sana.


"Bagaimana keadaan bayi kembarku, bu?" tanyaku.

__ADS_1


"Mereka masih seperti kemarin, nak!" jawab ibuku lesu.


Hhh, aku menarik nafas pelan lalu menghembuskannya perlahan untuk menenangkan perasaanku. Hatiku masih merasa benar-benar kacau.


Aku mengintip saja mereka dari luar melalui jendela kaca. Entah sampai kapan mereka akan berada di dalam kaca berbentuk kotak itu. Melihat tubuh mereka yang aku sendiri tidak akan berani untuk menggendongnya.


Setelah puas memandangi kedua buah hatiku itu, aku lalu melangkahkan kakiku ke ruang ICU. Apa kabarnya Santiku? Semoga aku akan di berikan kabar yang baik.


***


Satu minggu, kondisi istri dan kedua buah hatiku masih belum ada kemajuan. Aku ingin menemui dokter untuk menanyakan tentang kondisi mereka. Makin hari aku makin merasa cemas saja dan hidupku rasanya tidak tenang selalu terpikir mereka.


Aku menunggu saatnya dokter visit agar aku bisa menanyakan langsung.


Tak lama kemudian seorang dokter datang memeriksa kondisi istriku.


"Bagaimana istri saya, dok?" tanyaku.


"Hhmm, istri bapak masih sama seperti kemarin. Kita terus berusaha memberikan pengobatan terbaik, pak. Karena penyakitnya yang terus di biarkan selama masa kehamilan jadi penyakitnya makin parah di tambah kondisi tubuh yang lemah di masa kehamilan bayi kembar. Bapak berdoa saja, ya!" jelas dokter yang justru membuat aku makin terpuruk.


Aku diam terpaku memandangi tubuh itu. Dia memang seperti orang yang sedang tidur. Tapi tubuhnya terlihat lebih berisi. Saat aku sentuh pun rasanya lebih padat. Ahh iya, mungkin karena cairan infus yang entah sudah berapa botol masuk ke dalam tubuhnya.


Aku ingat bayi kembarku. Saat ini pasti dokter anak akan visit juga ke ruang NICU. Gegas aku menuju ke sana.


Dan benar saja. Dokter baru saja keluar dari ruang NICU. Seorang dokter wanita yang masih muda. Semoga beliau mau meluangkan sedikit waktunya untukku bertanya.


"Dokter!" panggilku.


Dokterpun menoleh, "Iya, pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.


"Saya ayah dari bayi kembar yang ada di ruang NICU, dok!" jelasku.


"Oh, bapak orangtua dari bayi kembar di dalam? Tadi saya sudah bicara sama neneknya."


"Iya, dok. Bagaimana perkembangan bayi kembar saya, dok?"


"Karena baru satu hari, jadi perkembangannya belum benar-benar terlihat. Semoga dalam beberapa hari ke depan akan ada perkembangan ya, pak. Bapak sabar dan terus berdoa untuk mereka."


"Baiklah, dok. Terimakasih," ucapku pelan.


.


.


.


.

__ADS_1


.


06


__ADS_2