
Mereka sedang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Dengan buku dan ballpoint di tangan tanpa menoleh sedikitpun saat aku membuka pintu.
Ahh, anak-anakku. Semoga masa depan kalian cerah tidak seperti ayahmu ini. Ayah akan berusaha membuat kalian jadi orang yang sukses.
"Assalammu'alaikum,"
Mereka hanya menoleh sesaat seraya membalas salam dariku. Lalu kembali sibuk sendiri.
"Wa'alaikumsalam, yah!"
"Kalian masih banyak tugas sekolah, ya?"
"Mas masih ada beberapa soal lagi, yah!" sahut Andre.
"Aku sedang menggambar, yah. Tugas ku sudah selesai!" sahut Alya.
"Nggak butuh bantuan ayah, kan?"
"Gampang kok, yah!" sahut mereka hampir berbarengan.
"Kompak anak-anak ayah, nih!"
"Hhmmm. . ."
"Sudah sholat isya, belum?"
"Sudah, yah!
"Anak soleh dan solehah. Ayah tinggal ke kamar, ya!"
"Iya, yah!"
Aku tutup pintu kamar mereka lalu berjalan menuju kamarku. Tidak terdengar suara apapun dari dalam kamar. Apa istri dan bayi kembarku sudah tidur ya?
Ceklek. Perlahan aku buka pintu kamar. Dan benar saja, mereka sudah tertidur. Kedua bayi kembarku tidur di sebelah bundanya.
Aku langsung ke kamar mandi, mencuci muka lalu mengambil wudhu. Setelah itu aku sholat isya.
Setelah sholat, aku lalu ikut tidur di sebelah istriku. Memeluknya dari belakang. Aroma tubuhnya langsung tercium. Dan aku sengaja menghirupnya dalam-dalam. Aroma khas tanpa parfum.
Dia menggeliat lantas menoleh ke arahku, "Mas?" tanyanya kaget.
"Hhmm, tidurlah lagi!" titahku tanpa melepaskan pelukanku.
Dia membalik badannya hingga menghadap ke arahku. Tapi matanya terpejam.
"Yank?" aku mengusap wajahnya.
"Ooeee!" tiba-tiba bayi Annisa terbangun dan langsung menangis.
Aku gegas menggendong dan menimangnya.
"Sssshhh, bobok ya nak!" aku terus menimang-nimangnya.
Lima menit kemudian bayi Annisa sudah tertidur kembali. Aku lalu membaringkannya di box. Menutupinya dengan kelambu agar tidak ada satupun nyamuk yang datang mengganggu.
Aku lalu kembali ke tempat tidur untuk memindahkan bayi Alina ke box bayi.
"Mas? Kenapa mereka di pindahkan ke dalam box?" tanya istriku heran.
"Nggak apa-apa, yank. Biar aman dan nggak di gigit nyamuk!" jelasku setelah Alina tidur nyaman di dalam box bayi.
Aku kembali ke tempat tidur lantas berbaring di sebelah istriku.
"Memangnya di kamar ada nyamuk, mas?"
"Ya mungkin saja."
"Hhmm,"
Aku lalu memeluk dan menciumnya dari belakang, "Mas kangen, " bisikku lembut di telinganya.
"Hhmm?" sahut istriku.
Aku kembali mencium pucuk kepalanya, lalu membalik tubuhnya supaya menghadap ke arahku.
__ADS_1
Aku menyentuh wajahnya dengan jariku. Matanya, hidungnya, pipinya dan . . . bibirnya.
Mata kami saling bertatapan mesra, hingga aku bisa merasakan debaran jantung kami yang saling berlomba. Aku sangat menyukai momen manis seperti ini.
"Kamu kangen nggak sama mas, hmm?"
Dia tersenyum malu seraya mengusap lembut wajahku. Jantungku makin berdebar tidak beraturan dan aku juga bisa merasakan debaran di jantungnya yang tak kalah cepat. Aku lalu mendekatkan bibir kami berdua, mengecupnya lembut. Aku lalu melepaskannya perlahan tapi bibirnya masih membuka seolah meminta lagi.
Kembali aku mengecupnya dan dia pun membalas. Saling berbalas lembut hingga menimbulkan hasrat. Aah, istriku.
Aku sudah tidak bisa lagi menahan hasratku yang berbulan-bulan lamanya aku tahan. Tanpa meminta, aku pun mulai menyalurkan hasrat terpendamku. Istriku pun berusaha semanis mungkin memenuhi hasratku yang makin tak tertahan. Kami pun saling bertukar peluh.
Setengah jam berlalu terasa sangat cepat. Aku belum lagi merasa lelah. Baru saja istriku hendak memejamkan matanya. . .
"Yank, apa kamu sudah mau tidur?"
Istriku kembali membuka matanya. Dia tersenyum. Aku tahu dia pasti mengerti maksud dari pertanyaanku. Tiba-tiba dia mengangkat kepalanya lalu mengecup bibirku lembut. Aku membalasnya dengan cepat. Istriku, aku menginginkanmu lagi.
Tapi belum lagi aku selesai, salah satu bayi kembarku menangis. Bayi Alina.
"Mas?" istriku menatapku dengan bingung sementara aku terus bekerja sampai aku selesai menuntaskan hasratku.
Buru-buru istriku mengenakan lagi pakaiannya lalu menghampiri bayi kami yang menangis. Istriku menggendong bayi kami lalu menimang-nimangnya penuh kasih sayang.
Hhh, aku sekarang akan merasakan lagi bagaimana rasanya saat belum sempat menuntaskan hasrat tapi bayi menangis. Aku hanya tersenyum dalam hati. Aku lalu pergi ke kamar mandi.
Hanya beberapa menit saja, bayi kami sudah tidak menangis lagi dan sudah kembali tidur. Setelah membaringkan lagi bayinya, istriku pergi ke kamar mandi lalu kembali lagi ke tempat tidur, berbaring di sebelahku.
Aku tersenyum lalu memeluknya erat.
"Kok cepet dia tidur lagi, yank?"
"Iya, mas. Mungkin dia kaget."
"Kaget denger suara bundanya yang seksi!" godaku.
"Iiihh, tidur lagi ah!" ucapnya dengan wajah memerah.
"Terimakasih, yank! Sudah membuat mas bahagia!"
"Tidur lagi, yuk!" ajakku lalu mengeratkan lagi pelukanku.
Nyamannya tidur dengan memeluk istri tercinta. Istri yang manis yang setia dan hangat. Dengan cepat mimpi ku raih.
Rasanya belum lama aku terbawa mimpi, aku mendengar lagi tangisan bayiku. Mungkin dia lapar. Aku gegas bangun, begitupun istriku.
"Kok Alina bangun lagi ya, mas?"
"Mungkin dia lapar, yank. Mas bikinkan susu untuk mereka dulu."
Aku lalu mengambil botol susu yang sudah di siapkan oleh ibuku. Mengisinya dengan air hangat lalu memasukkan beberapa sendok susu ke dalamnya.
Sebotol susu hanggat sudah siap. Aku lalu memberikan pada bayiku. Tak lama setelah bayi Alina berhenti menangis karena sedang sibuk dengan botol susunya. Saudaranya pun menangis.
Aahh, pasti Anissa.juga lapar. Aku buru-buru menyiapkan susu untuk Annisa lalu menggendongnya sambil memberikannya susu.
Setelah kedua bayi kembar kami selesai meminum susunya, mereka kembali tidur.
Aku dan istriku kembali melanjutkan tidur kami yang tertunda.
***
Fokusnya istriku memperhatikan bayi Annisa yang sedang di mandikan oleh ibu. Ibu sambil menjawab semua pertanyaan dari menantunya yang memang baru kali ini melihat langsung bayi yang sedang di mandikan.
"Hati-hati tubuhnya licin penuh dengan sabun, karena dia yang aktif bergerak. Tapi jangan terlalu kuat memegangnya karena dia bisa kesakitan."
"Iya, bu."
"Mau belajar memandikan Alina?" tanya ibu.
Istriku membulatkan matanya, "Hhmm, be-belum, bu. Besok-besok saja!" jawab istriku sambil menggaruk-garuk kepalanya. Dia tersenyum malu menatapku yang sedang memperhatikannya dari jauh.
"Iya, nggak apa-apa. Sering-sering lihat ibu, kalau sudah benar-benar paham, bisa kamu coba. Tapi nanti tetap ibu bantu, kok!" ucap ibu.
"Iya, bu. Hhmm, mungkin besok!" sahut istriku.
__ADS_1
"Iya. Nah sudah selesai Annisa mandi."
Ibu lalu membawa Annisa ke atas tempat tidur. Memakaikannya pakaian setelah memberikannya minyak telon.
"Sekarang gantian Alina yang mandi. Kamu perhatikan lagi, ya. Supaya makin paham!"
"Iya, bu."
"Wah, adik Alina sedang mandi, ya?" seru Alya yang baru saja masuk ke dalam kamar."
"Mbak Alya sudah mandi, belum?" tanya ibuku.
"Sudah donk, nek. Sudah pakai pakaian sekolah juga!" jawab Alya.
Setelah sesi memandikan bayi kembar kami selesai, kami lalu turun ke bawah untuk sarapan. Kedua bayi kami ikut turun bersama.
"Sarapan di bawah kan, yank?" tanyaku.
"Iya, mas. Bosan juga seharian di dalam kamar. Hmm, Alina dan Annisa kita tidurkan di mana,mas?"
"Di depan tv saja, yank. Ada kasur busa buat mereka bermain."
"Kenapa nggak pakai ayunan saja, mas? Ada kan di minimarket?"
"Supaya mereka bebas bergerak, yank. Kalau di ayunan kan gerak mereka terbatas!"
"Hhmm, iya juga sih."
"Kalian sarapan saja duluan, biar ibu yang jaga si kembar!" titah ibu.
"Nggak apa-apa nih, bu?" tanyaku.
"Iya, nak. Biar ibu dan bu Mina yang jagain sekarang. Kalian biar sarapan dulu saja."
"Hhmm, baiklah bu."
Kami sarapan berempat saja.
"Aku seneng banget deh bisa sarapan bareng lagi sama bunda!" ucap Alya.
Aku dan istriku tersenyum, "Iya, nak. Akhirnya keluarga kita bisa berkumpul bersama lagi ya. Ayo sarapan yang banyak!"
Setelah selesai sarapan, kami bergantian menjaga si kembar di ruang keluarga.
"Oh iya, mas. Alina dan Annisa sudah di aqiqah belum?" tanya istriku.
"Hhmm, belum yank. Maaf ya. Mas pikir aqiqah mereka tunggu kamu sadar dan pulang ke rumah saja. Rasanya kurang lengkap tanpa kehadiran kamu sebagai bunda mereka."
"Oh, iya nggak apa-apa, mas. Terimakasih ya, mas. Kehadiranku sangat berarti buat mas!"
"Tentu saja kamu sangat berarti, yank!"
"Jadi kapan mereka akan di aqiqah, mas?"
"Kita tanya ibu dulu, ya. Mungkin ibu akan mengambil hari jumat, yank."
"Iya, nggak apa-apa, mas."
"Ayah, yuk anter ke sekolah sekarang!" rengek Alya.
"Oh, iya. Ayo!" sahutku.
"Hati-hati di jalan ya, mas!"
"Iya, yank. Mas antar anak-anak ke sekolah dlu ya. Mas juga mau langsung ke minimarket. Mungkin pulang sambil jemput Alya. Kamu baik-baik di rumah, ya. Jangan malu minta bantuan sama ibu!"
Setelah berpamitan juga sama ibu, aku gegas mengantar kedua anakku ke sekolah.
.
.
.
.
__ADS_1
Maaf jika masih ada typo.Terimakasih sudah membaca 🙏