
"Mas Andre mau kuliah lagi?" tanyaku kaget.
"Iya, yah. Aku mau ambil spesialis. Tapi aku akan kuliah dengan biaya sendiri karena aku sudah bekerja di rumah sakit mulai besok."
"Wah, mas Andre mau ambil spesialis apa?" tanya Alya penasaran.
"Spesialis penyakit dalam."
"Wah, keren mas! Kalau aku nanti mau ambil spesialis kandungan!" sahut Annisa.
"Kuliah saja belum, sudah mau ambil spesialis," celetuk Alina.
"Ya kan nanti! Iihh, dasar!" Annisa melirik saudara kembarnya sebal.
"Aamiin. Semoga anak-anak bunda tercapai cita-citanya!" ucap istriku.
"Aku nanti bakal jarang di rumah, bun, yah. Pagi sampai sore di rumah sakit. Malamnya aku kuliah."
"Hhh, apapun itu asal kamu suka, ayah nggak akan larang, nak!"
"Terimakasih, yah."
"Asal jangan jauh-jauh dari keluarga! Bunda nggak mau jauh dari anak-anak bunda! Kalian tahu, bunda sudah semakin tua," ucap istriku lirih.
"Siapa yang bilang kalau bunda sudah tua? Bunda masih muda, kok!" ucap Andre.
"Iya, bundaku belum tua, kok!"
"Usia lima puluh lima tahun masa masih muda?"
Aku langsung memeluk istriku itu, "Nggak ada yang bilang kamu tua, sayang!"
"Duuhh, ayah romantis banget sih sama bunda. Nanti kalau aku punya suami, mau yang seperti ayah!" celetuk Alina.
"Iiihh, masih sekolah sudah mikir punya suami? Ya sudah, Alina suruh cepat nikah saja, yah!" ledek Annisa seraya menjulurkan lidahnya.
"Annisa! Kamu tuh suruh cepat nikah!"
"Iiihh, kamu tuh!"
"Sudah. Ayah nggak suka anak-anak ayah bertengkar!" tegasku.
"Annisa yang mulai duluan, yah!"
Aku melirik putriku itu, "Annisa?"
"Hhh, iya deh. Alina, maaf. Lagian cuma canda, kok. Serius banget!" ucap Annisa sebal.
"Huuhh!"
"Sudah ah, mas mau keluar dulu!" pamit Andre.
"Mau kemana, mas? Ikut donk!" pinta Alina.
"Iihh, ngapain ikut-ikut segala?" protes Annisa.
"Biarinlah! Weee!" Alina menjulurkan lidahnya.
Hhh, mereka selalu saja bertengkar. Aku lalu mengajak istriku ke kamar.
"Kita ke kamar saja yuk, yank. Ingin istirahat, capek banget! Anak-anak, jangan bertengkar!" ucapku sembari menggandeng istriku masuk ke kamar.
Istriku langsung masuk ke kamar mandi sedangkan aku berbaring di atas tempat tidur sambil mengingat-ingat perjalanan hidupku.
"Tidak terasa anak-anak sudah besar-besar. Andre bahkan sudah bekerja. Sepertinya tidak lama lagi aku akan bertemu pak penghulu, deh!" ucapku setengah bergumam.
"Jadi mas mau nikah lagi?" tanya istriku sambil berteriak di depan pintu kamar mandi.
"Sayang. Kamu bikin kaget saja. Kenapa teriak-teriak?" aku reflek menoleh ke arahnya.
"Mas mau nikah lagi, kan! Aku tadi denger kok, mas bilang apa. Mentang-mentang aku sudah tua, sudah ga bs bikin mas seneng lagi, sudah ga bisa bikin mas. . ."
"Eehh, ngomong apaan, sih?" aku gegas mendekatinya lalu memegang bahunya supaya menghadap ke arahku. Matanya berkaca-kaca.
"Sudahlah, mas. Nggak usah pura-pura. Pendengaranku masih normal walau sudah tua!" dengusnya seraya memalingkan wajah.
Aku pegang dagunya supaya melihat ke arahku.
"Apa tadi mas bilang kalau mas yang mau menikah, hmm? Kan tadi mas bilang tak lama lagi akan bertemu pak penghulu. Itu karena anak-anak kita sudah besar dan mungkin tak lama lagi akan bertemu dengan jodoh mereka. Bukan berarti mas yang mau nikah lagi, yank!" jelasku panjang lebar.
"Hhh,"
"Hidup mas sudah lengkap. Sudah bahagia. Buat apa mencari yang lain?"
__ADS_1
"Hhh, aku sudah tua. Sudah banyak keriputnya sedangkan mas masih terlihat muda," ucapnya lirih.
"Siapa yang bilang, hmm? Mas sama kamu sama saja!"
"Sama dari mana? Jelas-jelas mas masih terlihat muda. Mungkin kalau usia kita nggak terlalu jauh, aku nggak akan merasa seperti ini."
"Yank, nggak ada yang tau perbandingan usia kita, kan. Mas dari dulu nggak pernah menganggap itu masalah sampai sekarang pun!"
"Hhh, aku hanya takut. Takut mas nggak lagi menginginkan aku seperti dulu,"
Aku mengusap wajahku pelan. Hhh, aku baru ingat. Kami memang mulai jarang melakukannya. Tapi bukan karena aku sudah tidak menginginkannya lagi. Tapi karena aku takut dia kelelahan.
"Mas selalu menginginkan kamu, yank! Sampai saat ini pun!" ucapku seraya mengusap lembut wajahnya.
"Mas nggak cuma menghibur aku, kan?"
Aku tersenyum. Mungkinkah istriku sedang menginginkannya tapi malu untuk meminta langsung. Hhh, bahkan dari dulu aku berharap dia yang meminta duluan tapi dia tidak pernah melakukannya.
"Yank, mas tuh dari dulu berharap banget sesekali kamu yang meminta duluan. Mas ingin kamu melakukannya bukan karena memenuhi kewajiban kamu saja tapi mas ingin kamu meminta hakmu tanpa harus mas yang meminta duluan!"
Dia lalu menatapku malu, "Hhh, aku-aku malu, mas. Masa minta duluan."
"Kenapa harus malu? Justru itu menambah pahala kamu!"
"Hhmm, i-iya tapi aku malu, mas. Sudah tua juga masih mau," jawabnya lirih.
Aku lalu memeluknya, "Nggak ada tua-tuaan! Mulai sekarang jangan malu lagi. Mas nggak suka!"
"Hhmm. . ."
"Jadi?"
"Jadi apa?"
"Mau minta nggak?"
"Iihh, mas."
Hhh, aku menarik nafas pelan, "Mulai sekarang, kalau kamu nggak minta, mas juga nggak akan minta!"
Dia melepaskan pelukanku, "Kok gitu?" protesnya.
"Biar saja. Pulang dari minimarket, mas langsung tidur!"
"Nggak ada yang minta mending tidur, kan?"
"Ya masa aku terus yang minta duluan?"
"Iya. Karena dulu mas yang selalu meminta duluan, jadi sekarang gantian!"
"Iiiihh!"
"Ya sudah kalau nggak mau! Mas mau ke minimarket lagi saja!" ucapku bohong. Ahh, istriku, gengsimu terlalu tinggi.
"Mas!"
"Hhmm? Mas jalan dulu!"
"I-iya, mas!"
"Iya, apa?"
"Aku-aku mau!"
"Hmm, mau apa?"
Wajahnya seketika memerah, "Mas,"
"Hhmm?"
"Mas iihh!" ucapnya sebal sembari berlalu dari hadapanku. Dia lalu berdiri menatap ke luar jendela.
Hhh, ngambek deh. Aku lalu mendekatinya. Merangkul pinggangnya dari belakang.
"Yuk!"
Dia menoleh sekilas lalu kembali menatap keluar jendela.
"Yank, katanya mau?"
"Hhh, tahu ahh!" dia masih terlihat kesal.
"Jangan ngambek donk! Mas cuma becanda," bujukku lalu mencium pipinya dari samping.
__ADS_1
"Nggak mau lagi!"
"Hhaahh? Nggak mau lagi?" tanyaku kaget.
"Iya!"
Aku langsung membalik badannya supaya menghadap ke arahku.
"Masa nggak mau lagi, yank?" tanyaku frustasi.
Bagaimana mungkin istriku tidak mau lagi melakukannya. Bagaimana nasibku. Aku belumlah tua. Aku masih menginginkannya. Sedangkan laki-laki yang sudah tua saja masih mau apalagi aku.
"Iya, nggak mau lagi!" tegasnya lalu memalingkan wajahnya.
"Yank, jangan tega sama mas, donk! Eh, dosa loh nolak suami!"
"Siapa juga yang nolak suami?" tanyanya tanpa mau menoleh ke arahku.
"Lah, tadi kamu bilang nggak mau lagi, kan?"
Hhh, dia menarik nafas pelan, "Nggak mau minta duluan! Baru sekali saja sudah di tolak!" jawabnya ketus.
Ya Allah, aku pikir istriku sudah tidak mau lagi melayaniku.
"Yank, kamu bikin mas frustasi saja. Maafin mas, ya. Mas tadi hanya becanda. Bukan nolak kamu!"
"Hhh, yang pasti aku nggak mau minta duluan!" dia tetap ngambek.
"Sesekali, ya?" bujukku.
"Nggak mau!"
"Yank?"
"Nggak mau, mas. Malu aku di tolak!" dengusnya.
"Itu bukan di tolak, yank? Mas kan tanya mau apa."
"Tahu ah. Pokoknya nggak mau lagi!"
"Hhh, iya deh. Jadi mesti tunggu mas yang minta, nih?"
"Huumm!"
"Kalau kamu mau duluan, gimana? Nggak mau minta?"
"Nggak!"
"Diam saja?"
"Humm!"
"Hhh, yank!"
"Biarin!"
"Hhh, iya deh. Jadi sekarang gimana?"
"Nggak gimana-gimana!" jawabnya acuh.
Aku langsung memeluknya. Memberikan ciuman kecil di bibirnya.
"Hmm, mas!" gumamnya.
Aku lalu menggendongnya kemudian membaringkannya di atas tempat tidur empuk kami. Aku sudah sangat menginginkannya. Bagiku, istriku belumlah setua usianya. Dia tetap terlihat awet muda tentu saja karena dia rajin merawat diri. Hanya saja tenaganya sudah tidak seperti dulu lagi. Tapi itu tidak jadi masalah bagiku. Aku yang akan bekerja. Aku yang akan membuatnya melayang menggapai surga dunia. Aku tetap ingin membuat istriku merasa muda. Merasa di cintai dan di inginkan.
Istriku, kamu tetaplah bidadariku!
.
.
.
.
.
.
.
21
__ADS_1