
Sebelum papanya bangun, Darren buru-buru bangun lalu mandi. Setelah semua alat sekolahnya masuk ke dalam tas, Darren hendak berpamian sama mamannya.
"Ma, aku berangkat ke sekolah dulu, ya!" pamit Darren
"Sekarang baru pukul lima lebih, nak. Mama sebentar lagi selesai masak."
"Aku nggak mau mendengar ocehan papa lagi, ma!"
"Hhh, mama gorengin kamu telur sebentar ya, kamu makan di sekolah saja!"
"Iya, ma. Jangan lama-lama!"
"
Iya, sayang!"
Lisa kemudian membungkuskan nasi beserta lauknya untuk dibawa Darren ke sekolah.
"Hati-hati di jalan ya, nak!" ucap Lisa setelah Darren mencium punggung tangannya takjim.
Darren gegas mengayuh sepedanya menuju ke sekolah. Saat sampai di sekolahnya, masih sedikit siswa yang sudah datang. Mungkin karena dia datang terlalu pagi. Setelah memarkirkan sepedanya, Darren melangkahkan kakinya menuju kelas.
Kadang dia merasa minder di sekolah. Kebanyakan teman-temannya sudah memakai sepeda motor, hanya ada dua tiga siswa saja yang menggunakan sepeda sepertinya
Belum lagi ejekan dan hinaan yang sering di lontarkan oleh Ryan dan teman-temannya. Dan tentu saja beberapa siswi yang pernah dia coba dekati. Sejak saat itu Darren sudah tidak berani lagi mendekati gadis di sekolahnya.
Harta memang tidak di bawa mati tapi karena harta, terkadang membuat manusia di sanjung dan di rendahkan. Darren tahu benar itu. Bukan hanya di sekolah saja dia selalu di rendahkan, di lingkungan rumahnya pun tak jauh beda. Bahkan saat dia kecil, sering mendapatkan perlakuan buruk dari teman-temannya. Menjadikannya pribadi yang tertutup. Takut untuk bergaul.
Hanya makan dengan lauk telur goreng, tempe dan sambal saja sudah membuat Darren merasa berselera makan. Karena untuk sekadar lauk telur saja, Lisa jarang sekali memberikannya. Hampir setiap hari kalau tidak telur, tempe, ikan asin. Tapi tetap Darren akan makan dengan lahab. Apalagi jika di tambah sayur.
"Alhamdulillah, kenyang. Jadi istirahat nanti aku tidak perlu jajan lagi," gumamnya.
Setelah selesai makan, seperti biasa Darren akan duduk di depan kelas bersama teman-temannya mengamati siswa dan siswi yang kebetulan lewat depan kelasnya.
Si Annisa baru datang. Sepertinya dia dan saudaranya tidak memiliki pacar. Mungkin mereka tidak mau pacaran. Gadis cantik dan kaya seperti mereka tidak mungkin tidak ada teman yang mau. Tapi baguslah. Batin Darren. Tanpa dia sadari, dia tersenyum-senyum sendiri.
Waktunya pulang sekolah. Dengan bersemangat, Darren menuju ke parkiran. Saat dia melintasi taman yang ada tak jauh dari gerbang sekolah, dia bertemu si kembar Alina dan Annisa.
"Kak Darren!" panggil Annisa.
Darren menoleh. Annisa. Jantung Darren terasa berdebar-debar. Baru Annisa, gadis yang ramah dengannya selain teman satu kelasnya.
Hampiri nggak, ya. Batin Darren. Aahh aku hampiri saja, toh dia yang panggil aku. Jadi aku tidak perlu mencari alasan untuk mendekatinya.
Hanya beberapa langkah saja, Darren sudah berdiri tak jauh dari Annisa berdiri.
"Kak Darren mau ke minimarket, ya?" tanya Annisa ramah.
Darren mengangguk, "Iya, Nis!" jawab Darren.
Annisa senyum-senyum, sesekali menunduk. Darren pun sama. Mungkin mereka bingung mencari bahan obrolan. Atau mungkin karena gugup. Mereka kadang saling menangkap basah sedang mencuri pandang satu sama lain.
__ADS_1
"Hayoo, pandang-pandang terus. Masih ada aku loh di sini!" celetuk Alina membuat mereka berdua jadi salah tingkah.
"Apaan sih, Lin?" ucap Annisa sebal.
"Hhmm, ya sudah pandang-pandangan saja terus, aku mau pulang. Tuh ayah sudah jemput. Bye!" Setelah mengatakan itu, Alina berlarian meninggalkan Annisa yang masih di landa malu.
"Eehh, Lin. Kok main pergi saja. Tunggu!" teriak Annisa lantas hendak berlari menyusul.
Tapi karena masih gugup dan bingung di tinggalkan sodaranya, Annisa sampai tersandung saat buru-buru melangkah. Untung dengan sigap, Darren menahan tangannya hingga gadis itu tidak sampai terjatuh. Pandangan mereka terkunci sesaat.
"Hhmm, hati-hati!" ucap Darren pelan.
"I-iya, kak!" sahut Annisa lantas berlalu meninggalkan Darren yang menatap kepergiannya dengan jantung yang makin berdetak kencang.
"Kenapa sekarang jantungku selalu berdebar-debar setiap kali di dekatnya. Padahal sebelum kejadian study tour itu biasa saja!" gumam Darren.
Setelah mobil Annisa tidak terlihat lagi, Darren kembali melajukan sepedanya.
"Semoga saja mama bisa membujuk papa untuk membiarkan aku bekerja."
Sementara itu, Annisa di goda habis-habisan oleh kembarannya.
"Sepertinya ayah bunda tak lama lagi akan dapat menantu dari Annisa!" ledek Alina.
Annisa menggeleng-gelengkan kepalanya, "Apaan sih, Lin! Jangan di dengerin, yah!" sanggahnya.
"Ayah lihat juga kok kalian tadi. Iya kan, yah?"
"Tapi kalau beneran suka nggak apa-apa kan, yah? Hihihii!" Alina terus saja menggoda kembarannya.
"Itu nggak bener, yah! Alina iiihh, nyebelin!" Annisa menonjok bahu kembarannya gemas.
"Aawwwss! Sakit! Huuu!" Alina pura-pura kesakitan.
"Iiihhh!" Annisa menatap sebal kembarannya.
"Lain kali hati-hati kalau jalan. Alina, kamu jangan lagi tinggalin saudara kamu sendirian! Kalian ingat kan apa pesan ayah dan bunda?"
"Tapi aku tadi sudah seperti obat nyamuk, yah. Nunggu ayah lama, eh di sebelah ada yang saling pandang-pandangan."
"Siapa yang saling pandang-pandangan sih, Lin?"
"Ayah setuju nggak kalau Annisa sama kak Darren?"
"Alin, iiihh!" wajah Alina makin merah.
"Sekolah dulu yang benar sampai seperti mas Andre sudah jelas mau jadi apa!"
"Tuh, weee! Alina saja tuh yang cariin ayah menantu yang baru!"
"Iihh, aku nanti mau cari yang seperti ayah!"
__ADS_1
"Kenapa yang seperti ayah? Harus yang lebih dari ayah, donk!" sahut Anto.
"Ayah tuh yang terbaik. Bunda saja selalu memuji ayah!"
"Iya, donk. Seorang istri harus memuji suaminya begitupun seorang suami harus memuji istrinya. Saling menghargai. Terbuka dan yang paling utama harus saling menyayangi!"
"Waahh, semoga aku nanti bisa seperti bunda dan bisa mendapatkan suami yang seperti ayah! Rumah tanggaku bahagia seperti ayah dan bunda!" ucap Alina.
"Tuh, yah. Alina sudah ingin cepat-cepat berumah tangga. Bakal dapet menantu baru ayah sama bunda!"
"Iiihh, aku cari dulu!"
"Ya sudah cari sana. Kalau mau suami dokter, main ke tempat kerjanya mas Andre. Kalau mau yang seperti pacar kak Alya, ikut kak Alya kuliah, kalau. . ."
"Pacar kak Alya? Kak Alya punya pacar ya, dek?" tanya Anto.
"Uuppss, i-itu mas Kevin bukannya pacar kak Alya ya, yah?"
"Hhhmm, masa? Kok ayah nggak tahu?"
"Kak Alya bukannya nggak mau pacaran, Nis?" tanya Alina.
"Eehh, mu-mungkin, yah. Hehehee!" Annisa menutup mulutnya.
"Sudah-sudah! Anak-anak ayah nggak boleh pacaran dulu apalagi kalau belum lulus kuliah dan kerja!"
"Iya, yah!" sahut si kembar.
Anto pun melajukan mobilnya ke arah rumah mereka untuk mengantar putri kembarnya pulang.
.
.
.
.
.
Maaf masih banyak typo 😊🙏
.
.
.
.
13
__ADS_1