
"Keluarga pasien ibu Santi!" panggil suster.
Kami sekeluarga reflek menoleh. Aku langsung bangkit dari duduk dan gegas menghampiri suster yang berdiri di depan ruang OK.
"Saya, sus!" sahutku.
"Operasi sudah selesai. Kedua bayi kembar bapak sekarang ada di ruang NICU karena mereka lahir prematur dan berat badan mereka masih belum cukup!" jelas suster.
Aku mengusap wajahku, "Alhamdulillah, bagaimana dengan istri saya, sus?" tanyaku penasaran.
"Istri bapak baru saja di pindahkan ke ruang ICU. Nanti ada dokter yang akan menjelaskan semuanya sama bapak. Permisi!" jelas suster yang membuat aku mematung di tempatku berdiri.
Kenapa Santi sampai di pindahkan di ruang ICU? Apa dia masih belum sadar juga?
"Nak, bagaimana istri dan bayi kembar kalian?" tanya ibu ingin tahu.
"Santi di rawat di ruang ICU sekarang, bu. Dan bayi kembar kami di rawat di ruang NICU," jawabku lesu.
"Ayo kita lihat mereka, nak!" ajak ibuku.
"Ibu sama anak-anak saja duluan. Aku sedang menunggu dokter, bu."
"Menunggu dokter? Ada apa?" tanya ibu heran.
"Tadi suster bilang kalau ada dokter nanti yang akan menjelaskan kondisi Santi dan bayi kami."
"Oh, ya sudah. Ibu ke sana duluan sama anak-anak, ya!" pamit ibu.
Tak lama kemudian seorang dokter keluar dari ruang OK.
"Keluarga pasien ibu Santi?" tanya dokter.
"Iya. Saya suaminya, dok!" sahutku.
"Oh bapak suaminya ibu Santi? Mari ikut ke ruangan saya. Tadi suster sudah bilang kan pasien dan bayinya di pindahkan kemana?"
Aku mengangguk, "Iya, dok."
"Baiklah. Sekarang ayo bapak ikut saya!"
Aku lalu mengikuti langkah kaki dokter menuju ke ruangannya.
Sampai di ruangan dokter, aku lalu di persilahkan untuk duduk.
"Begini. Dengan bapak siapa?" tanya dokter.
"Saya Anto, dok!" jawabku seraya mengulurkan tangan.
"Begini pak Anto. Tadi saya sudah bicara dengan dokter kandungan yang biasa ibu Santi datangi untuk periksa kehamilannya. Kondisi ibu Santi yang sudah memasuki usia rawan melahirkan di tambah ini juga kehamilan pertama bagi ibu dan juga karena bayinya kembar membuat kondisi ibu Santi lemah. Beruntung kondisi janinnya sehat saat masih di dalam kandungan. Tapi karena lahir prematur menyebabkan kedua bayi kembarnya lahir dengan berat badan yang kurang. Hanya 1600 gram saja. Hingga kedua bayinya harus di rawat di ruang NICU."
Aku mengangguk. Memang kehamilan istriku baru memasuki usia tujuh bulan.
"Mengenai istri bapak, kami tim dokter di sini baru tahu kalau istri bapak ternyata mengidap penyakit kanker otak stadium tiga. Apa selama masa kehamilan, ibu Santi tetap memeriksakan penyakitnya dan juga melakukan pengobatan atas penyakitnya itu?"
Aku terdiam sesaat. Rasa sesal itu kembali hadir. Aahhh, aku memang bukan suami yang baik untuknya.
__ADS_1
"Hhmm, istri saya tidak mau memeriksakan penyakitnya, dok. Dia hanya ingin fokus pada kehamilannya saja tanpa mau di pusingkan dengan penyakitnya. Saya sudah berulang kali mengajaknya ke dokter yang biasa menangani penyakitnya tapi dia tidak mau," jawabku lemah.
Hhh, dokter muda itu terlihat seperti sedang menarik nafasnya berat.
"Karena penyakitnya juga yang membuat kondisinya semakin lemah. Kami akan berusaha melakukan pengobatan pada kankernya. Saat ini ibu Santi masih dalam keadaan koma jadi semoga keluarga sabar dan selalu mendoakan kesembuhannya!"
"Ko-koma, dok?" tanyaku kaget dengan suara bergetar.
Santiku koma. Bagaimana ini. Rasanya semua kejadian hari ini seperti mimpi buruk saja.
"Iya, pak. Karena saat pasien datang memang sudah dalam keadaan 'koma'. Silahkan bapak menemui ibu dan kedua bayi kembarnya. Jika ada perkembangan, kami akan mengabari bapak!"
"Hhh, terimakasih, dok," ucapku pelan seraya mengulurkan tangan ke arah dokter.
Aku lalu meninggalkan ruangan dokter dan gegas menemui istri dan anakku.
Aku masuk ke ruang ICU setelah memakai pakaian khusus yang di sediakan di sebuah ruangan sebelum masuk ke ruang perawatan di ICU.
Wanita yang bulan depan sudah satu tahun mendampingi hidupku itu sedang terbaring lemah dengan banyak selang dan juga banyak alat bantu yang menempel di tubuhnya. Belum lagi suara asing yang keluar dari sebuah layar monitor di atas kepala istriku makin membuat hatiku terasa teriris.
Seluruh persendianku rasanya lemas dan tubuhku gemetar. Aku lalu duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang.
"Sayang, bayi kembar kita sudah lahir. Aahh, aku sampai lupa menanyakan jenis kelamin mereka. Aku juga belum menyiapkan nama untuk mereka. Maafkan suamimu ini, yank."
Karena obsesiku yang ingin membuat minimarketmu semakin maju, aku sampai tidak sempat memikirkan calon nama untuk mereka.
"Yank, akhirnya kamu menjadi seorang ibu. Ibu dari anak-anak yang lahir dari rahimmu sendiri. Kamu bahagia kan, yank? Tidakkah kamu ingin merawat mereka dengan tangan lembutmu itu? Dengan kasih tulusmu itu?"
"Sayang, mereka pasti akan sangat bahagia jika saat malam-malam mereka terbangun dan ada kamu yang dengan penuh kasih sayang merawat dan menjaga mereka. Memberikan mereka seteguk air kehidupan. Menciumi pipi merah mereka. Dan membuai mereka dalam dekapanmu saat mereka sedang merasa tidak nyaman."
Tak lupa aku membisikkan ayat-ayat Allah di telinga istriku. Sadarlah, yank! Anak-anak kita menunggumu!
***
Aku berdiri di depan pintu ruang NICU. Setelah memakai pakaian khusus aku lalu masuk ruang NICU nemui kedua buah hatiku.
Aku masuk ke ruangan saat aku melihat suster sedang memberikan sesuatu pada salah satu bayi kembar ku. Setelah selesai, suster lalu membereskan alat-alat yang baru saja dia pakai.
"Itu tadi apa ya, sus?" tanyaku.
"Oh, saya tadi baru saja memberikan susu untuk bayi bapak!" jawab suster.
"Kok memberikan susunya melalui hidung, sus?" tanyaku penasaran.
"Iya pak. Kami memberikan bayi bapak susu melalui selang NGT karena mereka kan belum bisa meminum susu sendiri!" jawab suster.
Aku hanya mengangguk saja, tidak mengerti apa arti istilah yang tadi suster sebutkan. Aku percayakan saja perawatan bayi kembarku pada pihak rumah sakit.
"Bayi kembar saya berjenis kelamin apa ya, sus? Saya sampai lupa menanyakannya tadi?" tanyaku lagi.
"Jenis kelamin bayi kembar bapak perempuan, pak!"
"Dua-duanya perempuan ya, sus?"
"Iya, pak!"
__ADS_1
"Alhamdulillah!" ucapku.
Aku lalu mendekati mereka,mengintip mereka dari balik kaca. Mereka terlihat sangat kecil sekali. Wajah mereka berdua sangat mirip dengan bundanya.
Aku akan memberikan mereka nama apa, ya. Aku sampai bingung mau memberikan nama apa untuk mereka. Mungkinkah bundanya sudah menyiapkan nama untuk mereka? Aku bahkan tidak pernah membicarakan nama kedua buah hati kami saat sedang bicara dengan istriku.
Aku lalu membisikkan ayat-ayat Allah di telinga bayi kembarku. Setelah puas menatap mereka, aku lalu keluar. Ibu dan kedua anakku masih menunggu di depan ruang NICU.
Bagaimana Anto, apa kamu sudah memberikan nama untuk kedua putri kamu?" tanya ibuku yang sudah lebih dulu melihat kedua cucu kembarnya.
Aku menarik nafas pelan lalu menggelengkan kepala.
"Belum, bu!" jawabku.
"Ayah, adik adikku kenapa kecil banget, ya?" tanya putriku heran.
"Iya, nak. Karena mereka lahir sebelum waktunya jadi mereka masih sangat kecil!" jelasku.
Putriku hanya mengangguk saja. Wajahnya masih terlihat sedih dan masih ada sisa-sisa air mata di wajahnya.
"Ibu sama anak-anak aku antar pulang dulu, ya?" tanyaku.
Alya langsung menggelengkan kepalanya, "Aku masih mau di sini saja, yah. Aku mau nungguin adik kembarku!"tolak putriku itu.
"Tapi sayang, kalian kan harus sekolah besok!"
"Kalau ayah di rumah sakit, lalu siapa yang akan mengantar kita ke sekolah?" tanya putriku.
"Ayah pulang sebentar untuk mengantar kalian ke sekolah. Ayah juga ada perlu di minimarket besok!" jawab ku.
"Apa tidak sebaiknya kita menunggu di sini saja, nak? Salah satu di ruang Santi dan satunya lagi menunggui putri kembar kalian disini?" usul ibuku.
"Tapi anak-anak tetap harus sekolah, bu!" tolakku.
"Oh ya. Gimana kalau kita minta tolong sama Aminah untuk bergantian berjaga di rumah sakit?" tanya ibuku.
"Jangan, bu. Tidak enak sama suaminya. Suaminya kan belum lama pulang. Aku akan bergantian berjaga, kadang di ICU dan kadang di sini. Aku juga akan memberikan nomor kontak kepada suster supaya bisa menghubungiku kapanpun."
"Baiklah kalau begitu kita pulang saja sekarang ya!"
"Iya, bu. Aku akan bicara dulu sama suster kalau aku akan pulang sebentar."
.
.
.
.
.
.
Maaf jika masih ada typo. 😊🙏
__ADS_1