Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 129


__ADS_3

Pov Author


Pagi-pagi, semua anggota keluarga baru saja selesai sarapan. Kini mereka sedang berbincang-bincang di ruang keluarga sambil bercanda.


"Nis, bilang sekarang saja sama ayah!" ucap Alina.


Semua orang menoleh ke arah Alina, " Bilang apa, dek?" tanya ayah mereka.


"Hhmm, tapi ayah janji jangan marah, ya?" pintanya memohon.


Dahi Anto berkerut. Tak biasanya putrinya itu bersikap seperti itu, "Hmm, mau bilang apa?"


Annisa menelan salivanya. Dia melirik sekilas ke arah kembarannya.


"Sewaktu kita study tour, ada seseorang yang sekap aku di sebuah ruangan, yah," ucap Annisa pelan.


"Apa??" sahut semua orang.


"Lalu bagaimana?" tanya nenek.


"Kamu nggak di apa-apain kan, dek?" tanya Andre khawatir.


Semua orang mendekat ke arahnya. Bundanya memeluk, ayahnya mengusap lembut rambutnya. Sedangkan yang lain memegang kedua tangannya.


"Alhamdulillah, aku nggak apa-apa, kok."


"Kenapa baru bilang sekarang?" tanya ayahnya.


"Aku-aku takut ayah marah!" jawabnya dengan kepala menunduk.


"Hhh, nggak akan ada yang marah sama kamu. Kita khawatir bukan marah, nak!"


"Maafin aku, yah!" ucap Annisa dengan mata berkaca-kaca.


"Apa yang terjadi setelah itu?"


Annisa lantas menceritakan kejadiannya seperti yang dia ceritakan pada guru dan teman-temannya. Dia tetap merahasiakan tentang kakak tingkatnya, Darren. Entah, dia tidak ingin kakak tingkatnya itu mendapat masalah. Karena bagaimanapun, dia sudah berkorban untuknya.


"Hhh, kan bunda sama ayah sering bilang kalau kalian hendak kemana-mana harus sama-sama!" ucap bundanya antara kesal dan sedih.


"Ma-maaf bunda," ucap Annisa menyesal.


"Hhhmm, bunda sudah tua. Bunda hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian!"


"Bunda belum tua, kok!"


"Hhmm, bunda ini sudah sepantasnya punya cucu. Seharusnya sudah menjadi seorang nenek."


"Nah, mas Andre saja tuh suruh nikah biar kasih bunda cucu, ya!" celetuk Alina.


"Hahaa, Bener-bener!" sahut Alya.


"Mas Andre kan semalam ajak pacarnya makan malam di sini, ya?" tanya Annisa.


"Hhmm, mas memang mau nikah!" ucap Andre.


"Serius, mas?" tanya Alya


"Beneran, mas?" tanya Annisa.


"Waahhh. . ." Alina bertepuk tangan.


Sementara ayah, bunda, serta neneknya menatap Andre dengan intens.


Andre mengangguk, "Nanti malam ayah sama bunda mau kan melamar dia untuk aku?"


"Yang semalam, mas?" tanya adik-adiknya kompak.


Andre menganguk.


"Apa orangtuanya sudah tahu?"


"Sudah, yah. Ayahnya yang minta kita kesana dalam dua hari ini karena lima hari lagi nikahnya," ucap Andre lirih.


"Lima hari lagi, mas?" adik-adiknya kompak kaget.


"Hhmm."


"Hhh, baiklah!" ucap Anto pasrah.


Sudah tidak bisa lagi melarang walau dia tahu pernikahan putranya untuk menggantikan pengantin pria yang tiba-tiba membatalkan pernikahan secara sepihak. Semoga jalan yang di tempuh putranya bukan jalan yang salah.


***


Andre sedang sibuk dengan pasiennya saat tak sengaja netranya menangkap sosok yang beberapa hari ini mulai mengisi hati dan pikirannya. Kanaya.


Setelah selesai menangani pasien, Andre mencuci tangannya terlebih dahulu lalu menghampiri wanita itu.


"Sudah lama datangnya?" tanya Andre.


"Hhmm, baru saja, dok,"

__ADS_1


"Saya sudah daftarkan kamu ke teman saya yang psikiater itu. Kamu tunggu saja di depan ruangannya, nanti di panggil."


"Ruangannya di mana?"


"Ayo, saya antar. Tapi saya nggak bisa nungguin, ya!"


"Hhmm, iya dok!" sahut Kanaya.


Mereka berjalan beriringan.


Semoga Kanaya hanya stres saja karena kecewa pernikahannya batal bukan karena penyakit. Batin Andre.


"Nah, di sini ruangannya! Kamu duduk dulu di sini sambil menunggu, ya. Biar saya beritahu dulu ke dalam!" ucap Andre lantas masuk ke ruangan yang ada di samping kursi tunggu.


Kanaya mengangguk lantas duduk. Matanya terus mengawasi Andre. Tak lama kemudian Andre keluar.


"Saya sudah bilang kalau kamu sudah datang. Nanti di panggil."


"Iya, dok."


"Saya tinggal, ya?"


"Hhmm, dok. . ."


"Kenapa?"


"Hhmm, nanti malam ke rumah, kan?" tanya Kanaya dengan wajah penuh harap.


Andre mengangguk, "Hhmm,"


Kanaya tersenyum semringah.


"Ya sudah, saya tinggal!" pamit Andre yang di berikan anggukan oleh Kanaya.


Andre lalu kembali ke IGD, bekerja seperti biasa.


Menjelang siang, Andre hendak istirahat makan siang. Setelah menyimpan alat medis dan juga pakaian kerjanya, Andre berpamitan pada rekannya.


Saat Andre sudah keluar, tiba-tiba Kanaya sudah berdiri di hadapannya.


"Kamu?"


"Dok. . ."


"Sudah konsultasinya?"


"Hhmm, sudah selesai satu jam lalu."


"Aku-aku nunggu dokter," jawab Kanaya lirih.


"Hhh, kenapa nunggu saya? Saya kan kerja, masih lama pulangnya."


"Hhmm. . ." Kanaya menundukkan kepalanya.


"Sudah makan siang?"


Kanaya menggelengkan kepala.


"Ya sudah, ayo makan siang dulu!"


"Dokter ajak aku makan siang?"


"Nggak mau?"


"Hhmm, mau!" ucap Kanaya dengan senyum malu.


"Ya sudah, ayo!" ajak Andre.


Mereka beriringan keluar dari rumah sakit. Kanaya mengikuti saja kemana langkah kaki Andre.


Sampai di restoran yang biasa Andre datangi, mereka langsung duduk.


"Mau pesan apa?" tanya Andre sembari menyerahkan buku menu pada Kanaya.


"Kalau dokter?" Kanaya balik bertanya.


"Saya pesan ikan bakar sama sayur asem."


"Sayur asem?" tanya Kanaya.


Andre mengangguk, "Kalau kamu nggak mau, pesan yang lain saja!"


"Hmm, aku samain saja sama dokter."


"Jangan ikut-ikutan, loh. Nanti nggak di makan!"


"Hhmm, di makan kok, dok!"


"Yasudah. Saya pesankan dulu!" ucap Andre yang langsung memesan makanan pada waiter.


"Bagaimana tadi?" tanya Andre.

__ADS_1


"Bagaimana, apanya, dok?" tanya Kanaya tidak mengerti.


"Konsultasi kamu tadi?"


Kanaya terdiam. Wajahnya berubah dan dia tidak berani menatap ke arah Andre.


"Beliau mengatakan kalau aku, hmm. . ." Kanaya diam lalu melirik Andre sekilas.


"Aku-aku ada kecenderungan depresi!" imbuhnya.


Andre menarik nafas berat dan terus menatap Kanaya dengan intens.


"Lalu?"


"Aku di minta untuk sering-sering mengunjunginya."


"Hhmm. . ."


"Aku-aku labil. Hhmm, kalau dokter ingin membatalkan rencana pernikahan kita, nggak apa-apa," ucap Kanaya dengan suara bergetar. Sepertinya dia hendak menangis.


Hhhh. Andre menarik nafas panjang. Kanaya memang terlihat labil. Dia mudah menangis dan putus asa. Entah apa yang menyebabkannya seperti itu.


"Kamu bisa kan nggak melakukan hal bodoh lagi?"


"Aku. . ."


"Kalau kita sudah menikah, kamu janji nggak akan melakukan hal bodoh lagi?"


"Dokter masih mau menikahi aku?" tanya Kanaya tak percaya.


"Asal kamu mau berubah. Mau saya bimbing."


Senyum di wajah Kanaya kembali mengembang. Dia lalu mengangguk, "Iya, dok!"


"Permisi. Ini pesanannya," ucap waiter sembari meletakkan semua pesanan Andre ke atas meja.


"Terimakasih, mas," ucap Andre ramah.


"Sama-sama," sahut waiter yang tak kalah ramah.


"Ayo di makan!" ajak Andre.


Mereka pun sibuk menikmati makan siang. Kanaya sesekali mencuri pandang ke arah Andre.


"Makan yang bener! Nanti saja kalau mau pandangi wajah saya!" ucap Andre hingga wajah wanita yang ada di hadapannya itu memerah karena malu


Andre sudah lebih dahulu menghabiskan makan siangnya. Dia lalu mengamati Kanaya makan.


"Uhuk uhukk!" Kanaya terbatuk.


Andre gegas memberikannya minum, "Makan pelan-pelan saja. Nggak akan saya tinggal, kok!" ucap Andre.


"Hhmm."


Kanaya langsung menenggak minumannya.


"Di habiskan. Nggak boleh buang-buang makanan!" ucap Andre saat melihat Kanaya seperti kesusahan menghabiskan makanannya.


"Hhhmm, ini-ini kebanyakan, dok!" ucap Kanaya.


"Biar berat badan kamu nambah!" sahut Andre.


"Hhmm," Kanaya mengamati tubuhnya sendiri. Memang kurus. Batinnya.


"Dokter jangan lihatin aku terus, donk," protes Kanaya yang makin salah tingkah.


Andre justru tersenyum, "Makanya cepat di habiskan!"


"Hhmm, iya!"


Setelah makan siangnya habis, mereka segera keluar dari restoran.


"Mau langsung pulang?" tanya Andre.


"Hhmm, memangnya boleh menunggu di rumah sakit?"


"Pulanglah. Istirahat, supaya nanti malam terlihat segar!"


"Hhmm, iya, dok."


"Saya pesankan taxi ya?"


Kanaya mengangguk


.


.


.


Next

__ADS_1


22.


__ADS_2