
Setelah mengontrol pembangunan minimarket, aku berencana ke bengkelnya pak Sugi. Dari minimarket ke bengkel pak Sugi membutuhkan waktu lebih satu jam.
Aku parkirkan mobil di depan bengkel. Bengkel pak Sugi makin ramai saja. Aku lihat pak Sugi sedang memantau para pekerjanya. Makin maju saja bengkel pak Sugi. Benar-benar patut di contoh kerja kerasnya dalam membangun usaha yang di mulai dari nol.
"Assalammu'alaikum," ucapku sembari melangkah mendekatinya.
Pak Sugi menoleh. Dia sepertinya kaget saat melihatku yang sudah berdiri di hadapannya.
"Wa'alaikumsalam. Pak Anto?" tanyanya dengan dahi berkerut.
"Iya, pak!" sahutku dengan senyum tersungging. Aku lalu mengulurkan tanganku, "Apa kabar, pak?"
Pak Sugi pun menyambut uluran tanganku, "Wah, pak Anto? Baik. Alhamdulillah, kabar saya baik! Beda sekali sekarang! Makin ganteng!" puji pak Sugi.
"Ah, pak Sugi bisa saja!" sahutku tersenyum malu.
"Saya hampir tidak mengenali. Benar-benar banyak berubah sekarang!"
"Hehee, saya masih seperti yang dulu, pak!"
"Haha. Gimana kabarnya, pak Anto? Sudah lama nggak mampir ke bengkel saya. Saya pikir sudah lupa dan sudah punya langganan di bengkel lain."
"Alhamdulillah kabar saya baik, pak. Mana mungkin saya lupa. Alhamdulillah saya sekarang punya kesibukan baru."
"Alhamdulillah kalau gitu, pak."
"Oh ya,pak. Saya kesini ada perlu, mau memesan teralis dari bengkel pak Sugi."
"Alhamdulillah nih, sudah lama nggak datang eh sekalinya datang mau order."
"Alhamdulillah, pak!" sahutku.
"Ngomong-ngomong mau order apa, pak?" tanya pak Sugi.
"Saya mau order buat pagar pengaman untuk lantai atas dan tangga stanlies," jelasku.
"Buat rumah atau apa, pak?"
"Buat minimarket, pak."
"Wah, orderan besar nih kalau minimarket."
"Minimarket milik istri saya, pak."
"Milik istri ya sama juga milik kita. Wah hebat pak Anto sekarang sudah memiliki minimarket," puji pak Sugi.
"Itu memang minimarket milik istri saya, pak. Sebelum saya menikah dengannya, dia memang sudah memiliki minimarket," jelasku.
Pak Sugi mengernyitkan dahinya. "Loh, jadi selama ini?" tanyanya bingung.
"Alhamdulillah, pak. Saya baru menikah belum lama ini dan istri saya itu memang sudah memiliki usaha minimarket dan sekarang saya yang menjalankannya karena istri saya itu sekarang sedang hamil," jelasku.
"Oh, pak Anto baru saja menikah? Selamat ya, pak. Saya pikir waktu itu pak Anto sudah menikah."
"Saya memang sudah menikah dan memiliki dua orang anak dan yang memiliki minimarket ini adalah istri saya dari pernikahan kedua saya!"
"Oh, begitu. Saya baru tahu."
Aku tersenyum. "Iya, pak."
"Jadi bagaimana, minimarketnya mau di bangun lagi ya, pak?"
"Alhamdulillah iya, pak. Minimarket akan di perluas jadi sekarang sebagian sedang dibangun lagi!" jelas ku.
"Oh begitu. Pak Anto bisa melihat modelnya yang mana yang bapak suka. Kebetulan bengkel saya sudah punya model terbaru dan kita baru menerima pesanan beberapa orang saja," jelas pak Sugi.
__ADS_1
Aku lalu ditunjukkan oleh pak Sugi model stainless steel yang terbaru untuk tangga dan pagar pengaman. Modelnya memang baru-baru dan lebih bagus daripada waktu itu. Dan sepertinya Santi pasti akan suka.
Aku lantas memotretnya lalu aku mengirimkan fotonya ke wa istriku supaya dia bisa memilih mana yang dia suka.
Tak lama kemudian istriku membalas pesanku. Dia menyukai foto nomor dua yang aku kirimkan.
Aku lalu memesan sesuai keinginan istriku. Setelah berbincang-bincang sejenak, aku berpamitan untuk pulang kembali ke minimarket.
Sampai ke minimarket, aku ingin menemui pak Seto. Tapi aku belum lagi sampai di pintu gudang, tiba-tiba ada yang menarik tanganku.
"Lisa?" tanyaku kaget.
"Mas, tolong jangan penjarakan suamiku. Aku mohon. . ." pintanya menghiba dengan mata berkaca-kaca.
Entah aku harus bagaimana lagi menghadapi wanita itu.
"Saya nggak bisa bantu kamu, Lisa!" tegasku.
"Bisa! Kamu bisa hanya kamu nggak mau saja! Aku tahu itu!" desaknya.
"Saya dan Alya nggak akan mungkin memberikan kesaksian palsu. Kamu juga tahu itu, kan?"
"Aku nggak minta kamu berikan kesaksian palsu. Kamu cukup bilang alasan di balik itu. Mas David terpaksa."
Hhh, aku menarik nafas berat. "Apa alasannya?"
"Bilang saja mas David membawa Alya bukan karena ingin menculik tapi ingin mengajaknya jalan-jalan."
"Alya sendiri yang bilang kalau dia di paksa oleh suami kamu! Apa kamu mau menyuruh putri kamu itu berbohong?"
Lisa mulai menangis, "Lalu bagaimana kehidupanku dan anakku jika mas David sampai di penjara? Kamu pikirkan juga anakku yang masih bayi. Kamu jangan egois, mas!"
"Saya bukanlah orang yang egois seperti kamu!"
"Melly? Kamu Melly!" teriak Lisa tiba-tiba.
"Kenapa perempuan itu ada di sini, mas?" tanya Lisa dengan tatapan nyalang.
"Bukan urusanmu! Pergilah Lisa. Saya benar-benar tidak bisa membantu kamu! Mengertilah!"
"Sejak kapan kalian berhubungan? Kamu selingkuh dari istri kamu?"
"Saya tidak seperti kamu!" tegasku.
"Lalu kenapa dia bisa di sini?"
"Dia bekerja dengan istri saya!"
"Bekerja? Sedangkan karyawan lain memakai seragam tapi dia berpakaian biasa kamu bilang bekerja?"
"Itu bukan urusanmu!" tegasku lantas hendak pergi meninggalkannya.
Lisa mengejarku sampai berdiri menghadang langkah kakiku. "Kamu bohong, mas! Kamu dan perempuan itu kan sudah kenal sejak aku dan mas David belum menikah!"
"Saya hanya membantu wanita yang pernah kalian zholimi, Lisa!"
Wajah Lisa berubah marah. "Jangan asal bicara kamu, mas! Aku nggak pernah menzolimi dia. Dia sendiri yang mau cerai dari mas David."
"Terserah kamu mau bicara apa. Tolong pergilah!"
"Kamu mau membantu perempuan itu, sedangkan denganku kamu sama sekali nggak mau membantu. Kamu masih dendam sama aku kan, mas."
"Lisa, pergilah!"
Tiba-tiba Lisa bersujud dan memegangi kakiku. "Tolong maafkan aku, mas. Tolong bantulah aku. Kamu bisa merasa kasihan dan mau membantu perempuan itu sedangkan denganku kamu nggak mau bantu," rengeknya sambil menangis.
__ADS_1
"Kamu apa-apaan Lisa! Berdiri saya bilang!" teriakku sembari berusaha melepaskan tangannya.
"Aku nggak akan berdiri sebelum kamu mau membantu aku!"
"Sudah berapa kali saya bilang kalau saya nggak akan bisa membantu suami kamu!"
"Kalau gitu biarkan aku bekerja di sini seperti perempuan itu, ya?" pintanya seraya mendongakkan kepalanya ke arahku.
"Bekerja di sini? Bukankah suami kamu sudah kaya? Untuk apa kamu bekerja di sini?"
"Hhmm, dia-dia jatuh miskin sekarang. Semua juga gara-gara kamu. Semua tabungan suamiku habis untuk menyewa pengacara!"
"Hhh, kalau begitu semoga pengacara yang kalian sewa bisa membantu membebaskan suami kamu dari tuntutan!" Aku gegas bergerak mundur saat dia mulai mengendurkan pegangan tangannya.
"Tapi tetap saja nggak akan bisa membebaskan suami aku begitu saja. Atau jangan-jangan kamu memang ada hubungan dengan perempuan itu kan sampai kamu pilih kasih!"
Kepalaku mulai pusing. Aku gegas masuk dengan setengah berlari menuju ke kantor. Lalu mengunci pintunya. Tapi baru saja aku hendak duduk di sofa tiba-tiba aku mendengar suara teriakan. Suara mbak Melly.
Ada apa lagi ini? Tanyaku dalam hati. Aku kembali keluar. Aku benar-benar kaget saat melihat Lisa sedang menarik hijab mbak Melly dengan paksa serta berusaha mencakar wajah wanita itu. Sedangkan mbak Melly berusaha menahan hijabnya supaya tidak terlepas. Tak ada siapapun di depan pintu gudang selain mereka berdua. Kemana Rudi dan yang lain.
"Dasar kamu wanita penggoda! Rasakan ini!" teriak Lisa berulang-ulang.
Aku gegas mendekati mereka berdua.
"Lisa! Apa-apaan kamu! Lepaskan mbak Melly!" ucapku dengan nada tinggi sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Lisa dari hijab mbak Melly yang hampir terlepas.
"Nggak akan!" sahutnya.
"Ada apa ini?" teriak Rudi yang baru saja datang dari pintu menuju minimarket.
Pria itu juga ikut membantu melepaskan tangan Lisa lalu mendorong tubuh Lisa sampai membentur dinding di belakangnya.
"Kalian mengeroyokku! Kalian jahat!" teriak Lisa histeris.
Mbak Melly menangis tersedu-sedu seraya memegangi hijab dan wajahnya. Aku lihat wajah wanita itu ada yang terluka, mungkin terhores kuku tangan Lisa.
"Lisa, pergilah!" titahku.
"Kalian akan aku laporkan polisi karena sudah mengeroyokku!" ancamnya.
"Di sini ada CCTV. Kamu yang menyerang mbak Melly terlebih dahulu. Jangan mencari masalah sendiri! Pergilah!" usirku.
Matanya membulat. Dia terlihat kaget lalu mendongakkan kepalanya ke segala arah. Lalu dia gegas berlarian keluar gudang.
Hh,semoga Lisa tidak akan berani lagi datang ke sini.
Aku lihat Rudi sedang mencoba menenangkan mbak Melly.
"Saya ambilkan obat dulu!" ucapku lalu pergi ke ruanganku mengambil kotak P3K.
Aku lalu hendak menyerahkan kotak itu pada mbak Melly. Saat sampai di depan pintu gudang, aku lihat mbak Melly dan Rudi sedang saling bertatapan. Rudi mengusap lembut wajah mbak Melly yang ada bekas lukanya.
"Ehhmm, maaf. Ini obatnya!" ucapku lalu meletakkan kotak P3K di atas kardus barang yang ada di depan pintu.
Mereka berdua terlihat kaget. Mbak Melly terlihat salah tingkah dengan wajah memerah. Aku lantas meninggalkan mereka berdua dan kembali ke kantor.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
01