Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 168


__ADS_3

Setelah mendengar pendapat dari orangtuanya, Andre memutuskan tidak jadi mengontrak rumah. Dia juga takut meninggalkan istrinya sendirian tanpa ada yang menemani.


"Ya sudah kalau gitu, kita nggak jadi cari kontrakan!" ucap Andre akhirnya. Dia lalu menoleh ke arah istrinya, "Kita tinggal di sini, nggak apa-apa kan?"


Kanaya mengangguk setuju," Iya, mas!"


Andre mengusap lembut pucuk kepala istrinya. Walau dia belum sepenuhnya mendapat restu dari mertuanya, tapi dia tidak merasa menyesal menikahi Kanaya. Walau masih muda dan dari keluarga berada, tapi Kanaya adalah sosok istri yang penurut. Kalau sifat manjanya, itu tidak menjadi masalah buat Andre. Justru sangat dia sukai. Menambah rasa sayang dan cintanya setiap hari.


Memiliki istri yang mau untuk di bimbing, penurut dan juga mampu menyenangkan suami merupakan salah satu rezeki. Andre sangat beruntung. Apalagi dengan cepat di berikannya amanah besar berupa kehamilan istrinya, Andre merasa menjadi laki-laki yang sangat beruntung dan tak henti-hentinya mengucap syukur.


"Kita keluar saja, yuk. Sekaligus antar Alya ke kampus!" ajak Andre.


"Iya, mas. Mumpung mas libur, aku ingin jalan-jalan!" sahut Kanaya.


"Al, ayo mas antar kamu ke kampus sekaligus mas sama mbak Kanaya mau jalan-jalan!" ajak Andre.


"Oke, sip!" sahut Alya lantas gegas naik ke kamarnya mengambil tas dan buku-buku kuliahnya.


Alya lalu ikut Andre dan Kanaya naik mobil Andre, sedangkan Anto mengantar kedua putri kembarnya ke sekolah dan akan langsung ke minimarket.


"Bagaimana kuliah kamu, dek?" tanya Andre.


"Aku sedang menyusun skripsi, mas!" jawab Alya.


"Sering dong ketemu sama Kevin?" tanya Andre.


"Nggak juga kok, mas. Aku kan harus mengerjakan yang lain juga tiap hari."


"Setiap hari diantar pulang kan sama si Kevin?" tanya Andre.


"Kadang-kadang saja kok, kalau pak Kevin tidak ada jam."


"Oh begitu. Itu Kevin sudah nggak galak lagi kan jadi dosen?" tanya Andre lagi.


"Kadang-kadang masih galak kadang-kadang dingin ya seperti itulah, mas!" jawab Alya males.


"Kapan-kapan kamu ajaklah dia main ke rumah. Jangan hanya sampai depan pagar saja. Atau nanti sepulang kuliah kamu ajak dia ke rumah, ya. Sepertinya nanti sore mas ada di rumah kok."


"Aku nanti pulang siang, mas. Sudah nggak ada lagi kuliah jadi langsung pulang saja."


"Ya terserah kamu saja kapan dan jam berapa pulang. Kalau kamu diantar Kevin suruh dia mampir jangan sampai pagar saja!"


"Iya, mas!" jawab Alya malas.


"Kamu sedang ada masalah sama Kevin, ya? Kok mas tanya jawabnya males-malesan terus?"


"Nggak ada masalah apa-apa kok, mas. Biasa saja antara mahasiswi dan dosennya!"


"Hhmm. . ."


Mereka kembali diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Tak terasa, mereka sudah tiba di depan kampus Alya.


"Terimakasih, mas. Aku pergi dulu. Mbak Nay, aku kuliah dulu!" pamitnya lantas turun dari mobil.


"Hati-hati, Al!" sahut Kanaya.


"Mas titip salam sama dosen kamu itu, ya!" ucap Kevin.


Alya hanya melirik sekilas.


"Assalammu'alaikum," ucapnya lalu menutup pintu mobil.


Alya lalu masuk ke dalam kampusnya. Saat pagi hari suasana di kampus tidak terlalu ramai. Alya gegas menuju kelas yang akan dipakainya setengah jam lagi.


Sampai di kelas, Alya menaruh tasnya di atas meja. Kembali memeriksa tugas kuliahnya yang harus dia serahkan ke dosen pagi ini.

__ADS_1


"Tugas kamu sudah beres, Al?" tanya Maya, teman sefakultasnya.


"Alhamdulillah, sudah. Kalau kamu?"


"Aku belum, tugas dari pak Kevin juga belum. Pusing aku!" keluhnya.


"Hhmm, tugas pak Kevin kan besok."


"Eh, Al. Kamu benaran pacaran sama pak Kevin?" tanya Maya dengan mimik wajah penasaran.


Mata Alya membulat, "Siapa yang bilang? Aku nggak pacaran sama siapa-siapa, kok!" sanggah Alya.


"Aku denger dari orang-orang, sih. Jadi nggak, ya?"


"Nggak!" tegas Alya lagi.


"Hhmm, biasa saja kali. Kalau iya mah bagus, kan. Bisa minta di naikin nilai kamu!"


"Aku bukan orang yang seperti itu, May!" tegas Alya.


Dia makin kesal dengan rumors yang beredar tentang kedekatannya dengan dosennya yang bernama Kevin itu. Karena selain masih sendiri, Kevin adalah sosok pria idaman dengan segala kelebihannya.


"Ma-maaf, Al. Jangan marah, donk! Aku nggak bermaksud. . ."


"Kalau kamu berpikir seperti itu, sama saja kamu belum mengenal aku, May. Padahal kita berteman dari sebelum kuliah!"


"Iya, Al. Aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal!" ucap Maya dengan wajah sedih.


Alya menarik nafas dengan berat. Sepertinya aku harus menjaga jarak dengan pak Kevin. Tapi dia kan dosen pembimbingku. Dan kesalnya, pak Kevin selalu saja mencari alasan supaya aku menemuinya setiap hari padahal terkadang kami hanya diam, sibuk dengan pikiran sendiri. Dan sesekali saling melirik membuat jantungku seakan mau lepas dari tempatnya. Jujur saja, sisi hatiku sangat bahagia menikmati momen itu tapi sisi hatiku yang lain ingin menolak. Ini tidak baik! Alya bermonolog.


"Al, maafin aku, donk!" Maya masih merasa tidak enak hati melihat sikap diam Alya.


"Sudah aku maafin, kok!" sahut Alya lirih. Percuma saja marah. Batinnya.


"Alya!"


Alya menoleh, "Alex?"


"Mau pulang ya, Al?" tanya Alex. Teman sekolahnya dulu yang sama-sama kuliah di universitas yang sama namun beda fakultas.


"Hhmm, iya, Lex!" jawab Alya lirih.


"Bareng, yuk!"


"Hhmm, maaf Lex, aku. . ."


"Alya!" tiba-tiba ada yang memanggilnya.


Alya reflek menoleh, "Pak Kevin," gumamnya.


"Kamu beneran ada hubungan sama pak Kevin ya, Al?" tanya Alex.


"Apa? Nggak, kok! Pak Kevin itu dosen pembimbingku!" tegas Alya.


"Hhmm, aku sama dosen pembimbingku jarang ketemuan dan nggak sedekat kamu dan dosen pembimbing kamu!" tegas Alex lantas berlalu dari hadapan Alya dengan senyum sinis.


"Orang-orang kenapa, sih?" gumam Alya kesal.


"Al!" panggil Kevin lagi dengan suara lebih tinggi.


Alya mengusap wajahnya kasar. Bingung harus bagaimana mengambil sikap. Dengan malas, Alya mendekati Kevin.


"Iya, pak. Ada apa?"


"Kenapa tidak ke ruangan saya? Kenapa handphonenya mati?"

__ADS_1


Alya menelan salivanya. Bingung mau menjawab apa sama dosennya itu.


"Alya?"


"Pak, aku. . ."


"Ayo naik!" titahnya dengan pandangan terus ke arah Alya.


"Aku masih nunggu temanku, pak. Ada yang mau aku omongin!" ucap Alya bohong.


"Hhmm, ya sudah kita tunggu saja sebentar!" ucap Kevin.


Yah, bukannya duluan saja malah mau nunggu. Huhh, aku nungguin siapa nih. Batin Alya. Dia terlihat gelisah.


Lima menit berlalu, "Mana teman kamu, Al? Coba kamu hubungi!" titah Kevin yang mulai terlihat kesal.


"Hhmm, bapak duluan saja nggak apa-apa, kok!" ucap Alya.


"Ngusir, nih?"


"Bu-bukan, pak! Nanti bapak kelamaan nungguin!" ucap Alya.


"Hhmm, nggak apa-apa!" jawab Kevin santai.


"Huuhh!" Alya mendengus kesal.


"Kamu kenapa begitu?"


"Hhmm, nggak apa-apa, pak. Temanku lama banget!" Alya beralasan tapi Kevin masih terlihat santai.


Duh, mau nunggu sampai jam berapa, nih? Batin Alya bingung. Alya lalu mengusap-usap perutnya yang tiba-tiba lapar.


Karena Kevin masih setia menunggu, akhirnya Alya menyerah.


"Dia sepertinya masih lama, pak!" ucap Alya.


"Belum kamu telpon?"


"Dia nggak bawa handphonenya!" jawab Alya bohong lagi. Yah, dekat pak Kevin jadi bikin aku sering bohong, nih. Batin Alya.


"Lalu bagaimana?" tanya Kevin yang mulai tidak sabar.


Alya menarik nafas panjang-panjang, "Pulang saja, deh!" ucap Alya akhirnya.


"Ya, ayo!" ajak Kevin dengan mengulum senyum.


.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo


.


.


.


21

__ADS_1


__ADS_2