Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 188


__ADS_3

Setelah selesai makan siang bersama, mereka berkumpul di dekat kolam renang yang tempatnya lebih luas dan sejuk. Darren hanya diam mendengarkan obrolan dan hanya sesekali bicara itu pun kalau di tanya. Dia merasa minder berada di tengah-tengah keluarga Annisa. Dia terlihat salah tingkah.


Rumah Annisa mewah banget berbanding terbalik dengan rumahku. Ah, malu banget aku sama Annisa, dia sudah tahu rumahku seperti apa. Batin Darren.


Andre lalu mengajak Kevin untuk bicara berdua.


"Jadi Darren beneran kuliah di sana?" tanya Andre penasaran.


"Iya, Dre. Awalnya dia nggak mau tapi aku bujuk terus akhirnya dia mau. Awalnya juga dia hanya mau ambil diploma satu. Sepertinya itu karena dia kekurangan biaya kalau ambil S1," jelas Kevin.


"Sekarang dia mau kan?" tanya Andre.


"Aku janjikan beasiswa untuk dia," jawab Kevin.


"Beasiswa? Apa masih sempat mengurus beasiswa sekarang?" tanya Andre bingung.


"Tenang saja, aku akan usahakan," ucap Kevin.


"Kamu yakin, Kev? Bukan kamu yang biayai kuliahnya?" tanya Andre curiga.


"Aku akan mengusahakan beasiswa itu untuk Darren!"


"Kamu nggak sedang bohong kan, Kev?"


"Dre, kamu nggak percaya sama aku?"


"Untuk masalah Darren bisa segera mendapatkan beasiswa, aku sangsi!"


Dahi Kevin berkerut, "Dre?"


"Kamu yang biayai kuliah Darren, kan?"


"Dre, aku. . ."


"Biar aku yang menanggung biaya kuliahnya. Kamu cukup bantu urus masalah dia di kampus saja!" tegas Andre.


"Tapi Dre, aku bisa mengusulkan beasiswa itu untuk Darren!"


"Ok, tapi sebelum beasiswa itu turun, aku yang akan membiayainya. Kev, bagaimanapun, dia adalah adikku! Dan kehidupannya kurang beruntung di bandingkan aku. Biarkan aku yang membantunya."


Kevin menarik nafas panjang, " Ok, Dre. Terserah kamu saja."


"Terima kasih kamu sudah membantunya. Aku belum ngobrol banyak sama dia."


"Iya, aku lagipula dia sudah menolong Alya waktu itu. Kamu tahu kan?" tanyaKevin.


"Iya, aku baru tahu dari istriku soal Alya yang ditolong oleh Darren."


"Coba kalau tidak ada Darren saat itu entah ada nggak yang nolongin Alya. Nggak tahu apa yang akan terjadi pada Alya, aku nggak bisa membayangkan," jelas Kevin seraya menggelengkan kepalanya.


"Iya. Allah masih melindunginya,"


"Oh iya, Dre. Aku mau bicara sama Alya dulu," ucap Kevin.


"Oh iya soal Alya lagi. Kamu serius sama adikku?" tanya Andre sambil menatap Kevin lekat-lekat, mencari kejujuran di sana.


"In Sya Allah, aku serius, Dre. Kamu setuju kan?"


"Hhh, aku sih setuju saja kalau kamu benar-benar menyayangi adikku dan aku harap kamu sudah bisa melupakan masa lalumu!" tegas Andre.


"Masa lalu itu sudah terkubur bertahun lalu!"


"Hhmm, baiklah. Aku tunggu kabar selanjutnya," ucap Andre lantas mendekati Darren yang sedang memgobrol sama Annisa.


"Dek," sapa Andre lantas duduk di antara Annisa dan Darren.

__ADS_1


"Hhmm, mas," sahut Annisa kaget.


Darren terlihat salah tingkah.


"Mas bisa bicara sebentar sama Darren?"


"Bi-bisa kok, mas," jawab Annisa lalu bangkit dari duduknya meninggalkan Darren dan Andre di sana.


"Luka-luka kamu sudah benar-benar sembuh?" tanya Andre.


"Alhamdulillah, dok. Eh, mas," jawab Darren gugup.


"Terimakasih, ya. Sudah menolong Alya. Kamu memang anak yang baik," ucap Andre.


"Hanya kebetulan saja aku ada di sana, mas,"


"Oh, iya. Selamat ya, kamu bisa kuliah di universitas yang sama dengan Alya. Dia tidak lama lagi di wisuda."


"Iya, mas. Itu juga karena di bantu kak Kevin mendapatkan beasiswa."


Andre tersenyum. Kamu beda banget sama ayah kamu. Semoga saja kamu selalu seperti ini. Jadi anak yang baik. Batin Andre.


"Hmm, kalau butuh apa-apa, bilang sama mas, ya!" ucap Andre.


"I-iya, mas," sahut Darren dengan kepala menunduk. Dia sangat terharu dengan kebaikan keluarga mantan suami mamanya.


"Ya sudah, ngobrollah lagi sama Annisa. Tapi ingat, di larang pacaran!" tegas Andre.


"A-apa, mas? Ke-kenapa? A-apa karena aku. . ." Darren kaget. Wajahnya terlihat sedih.


Andre tergelak, "Hahaaa, Anissa masih sekolah. Belum boleh pacaran."


Wajah Darren memerah karena malu.


"I-iya, mas," sahut Darren sambil tersenyum malu.


"Kamu beneran suka sama Annisa, hmm?"


Darren menunduk, "Aku. . ."


"Pikirkan dulu kuliah kamu. Masa depan kamu masih panjang. Annisa juga kan mau kuliah. Mas nggak melarang kamu dekat dengan dia."


"Iya, mas."


"Ya Sudah, mas tinggal dulu," pamit Andre sembari menepuk pelan bahu Darren.


Sementara itu, Kevin sedang berbicara dengan Alya.


"Nanti malam ikut, ya!"


"Hhmm, ikut kemana?"


"Saya ingin mengenalkan kamu sama oma dan tante saya. Sekaligus makan malam di sana."


"A-apa?"


"Mau, ya?" pinta Kevin dengan wajah memohon.


Alya mengangguk dengan kepala tertunduk.


"Saya ingin cepat-cepat menikahi kamu, Al!"


Alya mendongak, "Ta-tapi aku masih ingin cari kerja.


Kevin tersenyum, "Kita menikah setelah kamu di wisuda, ya. Satu bulan lagi!"

__ADS_1


"A-apa nggak terlalu cepat?" tanya Alya kaget. Satu bulan lagi itu adalah waktu yang sangat singkat.


"Setelah kamu lulus, kita akan sulit untuk bertemu. Mau, ya?" bujuk Kevin.


"Hhmm, a-aku belum siap, pak,"


"Belum siap apanya? Usia kamu juga sudah pantas, kan!"


Alya menunduk, dia sungguh dilema, "Hhmm, aku tanya ayah dulu, ya,"


"Kalau ayah kamu setuju maka?"


"A-aku akan setuju," jawab Alya lirih.


Kavin tersenyum. Tentu saja ayah kamu akan setuju, Al. Batin Kevin.


Setelah mengobrol lama, Kevin dan Darren berpamitan berbarengan Andre yang akan kembali ke rumah sakit.


***


Malamnya selepas sholat isya, Alya sedang berdiri di depan kaca. Tadi siang sudah meminta ijin pada ayahnya kalau malam ini, Kevin akan memperkenalkan Alya pada oma dan tantenya.


"Dek, apa penampilan mbak nggak malu-maluin?" tanya Alya bimbang.


Alina yang sedang duduk di sisi tempat tidur lantas berdiri di samping mbaknya.


"Mbak Alya cantik banget, kok. Kak Kevin pasti makin lengket, deh," puji Alina.


Wajah Alya memerah, "Masa sih, dek?"


Alina menganggukkan kepalanya, "Beneran, mbak. Mbak terlihat modis kok dengan perpaduan gamis dan juga hijabnya, cocok banget."


"Kamu itu bisa saja, dek!"


"Beneran mbakku sayang!"


"Ya sudah yuk kita turun!" ajak Alya.


Saat mereka baru saja menuruni anak tangga, sudah terlihat Kevin sedang duduk bersama Andre di ruang keluarga.


"Tuh, kak Kevin sudah nggak sabar mau bawa mbak," goda Alina membuat wajah Alya makin merah saja.


Kevin terpana melihat penampilan Alya yang beda dari biasanya.


"Mbak Alya cantik banget kan, kak Kevin. Belum nanti saat pakai pakaian pengantin, di jamin kak Kevin akan lebih terpesona lagi!" Alina pun menggoda Kevin.


Kevin hanya tersenyum menanggapi candaan Alina.


"Adikku di jagain, ya. Jangan ada yang lecet!" gurau Andre.


"Tenang," sahut Kevin sembari tersenyum.


Alya memutar bola matanya. Sudah lecet, mas. Bibirku ini. Batin Alya lantas menatap kesal ke arah Kevin.


.


.


.


.


.


15

__ADS_1


__ADS_2