Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 219


__ADS_3

Hari berganti hari. Bulan pun berganti bulan. Tibalah waktunya Kanaya melahirkan anak pertamanya bersama dengan Andre.


Mereka sudah dari tengah malam datang ke rumah sakit karena Kanaya sudah mengeluhkan sakit di perutnya. Saati ini subuh pun sudah lewat tapi bayi mereka belum juga menunjukkan tanda-tanda akan lahir.


"Sakit, mas," teriak Kanaya manja.


Andre berusaha menenangkan istrinya itu dengan mengusap lembut pucuk kepalanya dan juga mengusap-usap perut istrinya di iringi dengan doa-doa.


Sesekali Andre mengernyitkan dahinya menahan sakit di tangannya akibat cengkeraman tangan istrinya yang entah bisa sekuat itu. Kanaya terus saja menangis membuat suaminya jadi tidak tega melihatnya.


"Istigfar, sayang," bisik Andre mesra sembari mengecup lembut pipi istrinya itu.


Kanaya masih terus menangis dan sesekali berteriak.


Tepat pukul tujuh pagi, dokter kandungan yang biasa memeriksa kehamilan Kanaya kembali memeriksa wanita muda itu.


"Sudah bukaan sepuluh. Sudah lengkap. Ayo bu Kanaya, mulai mengejan!" titah dokter.


Andre dengan sabar menunggui proses kelahiran anak pertama mereka. Walau tidak tega tapi memang seperti itulah proses melahirkan. Toh Kanaya sudah mengikuti senam hamil bersama dengan Alya beberapa bulan sebelum HPL. Karena mereka berdua memang berencana melahirkan secara normal.


"Ooweekk!" bayi mungil nan lucu pun lahir ke dunia.


Kanaya langsung terbaring lemah dengan menghela nafas panjang. Andre mengecup dahi istrinya penuh kasih sayang, "Terimakasih, sayang," bisiknya mesra. Kanaya hanya tersenyum lemah dengan nafas yang masih tidak beraturan.


"Alhamdulillah, bayinya perempuan. Cantik seperti mamanya," ucap dokter.


"Alhamdulillah," ucap syukur Andre.


Kanaya lalu melakukan proses IMD beberapa menit setelah itu bayinya di bawa suster untuk di bersihkan.


Dokter lalu melakukan tindakan terakhir setelah melahirkan. Andre menunggu di luar. Sesekali terdengar suara rintihan kecil dari Kanaya. Apa jahitannya banyak ya kok lama. Andre membatin.


Menjelang siang, Kanaya dan bayinya sudah boleh di pindahkan ke ruang ranap. Satu persatu keluarga datang memberikan ucapan selamat.


***


Beberapa hari kemudian keluarga masih merasakan kegembiraan menyambut anggota keluarga baru mereka. Orangtua Kanaya baru saja pulang menjenguk cucu mereka menjelang sore. Papi Kanaya sepertinya sudah mulai menerima pernikahan putrinya. Dia pun sama seperti istrinya yang merasakan kebahagiaan mendapatkan cucu perempuan yang cantik.


Bayi perempuan yang di beri nama Adelia itu baru saja di mandikan oleh omanya, Santi. Saat Alya dan Kanaya memperhatikan cara bunda mereka merawat, memakaikan pakaian pada baby Adelia, tiba-tiba Alya mengeluhkan sakit di perutnya.


"Aahhkk!" teriaknya lirih.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Santi khawatir.


"Perutku sakit, bun," ucap Alya lirih sembari menahan sakit.


"Apa mungkin sudah waktunya si kecil lahir, Al?" tanya Kanaya.


"A-aku tidak tahu, mbak. Tapi masih beberapa hari lagi," sahut Alya dengan suara bergetar.


"Bunda panggilkan ayah kamu dulu, ya," ucap Santi lantas buru-buru keluar dari kamar Kanaya setelah selesai dengan baby Adelia.

__ADS_1


Santi lalu mencari suaminya yang ternyata sedang duduk santai di dekat kolam renang. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh suaminya itu. Dia tampak sedang melamun.


"Mas, Alya mengeluhkan perutnya sakit. Mungkin sudah waktunya bayinya lahir," ucap Santi.


"Apa? Kevin mana?" tanya Anto kaget.


"Kevin kan sedang keluar kota, mas," jelas Santi.


Anto menjadi tegang. Mereka buru-buru ke kamar Kanaya. Di sana, Alya masih terlihat kesakitan. Wajahnya berkeringat walau kamar Kanaya sudah memakai AC.


"Al, kita ke rumah sakit, ya!" ajak Anto.


Alya menganggukkan kepalanya, "Hhmm, yah," ucapnya lirih.


"Pakaian bayi sudah kamu siapkan dalam tas, nak?" tanya Anto.


"Sudah di kamar, yah," jawab Alya makin lemah.


Anto pun segera pergi ke kamar Alya.


"Kanaya, bunda dan ayah antar Alya ke rumah sakit dulu, ya. Bunda panggil Annisa sama Alina buat jagain kalian," ucap Santi.


"Iya, bun. Nggak apa-apa. Kasihan Alya harus cepat di bawa ke Rumah Sakit," jawab Kanaya.


Santi lalu memanggil si kembar di kamar mereka.


"Mbak Alya mau melahirkan ya, bun?"


"Iya, bunda," sahut si kembar.


"Mas Andre sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Jadi mbak Kanaya dan bayinya jangan di tinggal, ya!"


"Baik, bunda."


Setelah Anto memasukkan semua barang-barang Alya ke dalam mobil, dia menggendong putrinya yang masih menahan rasa sakit ke dalam mobil di kursi belakang.


"Sayang, kamu di sini sama bunda, ya," ucap Anto. Santi pun lalu duduk di kursi belakang menemani Alya.


"Tarik nafas pelan-pelan lalu hembuskan. Ulangi terus, ya," ucap Santi yang di berikan anggukan oleh Alya.


Anto mengemudikan mobilnya dengan sedikit lebih cepat.


"Bunda, coba pakai handphone Alya, telepon Kevin!" titah Anto pada istrinya.


"Iya, mas," sahut Santi.


Santi lalu mengambil hanphone Alya, lalu menelepon Kevin. Tapi sayangnya nomornya tidak aktip.


"Nomor Kevin tidak aktip, mas," ucap Santi.


Anto menarik nafasnya berat.

__ADS_1


Sampai di Rumah Sakit, Anto kembali menggendong Alya lalu membawanya ke ruang IGD.


"Suster, tolong putri saya!" teriak Anto.


"Iya, pak. Mari di baringkan di sini!" titah suster.


Anto lalu membaringkan putrinya di atas brangkar. Santi datang mendekat.


"Silahkan bapak tunggu di luar, ya," titah suster lagi.


"Saya boleh menemani putri saya kan, sus?" tanya Santi.


"Hhmm, suaminya mana?"


"Suaminya sedang di luar kota," jawab Santi.


Alya pun segera di pindahkan ke ruang bersalin.


Anto masih terus menghubungi suami putrinya. Kevin sudah berpesan supaya menghubunginy jika bayinya hendak lahir. Tapi panggilan telepon dari Anto tetap tidak di jawab.


"Sakit, bun," keluh Alya.


"Sabar ya, sayang. Coba kamu istigfar, ya," ucap Santi lembut.


"Mas Kevin, bun."


"Iya, sayang. Ayah kamu sudah menghubungi terus suami kamu."


"Permisi ya, bu. Kita periksa dulu sudah bukaan berapa," ucap dokter kandungan yang juga menangani Kanaya.


"Aahh!" teriak Alya saat dokter memeriksanya.


"Hhmm, maaf bu Alya. Sekarang masih bukaan empat, ya. Ibu sabar saja. Tarik nafas pelan-pelan lalu hembuskan pelan juga. Sering-sering di ulangi, ya," titah dokter.


Alya mengagguk, "Hhmm," lalu mulai mengatur nafasnya.


Alya terus merintih kesakitan. Satu jam kemudian dokter kembali memeriksa, ternyata masih bukaan empat.


"Bunda, jangan pergi," pinta Alya dengan suara lirih.


"Bunda akan terus jagain kamu, nak!" ucap Santi lembut.


Tanpa terasa hari sudah berganti malam. Kevin masih belum bisa di hubungi sedangkan Alya sudah bukaan enam. Alya terus merintih kesakitan.


Anto menunggu di depan ruang bersalin dengan cemas. Menjelang tengah malam Kevin baru bisa di hubungi. Dia langsung menelepon balik setelah membaca pesan yang di kirim oleh Anto.


"Assalammu'alaikum,"


"Alya masih di ruang bersalin. Dia terus menanyakan kamu. Ini sudah lebih lima jam. Apa kamu bisa pulang secepatnya, Kev?"


"Baiklah, ayah tunggu."

__ADS_1


Anto mematikan sambungan teleponnya. Sementara Alya masih juga belum ada tanda-tanda akan melahirkan.


__ADS_2