Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 123


__ADS_3

Alya


Gadis berhijab itu sedang berdiri di depan gerbang kampus bersama satu orang temannya. Hari sudah menjelang sore, langit juga mendung. Tadi dia baru saja selesai sholat ashar di masjid yang ada di kampus lantas berniat untuk pulang.


Kampus di mana Alya menempuh kuliahnya memang tidak di dekat jalan raya, mungkin lima menit jika berjalan kaki. Jadi hanya sedikti sekali kendaraan yang lewat.


"Kamu naik taxi online, kan?" tanya Riri, teman satu fakultas dengan Alya.


Alya mengangguk, "Iya, kalau kamu?"


"Aku nunggu pacarku jemput. Kamu nggak punya pacar ya, Alya?"


Alya menggeleng pelan, "Aku nggak punya pacar."


"Hhmm, nggak ada yang mau?"


"Hehee, iya mungkin!" sahut Alya.


"Ahh, kamu sih terlalu pendiam. Hijab kamu juga nggak modis. Jadi cowok males dekati kamu!"


Alya hanya tersenyum saja.


"Mau aku ajarin caranya supaya banyak cowok yang ngejar-ngejar kamu seperti aku, hmm?" tanya Riri dengan wajah sombong.


Alya mendelik. Maksudnya apa, nih.


Jggaarrr!! Terdengar suara petir menggelegar.


"Sepertinya mau hujan, loh!" ucap Riri.


"Hmm!" sahut Alya.


Tin tiiinn. . . Sebuah mobil berhenti di hadapan mereka dari arah kampus.


"Hhmm, tuh pasti pacarku yang jemput. Kamu sih nggak punya pacar!" ucap Riri kembali menyombongkan diri.


Gadia itu gegas mendekati mobil lalu mengetuk-ngetuk kaca jendelanya. Pintupun terbuka. Riri tersenyum semringah sembari melirik ke arah Alya.


"Sayang? Eehh. . ." senyuman Riri hilang terbawa angin. Gadis itu mematung di tempatnya berdiri.


"Alya!" panggil orang yang ada di balik kemudi.


Alya memiringkan kepalanya ingin tahu siapa orang yang ada di dalam mobil, kenapa memanggilnya.


"Alya!" panggilnya lagi dengan meninggikan suaranya.


Deg. Itu bukannya suara. . .


"Alya! Kamu nggak denger, ya!" teriakan dari dalam mobil membuyarkan lamunannya.


Alya gegas mendekat. Berdiri di belakang Riri yang masih menatap ke dalam mobil.


"Pak Kevin?"


"Naik!" titah Kevin.


"I-iya, pak!" sahut Alya.


Alya uru-buru melewati Riri lantas naik ke mobil.


"Tutup pintunya!" titah Kevin.


"Ta-tapi Riri, pak?" tanya Alya gugup.


"Hhh, ya sudah suruh duduk di belakang!" titah Kevin.


Alya menoleh ke arah Riri, "Ri, kamu mau ikut apa tunggu pacar kamu?" tanya Alya.


"Sombong kamu Alya!" dengus Riri kesal.


"Riri? Si-siapa yang sombong? Aku hanya mau ajak kamu!" jelas Alya bingung.


"Terimakasih!" sahut Riri yang segera berlalu dari hadapan Alya.


Alya menatap Riri dengan tatapan nanar, "A-apa aku salah?" gumam Alya namun masih bisa terdengar oleh Kevin.


"Tutup pintunya!" titah Kevin.


"Hhmm, i-iya, pak!" sahut Alya lantas segera menutup pintu mobil.


"Kurang kuat!" ucap Kevin.


Alya kembali membuka pintu mobil dan menutupnya lagi.

__ADS_1


"Kamu nggak ada tenaga, ya?" tanya Kevin kesal.


Bukannya tidak ada tenaga tapi Alya masih terpikir sikap Riri tadi.


Tiba-tiba Kevin memajukan wajahnya ke arah Alya. Gadis itu langsung menutup matanya. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang.


Buukk! Ternyata Kevin membuka lalu menutup lagi pintu mobilnya hingga hampir tak ada lagi jarak di antara mereka.


"Kenapa matanya di tutup? Minta di cium?" tanya Kevin dengan senyum menyeringai.


Alya membuka matanya. Pandangan mereka bertemu. Wajahnya langsung merah seperti kepiting rebus. Jangan di tanya jantungnya yang makin berdegup kencang.


"Sudah sering, ya? Sampai sudah siap-siap memejamkan mata?" tuduh Kevin yang langsung menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya kencang.


"Apa maksud pak Kevin?" tanya Alya tidak terima.


"Kamu sudah dewasa jadi sudah mengerti. Hhuhh, ternyata sama saja!"


"Ma-maksud bapak apa?" suara Alya mulai bergetar.


"Hah, sudahlah! Nggak usah sok polos!"


Wajah Alya yang semula merah karena malu kini memerah menahan marah. Gadis itu hendak membuka pintu mobil.


"Berhenti! Aku mau turun!" teriaknya.


Matanya sudah berkaca-kaca. Sungguh tega dosennya yang notabene adalah teman sekolah kakaknya itu menuduhnya yang tidak-tidak. Bahkan pacaran pun dia tidak pernah walau usianya kini sudah dua puluh satu tahun.


Kevin masih saja melajukan mobilnya dengan kencang.


"Berhenti! Atau aku lompat!" teriak Alya.


Dia tidak peduli walau orang di sebelahnya itu adalah dosennya sendiri. Hatinya terlanjur sakit.


Melihat Kevin yang terus melaju, Alya nekat membuka pintu mobil.


"Berhenti! Aku loncat beneran, nih!" teriak Alya yang mulai menangis.


"Berani?"


"Berhenti!"


"Pasang sabuk pengaman!"


"Nggak mau!"


"Buka pintunya!"


"Pasang sabuk pengaman atau nilai kamu saya kasih D!" ancam Kevin.


Seketika Alya menoleh lalu mengusap air matanya. Gadis itu menyerah dan mau tidak mau Alya akhirnya memasang sabuk pengamannya.


Kevin terus melajukan mobilnya. Sesekali dia menoleh ke arah mahasiswinya yang ternyata sedang menghapus airmatanya yang terus mengalir. Wajah gadis itu basah dengan mata yang mulai merah.


"Kenapa menangis?" tanya Kevin pelan.


Alya menoleh sekilas. Kenapa menangis? Dasar tidak punya perasaan. Batin Alya.


"Sengaja ya menangis supaya kakak kamu berpikir kalau saya yang sudah membuat kamu menangis. Iya?"


Alya menoleh, "Memangnya menangis bisa di sengaja? Dasar nggak punya hati!"


"Apa kamu bilang saya nggak punya hati?"


"Iya! Memang bapak nggak punya hati!" Alya semakin keras menangis.


Saat di lampu merah, Kevin mengerem mendadak, "Hhhmm, berani kamu, ya!"


"Kenapa? Bapak memang nggak punya hati. Bapak sudah menuduhku yang nggak bener!"


"Hhmm, memangnya saya nuduh kamu apa, heh?"


"Apa? Bapak lupa? Bapak bilang aku sudah sering di cium! Bapak bilang aku sok polos!"


"Oohh, jadi itu nggak bener?" tanya Kevin santai.


"Memang dasar nggak punya hati!"


"Coba bilang sekali lagi?"


"Bapak nggak punya hati!" teriak Alya.


Cup! Tiba-tiba Kevin mencium bibir Alya membuat gadis itu kaget dan syok. Dia langsung memegang bibirnya yang masih terasa kecupan dari laki-laki di sampingnya.

__ADS_1


Alya langsung meraih tissu yang ada di dustboard. Mengambilnya berlembar-lembar lalu mengusap bibirnya berkali-kali. Dia terus mengambil tisu hingga habis dan bekasnya dia buang sembarangan.


"Hey! Apa-apaan, kamu?" protes Kavin.


Alya menangis tergugu.


"Hhmm, maafkan saya," ucap Kevin pelan.


Dia lalu mengusap air mata di pipi Alya perlahan dengan ujung jarinya. Alya memalingkan wajahnya. Usapan halus itu beralih ke bibir Alya. Tubuh Alya menegang. Jantungnya semakin berpacu. Dia tidak tahu jika dosennya pun merasakan hal yang sama.


"Hhumm, nanti saja," gumam Kevin lalu kembali duduk menghadap ke jalan.


"Saya antar kamu pulang tapi berhenti menangis kalau nggak mau saya cium lagi!" ancamnya.


Alya buru-buru menghapus airmatanya membuat Kevin tersenyum tipis. Kevin kembali melajukan mobilnya kali ini dengan kecepatan sedang bahkan terasa sangat pelan. Dia seperti sengaja supaya bisa berlama-lama dengan mahasiswinya itu.


Tenyata dia memang berbeda. Dia sama seperti kakaknya yang selalu menjaga jarak dengan lawan jenis. Dia juga lucu. Kalau tidak memikirkan perasaannya, rasanya ingin sekali aku ulangi lagi yang tadi. Hhh, hanya sedetik saja dia sampai menangis seperti itu. Batin Kevin.


Kevin kembali melirik gadis di sebelahnya.


Tanpa terasa akhirnya mereka sampai di depan rumah Alya. Baru saja sampai di depan pintu gerbang, Alya sudah buru-buru ingin membuka pintu tapi tangannya di tahan oleh Kevin.


"Aku mau turun!"


"Hapus dulu air mata kamu!"


"Sudah aku hapus, kok!" sahut Alya.


"Mana buktinya? Coba saya lihat?"


"Li-lihat apa?"


"Lihat matanya masih nangis, nggak? Mau lihatin yang lain, hmm?"


"Iihh, paan, sih!"


"Lihat dulu!"


"Nggak mau!"


"Ya sudah kalau nggak mau. Sengaja ya supaya terus berduaan sama saya di mobil, hmm? Nggak masalah!"


"Iiihh, siapa juga yang mau berduaan lama-lama sama bapak!"


"Oohh, ya sudah. Mana lihat matanya?"


Hhh, paan sih pak Kevin ini. Nggak tahu apa, aku gemetar begini. Batin Alya.


"Ya sudah!"


"Iya-iya!" dengus Alya kesal.


Alya lantas menghadap ke arah Kevin. Mereka saling bertatapan. Alya yang malu lantas memalingkan wajahnya.


"Su-sudah, kan?"


"Masih ada sisa air matanya!" ucap Kevin lalu mengusap ujung mata Alya sampai ke pipi.


Tubuh Alya makin gemetar. Rasanya dia ingin menangis lagi.


"Deg-degan, ya?" goda Kevin.


Alya langsung berbalik membelakangi Kevin lalu membuka pintu mobil. Saat pintu terbuka, Alya buru-buru turun dari mobil tanpa berpamitan lagi. Dia berlari seolah takut ada yang mengejarnya.


"Dia!" gumam Kevin yang terus melihat ke arah Alya sampai gadis itu hilang di balik pintu.


Kevin pun segera pergi dari sana.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


18


__ADS_2