Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 184


__ADS_3

Siang harinya, Kevin sudah berada lagi di rumah Alya. Mereka sedang ngobrol di taman samping.


"Annisa biasa pulang jam berapa?" tanya Kevin.


"Aku kurang tahu, mungkin sekitar pukul satu atau dua siang," jawab Alya.


"Sekarang belum pukul dua belas nih, jadi masih ada waktu satu dua jam lagi," ucap Kevin.


"Iya, pak Kevin masih bisa balik lagi ke kampus!" ucap Alya setengah mengusir.


"Kamu ngusir saya, nih?" tanya Kevin.


"Enggak kok, daripada kelamaan nunggu di sini, kan?"


"Ya nggak apa-apa lama nunggu di sini kan sambil ngobrol sama kamu!" ucap Kevin sambil menatap Alya lekat.


Alya memalingkan wajahnya, malas menatap mata Kevin yang sedari tadi tidak pernah berpaling menatap matanya.


"Kamu ikut kan ke rumah Darren?" tanya Kevin.


"Nggak, ahh!" jawab Alya cepat.


"Lho kenapa nggak ikut? Masa saya sama Anisa saja yang ke sana?" protes Kevin.


"Ya terserah saja. Aku nggak mau ikut!" jawab Aliya.


"Kok gitu sih, kamu tega saya jadi obat nyamuk mereka?" tanya Kevin lagi.


"Kalau nggak mau jadi obat nyamuk ya nunggu saja di mobil."


"Hhmm, ya nggak bisa gitu masa saya harus tinggalin Alya berdua saja sama Darren? Itu sama saja saya tidak bertanggung jawab dong bawa anak gadis orang."


"Lagipula siapa suruh mengajak Anisa ke sana kan?"


"Hhmm, kan sekaligus saya menjenguk Darren. Dia sudah baikan belum. Kasihan juga melihatnya."


"Hhmm,"


"Saya berencana akan membiayai kuliahnya!"


Alya kaget lantas menatap mata Kevin. Mencari kesungguhan di sana.


"Hhmm, pak Kevin serius?"


"Tentu saja. Itu sebagai imbalannya karena dia sudah menyelamatkan calon istri saya!"


Wajah Alya seketika memerah.


"Hhh, jadi adik kamu itu bener-bener pacaran sama si Darren?"


Alya mengedikkan bahunya, "Aku nggak tahu sih. Annisa bilangnya nggak pacaran, hanya berteman saja."


"Yah kecil-kecil sudah merasakan jatuh cinta ya begitu."


"Seperti yang nggak pernah jatuh cinta saja sewaktu sekolah," sindir Alya.


"Kamu tahu kalau aku dulu pernah pacaran sewaktu masih sekolah?" tanya Kevin.


"Mana kutahu lah!" jawab Alya. Gawat kalau sampai pak Kevin tahu kalau mas Andre sudah memberitahukanku soal pak Kevin yang pernah patah hati di masa sekolah dulu.


"Hhmm, kamu nggak pernah?" Kevin balik bertanya.


"Nggaklah!"


"Jadi saya yang pertama, donk!"


"Iiihh, siapa juga yang pacaran sama bapak?" sungut Alya.


"Bukan pacar tapi kan calon istri," ucap Kevin pelan.


"Iihh," wajah Alya memerah. Pak Kevin sering banget bilang aku ini calon istrinya. Mas iya sih, dia sungguh-sungguh. Batin Alya.


"Kamu mau kan jadi istri saya?" tanya Kevin lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak perhiasan. Lalu mengulurkannya ke arah Alya.


Alya menatap Kevin dan kotak perhiasan itu secara bergantian. Jantungnya berdetak tidak beraturan. Dia sungguh terharu.


Kevin lalu membuka kotak itu. Sebuah cincin bermata putih yang sangat cantik. Alya sampai ternganga menatap cincin itu.

__ADS_1


Kevin pun mengambil cincinnya lalu menyematkannya di jari manis Alya. Mata Alya berkaca-kaca. Ternyata pak Kevin sungguh-sungguh denganku. Batin Alya.


"Lamaran resminya nanti setelah kamu di wisuda!" tegas Kevin lalu mencium punggung tangan Alya. Wajah Alya makin memerah saja.


Alya menitikkan airmatanya. Tak di sangka Kevin akan melamarnya secepat ini.


"Kenapa menangis, hmm?" tanya Kevin lembut seraya mengusap pipi Alya dengan ujung jarinya.


"Hhmm, aku. . ."


"Saya mencintai kamu!"


"Aku. . ." suara Alya bergetar.


"Kak Kevin!" teriak Annisa dari jauh.


Reflek Alya dan Kevin menoleh. Annisa setengah berlari menghampiri mereka.


"Adik kamu ganggu saja deh, kita sedang asik berduaan," gumam Kevin tapi masih bisa di dengar oleh Alya. Alya menyunggingkan senyum tipisnya dengan tatapan tak lepas dari cincin indah di jari manisnya.


"Kak, jadi ke rumah kak Darren, kan?" tanya Annisa antusias.


"Nggak kok, mau pacarin mbak kamu nih!" gurau Kevin.


Wajah Annisa berubah cemberut.


Kevin dan Alya kompak tertawa.


"Paan, sih!" Annisa mendengus kesal. Dia lalu membalik badannya hendak pergi dari sana.


"Makan siang dulu, istirahat dulu baru jenguk pacarnya!" celetuk Alya.


Annisa menghentikan langkah kakinya, "Iiih, mbak Alya sudah ikut-ikutan Alina saja. Sebel!"


"Ya sudah kalau sebel, nggak jadi di temani jenguk pacarnya," sahut Kevin.


"Iiihh!" Annisa menghentakkan kakinya.


"Dek, nggak boleh gitu, ahh. Pak Kevin cuma bercanda. Sana ganti pakaian lalu makan siang dulu!" titah Alya.


"Iya-iyaa!" sahut Annisa lantas gegas berlalu dari sana.


"Hhmm,"


"Mbaknya juga lucu, gemesin, ngangenin!" ucap Kevin sembari menatap Alya dengan tatapan penuh arti membuat gadis itu salah tingkah.


"Mas nggak di ajak makan siang bareng, hmm?"


"Mas?" tanya Alya kaget.


"Mas Kevin."


"Iihh, nggak cocok!" ucap Alya geli.


"Lalu cocoknya di panggil apa, hmm? Sayang?"


Alya menyebik, "Pak Kevin!"


"Iiihh, masa panggil calon suaminya gitu?" Kevin cemberut.


"Mbak Alya, ayo makan!" teriak Annisa.


"Tuh, sudah nggak sabar mau ketemu pacarnya."


Alya hanya tersenyum.


"Kamu ikut, ya!" pinta Kevin.


Alya menggeleng cepat, "Nggak, ahh!"


"Al?"


"Aku belum siap!"


"Hhmm, ya sudah kalau gitu kamu tunggu di mobil. Bagaimana, hmm?"


"Iihh, maksa!"

__ADS_1


"Hhmm, ya masa kamu tega mas jadi obat nyamuk adik kamu, sih? Eh, dua-duanya adik kamu, ya"


Alya menoleh.


"Eh tapi untung saja mereka bukan saudara kandung, kan. Kasihan juga kalau bersaudara tapi sama-sama suka. Hanya kamu dan Andre yang mempunyai hubungan sama mereka. Rumit juga ya, Al."


"Sudah, ah. Males bahas itu!" ucap Alya kesal.


"Hhmm, iya maaf, sayang!"


"Iihh,"


Mereka pun sampai di ruang makan. Semua keluarga sudah menunggu.


"Ayo, kita makan bareng!" ajak Anto.


"Iya, om," sahut Kevin.


Mereka lalu sibuk dengan piring masing-masing. Setelah selesai makan siang, mereka duduk-duduk di dekat kolam renang.


"Eh, mbak Alya sejak kapan pakai cincin?" tanua Alina kaget.


Semua orang reflek menoleh ke arah tangan Alya. Alya langsung menyembunyikan tangannya. Wajah Alya pun memerah.


"Al?" Anto menatap putrinya lekat-lekat.


Alya yang salah tingkah reflek menoleh ke arah Kevin.


"Hhmm, maaf om. Tadi saya melamar Alya untuk jadi istri saya. Tapi lamaran resminya nanti setelah Alya di wisuda!" jelas Kevin membuat wajah Alya makin merah antara malu dan bahagia.


"Waahh!" sontak Alina dan Annisa bertepuk tangan.


"Selamat ya, Al!"


"Hhmm, kamu benar-benar yakin sama Alya? Sudah mengerti sifat-sifatnya? Dan mau menerima dia apa adanya?" tanya Anto.


"In Sya Allah, om. Saya benar-benar yakin dan tidak ingin mengulur waktu lagi."


"Hhmm, baiklah. Saya terserah Alya saja kalau dia bersedia."


"Pasti bersedia donk, yah. Cincinnya saja sudah di pakai. Bagus banget!" celetuk Alina.


"Iya, ya. Iiihh, senengnya. . ." Annisa ikut menimpali.


"Hhhmm, Annisa mau juga itu di lamar sama kak Darren!" goda Alina.


"Alin, mulai deh!" sungut Annisa.


"Oh iya om, saya ijin ajak Annisa menjenguk Darren," ucap Kevin.


"Sekarang ya, kak?" tanya Annisa bersemangat.


"Duuhh, yang nggak sabar bertemu pujaan hatinya!" goda Alina lagi.


"Alin!" teriak Annisa lantar hendak mendekati Alina. Gadis itu gegas berlari masuk ke kamarnya.


"Alin, nyebelin!"


"Hahaaa!" tawa Alina dari dalam kamarnya.


"Anak-anak! Jangan bertengkar terus!" teriak Santi.


"Sudah yank, biarkan saja!"


Kanaya dan Alya hanya senyum-senyum saja melihat Alina yang setiap hari selalu saja menggoda kembarannya.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


20


__ADS_2