Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 146


__ADS_3

Andre baru saja selesai jam kerjanya. Berhubung tidak ada kuliah hari ini jadi dia mau langsung pulang.


"Dre, kita kumpul-kumpul dulu yuk sama yang lain mumpung kamu nggak ada kuliah kan hari ini!" ajak Wahyu.


"Maaf, nih. Aku ada janji sama istriku mau pualng cepat hari ini," tolak Andre halus.


"Aahh, payah kamu Dre!" ucap Wahyu kesal.


"Makanya nikah biar tahu rasanya dan pinginnya cepat pulang terus!" celetuk Feri.


"Aahh, bisanya ngomong. Dia sendiri belum nikah juga!" protes Wahyu.


"Hahaa. Makanya ini sedang nyari!" sahut Feri.


"Aku sama istri mau cari kontrakan, nih!" jelas Andre.


"Kamu mau cari kontrakan? Nggak salah tuh!" tanya Wahyu.


"Nggaklah!"


"Memang istrimu mau di diajak ngontrak? bukannya dia anak orang kaya?" tanya Wahyu heran.


"Lah si Andre juga kan anak orang kaya kok!" Ferry ikut menimpali.


"Nah iya betul. Kalian kan sama-sama anak orang kaya. Kenapa mesti ngontrak?" tanya Wahyu lagi.


"Aku kan sudah menikah jadi aku nggak mau lagi menyusahkan orang tua, dong! Istriku juga sudah aku beri pengertian kalau mau menikah denganku dia harus menuruti semua kata-kataku!" jelas Andre.


"Wah beruntungnya kamu Ndre. Sudah dapat istri yang cantik, orang kaya, penurut lagi."


"Dapat istri cantik dan kaya itu hanya bonus yang penting istri harus nurut apa kata suami selama itu benar!"


"Hhmm, iya-iya!"


Kalau gitu kenalin dong sama wanita yang seperti istri kamu!" ucap Wahyu.


"Tidak ada manusia yang sama! Aku bahkan berharap istriku bisa seperti bundaku yang baik hati dan penyayang. Tapi tetap saja, tidak ada manusia sempurna!" jelas Andre.


"Bukannya kamu punya adik perempuan tiga orang ya, Dre? Yang satu sedang kuliah?" tanya Ferry.


"Iya adikku satu sedang kuliah. Mungkin sebentar lagi dia lulus.


"Wah kenalin saja tuh sama si Wahyu!" ucap Ferry sambil melirik ke arah Wahyu.


"Wah si Alya sudah mau jadi sarjana saja. Cepet juga, ya!"


"Aku sama sama Alya kan hanya beda tiga tahun saja kecuali sama si kembar bedanyajauh.


"Oh iya kamu sama Alya masih satu ibu kan, ya?" tanya Ferri.


"Iya!" jawab Andre.


"Bagaimana si Alya apa sudah punya pacar?" tanya Wahyu


"Setahuku sih belum," jawab Andre.


"Wah boleh tuh kita deketin. Wahyu, kita bersaing secara sehat, ya. Hahaa!" gurau Ferry.


"Boleh tuh!" sahut Wahyu.


"Bagaimana nih calon kakak ipar, apa boleh?" tanya Ferry lagi.


"Kalau masalah itu aku angkat tangan, deh!" jawab Andre.


"Ahh, kakak ipar nggak asik nih!" ucap Wahyu.

__ADS_1


"Iya tuh!" sahut Andre.


"Sudah dulu ya, aku mau pulang nih. Nanti istriku keburu nyariin!" pamit Andre.


"Iya pulang sana!" usir Wahyu.


Andre kemudian buru-buru ke parkiran. Andre menyalakan mesin mobilnya kemudian berlalu pergi dari rumah sakit menuju ke rumah bundanya.


Hampir satu jam perjalanan, Andre baru sampai ke rumah. Baru saja Andre masuk ke halaman rumah, di belakangnya berhenti sebuah mobil. Saat Andre menoleh ternyata Alya turun dari mobil itu. "Alya Di antar siapa, ya?" gumam Andre. Sepertinya itu mobilnya Si Kevin deh. Batinnya.


"Al, kamu diantar lagi sama Kevin?" tanya Andre saat mereka sama-sama hendak masuk ke dalam rumah.


"Iya, mas!" jawab Alya malu.


"Kamu nggak ada hubungan apa-apa kan sama si Kevin?" tanya Andre menyelidik.


"Pak Kevin itu dosen pembimbingku, mas!" jelas Alya.


"Oh, begitu!" sahut Andre. "Jadi bisa sering ketemu dong!" imbuhnya.


"Nggak juga kok, mas!" jawab Alya.


"Iya juga enggak apa-apa kok, dek. Sepertinya Kevin suka sama kamu!" ucap Andre.


"Ah itu hanya perasaan mas saja."


"Hhmm."


"Aku ke kamar dulu, mas!" pamit Alya buru-buru.


Andre mengamati adiknya sampai tak terlihat lagi. Lalu Andre masuk ke kamarnya.


Di dalam kamarnya, istrinya sedang asik duduk di sofa sambil memainkan gawainya.


"Assalamualaikum!" ucap Andre.


"Kamu sudah mandi, sayang?"


"Sudah, mas!"


"Harum. Bikin Kangen!" bisiknya.


Kanaya tersenyum malu, "Mas langsung mandi, kan?"


"Iya, sayang. Kamu mau temani, ya?" goda Andre.


"Iiihh, aku kan sudah mandi, mas!" tolak Kanaya sembari membantu suaminya melepaskan pakaiannya.


"Jadi kapan, donk?" wajah Andre terlihat berharap.


"Hhmm, kalau aku belum mandi!"


"Kapan tuh?"


"Hhmm, mas ini. Kan sudah tahu," ucap Kanaya malu.


"Mas kangen!" ucap Andre dan dengan tiba-tiba menggendong istrinya lalu membawanya ke kamar mandi.


"Mas, iihh!" protes Kanaya.


Setengah jam kemudian, Kanaya sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdryer sedangkan Andre sedang berbaring di atas tempat tidur.


"Kita ke rumah papi kapan mas?" tanya Kanaya.


"Setelah selesai salat magrib saja ya sayang!" jawab Andre.

__ADS_1


"Aku terserah mas aja!" sahut Alya.


Setelah selesai salat maghrib, Andre dan Kanaya pamit kepada keluarganya untuk pergi ke rumah Kanaya. Setelah memakan waktu setengah jam, mereka pun tiba di depan rumah Kanaya.


Andre membukakan pintu mobil untuk Kanaya.


"Mas, papi sama mami sudah nungguin kita untuk makan malam!" ucap Kanaya.


Mereka lalu pergi ke ruang makan. Di sana sudah ada papinya Kanaya. Setelah semua anggota keluarga datang, merekapun segera makan malam dengan doa dipimpin oleh Kalla kakaknya Kanaya.


Setelah selesai makan malam mereka semua pergi ke ruang keluarga.


Setelah mengobrol santai, Andre kemudian mengutarakan maksudnya.


"Maaf, papi, mami, saya berniat mengajak Kanaya untuk mencoba mandiri dengan tinggal di rumah sendiri!" ucap Andre hati-hati.


"Hhmm, kamu sudah punya rumah sendiri? Di daerah mana?" tanya papi Kanaya.


"Saya belum tahu, pi. Kita meminta ijin terlebih dahulu setelah itu baru kita akan mencari rumahnya!" jelas Andre.


"Hhmm, kamu tahu kan putri saya ini terbiasa tinggal di rumah yang besar dan mewah. Saya harap kamu tidak membeli rumah yang membuat putri saya satu-satunya ini merasa tidak leluasa di rumahnya sendiri."


"Hmm, untuk sementara ini kami akan mengontrak rumah terlebih dahulu jika tabungan saya cukup barulah saya akan membeli rumah sendiri."


"Apa? Mengontrak?" tanya papi Kanaya kaget.


"Iya, pi."


"Kamu nggak bisa membahagiakan putri saya yang satu-satunya ini, ya?"


"Sudah, pi. Wajar saja kalau pengantin baru belum memiliki rumah sendiri. Lagipula Andre ini kan dokter dan juga sedang mengambil spesialis jadi kita doakan saja semoga rezeki mereka banyak!" ucap mami Kanaya dengan bijak.


"Huuhhh!" papi Kanaya terlihat kesal.


"Aamiin. Terimakasih doa dan pengertianya, mi!" sahut Andre.


"Tapi ingat, walau pun mengontrak, saya tidak ingin putri saya tinggal di rumah yang sederhana. Kamu pahamkan, Andre?"


"Saya paham, pi!" sahut Andre.


"Dan satu lagi, dia tidak terbiasa memegang pekerjaan rumah termasuk dapur!"


"Iya, pi. Saya mengerti. Saya akan dengan sabar dan pelan-pelan mengajarinya bagaimana mengurus rumah."


Papi Kanaya bangkit dari duduknya, "Apa kamu bilang? Kamu mau menjadikan putri saya pembantu, hehh?" murka papi Kanaya.


Semua orang yang ada di sana langsung kaget pun Andre dan Kanaya.


.


.


.


.


Maaf masih banyak typo 😊🙏


.


.


.


.

__ADS_1


14.3


__ADS_2