
Pov Lisa 2
Beberapa bulan kemudian aku melahirkan. Anakku berjenis kelamin laki-laki. Wajahnya persis mas David. Mas David menamainya Daren.
"Tuh mas,wajahnya saja sangat mirip sama kamu! Jadi dia bener-bener anak mas!" ucapku sinis.
"Iya-iya!" sahutnya ketus.
Beruntung aku bisa melahirkan secara normal karena kalau caecar,mas David bilang kalau dia tidak mempunyai dana. Aku pikir mas David itu banyak duitnya ternyata untuk biaya melahirkan caesar saja dia tidak mampu sampai dia memaksaku untuk melahirkan secara normal.
Perlengkapan bayi pun dia memaksaku untuk memakai separuh dari pakaian bekas anaknya dulu. Karena aku juga tidak mempunyai uang,terpaksa aku memakaikan pakaian bayi bekas itu untuk anakku.
Beberapa bulan kemudian entah mengapa tiba-tiba aku merindukan kehidupanku saat masih di kost. Di sana dulu temanku banyak,aku tidak terlalu capek dan terkekang karena mas Anto yang sabar dan mau membantuku.
Aku rasanya ingin menemui mereka tapi aku malu. Tetangga kost sudah tau kalau aku selingkuhi mas Anto. Mau ketemu anak-anakku di rumah mantan mertuaku juga aku sangat gengsi kesana.
Hingga aku tidak tahan lagi untuk bertemu dengan anak-anakku,akhirnya aku berpura-pura hendak ke warung padahal aku ingin ke rumah mantan mertuaku. Tapi ternyata kedua anakku tidak ada di rumah neneknya. Mereka sedang ikut ayahnya bekerja.
Memangnya mas Anto kerja di mana,masa hari minggu masih tetap kerja dan lagi masa boleh kerja sambil membawa anak-anak. Apa mungkin mantan mertuaku itu bohong. Tapi yang aku tahu,mantan mertuaku itu tidak akan mungkin berbohong. Aku tanya ke tetangganya pun jawabannya tetap sama. Akhirnya aku pulang tanpa bertemu anak-anakku.
Sampai di rumah,mas David ngomel-ngomel. Padahal aku hanya pergi tidak sampai setengah jam saja itupun aku sudah berjalan dengan langkah kaki cepat agar bisa menghemat waktu tetapi tetap saja dia masih mengatakan kalau aku pergi terlalu lama.
Memang putraku itu sedang rewel. Untung saja aku ingat untuk mampir dulu ke warung membeli telur setengah kilo. Sebenarnya tinggal di rumah ini membuatku tidak nyaman dan tenang karena mulut tetangga yang sering berbisik menggosipkan tentang aku dan mantan istrinya mas David.
Sepertinya tentang aku yang merebut mas David dari si Melly sudah jadi rahasia umum di lingkungan sini. Mungkin saja si Melly itu menceritakan yang tidak-tidak tentang aku. Dasar perempuan itu,sudah pergi dari sini tetap saja membuat aku tidak tenang.
Sungguh aku benar-benar tidak tahan dengan pernikahan ini tapi mau bagaimana lagi kalau aku bercerai juga dengan mas David,lalu bagaimana dengan kehidupan aku nanti.
Sedangkan dengan Melly saja mas David tidak pernah lagi memberikan nafkah padanya. Dia hanya memberikan uang bulanan Rp300.000 untuk putrinya saja. Bagaimana bisa hidup dengan uang sekecil itu. Terpaksa pernikahan tidak sehat ini terus aku jalani.
Beberapa hari kemudian aku kembali lagi ke rumah ibunya mas Anto. Aku kaget saat tiba di sana ternyata di depan rumah mantan mertuaku itu sudah terparkir sebuah mobil mewah.
__ADS_1
Aku pikir itu mobil tetangga yang numpang parkir di depan rumah mertuaku ternyata aku salah. Saat aku masuk ke halaman rumah,mereka sekeluarga hendak pergi. Dan yang membuatku kaget ada satu orang wanita yang tidak aku kenal. Wanita itu sepertinya lebih tua dari mas Anto. Cara berpakaiannya modis sepertinya orang kaya. Apa itu calon istrinya mas Anto? Tapi tidak mungkinlah mas Anto mau menikah dengan wanita yang lebih tua darinya.
Mereka lalu pergi meninggalkanku sendirian termasuk putriku Alya. Dia dipaksa pergi oleh mereka. Aku sangat sakit hati terutama sama mas Anto. Mentang-mentang bawa mobil,jadi sombong dia.
Beberapa hari kemudian aku datang lagi dan ternyata rumah itu kosong. Aku lalu memutuskan untuk pulang saja tapi saat aku baru saja membalik badan,tiba-tiba ada mobil mewah yang waktu itu baru sampai. Mereka semua turun sambil tertawa-tawa.
Aku lihat Aminah membawa banyak sekali kantong belanjaan yang besar-besar di bantu sama Andre. Sepertinya mereka baru selesai berbelanja dan wanita itu ada lagi,berjalan di samping mas Anto. Bahkan tadi dia duduk di depan di sebelah mas Anto.
Saat turun dari mobil,Alya langsung memelukku. Tentu saja aku sangat senang dan langsung membalas pelukannya.
Sebenarnya aku juga ingin memeluk putraku Andre tapi sepertinya dia membenciku. Bahkan dia begitu sinis melihatku dan langsung masuk saja ke rumah neneknya.
"Ibu?" seru Alya.
"Sayang,kamu dari mana?"
"Aku dari beli pakaian untuk nikahan ayah sama tante Santi!" jelas Alya.
Setelah mengobrol beberapa menit dengan putriku,aku lalu pulang ke rumah takut mas David marah-marah lagi. Aku pulang dengan hati yang tidak karuan. Sakit,iri dan dendam di hatiku.
Sampai di rumah,mas David sudah menungguku di depan pintu.
"Kamu dari mana,sih? Ke warung kok lama? Mana belanjaan kamu?" todongnya. Aku kaget. Aku hanya menatapnya sekilas lalu buru-buru masuk sebelum ada tetangga yang melihat pertengkaran kami.
Tiba-tiba mas David menarik tanganku. Mencengkeramnya kuat hingga terasa sakit dan tanganku memerah.
"Kamu sudah berani,ya! Di tanya tuh,jawab!" ucapnya dengan nada tinggi.
"Lepasin,mas! Sakit!" ucapku seraya memberontak.
"Jawab! Darimana kamu,hahh!"
__ADS_1
"Aku-aku dari warung tapi yang aku cari sudah habis!" jawabku bohong. Gara-gara mikirin mas Anto yang hendak menikah dengan perempuan kaya,aku sampai lupa ke warung.
"Memangnya kamu cari apa di warung,heh? Cari laki-laki?"
"Kamu jangan bicara sembarangan,mas!"
"Apa? Awas ya kalau sampai kamu macam-macam! Aku bikin kamu menyesal!" ancamnya lalu menghempaskanku di sofa.
"Mas!"
"Urusin itu anak kamu! Awas kalau kamu pergi lagi!" ucapnya lalu pergi keluar sambil membanting pintu. Entah mau kemana dia padahal hari minggu kerjanya libur.
Aku pegangi tanganku yang tadi di cengkeramnya. Merah dan sakitnya masih terasa. Benar-benar mas David kasar. Entah sampai kapan aku bisa bertahan hidup dengannya. Belum lagi uang belanja darinya yang hanya pas-pasan karena dia maunya makan enak setiap hari. Ujung bulan sudah pasti habis sedangkan untuk kebutuhan Daren,dia yang belanja sendiri.
Aku lalu ke kamar. Putraku itu sedang tidur. Ada bekas airmata di pipinya,mungkin dia habis menangis. Aku lupa sudah meninggalkannya hampir satu jam.
.
.
.
.
.
.
.
13
__ADS_1