Kekasih Istriku

Kekasih Istriku
bab 101


__ADS_3

Hati makin tenang. Perasaanku pun makin bahagia. Malam pertama di ruang ranap biasa rasanya seperti di kamar sendiri. Walau sudah ada ranjang yang di sediakan untuk yang menunggui pasien, aku tetap tidur satu ranjang dengan istriku. Walau aku tahu itu sedikit menyiksaku tapi aku sangat merindukan moment seperti ini.


"Nggak apa-apa ranjangnya jadi sempit ya, yank?" tanyaku.


Istriku tersenyum, "Nggak apa-apa, mas!"


"Asal jangan banyak gerak, yank! Bahaya!" godaku.


Dia hanya tersenyum malu.


Hhh, memang menyiksa. Lebih menyiksa daripada menunggunya selama beberapa bulan ini. Aku tahu istrikupun merasakan itu. Aku bisa merasakan degup jantungnya di dadaku. Mungkin kami sudah boleh melakukannya mengingat istriku sudah lebih empat bulan melahirkan tapi aku tidak ingin mengambil resiko karena dia belum benar-benar pulih.


Menit-demi menit berlalu. Sampai jarum jam berpindah ke angka satu, aku belum juga bisa pindah ke alam mimpi. Aku lihat istriku sudah nyenyak dari hembusan nafasnya yang mulai teratur.


Perlahan aku duduk lalu turun dari ranjang. Aku lalu tidur di ranjang yang satunya. Beberapa menit aku sudah bisa tidur dengan nyenyak.


Aku terbangun saat mendengar istriku memanggil.


"Mas. . ." panggilnya lembut.


Mataku rasanya berat sekali untuk di buka. Tapi istriku kembali memanggil.


"Mas!" kali ini suaranya lebih keras.


Aku langsung duduk dan mengerjap-ngerjapkan mataku.


"Yank?"


"Mas, aku mau ke kamar mandi."


"Hhmm, i-iya, yank!"


Aku gegas turun dan mendekatinya.


"Ayo mas gendong!" ucapku dan langsung menggendongnya, membawanya ke kamar mandi.


"Mas keluar dulu, ya!" pintanya.


Aku menggeleng, "Mas tungguin!"


"Mas, ayo keluar!" desaknya.


"Tapi, yank?" tolakku.


"Mas iihh, ayo keluar cepat!" usirnya.


"Hhh, iya-iya! Mas tunggu lima menit!" ucapku dan langsung keluar dari kamar mandi tapi tanpa menutup pintunya.


"Tutup pintunya, mas!" teriaknya dari dalam.


Aku pun langsung menutup pintu kamar mandi.


"Huuhh, kenapa sih masih malu-malu segala?" gumamku dengan wajah kesal.


Lima menit berlalu, aku mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi, "Yank!" panggilku.


Bbyyuuurrr! Terdengar suara air dari dalam kamar mandi.


"Yank!" panggilku setengah berteriak.


Tak ada sahutan juga, aku lalu membuka pintu.


"Mas iihh!" protesnya.


Aku hanya tersenyum, "Makanya di panggil itu jawab!"


"Mas tuh nggak sabaran!" ucapnya kesal.


"Sama suami sendiri saja masih malu. Sudah sering juga. Sini mas bantu!" ucapku seraya membantunya.


Dia hanya diam dengan wajah merah.


"Aku mau sekaligus mandi, mas."


Aku menggelengkan kepala, "Nanti saja!"


"Tapi mas? Aku-aku bau," ucapnya lirih.


"Siapa yang bilang kamu bau, hmm?"


"Memang bau, kan?"


Aku menggelengkan kepala, "Kamu nggak bau, yank!"


"Mas bohong!" ucapnya kesal.

__ADS_1


"Loh, kapan mas pernah bohong?"


"Hhh."


"Hayo jawab, kapan mas pernah bohong?"


"Hhh, kenapa mas tidurnya pindah? Pasti karena aku bau, kan?"


Aku tersenyum lalu menggelengkan kepala, "Mas pindah tidurnya karena nggak bisa nyenyak, yank!"


"Iya, nggak bisa tidur nyenyak gara-gara tidur di dekat orang bau!"


Aku menarik nafas berat, "Mau tahu alasannya, hmm?"


Dia memalingkan wajahnya masih dengan wajah di tekuk.


"Mas tersiksa tidur sama kamu!"


Dia menoleh dengan mata membulat, "Tersiksa?"


Aku mengangguk, "Tersiksa karena nggak bisa menahan hasrat mas sama kamu kalau tidurnya berdekatan seperti itu," bisikku.


Wajahnya seketika memerah. Dia menundukkan kepalanya.


"Sudah selesai, kan? Mas gendong, ya?"


"Tapi aku ingin mandi, mas. Kan ada air hangatnya. Jadi nggak bakal kedinginan. Boleh, ya?"


"Hhmmm. Boleh tapi mas yang mandiin!"


"Tapi, mas?"


"Nggak ada tapi-tapian!"


Aku lantas keluar kamar, mengambil handuk lalu gegas kembali lagi ke kamar mandi.


"Mas Iihh!" protesnya.


"Mas mau mandi juga, yank!" ucapku tanpa mempedulikan tatapan protesnya.


Setengah jam. Aku menggendongnya lalu membawanya ke atas ranjang.


"Kamu mau pakai pakaian yang mana, yank? Gamis, babydoll apa daster?" tanyaku.


"Babydoll saja, mas. Lebih nyaman."


***


Setelah beberapa hari di rawat ruang ranap biasa.


"Dokter kapan datang ya, mas? Biasanya jam segini sudah ke sini."


"Mungkin masih mengunjungi pasien lain, yank!"


"Semoga aku bisa pulang besok ya, mas. Aku sudah sehat, kok!"


"Kenapa buru-buru, tunggu sampai kamu benar-benar sehat!"


"Aku sudah benar-benar sehat, mas!"


"Hhmm, nanti kita tanyakan lagi sama dokter, ya!"


Tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu.


"Alhamdulillah, makin banyak kemajuan. Jangan lupa obatnya terus di minum secara teratur dan juga tidak boleh berpikir berat ya, bu!" jelas dokter.


"Kankernya bagaimana, dok?" tanyaku.


"Sel kankernya kan sudah di operasi dan semoga dengan rutin mengkonsumsi obat yang kita resepkan, sel kankernya benar-benar hilang dan tidak muncul lagi! Tapi tetap harus menjaga pola makan ya, bu!" jelas dokter.


"Jadi bagaimana, dok? Apa saya boleh pulang besok?" istriku selalu bertanya setiap kali dokter visit. Wajahnya selalu penuh harap setiap kali dokter selesai memeriksanya.


"Belum bisa ya, bu! Nanti saya kabari lagi kapan ibu boleh pulang!" sahut dokter.


"Kenapa, dok?"


"Karena pemulihan ibu butuh waktu lebih lama. Dan fisik ibu juga masih lemah. Selain itu masih ada obat yang kita masukkan melalui infus. Kalau infusnya sudah boleh di lepas itu artinya ibu sudah boleh pulang. Dan hanya akan rawat jalan saja."


Dan wajah itu kembali murung saat dokter menghilang di balik pintu.


"Aku kangen bayiku, mas," ucapnya sedih.


"Hhmm, sabar yank! Dokter lebih tahu apa yang terbaik untuk pasiennya!"


"Hhh, iya mas!"

__ADS_1


"Nanti siang Aminah dan anaknya mau ke rumah menjenguk bayi kita jadi ibu sama Alya mau datang ke sini."


"Mas mau jemput mereka jam berapa?"


"Mas tinggal jemput mereka nggak apa-apa, kan?"


Istriku mengangguk, "Iya, nggak apa-apa, mas!"


Setelah sholat dhuhur di masjid yang ada di rumah sakit, aku langsung pulang ke rumah. Sebelumnya terlebih dahulu aku menjemput putraku.


"Jadi bunda masih belum tahu kapan pulangnya, yah?"


Aku menggeleng, "Belum, nak!"


"Hhmm. . ."


"Nanti nenek dan adik Alya mau jenguk bunda, kamu jagain adik bisa kan, nak?"


"Bisa donk, yah!"


"Anak pinter!"


Sampai di rumah, Alya dan ibu sudah siap. Adiklu Aminah dan anaknya sudah dari tadi datang di antar suaminya.


"Dek, mas titip anak-anak, ya!" ucapku pada adikku.


"Iya, mas. Mbak Santi masih belum boleh pulang?"


"Hhh, belum. Dia setiap hari meributkan, kapan dia bisa pulang! Tapi dokter belum juga mengijinkan."


"Hhmm, turuti saja apa kata dokter, mas. Dokter tahu yang terbaik. Daripada kejadian lagi kan nggak mau menuruti kata-kata dokter di suruh berobat."


"Iya. Mas juga nggak mau minta pulang paksa. Dokter nggak akan mau tanggung jawab kalau ada apa-apa!"


"Iya, mas. Karena kesalahan kita sendiri kan ngga mau menuruti apa kata mereka."


"Iya! Kita ke rumah sakit sekarang saja. Kasihan Santi sendirin di rumah sakit dengan kamar yang sangat luas.


Setelah ibu dan Alya naik mobil. Aku segera melajukan mobil ke arah rumah sakit. Aku mengantarkan ibu dan Alya sampai ke kamar saja setelah itu aku pergi ke minimarket.


Kemarin seharian aku tidak bisa pergi ke minimarket karena tiba-tiba Santi mengeluhkan pusing dan mual. Kata suster itu mungkin efek dari obat. Jadi hari ini aku harus menyempatkan mampir ke minimarket. Selain itu pekerjaan harianku juga dari kemarin belum aku kerjakan.


Sejak suami adikku pulang dan berapa kali dia mencari pekerjaan di sini tapi tidak mendapatkan juga akhirnya aku pergi inisiatif untuk memintanya membantuku bekerja di minimarket. Semoga saja dia bisa membantuku jika aku sedang tidak bisa mengontrol minimarket dan semoga dia bisa dipercaya karena selama ini dia orangnya baik dan tidak pernah macam-macam.


Sampai di minimarket, sebelum ke kantor terlebih dahulu aku mampir ke gudang. Kebetulan suami adikku yang bernama Tono itu aku pekerjakan di gudang Sekaligus untuk mengawasi barang yang keluar masuk. Aku lihat Tono sedang memindahkan barang ke troli.


"Ton!" panggilku.


Tono menoleh, "Iya, mas," sahut Tono yang segera mendekatiku


"Ada apa ya, mas? tanyanya.


"Bagaimana kemarin lancarkan barang masuk dan keluar?" tanyaku.


"Alhamdulillah, mas. Semua lancar. Hari ini juga akan ada barang masuk buat diatas!" jelasnya.


"Oh ya catatan gudang nanti kamu kasih ke saya, ya!" titahku.


Aku segera meninggalkan gudang lalu mengontrol minimarket yang ada di lantai atas. Aku lihat mbak Melly sedang melayani pembeli. Ahamdulillah di lantai atas pembeli cukup banyak walau tidak seramai di lantai bawah. Mungkin karena di lantai bawah adalah penjualan barang-barang kebutuhan sehari-hari sedangkan di atas tidak setiap hari orang membutuhkannya.


Setelah itu aku pergi ke lantai bawah. Seperti biasa lantai bawah selalu ramai oleh pembeli. Setelah aku cek, barang-barang semua cukup. Setelah itu, aku mengecek ke minimarket yang di bawah.


Aku lalu pergi ke kantor. Tak lama kemudian Tono datang memberikan catatan gudang, berikut nota pembeliannya.


"Assalamualaikum, mas!"


"Masuk Ton!" titahku.


Tono memberikan semua catatan gudang padaku yang kemarin. Alhamdulilah, walau pengeluaran saat istriku masih di rawat di ICU cukup besar tapi tabungan istriku tidak sampai terkuras habis. Setelah istriku pulang nanti aku akan memberikan semua catatannya.


.


.


.


.


.


Maaf masih ttpo


.


.

__ADS_1


.


12


__ADS_2