
Darren sampai ke rumahnya hampir pukul sembilan malam. Beruntung, malam ini, bulan hampir penuh jadi bisa meneranginya sepanjang perjalanan pulang. Walau ada sedikit perasaan takut, tapi dia berusaha menepisnya. Bayangan masa depan, memberikannya semangat.
Saat dia baru saja memasuki gang di dekat rumahnya, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya.
"Kamu?" tanya Darren kaget melihat Rika. Tetangganya yang tidak sengaja bertemu dengannya di minimarket keluarga Annisa.
"Baru pulang, ya?" tanyanya.
"Iya!" jawab Darren ketus.
"Galak amat, sih!" gerutu Rika.
Darren tidak mempedulikan ocehan gadis itu. Dia terus menuntun sepedanya menuju rumah.
"Darren! Tadi papa kamu tanyain kamu ke aku, loh!"
Sontak Darren berhenti lalu menoleh ke arah gadis tetangganya itu. Dia memberikan tatapan seolah hendak membunuh untuk menakut-nakuti.
"Tenang saja, tadi aku bilang kalau kamu sedang kerja kelompok!" imbuhnya lagi.
Darren kembali melangkah.
"Darren!" panggil Rika.
"Ada apa lagi? Ini sudah malam! Kamu nggak takut ngobrol sama lawan jenis malam-malam begini?"
"Ngobrol sama kamu, ya nggak takut!"
Darren tersenyum sinis, "Tapi aku takut ngobrol sama kamu!"
"Kok gitu, sih? Kamu takut tergoda sama aku, ya?" Rika berjalan mendekat.
Darren bergidik, "Pulanglah! Jadilah gadis yang mempunyai harga diri. Nggak pantas mengajak lawan jenis ngobrol saat malam-malam sepi!"
"Darren! Jangan asal ngomong kamu!"
"Makanya, hargilah diri sendiri!"
"Kamu. Ingat Darren, aku bisa saja memberitahu rahasia kamu sama orang-orang terlebih orang tua kamu!
"Apa maksud kamu?" tanya Darren emosi.
"Aku akan jaga rahasia kamu selama kamu baik sama aku. Dan ingat, kamu juga harus menuruti kemauanku!"
"Kamu nggak bisa mengancam aku, Rika!"
"Ingat ya Darren, kalau rahasia kamu ada di tangan aku! Besok, kita harus bicara lagi!" ucap Rika lantas berlalu dari hadapan Darren.
Hhh, Darren mengusap wajahnya kasar. "Kenapa juga bisa ketemu si Rika di minimarket!" gumam Darren kesal.
Darren melanjutkan pulang ke rumah dengan perasaan kacau.
Sampai di depan pintu belum lagi dia mengetuk, pintu tiba-tiba terbuka. Ceklek.
Deg. Jantung Darren seakan berhenti berdetak.
"Darren?"
"Mama. . ." Hhh, Darren menarik nafas panjang.
"Kamu sudah kerja lagi?" tanya mama seraya menarik tangan Darren supaya segera masuk.
"Iya, ma. Papa mana, ma?" tanya Darren dengan suara sangat pelan sambil matanya menoleh ke kiri kanan.
"Papa kamu sedang ronda!" jawab mamanya.
__ADS_1
Darren mengusap dadanya perlahan, "Alhamdulillah," gumamnya.
"Langsung istirahat, ya!"
"Iya, ma. Ma, tolong masakin air, donk!"
"Nggak usah mandi malam! Cuci muka, tangan sama kaki saja!" titah mamanya.
"Gerah, ma!"
"Kamu kan baru sembuh, nak! Mau masuk rumah sakit lagi?"
"Iiihh, mama. Masa doain aku sakit lagi?" Darren cemberut.
"Makanya nurut sama mama. Nggak usah mandi malam!"
"Hhh, iya-iya, ma!" sahut Darren lantas segera pergi ke kamar mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, Darren masuk ke kamarnya. Dia lalu berbaring melepaskan penat.
Tok tok. Pintu kamarnya ada yang mengetuk. Darren reflek menoleh. Ceklek. Pintu terbuka.
"Mama. . .? Bikin aku kaget saja!" ucap Darren kesal.
"Kenapa kaget?"
"Huuhh, aku pikir papa!"
"Papa kamu kan ronda. Kamu laper nggak, mama siapain makan?"
Darren menggelengkan kepalanya, "Aku tadi di beliin makan sama pak Anto, ma!" jawab Darren.
"Apa? Kenapa kamu sampai di belikan makanan olehnya? Kamu ketemu dia di mana?" tanya Lisa kaget.
"Hhmm. . ." Darren menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hhmm, itu, ma. Kan aku sama Annisa satu sekolah. Setiap hari pak Anto jemput dia jadi sering ketemu!" jawab Darren bohong.
"Kamu suka sama si Annisa?" tanya Lisa menyelidik.
"Hhmm," Darren terlihat salah tingkah.
"Dia itu anak orang berada sedangkan kamu? Mama nggak ingin kamu kecewa, nak. Lagipula, apa keluarganya bisa menerima kamu. Kamu juga harus pikirkan papa. Coba kamu pikirkan lagi. Dan juga, sebentar lagi kamu mau ujian kelulusan jadi mama mohon, jangan pikirkan pacaran dulu ya, nak!" pinta Lisa dengan wajah memohon.
"Hhh, i-iya, ma!" sahut Darren.
"Ya sudah, kamu istirahatlah. Jangan lupa belajar walau hanya sebentar!" Lisa kemudian keluar dari kamar putranya.
Darren kembali berbaring di tempat tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamar. "Belum selesai masalah mama dan masa lalunya, masalah papa, eh muncul masalah baru, si Rika. Gadis itu nggak ada kapok-kapoknya, sih!" gumam Darren.
Aku sukanya sama Annisa. Dia cantik dan lucu. Itu yang bikin aku makin suka. Rasanya ingin dekat terus sama dia. "Annisa sudah tidur belum, ya?"
***
Pagi-pagi sekali Darren sudah mau berangkat sekolah. Mamanya sudah menyiapkan air hangat untuk dia mandi. Selesai mandi, dia langsung sarapan sebelum papanya bangun.
"Sarapan yang banyak!" titah Lisa.
Darren mengangguk, "Hhmm!" sahutnya dengan mulut penuh nasi. Darren terbiasa sarapan dengan nasi supaya kuat menjalani hari-harinya.
Setelah selesai sarapan, Darren mengeluarkan sepedanya, tiba-tiba papanya sudah berdiri di belakangnya.
"Pagi sekali kamu berangkat?"
Darren lansung menoleh, "Papa. . ."
__ADS_1
"Kenapa kamu? Seperti melihat setan saja!" tanya papanya.
Darren menunduk, "Ng-nggak kok, pa!"
"Pulang jam berapa kamu semalam?" tanya David dengan sorot mata tajam.
"A-aku. . ." tubuh Darren langsung gemetar.
"Darren, kamu lupa bawa air minum, nak!" ucap Lisa yang tiba-tiba menghampiri mereka.
"Oh, iya, ma. Terimakasih!" ucap Darren yang langsung mengambil botol air minum dari tangan mamanya.
"Hati-hati di jalan ya, nak! Pelan-pelan saja bawa sepedanya!" ucap Lisa.
"Iya, ma. Aku berangkat dulu!" ucap Darren sembari mencium punggung tangan mamanya kemudian menoleh ke arah papanya, "Aku berangkat, pa!" Darren mengulurkan tangan hendak mencium punggung tangan papanya.
"Hhmm!"
Darren buru-buru mengayuh sepedanya menjauh dari rumah. "Selamat!" gumamnya.
Beberapa menit kemudian, ada yang menghadangnya di jalan.
"Darren!"
Darren menghentikan laju sepedanya lalu menoleh ke arah seseorang yang memanggilnya.
"Rika?"
"Darren! Kapan kamu akan kasih aku jawaban?"
Hhh, Darren menarik nafas lalu membuangnya kasar. "Kan aku sudah bilang, aku nggak lama lagi ujian kelulusan. Mana sempat aku mikirin itu!"
"Kan hanya jawab iya apa tidak saja!"
"Hhmm, ok. Kalau sekarang aku jawab 'nggak'!"
"Apa?"
"Kan kamu tadi kasih aku pilihan dan aku sudah memilih!"
"Hhmm, kalau sesudah ujian apa kamu akan menjawab 'iya'?"
"Nggak juga!" jawab Darren tegas.
"Kamu!"
"Aku mau ke sekolah!" pamit Darren lantas gegas berlalu dari hadapan Rika yang menatapnya dengan tatapan marah.
"Awas kamu Darren! Kamu nggak tahu ya siapa aku. Tunggu saja!" ucap Rika kesal.
Darren dengan santai melajukan sepedanya ke sekolah. Sebelum pukul tujuh dia sudah sampai di sekolahnya.
.
.
.
Maaf masih banyak typo
.
.
.
__ADS_1
22