
Lisa baru saja datang ke rumah sakit karena sedari subuh dia bekerja di rumah tetangga. Jadi Darren malam hari di jaga oleh papanya. Lisa sedang memasukkan barang-barang dan juga pakaian ke dalam tas besar. Darren sudah di perbolehkan pulang dan akan meneruskan pengobatannya dengan rawat jalan.
"Ma, aku besok mau ke kampus. Mama anter, ya?"
"In Sya Allah, nak. Tapi nggak bisa pagi, ya!" jawab Lisa.
"Iya, ma."
Setelah selesai membereskan semua barang-barangnya, Darren bersiap untuk terapi.
"Kalian nanti langsung saja pulang. Barang biar aku yang bawa pulang," ucap David.
"Hhmm, biaya rumah sakit, mas?" tanya Lisa bingung.
"Sudah di bayarkan oleh Andre dan pak Anto. Tapi aku janji akan mengembalikannya."
"Hhmm, terimakasih, mas," ucap Lisa.
"Ya sudah, aku mau pulang sekarang," ucap David lantas keluar dari ruang ranap Darren.
"Iya, mas. Ayo, nak. Mumpung masih pagi masih sepi. Tadi papa kamu sudah daftarkan duluan!" ucap Lisa.
"Iya, ma." Dengan menggunakan tongkatnya, Darren pergi ke pusat terapi yang bersebelahan dengan poli rehab medik.
Sampai di sana baru ada satu dua pasien karena memang masih pagi sekali. Mungkin pasien masih banyak yang mengantri di bagian pendaftaran yang berada di depan.
Hanya menunggu setengah jam, Darren di panggil untuk masuk. Terapi berjalan selama satu jam setelah itu mereka pulang.
***
Waktunya Darren datang ke kampus dalam rangka pengenalan mahasiswa dan mahasiswi baru. Di karenakan kondisi Darren yang tidak memungkinkan untuk ikut, dia hanya di wajibkan datang dan menunggu sampai selesai.
Keberadaan Kevin sebagai dosen di sana sangat berpengaruh dalam membantu Darren.
"Ibu bisa pulang karena mungkin sampai siang. Darren biar nanti saya yang antarkan pulang," ucap Kevin pada Lisa.
"Tapi merepotkan nak Kevin saja," tolak Lisa halus.
"Nggak kok, bu. Kebetulan siangnya saya juga mau pulang jadi bisa bareng sama Darren."
Lisa melihat ke arah putranya, "Iya, aku nggak apa-apa sama kak Kevin eh pak Kevin, ma," Darren ikut menimpali.
"Baiklah kalau begitu. Jangan merepotkan pak dosen ya, nak. Kamu baik-baik, jangan membikin ulah. Mama pulang dulu," pamit Lisa.
Setelah Lisa pulang, Kevin mengajak Darren keruangannya.
"Kamu tetap mau ambil kuliah sore?" tanya Kevin.
"Iya, pak. Aku ingin kerja."
"Oh iya, semalam ayah Anto bilang kalau kamu boleh bekerja lagi di minimarket karena papa kamu sudah kasih ijin. Jadi kamu bisa ambil kuliah pagi dan pulangnya ke minimarket."
"Tapi sekarang aku masih belum bisa bekerja."
"Iya, nanti. In Sya Allah kamu bisa cepat jalan lagi."
"Benaran ya, pak? Bukan ingin memberikan aku harapan saja, kan?"
__ADS_1
"Hidup itu harus optimis. Kalau pesimis gimana bisa maju?"
Darren tersenyum malu, "Iya, pak."
"Apalagi kamu sudah ada penyemangat jd harus lebih semangat lagi. Nggak ada yang nggak mungkin selama kita mau usaha!"
"Iya, pak. Aku akan lebih bersemangat lagi!"
"Nah, itu baru bener!"
***
Kevin baru saja sampai rumah. Dia menemui istrinya di kamar mereka.
"Aku di terima di kantor notaris, mas," ucap Alya saat Kevin baru saja pulang. Wajahnya tampak semringah.
"Notaris mana?"
"Pak Danny, mas. Besok pagi aku di minta datang."
"Hhhmm," wajah Kevin biasa saja. Tidak ikut merasa senang seperti istrinya.
"Mas nggak marah, kan?"
"Hhmm?" Kevin menggelengkan kepalanya. Nggak marah hanya keberatan saja. Gimana caranya supaya Alya cepat hamil, ya. Oh, aku ajak ke dokter kandungan langganan Kanaya saja seperti saran Andre. Kevin membatin.
"Mas?"
"Iya, sayang. Bagaimana kalau kita ke rumah sakit nanti sore?"
"Kita cek kesuburan."
Alya mengernyitkan dahinya, "Maksud mas, aku nggak subur?"
"Mas nggak bilang gitu, sayang. Kan kita berdua yang periksa. Biar tahu kita berdua subur, nggak," jelas Kevin.
"Hhmm, lagipula kita kan menikah baru satu bulan lebih, mas. Sabar saja dulu."
"Iya, mas tahu. Tapi apa salahnya kita cek, kan?"
"Hhmm, baiklah mas kalau begitu," ucap Alya pasrah.
Sorenya, Kevin dan Alya meluncur ke rumah sakit. Kanaya pun ikut sekaligus cek kandungannya. Andre sudah mendaftarkan mereka berdua.
Sampai di rumah sakit, Andre sudah menunggu. Kanaya yang kondisi tubuhnya belum benar-benar fit, di periksa lebih dulu.
"Alhamdulillah, kandungannya sehat. Bu Kanaya hanya mengalami hyper emesis saja makanya tubuhnya nggak fit. Nanti kalau muntah-muntahnya berkurang, In Sya Allah makannya banyak dan tubuh lebih segar," jelas dokter.
"Nggak perlu di rawat lagi kan dok, karena masih susah makan."
"Bu Kanayanya kuat, nggak? Hanya ibu sendiri yang tahu kondisi kesehatan ibu."
"Di bandingkan awal-awal, sekarang sedikit lebih enak, dok."
"Alhamdulillah. Seiring bertambahnya usia kehamilan, muntah-muntahny akan berkurang."
Setelah Kanaya selesai di periksa, tibalah giliran Alya. Kevin harap-harap cemas. Dia sangat berharap istrinya hamil sedangkan Alya santai saja karena memang dia belum ada keinginan untuk hamil.
__ADS_1
"Bu Alya. Kita USG dulu ya. Kita lihat apakah sudah ada janin di rahim ibu apa belum. Baru setelah itu kita akan melakukan pemeriksaan yang lain lagi," jelas dokter.
Alya pun di minta berbaring. Setelah di oleskan sedikit gel, dokter mulai menekan-nekan perut Alya dengan sebuah alat yang di hubungkan ke monitor. Pandangan mereka pun fokus ke layar monitor.
"Kita lihat di monitornya, ya!" ucap dokter.
Alya dan Kevin pun fokus menatap ke arah monitor.
"Wah, selamat ya bu Alya dan pak Kevin. Usia kandungan bu Alya sudah memasuki usia enam minggu," jelas dokter.
"Apa, dok?" Kevin dan Alya sama-sama kaget.
"Itu bisa di lihat. Dia masih sangat kecil."
Alya dan Kevin membulatkan matanya. Memang di monitor terlihat, kecil sekali.
"Istri saya beneran hamil, dok?" tanya Kevin.
"Saya beneran hamil, dok?" tanya Alya.
Dokter mengangguk sembari tersenyum. Alya terlihat syok sedangkan Kevin wajahnya berbinar-binar. Dia langsung menghampiri istrinya yang masih berbaring di ranjang. Memeluk dan menciumnya mesra.
"Hhmm, mas," Alya malu di lihat oleh dokternya.
Alya kembali duduk di kursi berdua Kevin.
"Kok saya nggak ngerasa kalau sedang hamil, dok?"
"Tamu bulanannya telat, nggak?" tanya dokter.
"Hhmm, telat sih," Alya menundukkan kepalanya.
"Nah, kan itu salah satu tanda kalau bu Alya sedang hamil."
"Tapi saya sehat dan nggak mual muntah seperti istri kakak saya, dok."
"Setiap wanita berbeda saat hamilnya. Ada yang kuat ada yang lemah. Ada yang mengalami morning sickness parah sampai hyper emesis. Ada juga yang morning sicknessnya nggak parah. Alhamdulillah, bu Alya termasuk yang sehat!" jelas dokter.
Setelah konsultasi masalah kehamilannya dan juga di berikan vitamin, Alya dan Kevin pun keluar dari poli kandungan.
Kevin merangkul istrinya dengan mesra.
"Terimakasih ya, sayang. Mas makin cinta sama kamu!" bisik Kevin mesra.
Alya hanya tersenyum. Bukan tidak ikut merasa bahagia tapi dia benar-benar kaget padahal besok adalah hari pertamanya kerja. Dengan kehamilan ini sudah di pastikan dia tidak akan datang bekerja besok karena dia sudah janji pada suaminya jika dia hamil, dia tidak akan mengambil pekerjaan. Mungķin suatu saat di baru bisa bekerja.
.
.
.
.
.
12
__ADS_1