
Pagi hari yang sibuk untukku dan anak-anak karena mereka hari ini sudah mulai masuk ke sekolah yang baru. Sekolah yang dekat dengan rumah istriku.
Setelah sholat subuh,aku membantu istriku membuat sarapan untuk kami semua. Rasanya bahagia bisa masak berdua. Sesekali aku mencuri cium dan dia pun tersipu malu.
"Hhmm,mas sudah. Nanti di lihat anak-anak!" ucap istriku saat kami baru saja saling bertukar saliva.
"Anak-anak masih sibuk di kamar mereka!" sahutku yang kembali menciumnya.
"Hhh,mas!" dia mencoba mengatur nafas.
Aku lalu memeluknya dari belakang. Semoga kemesraan ini nggak akan hilang. Doaku dalam hati.
"Nanti habis antar anak-anak ke sekolah,mas langsung ke minimarket,ya!"
Dia mengernyitkan dahinya ,"Aku ikut,mas!"
"Ikut antar anak-anak?"
"Ikut ke minimarket juga! Aku nggak mau jauh-jauh dari mas!" tegasnya.
"Di rumah kan kamu bisa istirahat biar malemnya ada tenaga buat mas ajak jalan-jalan!"
"Hhmm,jalan-jalan kemana,mas?"
"Ke surga dunia!" bisikku lembut di telinganya membuat wajahnya memerah karena malu.
"Iihh,mas ini. Kirain apa."
"Mau nggak?" tanyaku.
Dia mengangguk seraya menatapku malu-malu. Kenapa dia masih malu-malu? Bukankah kami sudah berapa kali melakukannya. Hhmm,dasar wanita. Malu tapi mau. Batinku.
"Nanti malam siap-siap,ya!" godaku.
"Hhmm,tapi mas. Aku tetap mau ikut ke minimarket. Aku janji nggak ngapa-ngapain deh di sana biar nggak capek."
"Tapi kalau di apa-apain sama mas kan nanti capek!" godaku lagi.
"Hhmm,mas. Nggak apa-apa deh asal nggak sendirian di rumah."
"Beneran nih nggak apa-apa? Nanti mas malah yang nggak bisa kerja karena tergoda terus sama kamu!"
"Mas iihh. Aku janji nggak akan godain mas!"
"Tapi mas yang godain kamu!"
"Hhmm,nggak apa-apa di godain sama suamiku yang tampan ini!" sahutnya lalu memelukku hangat.
"Hhhmm!"
"Aku cinta banget sama kamu,mas!"
"Mas juga mencintai kamu! Sangat! Jadilah milik mas selamanya!"
Dia mengangguk pelan, "Hhhmm,iya mas!"
"Yuk,sarapan yank. Mas sudah laper banget nih!" ajakku lalu melepaskan pelukannya.
"Iya mas!"
Istriku lalu menyajikan sarapan di meja makan plus susu hangat untuknya dan juga anak-anak. Anak-anak pun sudah turun dengan membawa tas sekolah mereka.
__ADS_1
Kami lalu sarapan bersama.
"Bunda ikut anter kita ke sekolah yang baru,kan?" tanya Alya setelah kami selesai sarapan.
"Iya,sayang!" jawab istriku.
"Baiklah,kalian tunggu di ruang keluarga sebentar ya nak. Ayah bunda mau ganti pakaian dulu," ucapku pada anak-anak.
"Iya,yah."
Aku lalu mengajak istriku kembali ke kamar untuk berganti pakaian.
"Kamu yakin mau ikut,yank?"
"Iya,mas. Daripada aku sendirian di rumah. Bosen!"
"Ya sudah,terserah kamu saja. Tapi nanti kalau mas jemput anak-anak pulang,kamu juga pulang,ya. Kasihan anak-anak nggak ada temannya. Biasanya mereka di rumah ibu."
"Iya,mas. Aku akan pulang sama anak-anak."
"Pakai hijab yang panjang,ya! Mas nggak ingin mata laki-laki lain melihat dengan hasrat padamu!" titahku lalu mendekatinya yang sedang mengolesi wajahnya dengan bedak tipis.
Aku tidak ingin kejadian di taman itu terulang lagi. Walau sudah hampir kepala empat tapi wajah dan fisik istriku masih mempunyai daya tarik. Tentu daya tarik itu juga yang membuatku mau menikahinya. Dan seiring waktu kedekatan kami,pelan-pelan dia bisa mengisi hatiku yang sedang merasa hampa.
Dia mengangguk lalu membalik badannya hingga kami saling berhadapan, "Iya,mas. Aku hanya ingin mas saja yang berhasrat padaku! Sampai kita terpisah alam!" tegasnya.
"Mas ingin kita bersama sampai ke surga!"
"Aamiin!" ucapnya lalu mengecup bibirku sekilas.
"Yank,jangan mancing! Nanti kita nggak jadi pergi loh!" ucapku yang membuatnya tersenyum.
Dia kembali menatap cermin kaca untuk memakai hijab panjangnya. Aku membantunya supaya terlihat rapi.
Gegas kami turun ke bawah. Mang Toto sudah membersihkan dan memanaskan mobil. Kami segera naik ke mobil dan aku langsung menghidupkan mesin mobil lalu meninggalkan rumah.
Lebih sepuluh menit perjalanan dari rumah ke sekolah anak-anak. Aku dan istriku mengantarkan kedua anakku sampai ke kantor guru karena kedua anakku berstatus sebagai murid baru. Setelah berbicara sebentar dengan wali kelas kedua anakku,aku dan istriku pun pamit.
"Kalian baik-baik ya,nak. Mas Andre tolong jagain adek Alya,ya!" pesanku pada kedua anakku.
"Iya,yah. Nanti jemput,kan?"
"Iya,nak. Nanti pukul sepuluh ayah jemput kalian!"
Mereka lalu di antar ke kelas masing-masing. Aku dan istriku langsung pergi ke minimarket.
"Mas,Alya sama Andre kan pulangnya nggak bareng."
"Iya,nanti mas jemput Alya ajak ke minimarket dulu. Setelah jemput Andre baru kalian mas antar pulang ke rumah,ya!" jelasku.
"Hhmm,iya mas."
Tak lama mobil tiba di depan minimarket. Jam masih menunjukkan pukul tujuh lebih. Karyawan minimarket belum ada yang datang karena minimarket buka jam delapan.
"Masih sepi,mas," ucap istriku saat kami sudah masuk ke dalam kantor. Dia lalu duduk di sofa.
"Iya,biasa mereka datang sepuluh menit sebelum pukul delapan. Masih setengah jam lagi," jelasku.
"Hhh,santai dulu mas!"
Aku lalu ikut duduk di sebelahnya, "Enaknya ngapain ya?" tanyaku seraya mengusap-usap lembut kepalanya.
__ADS_1
Dia menggelengkan kepalanya lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. Sejak menikah,sikap manjanya semakin terlihat.
Aku membalik badanku agar menghadap ke arahnya. Aku mendekatkan wajah kami berdua hingga hembusan nafas kami berdua beradu. Lalu aku mencium dahinya penuh kasih sayang.
Kami terus bermesraan hingga kami tak tahan untuk tidak melakukan itu. Walau singkat,kami tetap menikmatinya.
"Mas,aku mau mandi nih," ucap istriku saat kami baru saja selesai melakukannya.
"Iya sayang,kamu mandi dulu nanti gantian sama mas!" sahutku.
Karena ruang kantor istriku bersifat pribadi yang bisa di pakai untuk istirahat dan tak sembarang orang boleh masuk jadi kami bebas melakukan apapun.
Setelah istriku selesai mandi,gantian aku yang mandi.
"Mas,sepertinya ada yang membuka pintu deh," ucap istriku saat kami kembali duduk di sofa selesai mandi.
"Hhmm,biar mas lihat!" sahutku lalu bangkit dari duduk menuju pintu.
Benar saja ada salah satu karyawan bagian gudang yang datang.
"Pak Anto sudah datang," sapanya.
"Iya,baru saja!" sahutku. Aku lalu kembali ke kantor.
Tak lama kemudian,semua karyawan yang sift pagi mulai berdatangan.
Karena sebentar lagi akhir bulan,aku dan istriku membuat pembukuan dan mulai menyiapkan gaji untuk semua karyawan yang berjumlah delapan orang.
"Nanti mas saja yang atur uang dan pegang kunci brankas ya. Nggak usah di gaji seperti biasa kan sekarang mas juga sebagai pemilik minimarket," ucap istriku.
Aku mengernyitkan dahiku lalu menggelengkan kepala, "Nggak yank,seperti biasa saja!" tegasku.
"Kenapa,mas? Masa aku menggaji suamiku sendiri?"
"Iya,mas kan kerja sama istri mas. Nanti gaji mas akan mas berikan sama kamu sebagai nafkah lahir untuk kamu. Masa cuma kasih nafkah batin saja!"
"Hhmm,tapi mas? Aneh-aneh saja deh. Sama saja bohong kalau uangnya di kasih ke aku lagi."
"Sayang,uang istri adalah milik istri dan uang suami adalah milik istri juga!"
"Tapi mas?" protesnya. Wajahnya terlihat cemberut.
"Baiklah,mas akan minta dua puluh persen dari gaji mas untuk pegangan mas. Sisanya kamu yang simpan!"
"Tapi mas?" protesnya lagi.
"Nggak ada tapi-tapian! Mas nggak mau lepas tanggung jawab mentang-mentang istri mas kaya!" tegasku tanpa mau di bantah.
"Hhmm,iya deh mas!" sahutnya kemudian.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
23